Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Bocornya Informasi


__ADS_3

Kaki langit telah menggelap dan juga menghentikan tangisnya. Tak ada gerimis yang tersisa hanya hawa dingin berjejak memeluk tubuh semua orang. Menunggu waktu makan malam, Bree Tyaga Adrian berdiri di muara balkon kamar, bersandar pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada. 


Arah pandang laki-laki itu tertuju pada rumah kaca yang terlihat terang dari atas balkon, sesekali aroma plumeria di terbangkan angin. Sungguh aroma itu menyanyikan rindu yang amat besar dalam relung hati seorang Bree Tyaga. 


Angin berkali-kali menampar tubuh tegap si tuan muda, seolah berbisik sebagai balasan jika sang ratu juga merindukannya. Bree melepaskan pangkuan lalu menyelipkan tangan kanan ke dalam saku training meraih benda pipih yang akan mengirim suaranya pada sang pemilik cinta. 


Sekilas bibir berwarna merah Si tuan muda tertarik kala pandangannya terisi wallpaper si gadis pujaan. Dengan penuh harap dan mencari keberuntungan laki-laki itu menyentuh tanpa ragu nomor ponsel yang ia tuju. Sayang, harap dan keberuntungan itu tak berpihak. Lagi-lagi hanya suara operator yang menyapanya. Sudah hampir dua minggu sejak kejadian itu. Nomor ponsel Filia tidak lagi dapat dihubungi.


Raut wajah Bree berubah, tangan laki-laki itu turun perlahan dari telinganya. Sekarang ia paham kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Pupus, semua telah sirna hanya meninggalkan kisah penuh luka. Menanti hancur tanpa bekas. 


"Tuan." Reiki masuk setelah mengetuk daun pintu. Kakinya terhenti menatap sendu punggung sang atasan yang terpaku pada muara balkon kamar. "Waktunya makan malam." Sambung laki-laki itu pelan tanpa melanjut langkah.


Bree memutar tubuh lalu mengayun kaki, tidak ada jawaban atau keceriaan. Hanya ada kesedihan berjejak penuh luka dan putus harapan. Reiki merotasikan kepala sambil mengepalkan tangan. Sungguh, asisten itu tidak akan senang di diamkan seperti ini. 


Di meja makan. Leon, Axel dan juga Eros menyambut dengan tatapan penuh kesedihan melihat satu sahabat yang patah hati. Dan fase ini seperti berulang saat Eros kehilangan Devarga. Butuh waktu lama mereka mendampingi detektif itu untuk menata hidup kembali setelah ditinggal mati oleh calon istrinya. 


"Mari kita makan." Interupsi Axel meraih sendok dan mulai menyantap makan malam. 


"Nanti, jam sepuluh kita barbeque. Bibi Jo sedang menyiapkannya." Leon menimpali sambil mengisi piring. 


"Hm, mau dimana halaman belakang atau depan?" Eros yang aslinya pendiam ikut bersuara untuk mencairkan suasana. 


"Di Belakang saja, saya sudah menyiapkan tempatnya." Sahut Reiki mendaratkan tubuh di sisi sang atasan. "Bagaimana, Tuan ?" Laki-laki itu melirik ke samping. 

__ADS_1


"Aku ikut saja." Bree menjawab tanpa mengalihkan atensi dari piring di hadapannya. 


Percakapan itu terhenti, sudah tidak ada pembahasan lagi. Semua orang makan dengan pikiran yang berkecambah di dalam benak. Makanan itu semua lezat tapi hambar untuk seorang Bree Tyaga. Meski tak berselera namun ia dididik untuk menghargai makanan dan usaha orang yang memasaknya. Maka dari itu Bree tetap makan walau hanya sedikit. 


Usai makan malam sambil menunggu waktu, lima adam itu duduk di ruang tengah menghadap layar televisi yang berukuran besar.


"Tuan, Nenek Jesen ada di panti jompo luar kota. Informan kita sudah menemukan tempatnya. Dan disana Jesen sendiri sebagai walinya." Reiki memperlihatkan foto panti tempat penitipan nenek Jesen. "Tapi saya tidak yakin jika memang dia menitipkan Neneknya." 


"Jemput dan amankan di Mansion." Bree menatap layar ponsel milik sang asisten sekilas dan lanjut beralih melihat layar di televisi.


"Baiklah, untuk adik Yohan saya belum menemukan informasi apapun." 


"Aku memahami strategi Bree. Karena orang ini seperti belut yang licin maka kita harus memiliki perangkap." Papar Eros mengangguk-angguk kecil. 


"Kondisi Bibi Chen dan juga paman Gio sudah bisa diajak berkomunikasi.  Tapi pelan-pelan." Sambung Axel menatap ke arah Bree. 


"Iya Tuan." 


"Bagaimana tentang masalah yang disebabkan Filia, apa kamu bisa memintanya untuk mengurus dengan baik. Aku takut informasi itu bocor." Leon tak lagi sungkan menyalahkan dokter cantik itu karena lancang mendaftarkan Bree sebagai pasien rumah sakit jiwa. 


"Aku akan mengurusnya." Eros melirik sekilas ke arah Bree yang nampak biasa saja. 


Waktu semakin bergerak ke kanan sambil memperhatikan Bree merajut bersama Bibi Jo sebagai guru, tanpa terasa waktu telah menunjuk pukul sepuluh malam. Reiki mengajak semua untuk pergi ke halaman belakang. Di sana para asisten mansion sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dan menyisih ke tempat sedikit jauh untuk memberikan ruang untuk para atasan mereka. 

__ADS_1


"Tuan, dilanjutkan besok lagi." Bibi Joana menyentuh punggung tangan si tuan muda. "Pundak dan tulang belakang anda sakit kalau terus duduk seperti ini." Lanjutnya lembut penuh kasih sayang. 


"Aku harus menyelesaikan jaket ini, Bi. Bulan depan ulang tahun ratu Filia." Tanpa mengalihkan pandang Bree melanjutkan rajutnya. 


"Waktu masih banyak saya yakin anda akan menyelesaikannya tepat waktu." Bibi Joana mengulas senyum memberikan keyakinan.


Bree terpaksa melepaskan benda di tangannya lalu meregangkan otot leher dan belakang. Obsidiannya tertuju pada para sahabat yang fokus membakar sambil menikmati. Andai sang ratu disini alangkah menyenangkan. Lagi, tabuhan rindu itu mengguncang sanubari. Sejenak laki-laki itu menunduk meraup oksigen lalu menghempaskan pelan. Kepala si tuan muda terangkat lalu mengulas senyum tipis. Sebelum semuanya benar-benar berakhir, Bree harus meninggalkan kenangan yang indah untuk para sahabatnya. 


...----------------...


Di sebuah apartemen, seorang laki-laki tengah selesai melepaskan bir@hinya. Tubuh atletis laki-laki itu masih mengkilap penuh keringat dengan nafas terengah setelah menghujamkan batang pemuntah lahar panas pada li@ng kenik-matan yang menjanjikan sebuah dosa apabila belum halal dimasukan. 


Tubuhnya masih berada di atas tubuh si wanita yang kini menatap kosong dengan sisa butiran air mata mengalir. Seolah tak pernah puas, laki-laki itu menge-cup singkat bibir ranum yang terbuka tipis di hadapannya. 


"Kau nik-mat sekali, tidak rugi aku memungutmu dari jalanan bersama kakak laki-lakimu yang kini berkhianat padaku." Laki-laki itu berucap dengan seringai lebar penuh kepuasan. "Jesen dan Yohan ! Mereka telah menghianatiku." Sambungnya sambil menggigit kecil pucuk squishy kenyal milik gadis yang tanpa suara di bawah kungkungan. "Ck, kau selalu membuatku menggila dan terbakar gairah." Pinggul laki-laki itu bergerak mendorong semakin dalam mulai menyalurkan has-rat kembali. Sayang, aksi itu terhenti kala ketukan mendarat di daun pintu. "Ahhh." Des@hnya ketika batang pemuntah lahar panasnya di tarik. "Siapa yang mengganggu ?!" Gerutu laki-laki itu membawa tubuh bangkit dan pergi ke kamar mandi. Di sana ia mengguyur tubuh di bawah pancuran air shower sesekali bibir kehitaman itu tertarik untuk tersenyum. 


Menghabiskan dua puluh menit laki-laki itu keluar dengan handuk melilit pinggang. Sementara gadis yang baru saja dinik-mati bersusah payah membawa tubuh ringkihnya untuk bangun dari posisi dan tertatih melangkah ke kamar mandi tanpa suara seperti biasanya. 


"Ada informasi apa?" Laki-laki yang baru saja selesai berci-nta itu melayangkan tanya pada seseorang yang duduk di kursi meja makan. Tangannya bergerak meraih botol air dingin di dalam kulkas dan menenggaknya hingga sisa setengah. 


"Tuan, saya tidak menemukan keberadaan Yohan atau pun Jesen." 


"Hanya itu." Laki-laki berparas manis ini meletak kasar botol air ke atas meja. 

__ADS_1


"Ada juga berita bagus untuk anda dan saya yakin ini lebih berharga dari informasi tentang dua pengkhianat itu." Pria bertubuh kurus ini meletakan kertas, foto dan juga video yang didapatnya. 


"Kerja bagus." Seringai puas sekali lagi tertarik di bibir. "Waktunya kau hancur Bree Tyaga Adrian ! Dengan sendirinya kau akan turun dari singgasana yang kau duduki." Lanjutnya penuh obsesi. 


__ADS_2