Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Hilangnya percaya diri


__ADS_3

Di dalam rumah kaca Bree masih terdiam tanpa suara dengan arah pandang ke taman plumeria yang mulai berbunga. Aroma feminim itu menguar menempuh rongga hidung si tuan muda. Tetap membisu, kalimat yang lahir dari bibi seorang Filia Aruna menjadi pukulan telak untuk Bree Tyaga Adrian. Tak jauh dari sana empat orang laki-laki bersandar di tembok memantau pergerakan si tuan muda yang tengah kacau. Mereka sangat mengerti isi hati dan pikiran laki-laki itu. 


"Sudah tiga jam bawa Bree masuk." Eros melirik benda yang melingkar di pergelangannya lalu menegakan tubuh berdiri sempurna dan memutar tumit meninggal tempat. 


"Aku tidak habis pikir ternyata dia serius mencintai Filia. Aku tidak menyalahkan gadis itu sebenarnya, memang perasaan Bree saja yang sangat dalam." Leon menghela nafas lalu membawa langkah mengikuti Eros.


"Aku tidak menyangka Filia mendaftarkan Bree sebagai pasien rumah sakit jiwa dan mengeluarkan surat ini." Axel meremas amplop coklat di tangannya hingga kumal. "Bagaimana jika terendus media, Bree akan dalam masalah besar." Dokter tampan itu meluapkan kekesalan. 


"Saya juga kecewa, dokter. Harusnya saya tidak mengambil langkah ini untuk mengobati tuan Bree tapi saya tidak memiliki pilihan." Reiki nampak tertekan dengan keputusannya kini laki-laki itu menyesal. "Dan dokter Filia tega mendaftarkan Tuan Bree sebagai pasien di sana. Apa dia tidak memikirkan reputasi dan masalah yang akan dihadapi tuan muda ? Sebenci itukah dokter Filia ?"


"Sudahlah kita bahasa di dalam. Bawa Bree masuk dan bujuk dia makan malam." Axel menatap nanar sejenak amplop di tangan lalu memutar tubuh untuk masuk. 


Reiki melonggarkan dasi yang sejak tadi terasa mencekik lehernya. Laki-laki itu meraup oksigen yang dalam lalu menghembuskan perlahan. Ia mengayunkan kaki untuk menghampiri si tuan muda. Kali ini ia harus berhasil membawa Bree untuk masuk, cukup tiga jam membisu dan membeku di kursi dalam rumah kaca. 


"Tuan." Reiki menyentuh lembut bahu sang atasan. "Mari masuk, kita makan malam dulu. Anda juga perlu membersihkan tubuh." Sambungnya perlahan. "Jangan seperti ini, dunia tidak akan berakhir hanya karena anda putus cinta." 


"Apa aku pria memalukan ?" 


Reiki tersenyum tipis lalu bergeser kesamping dan mendaratkan tubuh di kursi. "Tidak, anda sudah benar dengan perasaan itu hanya saja mungkin bukan pada orang yang tepat." 


"Apa maaf itu benar tidak ada untukku?" 


"Ada, mungkin belum waktunya anda dapatkan. Disini saya bingung maaf apa yang selalu anda kejar dan ucapkan?" Reiki melirik melihat air muka sang atasan.


"Kalau aku bercerita, apa kamu akan percaya ?" 


"Sebelum anda bercerita ada baiknya kita masuk, anda mandi dan makan malam. Saya akan mempercayai cerita anda nanti." Sudut bibir Reiki tertarik meyakinkan dengan sorot mata hangat menenangkan. Usia yang tak terpaut jauh itu menjadikan laki-laki ini dewasa dan menjadi wadah keluh kesah sang atasan. 


Bree bangkit dari kursi dan melangkah untuk masuk ke dalam Mansion. Laki-laki itu belum bisa meredakan gurat sedih dan murung di wajah. Hari ini ia merasa Filia mengeluarkan sisi kekejamannya. 


Sambil menunggu si tuan muda membersihkan diri. Axel dan yang lainnya duduk di ruang tengah. Laki-laki itu masih menatap kecewa pada amplop di atas meja. Eros dan Leon tak menyangka  jika sahabat mereka didaftarkan sebagai pasien rumah sakit jiwa. Padahal sebelumnya mereka sudah membahas masalah Bree adalah interen termasuk pada Aslan sang terapis.


"Aku rasa Filia tak sejahat itu." Eros menolak untuk kecewa. 


"Faktanya memang jahat." Sahut Leon geram. "Aku yakin ini akan menjadi masalah kalau kita tidak segera menyelesaikannya." Laki-laki itu menyandar kasar tubuhnya. "Karena kamu kenal lama dengan Filia, jadi kamu bisa membujuknya untuk menyelesaikan masalah yang dia buat ini, Er ?" Leon melirik ke samping dimana pemilik nama itu duduk.

__ADS_1


"Aku akan menemuinya besok." 


"Katakan padanya untuk menyiapkan diri dengan kemungkinan terjadi. Kau tahu bagaimana seorang pimpinan Tyaga bisa didaftarkan sebagai pasien rumah sakit jiwa. Hal ini akan berpengaruh pada Tyaga Group dan posisi Bree. Karena dia memulainya maka dia harus menyelesaikannya." Axel mengetuk keras amplop diatas meja dengan jari telunjuknya. 


"Aku mengerti, sepertinya kondisi Bree tidak baik-baik saja. Jadi kalian menginaplah  disini. Aku tidak bisa ikut bergabung, besok aku mengurus cuti dan bergabung disini." Eros melempar pandang ke arah Leon dan Axel bergantian. 


"Ah, baru saja aku akan tidur bersama para bidadari dalam mimpi di kamarku, sekarang peri-peri kecil menarikku pada dunia nyata ini." Keluh Axel melepaskan jaket yang masih melekat di tubuhnya. "Beruntung barang-barang keperluanku tidak pernah di bawa pulang." Sambung laki-laki itu. 


"Kalau begitu aku mau ganti baju dulu, setelahnya kita makan malam. Ada bagusnya juga aku memindahkan barang pribadiku ke Mansion ini." Leon membawa tubuhnya bangkit. 


...----------------...


Makan malam telah selesai, semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mengistirahatkan daksa yang lelah. Namun tidak untuk Bree Tyaga Adrian, manik hitam laki-laki itu terpaku pada rembulan yang berpayung. Cahaya kekuningan itu sangat lembut memandikan tubuhnya yang berdiri di muara balkon kamar. 


Sendu wajah si tuan muda menggambarkan perasaannya yang tengah sakit. Ruang pandang nampak kosong meski terpaku pada keanggunan sang bulan. Sarayu malam menampar tubuh Bree berkali - kali tapi tak membuatnya bangun atau berpindah atensi. 


"Tuan." Reiki menghentikan langkah dan menghela nafas. Laki-laki itu datang membawa air putih serta beberapa butir obat di dalam piring yang siap di minum. Perasaannya juga tidak baik-baik saja menyaksikan kesedihan sang atasan yang mematung di muara balkon. "Waktunya minum obat." Reiki melanjut langkah menghampiri. 


Bree menoleh kesamping. "Apa aku laki-laki buruk?" Kalimat terakhir dari Filia bagai duri yang menyusup ke dalam daging sangat melekat dan susah untuk dicabut. 


Bree menurut dan membawa tubuhnya duduk, pria berbalut jaket rajut itu nampak imut dengan poni jatuh di sisi kedua kening. Tangannya terulur menarik gelas lalu mengambil obat per butir dan meminumnya hingga habis. 


"Apa aku terlalu memalukan ?" 


"Tuan, sudah saya katakan anda tidak memalukan atau laki-laki buruk." Reiki menoleh ke samping menatap wajah sang atasan yang murung.


"Tapi ratu Filia mengatakan itu, Aku mencintainya sungguh-sungguh." Selaput kabut mulai bermunculan di retina si tuan muda. 


Reiki melemparkan pandang ke kaki langit tak bertepi. Pria yang mengenakan pakaian rumahan itu terlihat sangat tampan, raganya di sapa angin malam sedikit membawanya pada sebuah kenangan lama. Langit malam menyaksikan kisah lama seorang Reiki Alterio Savian. 


"Tuan, bahagia itu kadang bisa dengan kebersamaan tapi bisa juga dalam sebuah perpisahan. Apabila orang yang dicintai kita tidak bahagia dengan perpisahan maka dengan kebersamaan kita bisa membahagiakannya. Tapi bila kebersamaan tidak membuatnya bahagia lebih baik melepaskannya. Dukung dan biarkan dia menemukan kebahagiaannya." 


"Jadi maksudmu Ratu Filia tidak bahagia bersamaku?" Bree menoleh ke samping. 


"Bisa jadi seperti itu, terbukti dengan pendiriannya yang memutuskan hubungan kalian sepihak. Saya harus menjelaskan pada anda, dokter Filia sengaja masuk ke dalam kehidupan anda untuk membantu menyembuhkan penyakit yang anda derita. Maafkan saya karena memilih jalan ini sehingga anda terjebak mencintai dokter Filia." Reiki menundukkan wajah dengan jutaan sesal menggerogoti.

__ADS_1


"Cinta kami nyata, Rei. Dia mencintaiku dan begitu sebaliknya." 


"Dokter Filia memilih menyudahi cintanya karena insiden bersama Nona Lisa. Mungkin dia memang tidak siap hidup mendampingi anda yang dikelilingi masalah." Reiki menoleh dengan tatapan bersalah.


"Aku memang selalu membuat masalah untuknya, Rei." Intonasi Bree terdengar rendah dan menyedihkan. "Baik disini maupun di masa lalu." Setetes air mata jatuh mengenai baju si tuan muda. "Rei, selama ini aku tidak berhalusinasi apa yang aku ucapkan adalah nyata." Lanjutnya dengan pita suara bergetar menggiring kalimat. 


"Berbagilah tuan, saya siap mendengarkannya." 


Bree menyeka jejak air mata yang meleleh pelan di pipi. Tatapannya jatuh pada taman plumeria di depan rumah kaca. "Aku adalah raja dan aku bukanlah orang baik di masa lalu, aku sudah mengecewakan ibu suri yang tak lain adalah Nenekku." Tetesan kristal rapuh kembali berjatuhan seraya isakan kecil terdengar. Bree meraup oksigen begitu dalam untuk menekan afeksi yang kian bergejolak. "Ibu suri memilihkan ratu untukku dan pernikahan kami terjadi. Ratu begitu sabar mendampingiku hingga fitnah jatuh padanya dan aku sendiri yang menghakimnya dengan keji atas kesalahan yang tidak pernah dia dilakukannya. Sampai pada saat kebenaran terungkap aku sudah kehilangan ratu yang mati karena racun dalam keadaan hamil." Tangis Bree tidak dapat tertahan lagi ketika kenangan pahit itu teringat kembali. Sekalipun Reiki tak menyela dan menjadi pendengar setia. "Seseorang telah memberikanku kesempatan untuk mencari ratuku dan mendapatkan maafnya. Terjadilah penyatuan jiwaku dan jiwa lain dalam tubuhku ini, itulah mengapa aku terlihat aneh." Lanjut si tuan muda menyambung cerita. "Dan ratu itu adalah Ratu Filia, sebelum menemukannya aku sudah diberikan keistimewaan untuk melihat tanda jika dia ratuku. Dan ratu Filia memiliki itu di bawah telinganya yang hanya aku bisa melihatnya." 


"Meskipun saya tidak terlalu memahami tapi saya akan mencoba mengerti. Jadi, apa Nona Filia tahu jika anda adalah raja atau suaminya?" 


Bree menggeleng lemah. "Dia melupakan masa lalu kami. Aku dianugerahi ingatan saat kami masih di istana dan juga di satukan dengan ingatan jiwa lain dalam tubuhku. Maka dari itu aku bisa mengenalmu dan yang lainnya." 


"Mungkin karena Nona Filia melupakan anda, itu lah sebabnya dia tidak ingin lagi mendampingi anda. Karena dia tidak tahu kalau anda adalah rajanya." Reiki berusaha masuk ke dalam cerita yang Bree kisahkan.


"Rei, apa mungkin kesempatan itu memang sudah tidak ada ? Sudah lama aku bersamanya di tempat ini. Sekalipun dia tidak pernah menyinggung masa lalu. Atau memang dia menolak untuk mengingatku karena luka yang sudah aku ciptakan. Jadi Ratu melaksanakan sumpahnya untuk membenciku." 


"Anda benar mencintai ratu ?" Reiki mencari keyakinan lain.


"Iya." 


"Apa yang ingin anda lihat dari ratu anda?" Reiki melempar tanya sambil menoleh ke samping.


"Ingin melihatnya bahagia." 


"Ratu anda tidak lagi bahagia bersama anda. Jadi apa yang anda pilih, tetap memaksakan kehendak atau melepaskannya untuk bahagia ?" Reiki sengaja melontar tanya.


"Aku akan memikirkannya lagi dan menyiapkan diri untuk menerima hukumannya. Karena aku gagal." 


Reiki tersentak, hukuman ? Apa Atasannya akan menerima hukuman? Alis laki-laki itu berkerut mencoba memahami. "Hukuman apa yang akan anda terima bila gagal ?" 


Bree tersenyum dengan tatapan hampa penuh kesakitan. "Besok aku akan ke kantor, sebelum ulang tahun ratu Filia, aku harus menyelesaikan pekerjaan kantor agar nanti kau tidak kelimpungan." Laki-laki itu tersenyum tipis.


Jantung Reiki berdegup kencang, kenapa kalimat itu seolah salam perpisahan. "Anda tidak akan kemana-mana, saya akan melindungi anda dari hukuman itu." 

__ADS_1


Bree menghela nafas. "Andai aku bisa memilih maka aku akan menolak hukuman itu tapi aku tidak bisa. Besok belikan aku benang dan jarum. Aku akan membuat hadiah ulang tahun untuk Ratu Filia." Si tuan muda membawa tubuhnya bangkit lalu menyeret langkah ke pembaringan. Meninggalkan Reiki dengan ragam pertanyaan yang bercokol di benak. 


__ADS_2