
Di bawah atap yang sama, seorang gadis berparas cantik tengah menikmati makan siang bersama laki-laki yang menjadi teman satu profesi. Selain parasnya yang rupawan, gadis itu juga anggun dan lembut. Dari perilaku dan juga tutur bahasanya sangat ramah dan sopan.
"Fil, sudah selesai ?"
"Iya, besok jangan lagi ke sini. Kamu tahu, 'kan ? aku tidak suka makanan seperti ini."
Filia Aruna, gadis bangsawan. Ia sengaja menyembunyikan identitasnya agar hidup dengan normal seperti kebanyakan orang.
"Maaf, besok kita akan makan di restoran khusus masakan tradisional. Aku lupa jika tuan putri tidak menyukai makanan seperti ini."
Xavier, pria tampan dan lembut. Selalu mengambil waktu luang untuk bersama sang pujaan hati. Cinta tumbuh seiring waktu perkenalan mereka, namun sangat disayangkan perasaan itu masih mendekam erat di dalam hati. Hanya mampu berdiam merasakan cinta sendiri.
"Mari kembali." Filia gegas bangkit dari tempatnya duduk. Gadis itu bergerak lembut dan anggun, siapapun yang melihatnya akan merasa iri.
"Iya, hati-hati menghadapi pasienmu. Aku tidak mau, kulitmu terluka seperti kemarin. Jika pasien mu berontak minta beberapa orang perawat laki-laki untuk membantu."
"Tentu." Filia tersenyum lalu menyampirkan tali tasnya ke pundak. Gadis itu melangkah lebih dulu di depan Xavier.
"Fil, seberapa banyak kamu menggunakan minyak esensial plumeria saat mandi ? Aromanya melekat sampai saat ini."
Filia menoleh. "Hanya sedikit." Ucapnya tertawa.
Xavier menatap tidak percaya. "Hanya sedikit ? Tapi aromanya masih ada."
"Aku sangat menyukainya." Filia menghentikan langkah lalu meraih ponsel di dalam tasnya. "Halo, ada apa ?"
"Dokter Filia, cepatlah kembali. Pasien anda kembali mengamuk."
"Pasienku ?" Filia melemparkan tatapan pada Xavier yang menatap tanya.
"Pasien sepasang suami istri paruh baya."
"Baiklah, aku akan kembali." Filia menyimpan kembali benda pipih itu. Langkahnya kembali dilanjutkan dengan perasaan cemas.
"Ada apa,Fil ?" Xavier menggiring langkah dengan rasa penasaran.
"Sepasang pasienku mengamuk."
"Apa hal itu sering terjadi ?" Xavier menarik daun pintu mobil dan mempersilahkan gadis itu masuk.
"Sangat jarang, mereka bukan seratus persen gangguan jiwa. Menurut diagnosa ku, mereka depresi. Entah apa yang mereka alami sebelumnya hingga sampai ke sana. Selama ini mereka ditanggung jawab oleh kerabatnya." Filia sedikit menjelaskan tentang pasiennya.
"Tapi, aku lihat kulit mereka mirip denganmu. Apa mereka kerabat mu ?" Xavier melajukan mobil dan sesekali melirik ke samping.
"Bukan, kulitmu juga sama dengan ku. Apa kamu salah satu kerabat jauhku?"
"Tidak mungkin." Xavier terkekeh.
Filia tersenyum. "Aku akan menyembuhkan mereka, bila gagal aku bisa meminta bantuanmu "
"Dengan senang hati."
__ADS_1
Di tempat yang sama hanya berbeda ruang. Bree menyudahi makan siangnya karena sakit yang sempat menyerangnya kembali kambuh. Bahkan sakitnya semakin kuat, pria itu menggigit bibir sendiri untuk menghalau rasa sakit.
"Tuan, anda kembali merasakan sakitnya." Kecemasan tak mampu ditutupi lagi di wajah Reiki.
"Sangat sakit, Rei." Nafas Bree terengah. "Nafasku juga sesak." Sambungnya sambil menepuk dada.
"Rei, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." Irene gegas menghubungi dokter pribadi keluarga Tyaga. "Kita langsung saja." Ucapnya setelah memastikan.
"Mari tuan, tolong kali ini jangan menolak." Reiki memapah tubuh Bree untuk keluar. Laki-laki itu sangat gugup dan takut, jika kesehatan atasannya itu kembali memburuk.
"Rei, aroma plumeria."
"Iya Tuan saya bisa menciumnya." Luna menatap segala arah mencari sosok pemilik aroma itu.
"Apa Filia dan Xavier kemari ?" Irene ikut mencari objek yang menjadi pembicaraan.
"Siapa mereka ?" Bree merasakan sesaknya berkurang. Aroma plumeria mampu meredakan rasa yang hampir memutuskan nyawanya.
"Mereka teman kami, namanya Filia dan Xavier. Mereka dokter di rumah sakit jiwa." Jelas Irene
"Apa kalian yakin, aroma plumeria ini milik mereka ?" Bree semakin penasaran dan rasa sakitnya berangsur menghilang.
"Tepatnya milik Filia, dia gadis penyuka plumeria." Tambah Luna atas penjelasan Irene sebelumnya.
"Tuan, sebaiknya kita berangkat. Sebelum sakit anda kambuh lagi." Reiki dapat melihat jika sakit atasannya telah berkurang karena pria itu bisa berkata dengan lancar tanpa terbata seperti tadi.
"Baiklah, Irene dan juga Luna kembali ke kantor naik taksi saja, kantor akan kosong jika kalian ikut ke rumah sakit. Saya akan baik-baik saja."
"Baik Tuan, sampaikan pada kami hasil pemeriksaan anda." Irene menatap cemas dan penuh harap jika hasil pemeriksaan akan baik-baik saja.
...----------------...
Di halaman rumah sakit, mobil Bree Tyaga berhenti. Mengetahui siapa yang datang sontak saja para petinggi tempat itu panik. Seorang security berlari kecil menghampiri dengan posisi setengah membungkuk.
"Selamat datang, Tuan."
"Tolong parkirkan mobil dengan benar." Reiki memberikan kunci setelah Bree menjawab sapaan security.
"Baik." Pria muda itu gegas melaksanakan tugas. Sangat istimewa karena bisa memasuki mobil mewah milik putra mahkota Tyaga Adrian.
"Tuan, anda tidak memberi kabar." Beberapa dokter senior setengah berlari menghampiri.
"Aku hanya mengunjungi dokter Axel."
"Saya harus mengantarkan tuan muda ke ruangan dokter Axel." Pamit Reiki sopan dan tidak ingin penyakit Bree kambuh di depan semua orang.
"Baiklah." Para dokter Senior memberi jalan.
Tubuh gagah Bree dan Reiki melangkah menuju ruangan dokter Axel, ketampanan mereka selalu saja menjadi pusat atensi para kaum hawa. Tatapan memuja dan damba, decakan kagum serta senyum menggoda tak lepas menggiring langkah keduanya.
Namun, Bree tetaplah Bree Tyaga Adrian. Seluruh pusat hidupnya hanya untuk Ratu. Pengantin di masa lalu yang saat ini dalam tahap pencariannya. Tangan kekar itu bergerak merapikan sejenak dasi dan jas sebelum mengayunkan langkah kembali untuk masuk ke dalam ruangan yang bertulis dokter Axel.
__ADS_1
"Selamat datang tuan muda Bree Tyaga Adrian."
"Buang senyum menyebalkan itu !"
Axel terkekeh. "Baiklah, apa yang membuatmu datang kemari ? Bukankah kita sudah check up ?" Dokter tampan berambut lurus hitam ini menatap serius.
Axel, dokter muda berwajah tampan, pemilik tubuh tinggi dan sedikit kurus. Tiga tahun lalu pria itu bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Tyaga Adrian. Suatu kehormatan bisa bersentuhan langsung dengan keluarga bangsawan itu. Terlepas persahabatan yang terjalin sejak masih kecil.
"Hari ini aku merasakan sakit yang luar biasa rasanya. Seluruh organ dalam tubuhku terasa akan mati, nafasku sesak dan juga sakit." Bree menjelaskan rasa yang mematikan setengah sarafnya itu. "Dada kiriku sakit sekali." Sambungnya serius.
"Naiklah ke atas brankar." Axel membawa tubuhnya bangun dan melangkah ke sisi brankar. "Sakit dada kiri, apa menjalar ke lengan kiri mu?" Tanyanya sambil menempelkan stetoskop di dada Bree.
"Tidak, tapi bagian dada kiri terasa ditusuk benda tajam. Aku sulit bernafas coba saja tanyakan pada Reiki."
"Apa itu benar, Rei." Axel menyudahi rangkaian pemeriksaan dan kembali duduk.
"Benar dokter, tuan Bree merasakan sakit sekali. Wajahnya pucat dan berkeringat dingin."
"Detak jantung normal dan denyut nadi juga. Tidak ada yang serius, semuanya normal dan sehat. Apa perlu kita adakan pemeriksaan menyeluruh ? Berapa kali kambuh hari ini ?"
"Dua kali sebelum makan dan sesudah makan siang." Bree kembali duduk di depan meja.
"Saranku lebih baik adakan pemeriksaan menyeluruh. Takutnya, penyakitmu belum terdeteksi sebab semuanya terlihat normal dan baik." Axel melemparkan tatapan serius.
"Tak hanya sakit di dada kiri, tuan juga berkata mencium aroma plumeria. Padahal saya tidak menciumnya sama sekali, hanya tadi saat akan kemari itu pun tidak terlalu terasa. Semenjak bangun dari koma, tuan Bree tidak bisa memakan makanan zaman sekarang. Lidahnya sensitif hanya masakan tradisional yang bisa dinikmati." Penjelasan Reiki panjang lebar itu membuat mata Axel tidak berkedip
"Apa itu benar, Bree?"
"Aku memang terbiasa memakan makanan tradisional, di istanaku tidak makan seperti yang kalian makan. Tentang aroma plumeria itu, sebenarnya adalah milik ratuku yang telah tiada. Aku bisa merasakan aromanya meski dengan jarak beberapa meter."
Axel membisu, pena di tangannya jatuh begitu saja di lantai. Dokter itu menatap terkejut dengan bibir terbuka.
"Dokter, anda baik-baik saja?" Reiki menahan tawa dengan reaksi yang ditunjukkan Axel.
"Te—tentu, aku baik-baik saja. Bree sebaiknya kau atur jadwal pemeriksaan ulang baik fisik maupun psikis mu. Aku khawatir hasil pemeriksaan ku salah dan aku akan meminta rekaman medis mu pada dokter yang menangani selama enam bulan koma."
"Terserah padamu." Bree menurut membantah pun tak mungkin, apa yang terjadi saat ini padanya tidak akan ada yang mengerti.
"Saya sudah menghubungi seorang terapis untuk membantu Tuan Bree, sebelum benar-benar buruk kita harus mencegahnya." Sahut Reiki menatap ke arah Axel dan juga Bree.
"Iya, itu bagus. Aku akan mendampingimu sampai sembuh. Jangan cemas kamu tidak gila." Ucapan frontal dari Axel membuat mata Bree membulat tajam.
"Apa ada obat yang bisa aku minum jika sakit itu kambuh ?"
"Sementara, aku berikan obat pereda nyeri dosis rendah. Besok pagi kamu lakukan pemeriksaan menyeluruh." Axel mencoret kertas putih di depannya dengan tulisan yang hanya dirinya tahu.
"Terima Kasih dokter, kami pamit dulu." Reiki menyalami Axel.
"Kapan pun dia kambuh segera telepon aku."
"Tentu." Reiki meraih kertas resep di atas meja.
__ADS_1
"Kirim hasil pemeriksaan pada Irene." Bree melangkah lebih dulu keluar ruangan.
"Dokter, bila anda berkunjung ke mansion jangan kaget dengan apa yang ada di sana." Reiki tersenyum tipis lalu menyusul langkah Bree.