Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Dendam Lama


__ADS_3

Kerutan tipis membingkai kening Eros, matanya menyipit mencari celah main-main pria paruh baya di hadapannya. Sangat jelas Paman Marcel memberikan penawaran yang menarik. Namun sayang semua itu tidak berlaku untuk seorang Eros. Masa lalu yang meruntuhkan sebagian dunia laki-laki itu menjadi peluru untuk menghancurkan bisikan iblis obsesi selama ini. Keterbatasan kuasa dan lemahnya bukti menjadikan Eros menahan sabar dalam penantian yang sangat panjang. Ingin ia menggunakan hukum rimba hanya saja benda menyerupai kalung tergantung di lehernya itu mencegahnya. 


Eros tak lagi mengamati air muka Paman Marcel, ia menegakan duduk cukup sudah membuang waktu, tangan kanannya terulur mengaktifkan kembali perekam suara di bawah meja.


"Waktunya serius." Laki-laki itu tersenyum dan membuka lembar dokumen di depannya. "Tuan Marcel, anda mengirim beberapa orang hari kemarin tepatnya pukul dua belas siang untuk menyerang Tuan Bree Tyaga Adrian di jalan B. Apa itu benar?" 


Paman Marcel berdecak kesal karena pria muda di depannya ini tidak mau bekerja sama. "Ya, itu hanya bentuk pembalasan karena kekasihnya sudah melukai putriku." Jawabnya santai tanpa merasa bersalah. 


"Sebenarnya target anda adalah Nona Filia Aruna, hanya saja Tuan Bree juga berada di dalam mobil yang sama." 


"Pengacara ku akan mengurus ini." Paman Marcel tidak ingin membahasnya. 


"Anda juga otak dari pembakaran kebun plumeria milik sepasang suami istri bernama Tuan Alfon dan Nyonya Melka." Eros menatap tajam disertai buku jari yang memutih karena kuatnya kepalan.


"Siapa yang mengatakan itu ? Aku bahkan tidak tahu masalahnya." Paman Marcel melempar pandang ke segala arah. 


Eros tersenyum tipis sebagai orang yang terlatih membaca ekspresi, ia bisa menebak gurat laki-laki di depannya. "Bagaimana kalau itu benar anda dalangnya?" 


"Sudah aku katakan, aku tidak tahu !" Paman Marcel membantah dengan keras. 


"Dimalam seharusnya pak Alfon mengirim plumeria ke Tyaga group, anda keluar dari rumah tepat pukul sembilan malam dengan pakaian serba hitam menaiki mobil jeep berwarna hijau bersama empat orang. Bisa dijelaskan kemana anda malam itu ?" 


"Kau menguntitku ?" Paman Marcel terbelalak tak percaya. "Aku melakukan pertemuan penting."


"Benarkah ? Tapi anda pulang pukul tiga dini hari, apa ada pertemuan selarut itu?" Seringai ejekan tersemat di bibir Eros.


"Kau memata-matai rumahku ? Atau sengaja mencari kesalahan ku ?!" Paman Marcel menggebrak meja meluapkan kekesalan yang memenuhi ruang dada.

__ADS_1


"Kami sudah memeriksa Cctv pos gerbang rumah anda demi kelancaran penyelidikan dan juga Nyonya Vindy sudah mengizinkan karena kami membawa surat resmi." Eros memasang wajah datar melihat gurat keterkejutan paman Marcel. "Alibi anda tidak tepat, Tuan !" Laki-laki itu meletakan benda segi empat tipis berwarna hitam. "Ini ponsel milik anda, 'kan?" 


Mimik wajah Paman Marcel berubah, tubuh tua itu terlihat gelisah di ikuti pergerakan iris matanya, mengelak pun percuma karena seluruh percakapan pada orang-orang suruhannya ada di sana. Pasti Eros sudah mengecek isi dalamnya. Sial sekali benda itu jatuh di lokasi pembakaran. 


"Iya aku melakukannya karena Bree tidak menyetujui permintaanku untuk membuat sepatu." Intonasi datar itu menandakan betapa bencinya paman Marcel. 


"Sepatu dari kulit hewan maksud anda?" Sahutan itu membuat seluruh saraf laki-laki paruh baya itu menegang, pasokan oksigennya terasa menipis dan terasa mencekik. Tangannya sangat kentara bergetar saat melonggarkan simpul dasi di leher. "Anda melakukan perburuan tanpa izin dan menargetkan hewan lindung hutan sebelah barat kota." Sambung Eros meletakan beberapa gambar di atas meja. "Kulitnya anda jadikan sepatu dan juga tas, dagingnya anda jadikan makanan beku kemudian tulang-tulang hewan itu menjadi pajangan di rumah anda sebagai karya seni." 


Lemas seluruh tubuh Paman Marcel, tak menyangka Eros tahu detail itu. "Apalagi yang kau tahu." Kekehan kecil terdengar di bibirnya. 


"Selama ini, anda melakukan korupsi di kantor induk Tyaga dengan peralihan dana sebagai sumbangan ke panti jompo, namun pelarian dana itu adalah ke pabrik kecil milik anda yang tidak diketahui dewan k0misaris Tyaga Group." Eros meletakkan kembali barang bukti di atas meja. "Apa jadinya kalau putra mahkota Tyaga tahu, pamannya berusaha menusuk dari belakang?" 


"BRENGSEK !" Tanpa diduga paman Marcel naik keatas meja dan melayangkan kepalan tangan di wajah Eros. 


Detektif berkulit sawo matang itu terjungkal dari kursi karena posisi yang tidak siap. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Namun Eros bersikap tenang dengan seringai mengerikan. "Aku pastikan kau membusuk di sel tahanan." Ucapnya dingin sambil menyeka aliran darah dari sudut bibirnya. 


Eros tak hanya menerima,  tangannya terulur ke bawah meja menonaktifkan perekam suara dan mengaktifkan peredam suara. "Kesalahan mu tidak hanya itu tua bangka ! KAU TELAH MEMBUNUH CALON ISTRIKU DI HUTAN ITU !" Teriaknya sambil memukul wajah paman Marcel 


Di balik kaca pembatas rekan dan atasannya berteriak meminta berhenti melihat Eros memukul brutal paman Marcel. Hingga laki-laki tua itu tak mampu melakukan perlawanan. 


"Eros hentikan, dia bisa mati." Seseorang masuk menerobos ruang interogasi. 


"DIA PANTAS MATI !" Eros memberontak dari dekapan rekan kerjanya itu. 


"Ada hukum yang menyelesaikannya." 


Melihat satu orang kewalahan menenangkan Eros yang sudah kerasukan emosi, masuk lagi dua orang membantu dan menyeretnya keluar dari ruangan itu. Sementara paman Marcel tersungkur dengan wajah babak belur dan tubuh rasa hancur. Seharusnya, ia tidak memulai untuk memukul Eros. Karena kelipatannya sangat sakit yang diterima. Otaknya kembali mengingat siapa yang telah ia lenyapkan? 

__ADS_1


Dengan dibantu dua orang petugas paman Marcel duduk kembali di kursi. Tak ingin menunda interogasi atasan Eros turun tangan. 


"Tuan Marcel tindakan anda tidak dibenarkan menyerang anggota kami dalam bertugas." Kepala detektif itu bersuara sambil menghela nafas panjang. 


"Dia pantas mendapatkannya." Tanpa sesal Direktur personalia itu menjawab sambil merintih sakit. 


"Kejadian di hutan sebelah barat kota, anda mengingatnya?" 


"Tidak." 


Kepala detektif itu mengeluarkan proyektil peluru "Ini ditemukan dalam tubuh anggota tim kami yang tertembak saat akan melakukan penyergapan di hutan sebelah barat kota. Dari Cctv yang baru diperbaiki saat itu menunjukan anda memasuki hutan dengan membius penjaga pos jalan masuk. Pelaku penyerang pada putra mahkota Tyaga mengakui bahwa anda menembak detektif Devarga, karena sudah melihat wajah anda saat akan membawa hewan yang telah mati ke dalam mobil kontainer. Namun, anda mencuci tangan dengan mengkambing hitamkan salah satu saksi yang melihat kejadian tersebut yaitu orang anda sendiri yang saat ini tengah menjalani hukuman." 


Paman Marcel tak berkutik saat satu senjata api di sodorkan kehadapannya. Ya, itulah senjata yang ia pakai untuk menembak detektif Devarga kekasih Eros. Karena kepepet dan ketahuan paman Marcel memilih menembak gadis itu tepat di dada kirinya. 


Setelah tenang Eros kembali masuk untuk menyelesaikan tugas. "Saya yang akan melanjutkannya." Dibalas anggukan pelan dari sang atasan. "Saat penembakan itu anda membawa mobil kontainer dan memberikan senjata ini kepada anak buah anda lalu melakukan negosiasi pada keluarganya." Paman Marcel bungkam tak mampu menjawab semua sudah mengarah padanya. "Kami memiliki bukti saat anda menemui keluarga laki-laki itu dan setiap bulan mengirim uang pada keluarganya." Eros  meletakan rekening koran mutasi uang Paman Marcel. 


"Kenapa kau yakin kalau aku menembak gadis itu?"


"Karena di gagang pistol ada sidik jari anda, sementar di batang pistol ada sidik jari tuan Erhan yang menjadi tersangka saat ini. Bukti cukup lemah karena senjata ada ditangan tuan Erhan untuk menyeret anda kesini, tapi kemarin dia mengakui semuanya. Karena anda tidak lagi mengirim uang pada keluarganya sejak empat bulan lalu. Dia juga memberikan rekaman suara saat anda melakukan negosiasi dengannya sebelum sidang."  


Interogasi cukup alot, Eros memutuskan menutupnya karena bukti sudah kuat untuk menjebloskan paman sahabatnya itu.  Pupus sudah harapan paman Marcel, pengacara yang diharapkan baru saja mengatakan tidak berjanji memenangkan kasus yang memang sulit dimenangkan saat persidangan nanti. 


***


TERIMAKASIH UNTUK KALIAN YANG MASIH MELUANGKAN WAKTU SINGGAH DI KARYAKU YANG TIDAK SEBERAPA INI. GIMANA TANGGAPAN KALIAN DENGAN ALUR CERITANYA ?


PESIMIS KU TERBUKTI KALAU LAPAK INI SEPI. SEKALI LAGI THANKS BUAT KALIAN YANG MASIH SEMPAT BACA 🥰

__ADS_1


__ADS_2