
Bahasa sewaktu-waktu bisa berubah ya, sesuai lingkungan.
...----------------...
Bree Tyaga Adrian, masih menghabiskan waktu di rumah untuk pemulihan pasca koma enam bulan. Pria itu belum sekalipun menginjakkan kaki ke kantor, semua karena pemulihan yang belum total. Bree menuruni anak tangga dari lantai dua ke bawah, tubuh tingginya menawan mata siapapun yang melihatnya.
"Selamat pagi. Tuan."
"Selamat pagi, Bibi Jo." Bree mendaratkan tubuhnya di atas kursi meja makan. Manik matanya bergulir ke segala arah.
"Selamat pagi, Tuan." Reiki datang dan menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi.
"Pagi, Rei. Mari kita sarapan." Bree mengisi piring dengan makanan yang tersedia. Meski sedikit asing dengan rasa masakan itu namun tetap memakannya
Bibi Joana tersenyum melihat Bree perlahan sembuh dan juga sehat. Selama enam bulan ia dirundung kesedihan karena si tuan muda tergeletak tidur di ranjang rumah sakit.
"Rei, Bibi Jo ! Minggu depan, ganti semua seragam asisten mansion. Belikan seragam baru seperti pakaian tradisional. Di istana ku, tidak ada berpakaian seperti mereka rasanya sedikit aneh."
Reiki gegas meraih gelas setelah tersedak makanannya. Permintaan Bree sangat aneh di telinganya. Sejak bangun atasannya itu selalu membicarakan tentang istana dan ratu. Sepertinya ia harus memanggil terapis yang bisa mengembalikan jiwa Bree seutuhnya.
"Baik Tuan, saya akan mencari pakaian yang cocok untuk mereka kenakan."
"Aku juga ingin dibuatkan rumah kaca di samping taman plumeria. Sebab, ratuku hobby membaca dan aku ingin membuat perpustakaan kaca untuknya."
"Baik Tuan."
Tekad Reiki sudah bulat mencari terapis untuk Bree Tyaga Adrian. Sebelum tuannya itu gila karena halusinasinya maka harus cepat disembuhkan.
...----------------...
Di dalam ruangan kerja, Bree masih membasahi pena bulu dengan tinta. Desain taman plumeria belum juga selesai, tak tanggung-tanggung pria itu mengeluarkan seluruh ingatannya pada taman plumeria di istana.
Senyumnya masih mengembang dengan sempurna sambil terkagum melihat hasil rancangannya. Pria mengenakan jaket rajut ini semakin tampan dengan rambut yang telah terpangkas rapi.
"Tuan, ini teh anda." Bibi Joana meletakkan cangkir teh di atas meja.
"Bibi, aku tidak menyukai teh itu. Bisa diganti dengan teh lain?" Bree berkata tanpa mengangkat kepalanya yang tertunduk.
"Anda ingin teh apa, Tuan ?"
"White tea."
"Baik Tuan." Bibi Joana membawa kembali teh buatannya.
Bree meletakkan pensil bulu lalu tersenyum puas melihat keseluruhan hasil desainnya. "Sangat indah, aku yakin ratu tidak akan bosan berada disini. Ah, aku semakin merindukannya."
__ADS_1
Reiki yang baru datang dari kantor tersenyum tipis sambil membawa dus di tangannya. "Tuan." Sapanya menaruh dus itu di lantai.
"Apa itu ? Kenapa kau cepat kembali ?"
"Urusan kantor sudah selesai dan berjalan lancar. Ini bibit bunga plumeria yang anda minta." Reiki membuka dus dan memperlihatkan isinya.
"Terimakasih Rei, mulai sore ini aku akan berkebun dan menanamnya sendiri." Bree tersenyum puas
"Tuan muda, anda bisa meminta beberapa orang asisten mansion untuk membantu."
"Itu tidak perlu, aku ingin membuatnya sendiri untuk ratuku." Bree bangkit dari kursi dan melangkah menghampiri dus.
"Baiklah, Tuan Bree ada yang ingin saya bicarakan."
"Apa itu?" Bree membawa tubuhnya berdiri dan berpindah duduk di sofa ruang kerjanya. "Duduklah, apa yang ingin kamu bicarakan ?" Sambung laki-laki ini menatap asistennya.
"Semenjak anda bangun dari koma, saya perhatikan sikap anda sedikit aneh. Apa ada yang anda rasakan di bagian tertentu? Anda sering berhalusinasi tentang ratu, dan kehidupan tradisional di zaman kuno."
Bree tersenyum tipis, ia sudah menduga hal ini akan mengganggu pikiran Reiki. Tapi membantah pun, kemungkinan asistennya itu tidak akan mengerti apa yang di alami nya. "Sebenarnya aku tidak aneh, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Tentang ratu itu nyata." Jelasnya sedikit atas apa yang terjadi.
"Tuan, saya harus memastikan kondisi anda benar-benar baik. Sebagai pemimpin Tyaga grup anda harus sehat jasmani dan rohani. Jadi, izinkan saya mendatangkan seorang terapis untuk anda."
"Baiklah, aku menurut saja." Bree tidak menolak. Walau bagaimanapun ia harus memberikan laporan terbaik atas kesehatannya.
"Tuan, di luar ada tuan Leon dan juga tuan Eros." Bibi Joana datang memberi tahu kedatangan tamu di Mansion.
"Bree, bagaimana kabar mu?" Leon bangun dari duduknya lalu memeluk versi pria.
"Sudah membaik." Bree membalas pelukan.
"Wah, setelah tidur panjang, kau tetap saja tampan." Eros memberi sedikit tinju di dada bidang Bree yang mulai berisi.
"Kenapa kalian baru kemari?"
"Aku ada pekerjaan ke luar kota. Mendengar kabarmu bangun, aku ingin segera mengunjungimu tapi sayang ada sedikit kendala di pekerjaan ku." Leon mengungkap rasa sesalnya.
"Tidak masalah, sekarang aku sudah bangun dan sehat." Bree terkekeh hingga terlihat berkali lipat tampan.
"Tentang kecelakaan yang menimpamu, belum ada titik terang tapi aku akan berusaha mencarinya sampai ketemu." Eros yang berprofesi sebagai detektif masih berjuang keras.
"Terimakasih, Er ! Mekanik yang melakukan sabotase pada mobilku sudah melarikan diri. Aku rasa ada orang berpengaruh di belakangnya, dia hanya seorang mekanik untuk bersembunyi dengan rapi seperti ini tidak mudah untuk dilakukan tanpa koneksi yang kuat."
"Anda benar Tuan, saya juga sudah mencari siapa saja yang mencurigakan tapi nihil belum terlihat." Reiki menyahut dan mengatakan usahanya yang gagal.
"Tenang saja, Rei. Aku ada ide bagaimana jika dimasukan ke dalam daftar pencarian orang? Dengan begitu dia akan merasa gelisah dan takut. Sewaktu-waktu dia akan keluar sendiri." Saran Leon antusias.
__ADS_1
"Bisa, di istanaku kalau ada pemberontak maka sketsa wajahnya akan ditempelkan dimana-mana."
"Istana ?" Eros menatap heran.
"Hei, kamu berhalusinasi ?! Ini zaman modern." Leon terbahak.
"Aku serius, kalian tidak percaya ? Aku adalah raja dan memiliki ratu yang cantik. Tapi karena kesalahanku, ratu meninggal membawa calon penerusku." Bree menatap sendu dan guratan sedih itu begitu nyata tercetak di wajahnya.
Leon dan Eros terdiam, sorot mata mereka mengarah kepada Reiki yang tersenyum kaku. Ia pun baru mendengar hari ini jika Bree adalah seorang raja.
"Bree, aku tahu kamu memang putra mahkota Tyaga Adrian. Darah bangsawan mengalir dalam tubuhmu. Tapi untuk jadi raja ? Rasanya mustahil, kamu juga belum menikah bagaimana bisa ada permaisuri atau ratu ?" Leon menyisakan tawa.
"Itulah aku enggan membahasnya, kalian tidak akan percaya." Kesal Bree dengan wajah memerah menahan malu.
"Rei, ada yang ingin kamu jelaskan tentang kondisi Bree?" Eros sudah menyelesaikan tawanya langsung melemparkan tanya.
"Semenjak bangun dari koma, tuan Bree sering bicara tentang kerajaan dan ratu. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan seperti gila misalnya. Saya akan mencari seorang terapis." Jelas Reiki dengan sedikit mencibir.
"Ya, aku rasa itu bagus. Setidaknya Bree mendapatkan perawatan sebelum benar-benar parah." Leon menatap Reiki serius.
Sementara objek yang jadi pembicaraan hanya diam menyimak dengan raut wajah menyebalkan. Bree mengejek dalam hati tentang rencana asistennya itu.
"Aku ada kenalan seorang terapis, banyak pasiennya yang telah sembuh. Aku bisa menghubunginya jika kalian ingin bertemu." Saran Eros.
"Bagaimana, Tuan?" Reiki melemparkan tanya pada Bree.
"Terserah padamu, kalian yang ingin mengobatiku."
"Baiklah, aku bantu atur jadwal bertemu dengannya." Eros mengeluarkan ponsel dan berkirim pesan.
"Jadi, kapan rencana kalian untuk memasukan mekanik itu ke dalam DPO ?" Leon mengembalikan topik pembicaraan.
"Secepatnya, aku akan datang ke kantor setelah Tyaga food meluncurkan produk baru." Ujar Bree mantap.
"Apa Tyaga fashion dan otomotif juga mengeluarkan produk baru?" Eros bertanya karena akan melakukan penyelidikan lagi.
"Untuk Tyaga otomotif kemungkinan belum, untuk saat ini kami kehilangan kepercayaan konsumen karena insiden itu. Jadi aku harus membuktikan lebih dulu jika produk yang pernah kami keluarkan itu sangat layak hanya saja ada campur tangan jahat yang merusak citranya. Aku akan membersihkan nama Tyaga otomotif lebih dulu dengan begitu baru kami bisa mengeluarkan produk baru. Sementera biarkan Tyaga otomotif melakukan evaluasi."
"Kamu benar, nama Tyaga otomotif mungkin sudah sepi dari perbincangan publik. Untuk mengembalikan nama baiknya, kamu harus menemukan mekanik itu." Leon menyetujui perkataan Bree.
"Jadi, selagi Tyaga otomotif melakukan evaluasi. Untuk menutup kerugian yang besar saat ini, apa yang akan kamu lakukan?" Eros meraih cangkir teh dari atas meja lalu menyesapnya perlahan.
"Aku akan membuat gebrakan baru untuk menutupi kerugian di Tyaga otomotif, untuk sementara aku akan melakukan evaluasi sendiri. Nanti setelah berhasil aku akan mengumumkannya."
"Jadi kamu tidak memberitahu kami?" Leon menatap kesal.
__ADS_1
"Tentu, karena ini menjadi rahasia perusahaan." Bree tersenyum puas.