
Di rumah kaca Bree menemani sang ratu untuk membaca, hal sama pun juga dilakukan Filia menemani si tuan muda untuk bekerja. Sesekali saling mencurahkan perhatian dan juga kasih sayang. Filia tak menampik lagi ada cinta yang bersemayam dalam hatinya setelah lama tinggal di bawah atap yang sama. Terlebih mendengar cerita tentang si tuan muda, gumpalan daging lembut dalam tubuh Filia tergerak untuk mendampingi Bree Tyaga Adrian.
"Ratu Filia. Aku ada sesuatu untukmu."
"Bisa jangan memanggilku dengan sebutan, Ratu?" Filia tersenyum karena sampai detik ini laki-laki di hadapannya itu masih memanggil dengan embel-embel ratu.
"Tidak bisa, karena memang kamu ratu. Maaf untuk itu aku tidak bisa memanggilmu tanpa embel-embel ratu."
Filia mengangguk, sampai disini gadis itu mengerti. Bahwa si tuan muda masih dalam perawatan. "Baiklah, jadi apa yang ingin kamu berikan?"
"Ini." Bree mengeluarkan perhiasan rambut yang merupakan jepit rambut tusuk berwarna perak. Di desain seperti milik ratu di masa lalu. "Ini adalah milikmu saat masih di istana, tapi di buat di tempat ini dan aku masih mengingat baik bentuknya."
Iris mata Filia berselaput kabut, perasaannya terharu dan juga senang. Belum pernah ia melihat perhiasan seperti itu sepanjang hidupnya. "Ini sangat indah." Ucapnya dengan pita suara bergetar. "Apa benar ini milikku ?"
"Iya itu milikmu, bahannya dari emas putih asli, kemudian dilengkapi intan yang belum diasah jadi berlian."
"A—apa ? Ini sangat berlebihan." Filia menoleh ke samping menatap dalam wajah si tuan muda. "Aku tidak bisa menerimanya." Tolak gadis itu pelan.
"Ratu Filia, ini adalah milikmu. Dulu kita membeli perhiasan rambut yang sama dengan ini. Perhiasan itu terbuat dari perak dan ringan di kepala. Tapi aku pastikan jika bentuknya sama dengan ini."
"Tapi ini sangat berlebihan."
"Jangan menolaknya, aku pasti sedih." Obsidian putra mahkota itu tampak sendu dan berbingkai kaca kristal.
"Baiklah terima kasih. Tapi jangan lagi membeli barang seperti ini."
"Aku tidak berjanji." Bree tersenyum kemudian bangkit dari tempatnya duduk. Laki-laki itu memposisikan tubuhnya di belakang sang ratu. Dengan pergerakan lembut menata rambut Filia dan menyisipkan jepit rambut tusuk. "Cantik." Ucapnya dengan senyum puas.
"Maaf mengganggu anda berdua."
"Silahkan duduk Aslan." Bree mendaratkan tubuh di sisi Filia.
__ADS_1
"Bagaimana kabar anda, Tuan?"
"Sangat baik." Bree melemparkan senyum hangat.
Aslan memulai tanya jawab lagi, melanjutkan rangkaian sharing. Tak lupa mengatakan perkembangan bibi Chen dan juga paman Gio yang juga pasiennya.
...----------------...
Usai menyelesaikan pekerjaan yang hanya sedikit, Bree dan Filia masuk kembali ke dalam mansion setelah setelah bertemu Aslan. Kini sepasang insan itu tengah bersantai di ruang tengah sambil berbincang, seperti dulu Bree akan diam mendengarkan sang ratu bicara sambil menatapnya penuh cinta di sertai senyum manis melengkung tipis penuh pesona.
"Kau mendengarku?"
"Tentu ratu Filia." Bree terkekeh tanpa merubah posisi yang berhadapan pada sang ratu. "Dari dulu hingga sekarang aku akan selalu mendengarkanmu saat bicara." Sambungnya penuh kelembutan.
Filia memalingkan wajah menyembunyikan rona merah di pipinya, berulang kali seonggok daging lembut di tubuh ramping itu melambung bahagia.
"Bree."
"Bibi dapat kabar dari Widan jika hari ini kamu tidak masuk ke kantor, apa kamu sakit?" Seperti biasa Bibi Lexa berkata lembut penuh kasih sayang. Iris mata wanita paruh baya itu mencerminkan kekhawatiran.
"Bibi aku baik-baik saja dan sehat." Bree tersenyum. "Widan berlebihan." Sambungnya terkekeh.
"Dia gadis yang waktu itu di pabrik bersamamu, 'kan?"
"Iya, dia kekasihku."
"Siapa namamu ? Kau sangat cantik." Bibi Lexa melemparkan senyum manis.
"Filia."
"Ternyata keponakanku sudah dewasa." Bibi Lexa menatap wajah Bree, kemudian wanita paruh baya itu melemparkan pandang pada pigura raksasa yang tergantung di dinding. "Andai Papa mu masih hidup, pasti dia bangga padamu." Sambung Bibi Lexa sendu.
__ADS_1
"Aku pamit ke belakang dulu, ingin melihat bibi Jo memberi makan ikan di kolam." Seru Filia sengaja memberi waktu berdua pada bibi dan keponakan itu.
Bree mengangguk tanpa menjawab hanya senyum sebagai isyarat. "Bibi benar, andai Papa masih hidup. Pasti dia akan senang, namun sayang itu semua tidak akan kembali lagi."
"Mereka gegabah, mendengarkan kamu tersesat di hutan saat berburu bersama Axel. Mereka patah semangat dan hilang tujuan, satu minggu kehilanganmu membuat mereka terpuruk dan memutuskan meminum racun itu." Bahu bibi Lexa bergetar dan tangisnya pun pecah pilu.
"Sampai saat ini aku belum tahu kenapa mereka mengambil keputusan itu dan tidak menungguku."
"Saat itu, setelah tiga hari kamu dan Axel belum ditemukan. Kak Adrian dan juga Kak Ivanka sudah mulai tak memperdulikan diri, begitu juga orang tua Axel. Hari terus berlanjut dan kalian belum ditemukan, mereka sangat putus asa setelah kalian dinyatakan meninggal karena medan yang kalian lalui sangat berbahaya. Dapat dipastikan kalian tidak akan selamat, setelah pencarian selama satu minggu. Sambil menunggu penemuan jenazah kamu dan Axel. Pihak keluarga akan memberikan pernyataan resmi tentang kalian. Namun, sebelum itu terjadi rupanya orang tuamu sudah meminum racun di malam hari. Hingga ditemukan sudah tidak bernyawa saat pagi hari." Bibi Lexa mengusap jejak air mata di pipi sambil mengakhiri cerita.
"Semua sudah terjadi dan tidak dapat dikembalikan lagi. Tapi bagaimana orang tua Axel bisa kecelakaan di pagi saat kedua orang tuaku meninggal?"
"Saat itu, bibi Chen dan Paman Gio berangkat pagi sekali ke rumah Axel. Kami pun tidak tahu kenapa ? Dan bibi Joana mengabari kedua orang tua Axel tentang kejadian pagi itu saat menemukan Kak Adrian dan juga Kak Ivanka tak bernyawa. Karena itulah kami duga mereka berangkat bersama satu mobil dan terjadi kecelakaan. Bibi sangat tahu hal itu adalah pukulan terberat untukmu dan Axel." Bibi Lexa meraih gelas berisi teh dan meminumnya perlahan. "Jangan merasa sendiri masih ada Bibi dan juga Widan bersamamu. Sudah beberapa tahun terlewati masih hangat rasanya kejadian itu."
Bree tersenyum kemudian merangkul pundak Bibi Lexa dengan lembut. "Aku sudah merelakan semuanya begitu pun Axel. Sekarang tugasku adalah mengembangkan Tyaga group." Ucapnya tersenyum.
"Ya, kamu benar. Tugas kita adalah mempertahankan Tyaga group dan juga mengembangkannya."
Usai memastikan jika kondisi Bree baik dan sehat. Bibi Lexa berpamitan dan meninggalkan mansion milik si tuan muda. Setelah mendapatkan kabar dari Widan jika Bree tidak datang ke kantor, wanita paruh baya itu gegas menjenguk sang keponakan.
"Bibimu sudah pulang." Filia tersenyum menyambut kedatangan pemilik mansion itu.
"Iya, apa mereka tidak kenyang ?"
"Aku baru saja memberi mereka makan. Tadi lagi bicara sama bibi Mei." Filia tersenyum lalu melemparkan makanan ikan ke dalam kolam. "Teratai ini sangat cantik."
"Kalau kamu mau aku akan membuat kolam teratai untukmu." Bree menatap lembut.
"Tidak perlu, ini saja sudah cukup. Teratai air memang cantik dan tumbuh liar. Kau paham maksudku?"
"Tentu."
__ADS_1