Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Akhir sebuah hubungan


__ADS_3

Gemuruh petir bersahutan menggiring ribuan air jatuh ke bumi, akar putih menjalar begitu mengerikan di atas langit. Satu jam sudah Bree masih terpaku pada titik air yang turun dari cakrawala. Diam membisu duduk di atas kursi roda bergeming pada kehadiran para sahabat yang menatap sedih ke arah punggung tegapnya. 


Sorot mata sendu penuh luka membingkai obsidian hitam milik si tuan muda. Tanpa sepatah kata duduk menyendiri menghadap kaca pembatas bangunan. Dari sana Bree bisa melihat pergerakan orang-orang diluar. Namun, tetap tak memberi warna pada netra seperti sebelumnya. Tidak ada lagi sinar mata serigala di tengah kegelapan pada iris mata laki-laki itu, semua nampak hitam tanpa warna. 


"Tuan, istirahatlah." Reiki berucap dengan posisi tubuh di belakang sang atasan. Laki-laki itu dapat memahami perasaan si tuan muda yang diusir begitu saja oleh pemilik hati. 


"Dia membenciku." 


"Dokter Filia hanya shock atas kejadian tadi malam. Dia tidak membenci anda." Reiki mengayun langkah dan menurunkan tubuh dengan bertumpu pada kedua lutut berhadapan pada Bree.


"Mata itu dingin melihatku, suaranya penuh kebencian. Sangat sakit." Intonasi rendah keluar dari Bree menggetarkan hati para pendengarnya. 


"Nanti kita temui lagi." Reiki membawa tubuh berdiri dan menarik kursi roda lalu mendorongnya ke arah brankar. 


"Bree, jangan terlalu dipikirkan." Leon menyeret langkah ke arah lawan bicaranya. "Kamu istirahatlah, aku harus kembali bekerja."


"Leon benar, sekarang aku kembali ke ruanganku. Gunakan waktu dengan baik biar cepat pulih." Axel bangkit dari sofa dan melenggang keluar. 


Bree menatap punggung dua sahabatnya yang menghilang di balik daun pintu. Pandangannya kosong dengan ragam pertanyaan berkecambah di dalam benak. Reaksi Filia mampu memperdalam luka tusuk di perut samping laki-laki itu. Tatapan ratunya bisa menyobek seluruh perasaan Bree. 


Satu jam sebelumnya


Dengan mengerahkan semua kekuatan yang dimiliki dan segenap tenaga menahan rasa sakit yang menekan. Bree membawa tubuhnya naik ke atas kursi roda dan meminta Reiki mengantarkan ke kamar rawat Filia. Laki-laki itu mendorong daun pintu perlahan, pemandangan di depan mata memang menyakitkan ketika sang ratu dalam pelukan laki-laki lain. Namun, cemburu dan sakit di telan begitu saja dengan menumbuhkan pikiran positif didalam tempurung kepala. 


"Ratu." 


"Pergi !"


Satu kata membunuh ruang gerak Bree, tatapan dingin seorang Filia merenggut senyum yang berkembang di bibir laki-laki itu. 


"Ratu, bagaimana keadaanmu?" Pertanyaan itu terlontar digandeng getaran dari pita suara. Tanpa bergerak dari posisi Bree memindai wajah pemilik cinta.

__ADS_1


"Kau tidak mendengar ?! Pergi !" 


Intonasi meninggi merajai ruang rungu seorang Bree hingga mampu menggetarkan seluruh tulang dan melumpuhkan seluruh daksa. Sakit, rasanya amat sakit. 


"Kamu berhak marah padaku, karena secara tidak langsung menempatkanmu dalam posisi itu. Aku minta maaf." Bree memaksa menggerakan rahang untuk berkata meski rasanya berat dan terkunci. "Jangan mengusirku." Tangan laki-laki itu terangkat memberi kode pada sang asisten agar lebih masuk kedalam.


"PERGI !" Nada enam oktaf dengan raut penuh kemarahan Filia menatap tajam pada sosok yang kini termangu di kursi roda. "PERGI." Teriaknya kembali mengabaikan rasa sakit bekas robekan di sudut bibir.


"Selamat pagi semuanya." Sapaan dokter meretakan kaca ketegangan namun belum juga mencairkan suasana. Dokter paruh baya itu tersenyum dan melangkah di sisi brankar. "Selamat pagi Nona Filia, kita periksa dulu kondisi anda. Ada keluhan ?" 


"Dokter usir orang itu." Tanpa menatap objek yang dimaksud Filia melahirkan permintaan pada Dokter yang menatap bingung. 


"Filia, dia Tuan Bree kenapa kau mengusirnya." Xavier bangun dari rasa keterkejutan langsung melayangkan tanya. Laki-laki itu membisu di tempatnya berdiri karena tak memahami kondisi. 


"USIR DIA." 


Dokter memberanikan diri ketika melihat pasiennya tidak tenang dan merasa terganggu. Dengan berat hati dokter tua itu membawa langkah kehadapan Bree yang menatap lekat wajah sang ratu. 


"Baiklah dokter, periksa dokter Filia dengan benar. Maaf membuat anda tidak nyaman." Reiki lekas menyahut dalam hati laki-laki itu tidak terima atasannya di perlakukan kasar oleh gadis yang dicintai si tuan muda. "Kami akan keluar." Lanjutnya menatap datar pada Xavier dan juga Filia. 


Tanpa membantah Bree membiarkan asistennya memutar kursi roda meninggalkan tempat itu, ia terperangkap dalam kesakitan dan juga kebingungan. Begitu hebatkah efek kejadian semalam? Sampai dirinya diperlakukan seperti itu oleh sang ratu. 


...----------------...


Bree meminta Reiki untuk mengantarnya kembali ke ruangan sang ratu, laki-laki itu berharap gadisnya sudah tenang. Semangat kembali dikumpulkan untuk menemui Filia, rindu telah menggebu bercampur rasa takut akan di usir. 


"Rei, antar aku ke ruangan ratu Filia." Sakit yang mendera di abaikan begitu saja oleh Bree demi rasa yang ingin melihat langsung wajah penanam rindu. 


"Baik tuan tapi sebelumnya kondisikan hati anda siapa tahu dapat penolakan lagi." Reiki masih menyimpan kecewa yang besar.


"Hm, dia pasti punya alasan kenapa bersikap seperti itu. Siapapun dalam kondisi tadi malam pasti mengalami ketakutan yang luar biasa." Bree mencoba menawar kecewa yang dirasakan sang asisten. Laki-laki itu tahu setiap membicarakan sang ratu maka air muka Reiki berubah. 

__ADS_1


"Baik tuan." Asisten tampan itu menghela nafas panjang mencoba mengenyahkan rasa kecewa. 


Hanya beberapa langkah, si tuan muda kini berhadapan dengan daun pintu ruang rawat Filia Aruna. Jantung seketika berdegup manja, meronta dalam biliknya. Debaran itu semakin kasar saat tangan terangkat mendorong gagang pintu. Pandangan Bree jatuh pada sosok yang kini duduk di atas brankar tersenyum tipis pada seseorang yang tengah menemani. 


"Ratu." Gumpalan daging tak bertulang di tubuh Bree berdenyut nyeri saat panggilan di balas raut tak suka dari pemilik jiwa. "Ratu Filia bagaimana kondisimu." Lidah laki-laki itu sedikit memiliki keberanian melontar tanya meski dengusan kasar yang di dengar. 


"Saya sudah membaik, tuan." 


Kalimat pendek itu membunuh kembali ruang gerak Bree Tyaga. Daksa mematung ketika mendengar panggilan tak biasa dari Filia. Laki-laki itu kembali termangu di kursi roda dengan tatapan penuh kekecewaan. 


"Ada apa denganmu?" Intonasi rendah mengisi ruang rungu Filia. Pertanyaan Bree mampu menarik pandang gadis itu. "Apa kejadian tadi malam yang membuatmu seperti ini?" Lanjut tanya laki-laki itu berusaha melepas kunci pada rahang. 


"Tinggalkan kami berdua." Filia melemparkan tatapan pada Xavier dan juga Reiki. "Ada yang ingin aku sampaikan pada tuan Bree." Sambungnya menatap lekat pada objek yang kini melihat penuh kerinduan padanya. 


Tanpa menjawab Xavier dan juga Reiki membawa langkah meninggalkan dua insan yang kini tengah perang dingin tanpa penyebab yang jelas. 


"Ratu, kau kenapa ? Jika permasalah tadi malam membuatmu seperti ini, aku minta maaf. Semua luar dari kendaliku." Bree berucap sangat lembut tanpa beranjak dari posisi dimana sang asisten meninggalkannya. Bibir pucat laki-laki itu tak menanggalkan ketampanan yang nyaris sempurna. 


"Tuan, kejadian semalam menyisakan efek yang luar biasa untuk saya. Dan juga saya menyadari setelah mendapatkan kekerasan itu. Tidak seharusnya saya berada disisi anda, apalagi dengan sebuah status. Kejadian tadi malam memberikan saya pelajaran jika nyawa saya terancam bila memaksakan diri berada disekitar anda." Filia meraup oksigen sebanyak-banyaknya setelah memaparkan kalimat panjang. 


"A—apa maksudmu?" Bree terbata berusaha mencerna kalimat yang baru saja di dengar. Kepalan di tangan membuktikan jika rasa sakit mulai menjalar ke tendon dalam tubuhnya. 


"Kita selesai." Filia menjeda kalimatnya dengan menarik nafas panjang. "Tuan Bree, saya ingin mengakhiri hubungan yang terjalin antara kita. Mulai saat ini kita bukan lagi sepasang kekasih karena saya tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk bersama anda." Sambung gadis itu tegas. 


Dunia Bree kusut mendengarkan kalimat yang tak pernah terduga olehnya. "Kamu bercanda, 'kan?" 


"Saya tidak bercanda tuan Bree, selama ini apa yang saya lakukan dan akui dihadapan anda hanya semata-mata membantu anda dalam pengobatan." Filia berkata dengan mimik serius dan tak berkedip menatap dalam manik mata seorang Bree. "Karena kondisi saya mulai membaik besok dokter memperbolehkan saya pulang. Itu artinya saya juga akan keluar dari mansion anda. Sebagai dokter jiwa yang menangani penyakit anda. Maka saya mengatakan anda telah sembuh. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi." 


Tubuh Bree seketika lemah, tenaganya terkuras habis hanya dengan kalimat pemutus dari Filia. Laki-laki itu tak dapat bersuara walau hanya membalas kata sang ratu. Si tuan muda terpaku tatapan matanya penuh bongkahan luka yang tiada takar. 


"Anda sudah selesai, dokter Filia ? Terimakasih karena sudah bersedia mengorbankan waktu berharga anda untuk kesembuhan tuan Bree. Dan saya mewakili dia meminta maaf apabila perilakunya selama ini membuat anda tidak nyaman. Mungkin bagi tuan Bree, anda adalah kekasih nyata, tapi bagi anda semua itu hanya lakon yang diperankan dalam kesembuhan tuan Bree. Terimakasih ketersediaan anda untuk menjadi ratu bagi tuan Bree." Reiki menerobos masuk ketika iris mata menangkap gurat kesedihan di wajah sang atasan tak hanya itu percakapan dua insan itu pun terdengar jelas di telinganya. Tanpa menunggu balasan lagi. Laki-laki itu memutar kursi roda dan membawa tubuh si tuan muda keluar dari ruangan. Dusta, kalau Reiki tidak merasa kecewa atas perubahan sikap Filia. Meskipun awalnya hubungan itu dibangun karena mengimbangi penyakit Bree namun siapa yang tahu jika si tuan muda benar-benar mencintai. 

__ADS_1


__ADS_2