Misi Cinta Raja Melintas Waktu

Misi Cinta Raja Melintas Waktu
Ungkapan


__ADS_3

Senja sudah nampak di ufuk barat, meninggalkan petang yang melukiskan mega di cakrawala dengan warnanya. Langit senja banyak menyimpan cerita bersama orang-orang tercinta, waktu istimewa berkumpul dan berbagi rasa. 


"Ratu Filia, ini kecapi untukmu." Bree meletakan kecapi berukuran besar khas kerajaan. Senyum laki-laki itu mengembang sempurna karena alat musik itu telah sampai di kediamannya.


"Tuan, anda tahu saya suka memainkan kecapi ?" Gadis itu sumringah melepaskan buku yang tengah di baca. 


"Bukankah, ini memang keahlianmu ? Sehingga Selir Ve selalu mengunjungimu setiap hari untuk belajar main kecapi." Bree mendaratkan tubuh di sisi Filia.


"Kecapi ini sangat cantik, kamu memesannya ?" 


"Tentu, semua ini untukmu. Kecapi, taman plumeria dan juga rumah kaca. Aku sengaja membuatnya sedikit modern agar kamu tidak bosan. Bisa saja aku meminta seseorang untuk membuat perpustakaan seperti di istana." 


"Tuan." Tidak dipungkiri perkataan Bree menyentuh relung hati seorang Filia. "Jangan memperlakukan aku secara berlebihan." Sambungnya dengan perasaan berat. 


"Ratu kenapa ?" Bree meraih kedua tangan gadis itu. "Apa perlakuan ku melukaimu lagi?" Tanyanya dengan kaca kristal yang siap pecah. "Di masa Lalu aku bersalah padamu, kesalahan itu sangat besar. Aku tidak bisa memaafkan diriku. Ratu, maafkan aku." Sambung Bree tiba-tiba bersimpuh di depan Filia.


"Tuan jangan lakukan ini ?" Gadis itu terkejut dan menuntun tubuh si tuan muda untuk duduk kembali di kursi. Sebagai wanita, perasaannya halus dan mudah tersentuh. Filia hanya tidak ingin pada akhirnya terluka ketika Bree dinyatakan sembuh, apabila hatinya telah diberikan pada laki-laki itu. "Aku menyukai apa yang kamu berikan, terima kasih." Ucapnya mengalah.


"Izinkan aku menebus kesalahan dimasa lalu, tetaplah mendampingiku seperti dulu. Cintai aku sepenuh hati, warnai hari-hariku seperti plumeria yang cantik dengan ragam warnanya. Harumkan hidupku seperti aromamu yang sudah melekat dalam diriku. Kamu tahu rasa cinta yang aku miliki tidak pernah hilang dari dulu. Aku jatuh cinta saat pertama kali kamu menginjak kaki di aula istana sebagai calon permaisuri. Tapi semua itu aku simpan hanya dalam hati karena di otak ini sudah tertanam pikiran buruk tentangmu, terlebih kamu adalah putri raja Re yang bersengketa dengan kerajaanku. Namun, kamu membuktikan dengan baik selama berada disampingku sebagai ratu dan istri yang baik untukku dan juga rakyat. Maaf pengakuan ini aku ucapkan setelah kita terpisah dan menempuh lorong waktu yang berbeda. Pengakuan ini sia-sia karena di ingatanmu tidak ada aku. Seperti sumpahmu di masa lalu jika kita ditakdirkan bertemu di masa yang akan datang maka kamu akan melupakan ku." 


Luruh, kristal bening itu pecah di sudut mata Filia. Obsidiannya berkabut dan mencair tiada henti, tubuhnya bergetar seiring perasaannya yang terharu dan juga bahagia. Andai itu nyata, maka dia adalah gadis beruntung yang dicintai situan muda dengan begitu sempurna. Namun sayang itu semua hanya ilusi yang tak nyata. Begitu terpikir oleh Filia. 


Kisah itu nyata hanya untuk seorang Bree Tyaga Adrian. Tapi tidak untuk orang lain. Semua dianggap sebuah khayalan yang mengarah pada penyakit kejiwaan dan harus segera disembuhkan. 


"Tuan Bree." 

__ADS_1


Seruan seseorang menarik atensi sepasang insan di rumah kaca. Bree tersenyum tipis sementara Filia memalingkan wajah mengusap jejak air mata yang terhenti seketika saat suara asing masuk ke dalam suasana. 


"Silahkan duduk, Lan."


"Terimakasih, Tuan." Aslan mendaratkan tubuh di salah satu kursi. Manik mata laki-laki itu terarah pada dokter cantik yang masih mengusap sudut mata menggunakan tissue.


"Selamat datang terapis Aslan." Sapa Filia tersenyum tipis. "Terimakasih sudah datang." Ucapnya kembali merubah mimik wajah dari rasa haru biru nya.


"Hari ini memang jadwal tuan Bree untuk konseling." Aslan menjawab sambil mengeluarkan beberapa kertas. "Bagaimana, Tuan?" 


"Sangat baik, selagi ratu disisiku apapun bisa aku lewati dengan baik." Iris mata Bree melirik ke samping disambut senyuman tipis dari orang yang dimaksud. 


"Bagaimana rasanya setelah tinggal satu atap dengan ratu anda." Tanpa membuang waktu Aslan langsung masuk sesi tanya jawab.


"Sangat bahagia, dan rasa itu tidak ada takarannya." Bree tersenyum dengan binar cinta memenuhi ruang mata. 


"Tentu saja, aku akan menebus dosa itu. Sampai ratu Filia  benar-benar memaafkan aku." 


"Ya, saya harap ratu cepat memaafkan anda. Jadi jangan merasa bersalah lagi ya." Aslan tersenyum dan menyimpan kembali kertas di tangannya ke dalam tas.


Seperti air mengalir memang segala yang terjadi nampak seimbang. Di mata yang lain, Bree menjalani pengobatan depresi  disebabkan tidak bisa keluar dari rasa bersalah. Aslan beranggapan, jika Bree masih terjebak dalam dunianya saat koma. Sementara si tuan muda mengatakan sesungguhnya yang mustahil di mengerti orang di era ini. Dan Filia berperan menyembuhkan kejiwaan Bree Tyaga dengan berada di sisinya sebagai ratu. Dengan begitu putra mahkota Tyaga bisa menebus rasa bersalahnya dan bisa kembali sembuh. 


"Aku tinggal sebentar untuk meminta Bibi Jo membuat white tea." Bree bangkit dari posisinya lalu meninggalkan tempat.


Aslan menghela nafas melihat punggung si tuan muda yang perlahan menjauh. Netranya bergulir pada Filia yang tengah menatap kecapi di hadapannya. 

__ADS_1


"Filia, boleh aku memanggil namamu saja ?" 


"Tentu, aku rasa kita sepantaran." Gadis itu tersenyum melepaskan tatapan dari kecapi. 


"Menurutku, tuan akan segera sembuh bila selalu terlihat bahagia. Dengan begitu perlahan dia akan keluar dari depresi karena perasaan bersalah itu akan hilang sendirinya karena bisa menembus sebuah kesalahan." 


"Kamu benar, dia sering mengungkapkan rasa sesalnya. Dan apa yang terlihat saat ini, seperti rumah kaca, taman plumeria dan kecapi ini. Adalah barang-barang yang dia siapkan untuk ratu. Menurut Bree semua ini adalah kesukaan ratunya." Filia menggulirkan pandang ke tiap penjuru rumah kaca. 


"Maka dari itu, berperanlah sebagai ratu. Sampai tuan Bree benar sembuh dan tidak lagi mengingat kehidupan istana." Aslan tersenyum melihat kedatang Bree.


"Aku akan menghangatkannya." Bree meletakan cerek di atas tungku. "White tea bagus untuk kesehatan, biasakanlah diri kalian meminumnya." Sambung laki-laki itu mengatur cangkir di atas nampan. "Di istana, aku sering membuat seperti ini rasanya sungguh nikmat." Pria itu menuangkan air hangat di atas saringan teko kemudian menyajikan untuk Aslan dan Filia. 


"Terimakasih, Tuan." Aslan menarik cangkir teh dan meniup pelan sambil menikmati aromanya. 


"Besok, aku akan mengantarkanmu bertemu pasien yang kemarin aku maksud." Filia memberikan cangkir teh miliknya yang telah didinginkan kepada Bree. "Minumlah." Ucapnya tersenyum hangat.


Bree dengan perasaan berbunga-bunga menyambut cangkir teh itu sambil tersenyum lebar. Ratunya memang selalu mengutamakannya seperti di masalalu. 


"Kalau begitu saya pamit." Aslan meletakan cangkir teh yang telah kosong.


"Makan malam dulu bersama, baru pulang." Seru Bree menghentikan pergerakan terapis yang sepantar dengan nya itu. 


"Baiklah, tuan." 


Bree membawa Filia dan Aslan ke ruang makan. Di sana mereka berpapasan dengan Reiki yang baru pulang dari mansion lama. Laki-laki itu tampak lelah setelah petualangan mencari petunjuk kematian kedua orang tua Bree.

__ADS_1


"Bersihkan tubuhmu, kami tunggu di meja makan." Bree menyentuh lembut bahu Reiki. Ia tahu asistennya itu begitu lelah.


"Baik Tuan, setelah ini ada yang ingin saya bahas bersama anda. Tuan Leon dan juga Tuan Eros dalam perjalanan." 


__ADS_2