My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 1 : Penyebab


__ADS_3

Semua itu bermula dengan identitasnya yang mengejutkan.


Kakeknya yang bernama Alreshca Nero atau panggil saja kakek Rescha adalah seorang ketua mafia paling ditakuti di Jepang yang bahkan bisa memonopoli negara.


Ayahnya, Alfranando Nero atau Alfra adalah anak tunggal keluarga Nero sekaligus pewaris tunggal perusahaan yang didirikan Rescha.


Neneknya bernama Reyna Zelfatie Sanjaya atau panggil saja oma Zelfa, pengusaha butik ternama (Zelfatie Boutique), oma dulunya pewaris salah satu keluarga terkaya di dunia yang bergabung dengan keluarga Nero, singkatnya mantan miliyuner..


Bundanya adalah Natasha Lavender atau Tasha, beliau merupakan adik dari ketua mafia Inggris yang saat ini beralih profesi dan tak lagi mengurus kelompok mafianya.


Dengan kata lain, Nala adalah satu dari sekian banyak anak yang terlahir dengan harta melimpah, singkatnya crazy rich dari lahir. Btw Nala sempat dinobatkan sebagai anak terkaya di dunia, walaupun namanya gak dipublish..


Lalu kita beralih ke masa lalu tragisnya..


Saat umur Nala yang masih sangat belia (3 tahun), Nala sudah memiliki otak paling encer bahkan dia sudah pandai berbicara. Waktu itu Nala lagi main di mall, tiba-tiba entah kenapa rombongan orang memadati mall sampai Nala terpisah dengan keluarganya.


Bukannya menangis, Nala berusaha tetap tenang dan mencari keluarganya. Sayang seribu sayang, Nala sudah menjadi incaran sekumpulan *******.


*******-******* itu membawa ratusan sandera lainnya menggunakan sebuah kapal pesiar besar yang dibajak, sebagian korban adalah anak kecil.


Mereka tak manusiawi! bagaimana bisa orang-orang di sana disiksa, diperkosa, dipukuli dengan tragis di depan anak-anak, Nala yang tak terbiasa dengan semua itu pun menangis keras dan ketakutan seperti anak-anak lainnya.


Yang semakin mengerikan adalah beberapa di antara mereka gila s*x dan psyco, hal ini menambah rasa ngeri dan trauma yang di dapat anak-anak.


Perlahan lahan orang di sekitarnya (yang menjadi sandera) mati satu persatu dengan mayat yang dibiarkan tanpa busana, jari terpotong yang mental jauh saat di potong (dalam keadaan korban hidup).


Suasana di ruang penyanderaan benar-benar gila! Darah ada di mana-mana, memuncrat sampai ke pakaian anak-anak, mayat benar-benar dibiarkan membusuk serta mereka yang tak diberi makan.


Anak-anak itu terpaksa makan mayat manusia meskipun dengan penuh rasa jijik, takut, ngeri dan tentu berurai air mata. Tak terkecuali Nala, benar jika dia memiliki IQ superior tapi masa iya bocil 3 tahun di suruh liat pemandangan setragis ini.....


Setiap hari selalu ada orang yang tiada, disiksa lalu dibunuh begitu saja, bagian tubuh mayat yang termutilasi malah dipajang tanpa menghiraukan mental anak-anak, di kapal itu tepatnya di bagian kabin kapal yang luas yang sebelumnya hanya sebuah gudang barang menjadi sebuah tempat pembantaian besar besaran.


Beberapa minggu pertama di kapal itu, Nala menangis histeris dan merasa amat ketakutan, dia bahkan memeluk anak yang lebih dewasa darinya sambil menangis, takut dan ngeri serta suatu firasat mengerikan.


Semakin lama penyiksaan makin menjadi jadi, tak (maksudku belum) ada kelompok militer gabungan atau apalah itu yang menyelamatkan mereka.


Nala yang melihat pemandangan tragis di depannya merasa pusing dan mual, semakin hari apa yang dia rasakan makin menjadi jadi apalagi saat ada anak-anak yang diseret dan disiksa.


Kecemasan dan rasa takut  berlebihan di sertai pemikiran negatif... dan trauma menurut kalian apa yang terjadi pada Nala?


~oOo~


WARNING!!!! ADA ADEGAN KEKERASAN.. BAGI YANG MERASA TAK NYAMAN DENGAN ADEGAN KEKERASAN HARAP SKIP SAHAJA...! WARNING!!! HARAP BIJAK..!


PERCUMA SIH DI INGETIN, KADANG JUGA LOSS AE LAH BGSD..

__ADS_1


Semakin lama keadaannya makin memburuk, dia hanya bisa meringkuk takut dengan ketakutan yang luar biasa, ya.. mentalnya sudah rusak.


Tatapan matanya menjadi dingin dan kosong, seperti PSYCOPATH. Otaknya serasa kosong dan tak bisa berpikir, air matanya seolah habis dan mengering, matanya benar-benar bengkak karena menangis, sesuatu telah merubah dirinya bahkan mungkin sel otaknya (mungkin kah?).


INILAH PERUBAHAN SEORANG NATALIA LAVENDER


Sudah 3 bulan penuh Nala di culik, seluruh keluarga Nero mengusahakan banyak hal supaya Nala kembali pulang, naas nya dari 1000 lebih orang hanya tersisa 10 orang sandra yang masih hidup di kapal itu, 3 anak perempuan termasuk Nala (1, 3 dan 7 tahun), 4 anak laki-laki (6, 7 ,7 dan 8 tahun), sisanya 2 remaja pria (14 dan 16 tahun) dan 1 remaja wanita (13 tahun). Ada yang dijual sih.


Tubuh mereka kurus kering, seperti yang dijelaskan chapter sebelumnya, namun karena mayatnya lebih cepat membusuk dan keadaan di luar memburuk membuat para ******* tak lagi menyiksa mereka dengan bayaran hampir gak makan selama 3 hari penuh.


Lalu pada suatu hari para ******* akan membunuh mereka semua sekaligus untuk dijadikan santapan berhubung mereka juga kanibal. Namun para laki-laki yang tersisa mencoba melindungi yang lain.


Dor!


Yang mengejutkan adalah saat salah satu dari mereka merebut pistol dan menembakkannya ke arah *******. Headshoot! 1 orang mati di tempat karena luka lembak tepat di kepalanya, saking mengerikannya peluru tersebut menembus kepala, dari sebelah kanan tembus ke sebelah kiri.


Melihat rekannya mati, yang tersisa langsung menodongkan senapan tipe AK47 ke remaja pria yang membunuh rekannya. Gemetar.... bisa dilihat pria itu gemetar ketakutan setelah membunuh salah seorang di ruangan itu.


Dapat dilihat dengan jelas bahwa dia sangat ketakutan karena aksi nekatnya. Nala yang berada tak jauh dari ******* yang mati merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Darah dari ******* itu memang memuncrat hinga mengenai wajah Nala tapi bukannya takut Nala malah merasa senang sekaligus geli.


Tatapan Nala beralih pada sebilah pisau yang terlempar dan tentunya berlumuran darah. Remaja wanita itu tentu juga mengalami trauma psikis yang besar sehingga dia berteriak ketakutan sekeras kerasnya sambil menangis, teriakannya terdengar pilu sampai terdengar di dek kapal, dimana pasukan PBB sedang bernegosiasi (?).


Yah.. wajar aja sih mengingat bagian lorong kapal sepi jadi gema-nya sampai ke dek kapal, bener kan? Nala yang melihat itu segera mengambil pisau. Anggap saja momentum karena perhatian lawan terpecah.


Karena lengah Nala mendekati salah seorang dari mereka dengan mudah, dia menancapkan pisau di tangan kanannya ke kaki target, pisau itu tertancap cukup dalam, sangat mengejutkan karena darah merembes dengan cepat ke celana berbahan jeans yang targetnya  kenakan dan lagi dari mana Nala punya kekuatan menusuk sekuat itu?.


"Aaaarrggghhh...!!!!!!"


Targetnya mengaduh kesakitan, rasa sakit dan perihnya sangat terasa. Dia terjatuh, melupakan senjatanya sambil memegangi kakinya yang masih tertancap pisau, sekedar info pisau yang digunakan Nala sudah berkarat. Tepat saat dia masih berguling memegangi lukanya, dengan gerakan secepat mungkin Nala merebut pisau dan menusukkannya tepat di arteri leher.


Craaat!


Darah mengucur dengan cepat dan membuatnya mati dalam 2 detik kemudian, semua itu terjadi dalam kisar waktu kurang dari 10 detik (?). Tubuh Nala dipenuhi darah segar yang memuncrat walau tak sepenuhnya, dan entah kenapa senyuman aneh yang mengisyaratkan Nala senang atas perbuatannya. Terkejut karena rekannya satu lagi mati akibat perbuatan bocah kecil yang bahkan belum 5 tahun membuat lawannya marah.


Saat akan menembak Nala, seseorang telah menembakkan peluru lebih dulu hingga mengenai tangan orang yang tersisa, melihat kesempatan datang ada salah satu remaja pria yang berusia 16 tahun, dia seperti meluncur di lantai yang berdarah dan berhasil mengambil pistol yang terlempar.


Terpojok dengan situasi, mau tak mau pihak lawan yang hanya tersisa 1 (mengingat yang datang 3 orang) pun menyerah. Namun seperti biasa dengan alur cerita klise, orang itu tak serta merta menyerah, dia menarik dan membungkam Nala (tepatnya menyanderanya kembali) yang berada tak jauh darinya.


Mau tak mau mereka membiarkan orang itu pergi mengingat tidak ingin ada korban lagi. Orang itu berlari membawa Nala yang meronta ronta, tanpa disadarinya, seorang anak yang tadi menembakkan pistol mengikutinya. Walaupun dengan langkah yang kecil ia mencoba menyamakan langkah dan berkamuflase dengan sekitar (?).


Pria tadi membawanya ke arah ruang teknisi, di mana di sana ada CCTV yang dipasang untuk berjaga jaga. Cerdas juga orang-orang ini, mengantisipasi ya? good job. Bahkan Nala dan  anak laki-laki tadi merasa kagum, yah.. seenggaknya mereka gak beg0-beg0 amat.


Ehm, untuk orang-orangnya saia rasa sudah membantu baku tembak di dek, itu terlihat di CCTV yang mengarah pada dek kapal. Pria itu mengumpat kesal melihat posisinya terpojok. Dia berpikir untuk pergi tanpa menghiraukan teman-temannya, you know lah gimana mereka kalo udah terpojok.


Tapi bocil cowo tadi (sebut saja begitu) tidak ingin pria yang menahan Nala dan sudah membunuh banyak orang lolos begitu saja, isi pistolnya hanya tinggal 3 peluru, dia harus menghematnya sebisa mungkin. Meski  dia agak gemetar tapi dia tetap memaksakan dirinya.

__ADS_1


Dia sudah membidik pria itu tepat di kepala, dia hanya bisa berdoa berharap serangannya mengenai target dengan telak, dengan kata lain Headshoot.


Dor!!


Di luar dugaan, tembakannya telak mengenai kepala target dan membuatnya mati di tempat, Nala yang merasa lawannya lemas langsung mencari sumber masalahnya, yap... saat itu keberadaan si bocil ada di antara pintu, bertepatan dengan itu targetnya sedang duduk menyamping. Meskipun dia takut karena jika meleset sedikit aja kepala Nala yang bolong.


Tentu saja keduanya terkejut bukan main, meskipun si bocil sempet terlempar ke belakang karena daya tolaknya yang lumayan. Dia tetap berdiri dan menghampiri Nala yang tampak syok juga tercengang.


"Are you okay?"


Nala yang saat itu tid-belum menguasai bahasa Inggris membuatnya kebingungan, Nala malah bertanya dengan bahasa Jepang.


"A?"


Itu adalah percakapan yang terdengar sedikit.... absurd? tunggu tunggu! Kan penculikannya terjadi di Jepang, kok...?


"Ah.. maaf maaf, aku lupa ini di Jepang"


Bocil 6 tahun tadi meminta maaf menggunakan bahasa Jepang yang aksennya agak kaku tapi dapat di mengerti Nala.


"Tadi kau bilang apa?"


Nala masih agak bingung dengan itu, ternyata rasa penasarannya tidak berubah sama sekali, malah makin... ehm...


"Tidak ada, lupakan.."


Tatapan Nala entah kenapa berubah datar, dia baru teringat lagi kalau ternyata dia duduk di atas mayat, ya mayat yang masih mengeluarkan darah segar.


"Em.. permisi, boleh aku meminta tolong?"


"Tentu"


"Tolong bantu aku menyingkirkan mayat ini"


"Aku gak sekuat kakak-kakak tadi"


Meskipun bilang begitu bocil tadi tetap menolong Nala menarik.. menyeret maksudnya, menyeret mayat tadi menjauhi monitor dan kursi. Sedangkan Nala mengamati buku panduan berbahasa Jepang, hening.


Nala fokus pada bukunya sedangkan si bocil fokus ke monitor, selang beberapa menit Nala sudah memahami isi buku panduan itu. Berbekal otaknya yang mampu menyerap materi dalam sekali lihat, Nala mengoperasikan kapal sebisanya.


"Onii-chan~ tolong bantu aku menjaga sekitar ya.."


"Baiklah"


Nala meminta tolong pada si bocil di sertai tatapan memelas yang sangat imut. Tentu saja si bocil kalah telak, dia hanya menurut saja.

__ADS_1


__ADS_2