My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Diserang


__ADS_3

Nala mengirim anak itu ke Prancis, setelah itu Nala dan Leon kembali ke rutinitas biasa, yang lain masih belum tau kalau malem itu Nala dan Leon pergi main berdua doang.


~oOo~


Tak terasa kini Nala/Nesya dkk sudah kelas 4 mau naik kelas 5, dan Nesya, Vier, Lyra juga Vyone sekelas lagi di kelas 4C, bagaimana kehidupan sehari hari mereka? dibumbui adu bacotan dan masalah, sempat berurusan dengan kepsek yang notabene ayah Lydia, hampir dikeluarkan dari sekolah tapi ga bisa, wkwk gegara kakeknya Nala tapi Nala dkk ga tau.


Di kelas 4C


"Good morning, student," sapa guru bahasa Inggris.


"Good morning, miss," balas siswa siswi di kelas 4C serentak.


"How are you today?."


"I'm fine thank you, and you?."


"I'm fine too, ok anak² hari ini ibu membawakan sebuah berita penting untuk kalian semua."


Sekelas hening, mendengarkan, tak ada yang menyela karna gurunya galak alias killer, Nesya bodo amat tapi tetep nyimak, Vier yang dari tadi diem² dengerin musik langsung matiin musik dan nyimak, Lyra tangan nopang dagu dan muka malas, Vyone juga ga beda jauh.


"Minggu depan adalah libur semester, kemarin kelas 6 sudah melaksanakan UN/ujian nasional hasilnya juga sudah keluar. Karna itu siswa siswi dari kelas 4-6 akan melakukan study tour ke gunung xxxx," jelas guru.


'Asekkk, bisa ketemu kakel cogan'


'Yes! bisa main sama bebeb gue'


'Mantap lah👍'


'Gini kan enak'


Kira² seperti itulah bacotan siswa siswi kelas 4C yang gegara berita itu.


"Woi, itu gunung dimana?," tanya Lyra berbisik.


"Mana gue tau, ikut aja dah," jawab Vier yang sudah mematikan musiknya.


"Kita ikut aja ya," ajak Vyone.


"Yoi," jawab Nesya, Vier, Lyra bersamaan.


"Ok, sekarang kalian absen dulu siapa yang bakal ikut study tour, tulis di kertas ini," ujar guru.


Bla bla bla


SKIP, kantin


"Kalian ikut study tour?," tanya Vier ke Leon dkk setelah duduk dan memesan makanan.


"Ikut," jawab Dika, Arya dan Leon serentak tapi santai, Feter hanya mengangguk malas.


"Ouh, ok," respon Vier datar.


Mereka menghabiskan makanan yang baru datang.


"Hai," sapa seseorang ke arah Nesya dkk, mereka hanya menoleh sejenak lalu kembali hanyut dengan acara makan mereka.


"Gue boleh ngomong bentar sama Nesya?," tanyanya.


"Yaudah, lo tinggal ngomong 'bentar' aja kok susah trus pake ijin segala lagi," jawab Lyra pe a.


"Puft... yang dia maksud itu ngomong sama Nesya tapi bentaran doang pe a," ejek Vyone di sela makan.


"Oh.. ngomong ya, mana gue tau kalo kaya gitu," balas Lyra kalem.


"Udah², lu mau ngomong apaan?," tanya Nesya datar sembari menoleh ke arah sumber suara.


"Lu ikut gue dulu," jawabnya ga sesuai pertanyaan, Lyra, Vier dan Vyone menatap tajam orang itu.


"Mau apa?," tanya Vyone dingin+datar.


"Cuma mau ngomong berdua aja ga boleh?," tanyanya balik.


"Ga," jawab Vyone, Vier dan Lyra bersamaan dengan nada datar+dingin.


"Udahlah, kemana?," tanya Nesya sambil beranjak berdiri.


"Lo ikut aja," jawabnya.


"Heh, dengerin ya. Kalo sampe sahabat gue kenapa² lo abis di tangan kita!," ancam Lyra dingin.


Nesya pergi dengan pria itu ke rooftop, kakel kapten tim basket tempo hari membawa Nesya ke rooftop.


"Apaan?," tanya Nesya saat sampai di rooftop.


"Gue ngerasa tertarik ke elo, sikap lo, apa yang lo lakuin, kecantikan lo, lo bikin gue berubah jadi aneh, nes," jawabnya sambil menatap Nesya lekat.


"Jadi?," tanya Nesya lagi.


"Gue suka sama lo, lo mau ga jadi pacar gue?," tawarnya mantap.


"Sorry, gue ga mau pacaran. Lebih tepatnya sih gue ga boleh pacaran," jawab Nesya merasa sedikit bersalah.


"Kenapa ga boleh?," tanyanya dengan wajah agak murung.


"Kakek, oma, paman, kakak² gue ga bakal ngijinin gue pacaran," jawab Nesya santai.


"Jadi, sorry gue ga bisa nerima elo," lanjut Nesya.


"Kenapa keluarga lo ga mau lo pacaran?," tanyanya lagi.


"Lo masih penasaran?," tanya Nesya memastikan, dia hanya mengangguk.


"Huh... gue anak terakhir, cucu terakhir juga kesayangan kakek dan oma, adik kesayangan kakak² gue, ponakan favorit paman gue, masa depan gue bener² di perhatiin, gue ga boleh salah pergaulan. Karna itu gue ga boleh pacaran, gue juga ga mau pacaran sama elo, kita cuma kenal sebatas teman, ga lebih," jelas Nesya tegas.


"Kalo lo mau gue pacaran sama elo, maka lo harus ke Jepang, Inggris atau Australia, karna keluarga gue kesebar di 3 negara itu, belum lagi kalo ada perjalanan bisnis, juga kakak kedua gue yang lost contact, kalo lo ngerasa bisa dan belum mau mundur maka lo harus dapet persetujuan dari keluarga gue, masih bersikeras?," jelas Nesya panjang x lebar dan bertanya di kalimat terakhir.


"Gue ga tau, sorry. Gue kayanya ga sanggup kalo kaya gitu," jawabnya murung.

__ADS_1


"Huh... sudah kuduga, kalo elo milih lanjut lo bakal kesiksa sampe lo nyerah, kenapa? karna sahabat² gue ada yang jadi tentara, gue juga dilatih sama tentara, kakek gue... orang kaya mungkin lo ga bisa ngelawan kekuatan uangnya. Kalo lo berani maka lo harus hadepin semua itu," jelas Nesya mematahkan semangat kakel itu.


"Gue pergi dulu ya, bye... kak," sapa Nesya lalu pergi dari rooftop.


Nesya melihat Leon di tangga menuju rooftop, Nesya tersenyum tipis dan Leon menarik tangan Nesya ke taman belakang yang sepi.


"Dia nembak kamu?," tanya Leon yang duduk di sebelah Nesya.


"Iya, tapi aku nolak. Kalau kakek atau yang lain tau, hidupnya bakal berakhir menyedihkan," jawab Nesya.


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?," tanya Leon penasaran.


"Dulu, waktu aku ijin ke Indonesia, kakek udah ngancem, intinya itu aku ga boleh pacaran sampai umurku 17 tahun, sampai aku mendapat semua warisanku secara sah, kalo aku ketauan pacaran maka orang itu bakal berakhir menyedihkan," jawab Nesya pasrah.


"Ooo... gitu ya, oh iya kakak pertama kamu..."


"Panggil aja kak Wira," potong Nesya.


"Iya, kak Wira. Tahun depan dapet hak waris ya," ujar Leon.


"Iya, tahun kemaren baru ambil alih sebagian perusahaan aja, walau udah jadi presdir tapi belum semua warisan milik kak Wira jatuh ke tangan kakak, tahun depan baru resmi jadi presdir semua perusahaan Pratama dan hak² warisnya," jelas Nesya.


"Oo... sama kaya kak Cleo dong," celetuk Leon.


"Kak Cleo?," tanya Nesya bingung.


"Kakak angkatku, seperti nya kakak seumuran dengan kak Wira," jawab Leon.


"Hm... aku pernah denger kalo keluarga kamu angkat anak laki², jadi namanya kak Cleo ya?," tanya Nesya baru paham.


"Iya, mama dan papa ga pernah pilih kasih walaupun kak Cleo bukan anak kandung," jawab Leon bangga.


"Aku juga ngerasa ayah dan bunda udah jadi orang tua yang paling hebat untukku, walaupun mereka dah ga di dunia lagi, tapi aku tetep sayang mereka," ujar Nesya dengan mata dengan mulai sendu dan berkaca kaca.


"Jangan sedih, kami semua saudara dan keluarga mu, jangan sedih lagi ya," balas Leon menenangkan Nesya dengan memeluk dan menepuk pelan punggungnya.


"Hm... aku hanya agak sedih saja," ujar Nesya membalas pelukan Leon.


"Apa yang ingin kau lakukan setelah study tour nanti? aku bisa menemanimu jika kau mau ke suatu tempat, yang lain juga bisa kok," ajak Leon melepas pelukan tapi masih menepuk pelan punggung Nesya.


"Hm... akan kupikirkan," gumam Nesya.


SKIP, study tour


"Hah... senangnya," ujar Lyra senang sembari menghirup udara segar khas pegunungan.


"Kaya lu ga pernah kesini aja sih," komen Vier datar.


"Hm... iya juga ya," balas Lyra ogeb.


✌Flashback on✌


Mereka pun berangkat menuju tujuan terakhir mereka setelah pergi ke beberapa tempat sejarah, gunung xxxx, Nesya sudah merasa akrab dengan jalanan menuju gunung mati itu, saat menginjakkan kaki di wilayah gunung itu Nesya, Vier, Lyra, Leon dkk langsung terkejut.


"Hah?!! ini kan gunung belakang mansion!!," seru mereka serentak karna terkejut.


"Ini kan deket mansion kita bu," jawab Lyra malas.


"Eh? bukannya mansionnya Nesya?," ujar Vyone sarkatis.


"Huh... iya deh, gunung ini deket mansion nya Nesya," ralat Lyra nyinyir.


"Udah²," ujar Nesya menengahi.


Bla bla bla


✌Flashback off✌


Nesya, Lyra, Vier dan Vyone sedang berjalan jalan di sekitar gunung mati itu, menikmati suasana sejuk pegunungan yang cukup jarang mereka dapatkan karna sedikitnya waktu luang.


Note : Mansion Night Clair berada di dekat gunung mati, tempatnya masih di kabupaten C. Nesya dkk pindah ke rumah di jalan Manggis No 20, di pusat kota C. jarak dari rumah ke mansion memerlukan waktu ±45 menit tapi kalo Leon yang nyetir cuma butuh waktu setengah dari waktu normal. karna pekerjaan Nesya dkk jadi jarang menikmati waktu seperti itu.


Back to story


"Duh, mamp*s gue, perut gue sakit bat," gumam Lyra sambil memegangi perutnya dan menunjukkan wajah menahan sakit.


"Lu makan apaan tadi?," tanya Vyone melihat tingkah Lyra.


"Tadi gue liat lo makan mie goreng pake bubuk cabe trus pake cabe juga udah gitu banyak lagi, pasti karna itu ya?," tebak Nesya.


"Euh... tau, aja, lo pada," jawab Lyra menahan sakit di perutnya.


"Ke toilet sana," usul Vyone yang merasa kasihan.


"Iya, yer. Lo, temenin gue, cari toilet," ujar Lyra terbata.


"Lah kok gue si?," tanyanya.


"Bac*d lu, tinggal ikut aja susah bener," jawab Lyra ngegaz.


Vier dan Lyra pergi mencari toilet, Nesya dan Vyone kembali berjalan jalan, tiba²...


Dor!


"ANY*NK! WOY! JAN**K," seru Vyone kaget, Nesya dan Vyone mulai berwaspada.


Satu tembakan tadi hampir saja mengenai Nesya dan Vyone.


Dor


Dor


Dor


Lagi² 3 peluru di tembakan beruntun, membuat Nala dan Vyone berpencar untuk menghindar, di dekat mereka ada sebuah jurang yang ga terlalu dalam.


'Sial! mereka punya senapan runduk!,' batin Nesya kesal.

__ADS_1


"Lo masuk ke jurang!," seru Nesya menggunakan isyarat.


"Hah? lo serius?," tanya Vyone, Nesya mengangguk.


Peluru kembali di tembakan, kali ini beruntun, Nesya dan Vyone kembali mengelak.


'Tak ada cara lain, maaf. Ini untukmu supaya lebih aman, mungkin kau akan terluka,' batin Nesya.


Nesya mendorong Vyone masuk ke jurang itu, Vyone berguling dan pingsan di dasar jurang, setelah memastikan Vyone aman, Nesya langsung memberikan perlawanan intens pada assassin² sial*n itu.


Nesya tiba² menghilang di tengah hujan peluru, assassin yang memegang senapan runduk langsung terkecoh dengan gerakan cepat Nesya.


"Nyari siapa?," suara imut tapi mengerikan itu terdengar di belakang assassin yang tadi menembaki Nesya dan Vyone.


Mereka menoleh ke belakang dan melihat rekan yang bertugas menjaga assassin serangan jarak jauh sudah tewas di tangan Nesya, assassin itu langsung gemetar karna rekan mereka mati dengan cara mengenaskan.


Bagaimana tidak? tubuhnya memang terlihat seperti tak ada luka tapi organ dalamnya hancur berkeping keping, kenapa mereka bisa tau? karna Nesya hanya menggunakan 1 serangan dan darah mengalir desar dari hidung, mata, telinga, mulut dan bagian tubuh lainnya di rekan assassin itu.


~oOo~


Di tempat lain


Di perkemahan SD ******, tempat Nesya dkk belajar, Leon dkk sedang bersantai, disaat yang bersamaan saat Nesya dan Vyone di tembaki peluru otomatis suara letusan peluru terdengar hingga perkemahan apalagi tanpa peredam suara dan suasana yang cukup sunyi.


Semua orang di perkemahan kaget tak terkecuali Leon dkk juga Lyra dan Vier yang sedang di toilet tak jauh dari perkemahan.


"Apaan tuh?," tanya Dika, Leon merasa ada yang aneh dan perasaannya benar² ga enak saat ini.


"Perasaan gue ga enak nih," celetuk Leon spontan.


"Sama njay," balas Arya khawatir.


"AAAAAAAaaaaaaa!!!!!," suara teriakan guru perempuan sukses membuat Leon dkk berlari ke sumber suara diikuti murid yang lain.


"Uhuk... uhuk... tolong...," lirih guru pembimbing yang sedang di cekik seseorang.


"Assassin," gumam Leon pelan.


"Lo aja yang bertindak, gue ngikut," bisik Dika pelan.


"Huh....," Leon menghela napas kesal.


"Feter, lo urus assassin itu," ujar Leon pelan, Feter mengangguk.


Perlahan Feter mendekati si assassin, assassin itu mulai merasa terancam akan kehadiran Feter, si assassin menatap Feter tajam dan mengeluarkan aura menekan tapi aura Feter jauh lebih pekat dan mengintimidasi, Feter mencekik leher assassin dari belakang dan...


Krak


Leher assassin itu patah tapi dia masih hidup, si assassin melepaskan cengkraman di leher guru pembimbing, Feter menjatuhkan tubuh assassin yang lemas dan tubuh itu merosot ke bawah, semua yang melihat itu langsung merinding kecuali Leon dkk yang udah biasa.


"Merepotkan," gerutu Feter dingin yang dapat di dengar jelas oleh semua orang di sana.


"Astaga," gumam Arya kaget setelah melihat tanda di tubuh assassin itu.


"Kenapa?," tanya Dika bingung.


"Mereka dari Tailed Heavens, lebih tepatnya Five gord, kelompok kelas kakap yang beranggotakan 5 orang, dia pasti salah satunya," bisik Arya.


"Kau bilang dia dari Five gord? itu berarti masih ada 4 orang lagi yang ada di sekitar sini," balas Dika berbisik.


"Gobl*g! cari mereka!," seru Leon kesal.


"Santuy bro," balas Dika.


"Cari mereka pe a! kalo ga ketemu, pala kalian jadi pajangan depan pintu," ancam Leon yang sudah terlanjur kesal.


"Ih... ngeri lo," gerutu Dika yang langsung lari mencari assassin yang lain, diikuti Arya.


"Tenangin diri lo bro," ujar Feter sambil menepuk pundak Leon.


"Woi! ada apaan nih?," seru Lyra penasaran, dia berlari menghampiri Leon dan Feter diikuti Vier.


"Assassin," jawab Feter dingin.


"Hosh.... hosh... hosh.., Nesya sama Vyone mana?," tanya Lyra.


"Mana gue tau lah, kan sama kalian!," jawab Leon ketus.


"Wow... selow mamank, tadi kita tinggalin mereka di jalan deket jurang itu, mereka belom balik?," tanya Lyra lagi.


"Tadi gue juga denger suara tembakan," sahut Vier.


"Anj*ng mereka! Feter lo ikut gue, dan lo berdua bantu Arya sama Dika cari rekan assassin itu," ujar Leon cepat.


Leon berlari sekencang kencangnya ke arah jurang yang ditunjukkan Vier, Feter ngekor Leon dengan kecepatan sama, Lyra dan Vier membantu Dika dan Arya mencari assassin lainnya.


~oOo~


Vyone masih dalam keadaan pingsan di dalam jurang itu, Nesya sudah menghabisi 3 orang assassin, 1 sudah di habisi Feter jadi tinggal 1 yang tersisa, leader Five gord, yang paling kuat diantara teman²nya, Nesya kini berhadapan dengan sang leader Five gord.


"Ternyata sulit juga menghabisi seorang anak kecil sepertimu," ejeknya.


"Apa organisasi Tailed Heavens tak pernah mengajarkan 'jangan pernah meremehkan lawan'?," ujar Nesya datar tapi jelas tersirat ejekan pedas di dalam kalimatnya.


"Cih," balasnya sembari meludah.


Mereka mulai bertarung, Leon dan Feter mulai mendekat ke tempat Nesya dan lead Five gord bertarung, Nesya memojokkan sang leader ke jurang yang memiliki sungai di bawahnya.


Bersambung...


~oOo~


Wah... Sorry Nih Up Nya Lama, Reviewmya Juga Lama Sih


Minal Aidin Wal Faidin Mohon Maaf Lahir Dan Batin


Ok, Sorry Banget Kalo Lama Up🙏

__ADS_1


__ADS_2