
"Kalian akan di satukan dan dilatih bersama dengan cara militer," jelas sang Jendral.
"Hah?!," teriak mereka bersamaan.
"Anda pasti bercanda," kata Feter sinis.
"Dia tidak bercanda, Feter," suara ayah Feter terdengar, Feter terdiam.
"Kami semua sudah sepakat jika para pewaris 10 keluarga besar akan di latih secara militer," jelas ayahnya Leon.
"Di mansion Night Clair, di kota C, Indonesia," sambung Rescha.
"Apa?! kenapa harus di mansion ku?! dan kenapa aku harus bersama mereka?!," pekik Nala tak setuju.
"Kenapa kita harus tinggal bersama?! di Indonesia?!! kota terpencil??! yang benar saja!," pekik Veronica.
"Veronica, mama harus bicara dengan kamu, ikut mama," perintah mamanya Veronica, yang lain juga sedang bicara 4 mata dengan anggota keluarga masing².
"Nala, kau ikut dengan kakek, kita harus bicarakan hal ini," perintah Rescha yang langsung turuti Nala.
Cklek... brak, pintu ruangan baca ditutup agak keras.
"Kenapa kau tak setuju saja? bukankah itu lebih baik," ujar Rescha sambil duduk dan menuang teh hijau.
"Dengan membiarkan mereka masuk ke kehidupan ku?! Tidak terima kasih!," bantah Nala sambil duduk di sofa seberang Rescha.
"Kau bisa membiarkan Lina dkk masuk ke kehidupan mu, mengapa mereka tidak?."
"Tapi kakek..."
"Sudah, kalian masuk!," potong Rescha lalu memerintah.
"Ya, tuan besar," jawab mereka serentak, mereka tak lain adalah Lina dkk.
"Saya akan memindahkan sekolah nona Nala eh maksudnya nona Nesya ke sekolah dasar negeri terbaik di kota C, kalian awasi semua usaha milik nona Nesya, Nesya hanya boleh mengecek perusahaan setiap 1 minggu sekali, urus semua keperluan yang dibutuhkan nona Nesya," perintah Rescha.
"Apa?! kenapa aku harus pindah sekolah?!," tanya Nala terkejut.
"Supaya kau lebih dekat dengan yang lainnya, untuk masalah sekolah kau tak boleh protes," jawab Rescha tak bisa di ganggu gugat.
"Huh... baiklah, aku menurut untuk masalah sekolah," kata Nala akhirnya, dia kalah telak berdebat dengan sang kakek kali ini.
"Bagus, kalian bisa pergi," perintah Rescha.
"Kenapa sih kakek maksa aku buat nerima permintaan kakek itu?!," seru Nala setelah Lina dkk pergi, dia menyesap tehnya lagi.
"Supaya kau lebih terbuka, Nala. Jangan jadi anti\-sosial, cobalah terbuka pada orang lain, maka kau akan mengerti," Nala tergegun mendengarnya.
"Aku sudah punya teman kok."
"Sarah, orang tua nya bercerai, adiknya tiada akhirnya terkena serangan mental dan sekarang di RSJ. Prime, 1 minggu yang lalu hancur berkeping\-keping di markas WolfWhite. Doni, pindah sekolah ke Inggris untuk menemani neneknya. Mereka tak ada di sisimu lagi, dan kau baru melewati masa frustasi mu. Apa kau pikir kakek akan membiarkan mu begitu saja? tidak! kakek selalu memantaumu dari jarak jauh," Nala tersentak dan hampir menumpahkan tehnya.
"Tapi masih ada Lina dan yang lain, kek."
"Kakek tau, tapi ini berbeda, kakek memisahkan kalian supaya kalian tak saling ketergantungan, kakek harap kau mengerti, Nala."
"Dan mansionku bukan tempat orang keluar masuk seenaknya, kek!."
"Kau akan berteman baik dengan mereka, 4 kamar itu untuk 4 tuan muda kecuali tuan muda Maxi, lagipula kau masih punya banyak kamar kosong bukan?," tebak Rescha.
"Hem... masih banyak kamar kosong di lantai 2 dan 3, mau di kontrakin sekalian??!," tanya Nala sarkatis, cepat dan ketus.
"Boleh saja kalau kau mau identitasmu ketauan," balas Rescha, Nala memutar bola matanya jengkel.
"Jadi kakek ingin aku berteman dengan mereka?," tebak Nala, dia kembali menyesap tehnya untuk menenangkan emosi yang mulai meluap.
"Iya dan bukan hanya sekedar teman, mungkin sahabat atau kau akan menemukan jodohmu di antara 5 tuan muda," jelas Rescha agak menggoda Nala.
"Uhuk... uhuk.. apa?! kakek serius?!!," seru Nala saking terkejutnya tanpa dia sadari suaranya naik 1 oktaf dan tersedak teh hijau.
"Ahahaha... ayolah jangan terlalu tegang dan serius, kau bisa melakukannya, Nala," ujar Rescha mencoba mencairkan suasana.
"Ahahaha... lucu sekali, kuharap kakek tidak serius," Nala tertawa garing.
"Kau tau tuan muda Adijaya?," tanya Rescha memancing.
"Tau, ada apa?."
"Dia juga punya mafia, cukup kuat, dia bisa jadi sekutu yang hebat untukmu, bisa juga menjadi pujaan hatimu nanti," goda Rescha.
"Ih! kakek!," seru Nala.
"Hem... sudahlah ayo kembali, mereka sudah menunggu," ajak Rescha.
Nala duduk di sofa seberang Rescha di antara Leon dan Vier, mereka kembali berkumpul di ruangan sebelumnya, hening dan atmosfer tegang menyeliputi orang² di ruangan itu.
"Kapan kami akan pergi ke Indonesia?," tanya Alfie memecah keheningan.
"Malam ini, bagaimana?," tawar ayahnya Feter.
__ADS_1
"Apa?! malam ini?!!," teriak tuan/nona muda bersamaan.
"Bukankah terlalu cepat, kami masih harus beradaptasi dan saling mengenal," balas Arya.
"Kalian akan saling mengenal di sana," sahut ayahnya Arya, Jendral Kojhiro sudah pergi dari tadi.
"Malam ini saja, lebih cepat lebih baik," tukas Rescha, yang lain sudah tertekuk mukanya.
"Tapi Nala masih harus ngecek perusahaan, kek," bantah Nala.
"Lina dan yang lain yang ngurus," jawab Rescha santai.
"Tapi..."
"Masalah perusahaan bisa ditangani anak buahmu, kakek, Daryn dan kakak²mu bisa membantu mengurus perusahaan," potong Rescha cepat.
"Tapi kek..."
"Jangan protes atau kau mau semua akses usahamu di blokir dan asetmu di bekukan?!," ancam Rescha cepat.
Nala tak bisa berkutik, yang lain masih mencoba untuk mengulur waktu bahkan Leon, dia sampai harus menahan amarah, Nala liat tangan Leon yang terkepal keras.
'*Dia nahan marah? lumayan juga' puji batin Nala*.
Marahnya Leon udah di ubun² rupanya sampai dia pergi begitu saja dari ruangan itu sambil menahan amarah, Nala kesal juga akhirnya dan pergi ke kamarnya di lantai 3.
"Cih...! ngapain juga sih kakek kaya gitu! aku tau kakek mau yang terbaik buat aku tapi masa iya kaya gini, ngeselin!," gerutu Nala di dalam kamarnya, dia pergi ke balkon.
Saat marah atau yang lain, Nala biasanya bisa tenang kalo hirup udara alam atau bunga, kalo ga ya di luapin dengan latihan.
"Huh.... sekarang jauh lebih baik," gumam Nala.
Tiba² matanya tertuju pada seseorang yang umurnya tak jauh dari Nala, laki², dia lagi melukis pemandangan bunga² di depannya, sebuah alat lukis lengkap sudah tersedia di sana, Nala memperhatikannya dari atas balkon.
'*Wuih... keren, samperin jangan? samperin aja deh,' batin Nala*.
Nala turun ke taman tempat pelukis itu melukis, dia terkejut saat melihat siapa yang melukis.
"Tuan muda Adijaya?," tanya Nala tak percaya, Leon menoleh ke arah Nala dengan cepat.
"Nona muda Nero?," balas Leon.
"Aku tak menyangka kalau kau bisa melukis juga," jawab Nala sambil tersenyum tipis.
"Memangnya aku tak boleh melukis?," tanya Leon sinis sambil meletakan alat melukis nya.
"Aku pun tak menyangka, kau takut jika asetmu dibekukan," balas Leon makin sinis.
"Itu masalah berbeda! jika asetku di bekukan maka anak buahku bagaimana? masa mereka harus mengikuti ku! kan aneh," jelas Nala mulai kesal.
"Jangan seperti itu, karna nanti kita akan berlatih bersama sebaiknya kita kenalan dulu, namaku Natalia Lavender Yuena Nero panggil aja Nala, tapi kalo di sekolah namaku Yuena Nesyanie Putri panggilan nya Nesya, salam kenal. Maaf jika tadi aku membuatmu tersinggung," jelas Nala, dia membungkukan kepalanya hormat.
"Hm? tak apa, duduk di sana dulu yuk," ajak Leon, Nala dan Leon duduk di kursi taman tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Namaku Anzacano Leon Adijaya panggil aja Leon, salam kenal. Maaf juga kalau tadi aku lancang," kata Leon, dia mulai bersikap santai di depan Nala.
"Tak apa kok, aku tau tadi kamu marah tapi sekarang sepertinya kau sudah lebih baik sekarang, *by the way*, Leon ya? bagaimana kalau kupanggil Leonardo?" ujar Nala.
"Leonardo? *why*?," tanya Leon.
"Karna kamu suka melukis, aku jadi inget Leonardo da Vinci, pelukis dari abad pertengahan itu," jelas Nala.
"Oh... terserah kau saja," ujar Leon.
"Ok, Leonardo."
"Hm... ganti bahasa deh, aku sering pergi ke Indonesia buat nemuin nenek yang tinggal di sana," kata Leon lalu mengganti bahasanya dengan bahasa Indonesia.
"Wuih... bisa bahasa Indonesia dong kamu," balas Nala.
"Ya... begitulah," jawab Leon sambil tersenyum.
"Aku ingin tau seberapa kuat dirimu itu, bagaimana jika kita duel?," tawar Nala.
"Duel? kau yakin?."
"Tentu, kita duel di arena latihan terbuka di halaman belakang saja."
"Beneran ada arenanya?," tanya Leon tak percaya, Nala mengangguk.
"Yok, aku tunjukkin," ajak Nala, dia menarik tangan Leon dan pergi ke arena belakang dengan sedikit berlari.
"Ini tempatnya," jelas Nala menunjuk arena latihan di depannya.
"Wuih... mantab kali," gumam Leon menggunakan bahasa Indonesia.
"Ku tantang tuan muda Adijaya bertarung di atas arena," tantang Nala yang sudah naik ke atas arena, dia menunjuk ke arah Leon, pake bahasa Inggris.
__ADS_1
"Ku terima tantangan nona muda Nero," jawab Leon, dia naik ke arena juga.
*Bughh.... bugh... bughhh*
Leon dan Nala saling bertarung, pertarungan mereka terjadi selama 20 menit sampai mengundang anggota keluarga lainnya.
"*Prok... prok.. prok*...," suara tepuk tangan seseorang yang naik ke atas arena, ya siapa lagi kalo bukan ayahnya Leon.
"Papa..."
"Om Adijaya," gumam Nala dan Leon bersamaan, mereka menghentikan pertarungan mereka.
"Hebat sekali," puji Achrafano Arga Adijaya, ayahnya Leon.
"Papa ga pernah liat kamu seserius dan secapek itu," sambung om Arga.
"Dan kakek ga pernah liat kamu sesenang itu, Nala," sahut Rescha yang tiba² naik ke arena juga.
"Ya... Nala seneng karna ada orang yang bisa ngimbangin Nala," jawab Nala santai.
"Kamu pikir kakek ga bisa?," tanya Rescha, Nala terdiam.
*Bughh* *bugh*
Sebuah tendangan di tangkis oleh Nala dan sebuah pukulan di tangkis oleh Leon.
"*What the*....?," kata Nala terhenti karna Rescha mulai menyerang lagi.
Mereka melanjutkan pertarungan tapi bedanya, mereka melawan Rescha dan Arga.
"Kenapa tidak bekerja sama?," tawar Arga, Nala dan Leon saling tatap, tersenyum lalu mengangguk paham.
Mereka mulai bekerja sama, tukar posisi, menyerang bersama sampai Rescha dan Arga agak terjungkal ke belakang bersamaan.
"Bagus sekali, kalian bisa bekerja sama dengan baik, tingkatkan anak², istirahatlah dulu, kalian pasti capek," kata Rescha, dia dan Arga turun dari arena meninggalkan Nala dan Leon.
"Huh.... melelahkan juga ternyata," keluh Nala, dia duduk di arena dengan nafas yang ngos\-ngosan.
"Nih, minum dulu trus lap keringat kamu itu," kata Leon, dia memberikan handuk kecil dan sebotol air mineral.
"Makasih," jawab Nala sambil meminum air yang diberikan Leon sampai tinggal setengah.
"Em... *by the way* warna mata kamu beda karna heterocromia," tebak Leon.
"Kamu jeli juga ya, warna mataku ngikutin ayah yang heterocromia, warna mata ayah biru\-hijau cenderung biru, trus warna mata bunda ungu, jadinya warna mataku biru\-ungu, emang keliatan banget ya?," jelas Nala.
"Lumayan lah, walau ga terlalu keliatan," balas Leon.
"Dan warna mata kamu kenapa abu?."
"Karna... ngikutin ayah."
"Emang om Adijaya warna matanya abu juga?."
"Iya cuma agak beda sedikit," jawab Leon, dia turun dari arena, Nala mau ga mau ngikutin buat dapet penjelasan.
"Beda gimana?."
"Kalo warna mata papa itu ga terlalu kontras ke abu tapi kontras ke coklat," jelas Leon.
"Oh... gitu," gumam Nala, dia pergi ke kamarnya untuk mandi tapi...
"Bentar, aku udah duel dan kenalan sama Leonardo trus kakek tau, itu artinya.... aku setuju sama perintah kakek dong!! aduh....!!! ah bodo amat dah cuma nambah 10 orang sama sekretaris mereka kan jadinya 20 orang, ya udahlah, terima aja!," seru Nala bodo amat.
Nala pergi ke kamarnya, akhirnya pada malam itu Nala pergi dengan yang lainnya naik jet, mereka langsung pergi ke bandara Soekarno\-Hatta mengingat bandara di kota C termasuk bandara kecil. Dan kesalnya lagi Veronica terus²an ngomel ga jelas.
Pada pagi harinya mereka sudah sampai di mansion Night Clair dan di sambut semua anak buah Nala, Nala sampai kaget dan lebih kaget lagi pas nemuin Jendral Kojhiro di ruang tamu.
"Kenapa Jendral ada di sini??!!," pekik Nala terkejut, yang lain juga tak kalah terkejut kecuali anak buah mereka.
"Saya yang akan mengawasi dan mengajari kalian secara langsung, dan karna itulah saya ada di sini," jelas Jendral santai.
"Apa?!! tapi... Lina!!!!," panggil Nala kesal.
"Ya nona muda," jawab Lina dengan senyum tipis di wajahnya.
"Kau tau tentang semua ini?!!," tanya Nala ngegaz.
"Kami semua tau, nona. Ini adalah ide Jendral, tuan besar dan tuan Adijaya," jelas Lina tenang.
"Hah??! ini ide ayahku juga??!," tanya Leon tak kalah terkejut.
"Huh......... baiklah, kalian semua ikut aku, aku akan menunjukkan kamar kalian," kata Nala akhirnya setelah menghela napas panjang.
Nala pergi ke lift di ikuti mereka semua, mereka naik sampai lantai 3.
"Ini kamar tuan muda Maxi, yang itu kamar nona muda Ramosie, sebelahnya kamar nona muda Luzeir, seberangnya kamar nona muda Narendra, yang terakhir kamar nona muda Park, semoga kalian suka," kata Lina, meninggalkan orang² itu, mereka pergi ke bagian yang lain.
"Yang ini kamar tuan muda Vartena, seberangnya kamar tuan muda Rollan, sebelahnya kamar tuan muda Hollarie, yang itu kamar tuan muda Adijaya dan yang terakhir kamar nona muda Nero," jelas Lina, Nala segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian, dia masih kesal rupanya.
Saat dia turun ke ruang makan untuk sarapan, dia tak menemukan makanan di meja, saat bertanya mengapa, para maid hanya tersenyum dan berkata,
"Tuan besar ingin para tuan dan nona muda bisa mandiri, karna itulah tidak ada makanan di meja."
"Maksudnya?," tanya Nala tak mengerti.
"Maksudnya kalian akan memasak sendiri tanpa di bantu maid," jelas Jendral menggunakan bahasa Inggris, Jendral tiba² datang ke ruang makan bersama yang lainnya.
"Hah?!! masak sendiri?!," pekik Veronica heboh, sampai Nala ingin menyumpal mulut brisiknya itu.
"Iya, kenapa? kau tak bisa masak?," tanya Jendral non-formal.
"Sudahlah, kalau kalian tak mau masak, aku saja yang masak," kata Nala malas berdebat, dia cukup lapar dan juga malas mendengar ocehan Veronica Park yang... manja.
Bersambung.....
Kira² apa yang akan di masak Nala?
Apa maksud Jendral akan dilatih secara militer?
Next eps! bye...
__ADS_1