
Malam itu juga Nala dan Leon pergi ke kota B tanpa sepengetahuan anak buah mereka kecuali bi Maya dan pak Dicky, Lina, Wendy dan Mei hanya tau jika Nala dan Leon pergi mengurusi suatu hal, sebelumnya Nala dan Leon memang sudah ijin ke pihak sekolah.
~oOo~
Keesokkan paginya
Nala dan Leon sudah sampai di kota B, mereka langsung memesan kamar di hotel berbintang di sana, beda kamar coy! jangan mikir yang aneh² deh, readers!!, Nala langsung merebahkan diri di ranjang empuk yang disediakan pihak hotel.
Pukul 7 pagi Nala di bangun kan pelayan yang mengetuk pintu kamar Nala, dengan terpaksa dan sedikit rasa kantuk karna baru tidur 1-2 jam.
"Permisi, nona. Anda ingin sarapan di resto atau sarapan di dalam kamar?," tanya pelayan pria itu sopan.
"Hoam... sebentar lagi saya turun, anda bisa membangunkan teman saya di kamar sebelah," jawab Nala sambil sedikit menguap.
"Baik, nona," balasnya, pelayan itu segera pergi setelah Nala menutup pintu kamarnya kembali.
Leon juga di bangunkan oleh pelayan itu, sementara Nala mandi dan bersiap untuk turun dan sarapan, Nala menggunakan pakaian casual dengan rambut hitam panjang nya yang terurai dan masih sedikit basah, Nala tetap memakai softlens coklat nya dan kulit imitasi warna kuning langsat di tubuhnya.
Leon juga memakai pakaian casual dengan softlens coklat juga kulit imitasi dengan warna lebih kusam/gelap dari kulit imitasi Nala, Leon mengetuk pintu kamar Nala dengan perlahan.
"Nes... kamu udah selesai belum?," tanya Leon dari balik pintu, mereka sepakat untuk tetap memakai nama samaran.
"Hem? Leonardo?," tanya Nala dari dalam kamar.
"Ya ini aku, Leonardo. Kau masih 8 tahun tapi sudah berdandan ya," jawab Leon agak sinis.
"Bodo amat," balas Nala dari dalam.
Pintu kamar Nala terbuka menampilkan Nala dengan pakaian casual nya, Nala terlihat cantik, sangat cantik dan imut, Leon juga tampan dengan balutan kaos yang pas dengan tubuhnya, belum lagi rambut yang terlihat agak berantakan membuat Nala dan Leon sangat serasi.
(Anjayy.... serasi, ck, bahasaku ^,^ wkwkwk -Author)
"Imutnya...," puji Leon sambil memcubit pipi Nala saking gemasnya.
"Hei hei! hentikan! aku lapar, ayo ke resto," ajak Nala dengan wajah imutnya.
"Ya udah, ayo," balas Leon sambil tersenyum tipis.
Leon dan Nala memasang tampang biasa dan acuh tak acuh saat di sedang makan resto hotel, mereka memang bersenda gurau tapi hanya berdua, jika dengan pelayan atau yang lain maka mereka akan dingin, oh ada 1 pemberitahuan lagi, kalo cuma berdua (Leon sama Nala) mereka pakainya 'aku' 'kamu' bukan 'lo' 'gue', tapi kalo sama orang lain mereka pakainya 'lo' 'gue'.
"Kita langsung pergi?," tanya Leon setelah selesai makan, dia meminum minumannya dan merapihkan diri sendiri.
"Iya, habis sarapan kita pergi. Mobil kamu taruh di mana?," tanya Nala balik.
Yang dimaksud Nala dengan mobil di sini adalah mobil modifikasi Nala dan Leon, mobil dengan holo sopir di dalemnya dan bisa dikendalikan dari tablet yang sengaja dirancang khusus dan ditanamkan di dekat stir, ya.. semacam layar gitu lho, paham lah ya, mobil ini begitu spesial dengan fitur canggih lainnya.
"Di parkiran lah, mau taro di mana lagi coba," ujar Leon sedikit bercanda.
"Ya kali, di angkat ato di jinjing gitu loh, wkwk," balas Nala juga bercanda, Leon dan Nala tertawa dengan candaan mereka.
"Udah, yok pergi," ajak Nala setelah tawanya reda, dia berdiri dari duduknya dan beranjak pergi, Leon dan Nala sudah membayar makanan yang mereka makan, mereka berencana untuk tak tinggal di hotel itu lagi.
Mereka pergi ke dalam mobil sedan hitam, sedan yang sangat canggih, selain jok nya yang empuk juga ada beberapa bantal kecil di dalamnya, beberapa selimut, pakaian dan aksesoris untuk penyamaran, kaca anti peluru yang juga cukup tebal, kedap suara pastinya, kacanya yang gelap membuat orang diluar tak bisa melihat ke dalam tapi orang di dalamnya bisa, atap mobil yang bisa di buka secara otomatis, dan masih banyak lagi.
Nala dan Leon mulai pergi dengan mobil tanpa supir mereka dan untuk mengurangi kecurigaan, Leon duduk di balik stir untuk berpura pura menyetir, Nala duduk di sebelah Leon, lagian kalo tau mobilnya jalan sendiri mungkin bakal di tatap aneh sama pengendara lain.
"Markas TAC dimana?," tanya Leon, mobilnya sudah mulai berjalan dengan kecepatan stabil.
"Jalan XXXXXX, pinggir kota, gedung tua bertingkat, jauh dari pemukiman warga, juga ada beberapa gedung tua bekas rumah sakit di sekitarnya," jawab Nala, matanya fokus pada tablet di tangannya.
"Pinggir kota, heh? pintar juga mereka mencari tempat," gumam Leon, dia menulis alamat TAC ke layar di dekat stir.
"Anak buahku jelas pintar lah," balas Nala yang mendengar gumaman Leon.
"Iyain aja deh ntar marah," sahut Leon, dia fokus menatap jalanan di depannya.
.
.
Hening, mereka sibuk melakukan hal lain.
"Kamu sebenarnya bisa nyetir kan?," tanya Nala sambil meletakkan tabletnya ke dashboard mobil.
"Bisa sih, tapi masa aku baru 10 tahun udah nyetir aja, bisa di giring ke kantor polisi tau," jawab Leon masih fokus ke jalanan di depannya.
"Ganti manual aja lah biar cepet sampe, kamu ga takut sama polisi juga kan, lagian kita kayanya di ikutin deh," ujar Nala sambil menengok ke belakang mobil.
__ADS_1
"Hah?! beneran?!!," tanya Leon terkejut, dia menoleh ke belakang.
Dan benar saja, sebuah mobil sedan silver jenis mercendes mengikuti mereka sedari tadi, Nala sudah menyadarinya sejak mereka berbelok ke perempatan, eh BTW, berhubung kaki Leon panjang jadi dia bisa nginjek pedal gas dan rem dengan mudah.
"Ya udah, kamu pindahin ke mode manual, aku jalanin mobil ini," perintah Leon, dia kembali fokus pada jalanan di depan mobil dengan menggenggam stir di depannya.
"Ok, siap² ya," jawab Nala, dia mulai mengotak atik layar khusus di dekat stir dan memulai mode manual.
"Sudah," ujar Nala setelah mengganti mode dengan mode manual.
"Kita main² sebentar sama mereka," balas Leon tetap fokus, untung saja Leon sudah sigap hingga mobil ga oleng waktu di ganti mode manual.
"No problem, mereka bakal nyesel karna udah main² sama kita," sahut Nala dengan senyum smirk nya, Leon juga tersenyum licik.
Mereka bermain kecepatan dengan mobil silver itu dan mengubah rute, sekarang Leon dan Nala sudah yakin jika di ikuti dan di incar.
"Kamu cari rute di layar trus kamu pegangan, kita pergi secepet cepetnya buat ngilangin jejak, ok," suruh Leon cepat, dia menoleh ke belakang sejenak.
"Ok ok, kamu fokus ke jalanan di depan," jawab Nala, dia kembali mengotak-atik layar itu.
"Ketemu! kita belok kiri di perempatan selanjutnya," ujar Nala setelah menemukan rute dengan jalan sepi.
"Nice! jalannya sepi!, kamu pegangan! aku ga mau kamu kenapa napa," seru Leon mulai mempercepat laju mobilnya.
Nala berpegangan pada pegangan di atas pintu mobil, Leon menginjak pedal gas dan mobil melaju begitu kencang layaknya mobil sport dengan kecepatan di atas rata² tapi masih bisa diikuti mobil di belakang, syukur di depan ga ada polisi, Nala menatap layar itu dan memberi Leon instruksi tentang rute, Leon menuruti kemauan Nala, orang di mobil itu mengucapkan sumpah serapah untuk Nala dan Leon, dia mulai tak sabar.
Dor...
1 tembakan mengenai kaca mobil, sayangnya ga nembus karna kaca mobil sedan Nala dan Leon anti peluru.
"Cih.. mainannya sama peluru, sini kukasih yang lebih bagus," ujar Nala geram, Nala beranjak mengambil pistol tapi di tahan Leon.
"Jangan! nanti peluru kamu atau si bangs*d itu nyasar gimana? trus kamu luka gimana?," tanya Leon khawatir, tangan kirinya menghentikan Nala dan tangan kanannya fokus menggenggam stir, matanya juga fokus ke jalanan, BTW stirnya itu di kanan ya.
"Kamu tenang aja, 1 tembakan mampoz," jawab Nala sambil melepaskan genggaman Leon, Nala mengambil pistol yang tersimpan di bagian bawah dashboard.
Ck cklek
Pistol terisi peluru, Nala menurunkan kaca mobil di sebelahnya, membidik si pengemudi mobil yang mengikuti mereka dan...
Dor...
"Mati?," tanya Leon masih fokus.
"Ga, cuma kena lengan kiri nya doang," jawab Nala, dia memasukan pistol ke bagian bawah dashboard mobil, dia mengambil selimut tipis tapi lembut di jok belakang dan mulai memakainya.
"Kok ga dibunuh sekalian sih?," tanya Leon ketus.
"Nyantuy aja kali, aku cuma lagi pengen main² sama mereka, nanti kita cari trus bantai aja ya," jawab Nala santai.
"Ga masalah sih, tapi dia masih ngikutin kita," balas Leon kembali menoleh sejenak ke belakang.
"Trus? ya udah aku cari rute pelarian dulu," sahut Nala sambil beranjak mengambil tablet di atas dashboard mobil.
"Eh ga usah, aku ada ide, kamu pegangan aja yang kenceng," ujar Leon, entah apa yang dia pikirkan.
Nala menuruti kemauan Leon, Leon terpikir ide saat melihat tikungan tajam di depannya, Leon melajukan mobil secepat mungkin lalu tiba² menginjak pedal rem dan banting setir ke kanan, membuat mobil hampir oleng tapi masih bisa dikendalikan Leon.
"Woy! nyawa kita taruhannya, eon!," seru Nala ngeri sekaligus bersemangat.
"Tapi kamu suka kan, udah kamu pegangan dan diem aja," balas Leon masih fokus.
Nala diam, Leon memutar mobil 360° selama 2 kali membuat si penguntit dan pengendara lain bingung sekaligus terkejut dan terkagum kagum, Nala bahkan berseru senang, jujur saja Nala memang menyukai olahraga ekstrem sama seperti Leon, Leon menghentikan mobilnya saat menghadap ke arah penguntit, lagi² Leon menginjak pedal gas membuat mobil melaju kencang melewati sedan silver tadi dan beberapa mobil lainnya.
Mereka melanjutkan perjalanan tapi bukan menuju tujuan utama mereka melainkan ke.... tunggu! pantai atau apa ini? seperti spot sunset tapi kan waktu masih pagi, Leon menghentikan mobil di tempat yang ga terlalu mencolok.
"Kita ngapain di sini?," tanya Nala heran, dia memindahkan barang² di pangkuannya ke jok belakang.
"Istirahat bentar trus ganti plat mobil," jawab Leon sambil melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil di ikuti Nala.
Setelah beberapa menit, mereka selesai mengganti plat mobil bahkan bekas pelurunya sudah tak terlihat.
"Coba kamu cek kamera di deket plat biar kita bisa liat plat mobil itu," ujar Leon.
"Ye... nyuruh," gerutu Nala, Leon terkekeh pelan.
Nala mengambil mini kamera di dekat plat yang sengaja di letakkan Nala jadi kalo ada yang nyerang kaya tadi, bisa ketauan plat nomor mobilnya, Nala mengotak-atik laptopnya yang sudah tersambung dengan chip rekaman di mini kamera.
__ADS_1
"Ketemu nih! platnya R 2214 G, mau lacak lebih lanjut?," tanya Nala.
"Terserah kamu," jawab Leon acuh, dia membuka bungkus makanan dari mobil.
"Mau?," tawar Leon, dia menyodorkan snack makanan ringan dan duduk di sebelah Nala.
"Bentar," Nala masih berkutat dengan laptop nya, Leon duduk di sebelah Nala dan Nala duduk di jok belakang yang memang di desain khusus seperti kursi empuk hacker, bedanya cuma bentuk kursinya sebagai jok mobil dan ga bisa diputer kaya kursi di ruang kerja Nala.
Nala meng-hack rekaman CCTV di hotel tempat Nala dan Leon menginap sebelumnya, Nala menghapus rekaman sast dia dan Leon datang, Nala juga membuat rekaman itu hilang karna kecelakaan semata.
(Wkwk... kecelakaan semata woy! ngakak aku tu ^–° -Author)
"Eh, ini pantai kan? jalan² bentar yok," ajak Leon.
"Hem? bentar... aku nyelesaiin ini dulu," balas Nala tetap fokus.
"Ok, tapi cepet ya," balas Leon mulai bosan.
.
.
Tak tak tak, suara ketikan keyboard tetap terdengar jelas sejak 10 menit yang lalu, Leon benar² bosen sekarang, dia membuka pintu mobil di sebelah kirinya dan menarik tangan Nala.
"Hei! kamu ngapain?!," seru Nala terkejut karna tiba² ditarik sama Leon.
"10 menit ga cukup? udahlah ntar aja, aku bosen tau," balas Leon ketus.
Nala menghela napas pasrah, dia kalah debat dengan Leon kali ini, Nala merapihkan barang² nya dan meletakkan nya kembali seperti semula, Leon menunggu di luar mobil, Nala selesai dan mengunci mobil dengan kunci otomatis yang terhubung dengan jam tangan canggih di tangannya.
"Udah? lama bener," ujar Leon ketus.
"Lama? aku beres² ga lebih dari 5 menit tuh," balas Nala.
"Dahlah, yok liat ke sana," ajak Leon, dia membawa Nala masuk ke dalam tempat yang cukup asing, tempat itu ga terlalu ramai dan pemandangan nya indah.
"Wow... keren," puji Nala.
Mereka terkagum kagum melihat pemandangan di depan mereka, seorang pemandu wisata menghampiri mereka.
"Hallo, adik². Kalian mau jalan² sebentar di sini?," tawarnya, Nala dan Leon saling menatap dan mengangguk, lagipula tak ada salahnya menikmati pemandangan sejenak.
"Baiklah tapi sebelum kita mulai, kita kenalan dulu ya, namaku Heri, 12 tahun. Aku di sini bantuin ayah selama liburan," katanya ramah.
"Senang berkenalan denganmu, kak. Namaku Nesya, 8 tahun dan ini Leonardo, 10 tahun," ujar Nala ramah.
"Ok, mari kita kesana, nama wisata ini adalah ***** *****, tempat ini terletak di kaki gunung ******, danau ini terbentuk dari letusan gunung itu," jelasnya.
Bla.. bla.. bla..
~oOo~
Nala dan Leon sudah selesai berkeliling tempat itu pada jam makan siang, mereka makan siang sejenak dan pergi melanjutkan perjalanan.
Saat ini mereka telah sampai di tujuan dan mencari tempat menginap terdekat, mereka meletakkan mobil dan kembali pergi dengan jaket hitam dan celana hitam seperti saat pertama kali berangkat.
"Leon, kita ngawasin dari atas aja ya," ujar Nala di dalam mobil setelah menggunakan penyamaran nya.
"Hum? ok ok, ga masalah," balas Leon.
Mereka berjalan cepat ke markas TAC, kebetulan anggota mereka sedang berlatih, mereka melompat ke dahan pohon besar dan mulai mengamati.
"Kamu ga pake topeng buat nutupin mata?," tanya Leon pada Nala yang sedang bersantai di dahan pohon.
"Ga, gini aja udah cukup kok, lagian kalo kita pake topeng itu bisa² mereka ngenalin kita terutama Kakashi dan Yi Fan," jawab Nala, dia dan Leon menutupi wajahnya dengan masker hitam dan topi hitam.
"Bener juga ya," balas Leon yang ikutan bersantai di dahan pohon sambil mengamati mereka.
Bersambung...
~oOo~
PARA READERS MOHON BERSABAR YA NUNGGUIN EPS SELANJUTNYA
AUTHOR JUGA HARUS ULANGAN ONLINE SIH DAN PUASA JUGA
MAKASIH BUAT PARA READERS YANG UDAH NYEMANGATIN
__ADS_1
NEXT EPS! BYE...