
"Baik, kami keluar semoga Nala lekas sembuh," kata Jendral sambil pergi keluar kamar di ikuti yang lain.
~oOo~
"Tuan muda Adijaya tidak pergi?," tanya bi Maya yang melihat Leon tak bergeming di tempatnya.
"Panggil aku Leon saja, bi," jawab Leon, bi Maya mengangguk.
"Bi... maksud bibi apa? kejadian apa yang membuat Nala seperti ini?," tanya Leon.
"Saya... saya tidak bisa memberitahu anda, tuan muda Leon," jawab bi Maya perlahan.
Leon pergi ke arah pintu dan menutupnya, menguncinya dan kembali menemui bi Maya, Leon menatap lekat netra bi Maya.
"Bi, tolong jujur. Kejadian yang di alami Nala saat dia berumur berapa tahun?," tanya Leon meminta penjelasan.
"Saat nona berusia 3-4 tahun."
"Itu berarti kejadiannya terjadi 5 tahun yang lalu, di sebuah kapal?," tanya Leon hati², bi Maya tersentak mendengarnya.
"Nala adalah salah satu korban penyandraan di kapal pesiar oleh para *******? yang di selamatkan Jendral Kojhiro Hyugai?," sambung Leon yang makin membuat bi Maya terkejut.
"Ba-bagaimana tuan muda Leon tau?."
"Ini hanya bibi yang tau, usahakan hanya bibi yang tau," kata Leon penuh penekanan, bi Maya mengangguk cepat.
"Jangan beritahu siapa pun tentang ini, jangan beritahu orang lain jika saya tau tentang kejadian itu, mengerti?," kata Leon hati² dan penuh penekanan.
"Saya mengerti, tuan muda Leon," jawab bi Maya.
"Saya akan pergi, tolong rawat Nala dengan baik," kata Leon, dia pergi ke arah pintu dan membuka selot kunci, lalu keluar.
Tak lama kemudian terdengar suara kicauan burung yang merdu, bi Maya tersenyum tipis terlepas dari rasa terkejutnya lalu beranjak pergi ke balkon, ia membuka pintu balkon dan membiarkan 2 ekor burung yang indah memasuki kamar Nala.
"Kalian selalu tau saat nona Nala sakit ya," kata bi Maya.
2 burung berwarna biru muda dan merah terang itu tak lain adalah Bell dan Bing, mereka selalu datang saat Nala memanggil atau saat Nala sakit, begitu pula Blazt yang kabur dari kandangnya.
Cklek... pintu di buka oleh seekor singa dewasa berumur 3 tahunan yang cerdas.
"Blazt? pintar sekali kau," puji bi Maya, dia membiarkan Blazt naik ke atas ranjang, Three B mendekati Nala dan mengganggu tidurnya.
"Emh.. Three B hentikan....!," kata Nala dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Blazt terus²an menjilati tangan dan wajah Nala, Bing membuat angin kencang dengan sayapnya dan Bell menyanyi di telinga Nala.
"Aduh... telingaku sakit, bisa budek ntar, Bing! dingin tau!, eh eh... Blazt hentikan!," gerutu Nala sambil memegangi telinganya, dia duduk di atas ranjang dengan keadaan setengah sadar, bi Maya terkekeh kecil mendengar keluhan nona mudanya itu.
"Nona, sebaiknya anda beristirahat karna anda sedang demam tinggi," nasehat bi Maya pada Nala.
"Ya, bi. Terima kasih, saya akan beristirahat, bibi juga istirahat ya," ujar Nala lirih.
"Sama², nona. Saya permisi," ucap bi Maya sambil menutup pintu, dia masih memikirkan kenapa Leon bisa tau tentang kejadian itu.
Di kamarnya Nala, Nala dan Three B sudah berbaring dan tidur di atas ranjang empuk, Nala tidur sampai 9 jam lamanya, Nala bangun jam 6 sore dan tidak mendapati Three B di kamarnya, Nala segera mandi dan mengganti pakaiannya, demam Nala sudah turun dan sekarang dia merasa lebih segar.
'Memang ini kubutuhkan, istirahat yang tenang maka aku akan sembuh, kalau kakek/oma tau mungkin aku bakal di kekang dan di ceramahi, menjengkelkan juga sih,' batin Nala.
Nala turun ke ruang makan menggunakan lift dan setiap ketemu maid ataupun yang lain mereka selalu menanyakan kabar dan meminta Nala beristirahat saja.
'Ngapain aku di kamar mulu? kerja lebih baik daripada gabut,' batin Nala kesal.
"Hei... kau sudah sembuh?," sapa Lyra yang langsung berhambur ke arah Nala yang baru keluar dari lift.
"Aku sudah sembuh kok masa iya sakit terus kan boros," balas Nala.
"Boros apaan?," tanya Lyra heran.
"Boros waktu lah, kalo ga paham yodah," jawab Nala sambil melenggang santai ke ruang tengah yang luas.
"Ck, kau ini sangat pekerja keras ya," kata Vier yang menanggapi kelakuan Nala.
"Hm? aku hanya ingin pekerjaanku cepat selesai," jawab Nala.
"Hem... serah lu," balas Vier acuh dan kembali fokus ke TV 10 inci di depannya.
"Kemana yang lain?," tanya Nala.
"Oh... mereka itu lagi pada gangguin singa jantan dewasa yang tadi dateng dan keluar dari lift di halaman," jawab Lyra santai.
"Oh, ok," balas Nala.
Nala pergi ke halaman dan melihat 3 human sedang mengganggu seekor singa dewasa yang Nala kenali sebagai Blazt. Leon, Feter, Karina dan kak Alfie menonton dari jauh, Nala hanya tepok jidat ngeliat kelakuan 3 human itu, siapa lagi kalo bukan si tukang ngeluh (Veronica), si bacot (Dika) sama si jail (Arya).
"Blazt!," panggil Nala sambil mendekati human² yang menonton, Blazt terbangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri Nala.
__ADS_1
"Kau sudah bangun rupanya," kata kak Alfie sambil mengacak acak rambut Nala dengan gemas.
"Ehehe... iya kak, baru bangun tadi," balas Nala sambil terkekeh kecil dan berjongkok untuk mengelus tubuh Blazt.
"Jadi singa itu peliharaan Nala?," tanya Arya tak percaya, dia bersama yang lain mendekati Nala.
"Iya, ini namanya Blazt, kabur dari kandangnya," jawab Nala santai sambil mengelus lembut tubuh Blazt, lalu 2 ekor burung terbang mendekati Nala dan hinggap di kedua bahu Nala.
"Yang merah namanya Bell, kicauannya merdu, dan yang biru muda namanya Bing, kemampuan terbangnya yang terbaik," jelas Nala.
"Wah... cantiknya," puji Karina, dia mau megang salah satu dari Three B tapi tangannya malah hampir di makan.
"Hahaha... jangan sentuh mereka kalau tak mengenal dengan baik nanti tanganmu di makan loh, Blazt karnivora tapi buat Bing dan Bell omnivora," jelas Nala sambil tertawa kecil.
"Kenapa ga bilang sih?! untung tanganku ga di makan tadi," protes Karina.
"Iya iya sorry," kata Nala.
Nala asyik mengelus Three B sambil sesekali mengajak yang lain, Leon menatap Blazt lalu mendekatinya, Leon ikut berjongkok di sebelah Nala dan ikutan mengelus Blazt, aneh nya Blazt ga ngelawan malah makin manja.
"Eh? kok bisa sih?," tanya Nala yang berganti mengelus 2 burung di tangannya.
"Aku juga punya singa di rumah, betina tapi," jelas Leon.
"Oh..."
"Masuk yok, makin dingin nih trus udah mau malem juga," ajak Veronica.
Mereka semua masuk ke dalam tak terkecuali Three B, Lyra yang melihat seekor singa masuk rumah langsung menjerit ketakutan dan berdiri di atas sofa.
"Jangan takut Lyra, dia jinak asal ga ganggu tidurnya aja," kata Nala menenangkan Lyra.
"Blazt kabur? dasar!," gumam Mei dari belakang, Mei mendekati Blazt dan mengelus nya.
"Lah kok?," tanya Dika saat melihat Mei akrab dengan Blazt.
"Saya sering memberi makan Three B termasuk Blazt," jawab Mei santai.
"Oo..."
"Mei bisa ambilkan makanan untuk Three B?," tanya Nala.
"Baik, nona," jawab Mei sigap.
Mei pergi ke dapur untuk mengambil beberapa daging dan membawanya ke ruang makan, dia meletakkan daging² itu di sebuah piring.
"Ok, lalu bagaimana dengan makanan untuk kami?," tanya Nala.
"Karna nona baru sembuh jadi semuanya sudah di siapkan oleh kami," jawab Mei sambil membungkuk kan badannya agak formal.
"Formal? untuk apa? kita di rumah bukan di tempat lain," jelas Nala, Mei terdiam.
"Sudahlah ayo kita makan malam," ajak Nala.
Mereka mulai berkumpul di ruang makan, pukul 7 mereka mulai makan dan setelah selesai, mereka hanyut dengan pikiran dan kegiatan masing².
"Nala...!," panggil Leon.
"Em? ada apa?," tanya Nala.
"Boleh kita bicara sebentar? berdua saja tapi," tanya Leon, Nala mengernyit bingung tapi kemudian dia mengangguk.
"Ikuti aku," ajak Leon, Nala menurut dan yang lain makin bingung dengan apa yang dilakukan Leon, tak biasanya dia seperti itu.
"Ada tempat yang kedap suara di sini yang tidak aku tau supaya aman?," tanya Leon sambil berbalik dan menatap Nala.
"Ruang musik ruang siksaan, tapi kamu udah tau atau... ruang latihan khusus milikku?," tawar Nala.
"Pilihan yang terakhir saja," jawab Leon.
"Kau yakin?," tanya Nala.
"Tentu," jawab Leon mantap.
Nala bersama Leon pergi ke ruang latihan khusus milik Nala, ruangan itu punya sistem keamanan yang di rancang khusus oleh Nala yang pastinya sangat sulit di retas bagi hacker terbaik sekalipun, sistem kedap suara, anti goncangan dan berada di basement dekat ruang kerja Nala terhubung malah, saat Nala telah mengkonfirmasi identitasnya, Leon mengikuti Nala tapi... napasnya tercekat saat lebih dari 10 senapan, pistol laser dan banyak jebakan.
"Ups... aku lupa mengkonfirmasi keberadaan dan identitasmu," ucap Nala.
Nala memasukan identitas Leon, menyuruh Leon memberikan cap sidik jari, dan kecocokan mata, setelah selesai Nala dan Leon kembali melanjutkan perjalanan, saat masuk melewati ruang keamanan Leon di buat takjub akan keberadaan beberapa set pakaian hitam ketat, beberapa jubah yang diantaranya bertuliskan leader The Death Butterfly dan presdir, semua itu Nala letakkan di almari kaca.
Tak jauh dari almari kaca berisi pakaian, Leon kembali takjub tatkala melihat kumpulan koleksi senapan laras panjang dan pendek milik Nala, bahkan ada alat² khusus yang Nala buat sendiri yang pastinya keren, canggih dan modern, mereka melewati sebuah meja bundar yang berada di antara alat² canggih buatan Nala.
"Bukankah hampir semua senapan itu adalah senapan terbaik di seluruh dunia?," tanya Leon sambil menunjuk kumpulan barang² koleksi Nala yang tersimpan baik di almari kaca.
"Ya, semua itu senapan terbaik yang pernah dibuat dari seluruh dunia," jelas Nala santai.
__ADS_1
"Sejak kapan kau mengoleksi semua itu?," tanya Leon lagi sambil menatap lekat punggung Nala.
"Sejak aku pindah kesini dan sejak aku merenovasi mansion ini," jawab Nala sambil menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya kau mau membicarakan apa?," tanya Nala, dia sudah membalikkan tubuhnya menghadap Leon.
"Ada perekam di sini?," tanya Leon.
"Ada, sebentar akan kumatikan dulu perekamnya," jawab Nala, dia menyalakan meja bundar yang bisa dijadikan gawai itu, tak berapa lama Nala sudah mematikan alat perekam di ruangan itu.
"Jadi?," tanya Nala makin penasaran.
"Kau... pernah mengalami kejadian naas sebelumnya?," tanya Leon hati².
"Ya, kenapa?."
"Saat kau berusia 3-4 tahun?," Nala tersentak mendengar pertanyaan Leon.
"Ya."
"Kejadian 5 tahun lalu di kapal pesiar? kapal yang di bajak para *******? yang digunakan untuk menyandra dan membunuh orang²?," Nala makin kaget.
"Bagaimana kau bisa tau?," tanya Nala tak percaya.
"Ternyata benar dugaan ku, kau adalah balita yang waktu itu, yang membantuku membunuh para k*par*t sial*n itu!," seru Leon pelan.
"APA?!! kau.... kau pria kecil yang waktu itu?," tanya Nala tercekat.
"Ya, aku sudah mencari mu dan si kecil manis sejak lama," ucap Leon, nafas Nala benar² tercekat.
"S-si kecil manis? bagaimana keadaannya? dia baik² saja kan?," tanya Nala beruntun, dia mulai mendekati Leon, mempersingkat jarak di antara mereka.
"Raisya Karina Narendra, dia adalah si kecil manis, Nala. Tapi dia lupa akan kejadian itu dan kuharap dia tak mengingat nya lagi," jelas Leon sambil tersenyum.
"Oh... syukurlah jika dia lupa, itu lebih baik daripada dia mengingat nya dan trauma," gumam Nala.
"Aku akan melindungimu, Nala. Seperti dulu," kata Leon sambil kembali tersenyum tipis.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri, Leonardo. Aku bisa, jangan khawatir kan aku," balas Nala.
"Tidak, belum. Aku akan bersamamu, membantumu sebisaku," kata Leon mantap.
"Terima kasih, Leonardo," jawab Nala senang.
"Hei... kau belum membawaku berkeliling tempat ini," sahut Leon.
"Oh iya, berhubung kau sudah tau tentang hal ini dan aku mulai mempercayaimu, aku akan mengajakmu berkeliling ke tempat yang mungkin akan sulit di akses orang lain seperti tempat ini contohnya," jawab Nala.
"Ok, aku tak akan mengecewakanmu, aku janji," tekad Leon membuat senyum Nala kembali merekah.
Nala mengajak Leon melihat denah asli mansion Night Clair di meja bundar di hadapan mereka, denah 3D itu terpampang jelas di depan mereka, Nala menjelaskan satu per satu letak, fungsi dan sambungan ruangan² itu, bahkan Nala memberitahukan jalur evakuasi rahasia yang hanya Nala dan Leon ketahui, karna Nala belum memberitahukan jalur evakuasi rahasia itu pada Lina dkk.
Setelah urusan denah selesai dan Leon mengerti, perhatian Nala dan Leon di alihkan ke ruangan selanjutnya di tempat itu, tempat latihan Nala.
"Wow... luas juga ya," puji Leon.
"Hem... lumayan lah, walau belum sebesar DA* ," kata Nala.
*DA atau Devils Arena adalah tempat bertarungnya orang² yang menjadi mainan/budak, tempatnya ada di bekas markas WF, di Jepang dan ada cabang lainnya, biasanya sih di datengin para mafia dan di ramaikan mafioso, tempatnya berupa arena terbuka dengan lingkaran penonton yang mengerubunginya. 2 orang akan saling bertarung di arena untuk memperebutkan nyawa, mereka bertarung sampai salah satu di antara mereka mati. Bagi ketua mafia ataupun orang² penting akan di tempatkan di ruang VIP di bagian atas dengan biaya tambahan tentunya, sedangkan para mafioso hanya mengelilingi arena. Terkadang di tempat itu juga terjadi pelelangan ilegal, polisi? gak ketangkep karna pemilik DA bisa dengan mudah membeli hukum*
"Kau tau tentang DA juga?," tanya Leon.
"Tentu saja, aku leader TDB pasti tau bahkan aku pernah di undang ke pelelangan ilegal di sana, aku memenangi senapan yang dibuat khusus dengan akurasi tembakan yang sangat akurat," jelas Nala.
"Tunggu sebentar, barang pelelangan ke 6 yang dimenangkan nomor 105?," tanya Leon.
"Iya bagaimana kau tau, Leonardo?," tanya Nala balik.
"Aku salah satu bos mafia yang juga diundang kesana, nomor 127 yang bersaing denganmu, hahaha, aku tak tau kalau aku kalah denganmu, hahaha," jelas Leon dengan gelak tawa gemas.
"Benarkah? hahahahaha... ," suara tawa Leon dan Nala kembali pecah.
"Sudah sudah, ayo kutunjukkan koleksi pedang²ku," ajak Nala setelah tawanya mereda, Leon menurut.
"Lihat itu! semua koleksi pedang terbaikku ku simpan di sini," jelas Nala sambil menunjuk koleksi pedang nya yang berada di sebuah almari kaca juga tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kau punya pedang sebanyak itu? wow... ," puji Leon.
Hubungan Nala dan Leon semakin dekat dan baik walaupun kadang cek cok.
Bersambung....
~oOo~
Hubungan Nala dan Leon makin deker nih, gimana kelanjutan nya ya?
__ADS_1
Next eps, guys! bye...