My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 84 : Selesai dan beberapa komedi


__ADS_3

HOLAAAAA!! Pa kabar para readers sayank? :). Ya.. Author kasih crazy up lho ini, sorry hiatusnya lama...😔 tapi gimana ganjarannya...?😋. Dahlah yok baca aja.


Sekedar mengingatkan, jangan lupa...


LIKE EPSNYA


VOTE DONG KALO MAU:)


RATING 5 HEHE😋


COMMENT BIAR Author bisa lebih deket sama para readers, mau masuk gc Author? boleh kok, boleh banget:v


.


.


.


.


.


.


.


.


Selesai menggerutu Nesya langsung melesat secepat-cepatnya ke arah kepala monster gila ini, dia mengambil katana milik Gusion juga.


Jlebb...


Jleb..


Arghhh


Katana milik Nesya dan Gusion tenggelam ke kedua mata monster gila membuat bau busuk menguar kemana mana, Nesya mencoba bernapas menggunakan mulut, si monster mengerang kesakitan sambil mencoba menjatuhkan Nesya. Sayangnya pijakan Nesya begitu kuat dan lagi gerakan kepala monster gila menguntungkan Nesya.


Srakk


Nesya menyeret kedua katananya dengan membebankan berat badannya, hingga tubuhnya turun ke bawah mengikuti gaya gravitasi, membuat bola mata lainnya ikut tergores, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Leon yang menyerang bagian ulu hati monster, membuat si monster mengerang dan memuntahkan seteguk darah.


"SEBAIKNYA KU SEBUT KAU TITAN BAU!!!," kesal Nesya dengan berteriak.


Grooaaahhhhh!!


Seruan Titan Bau memekakkan telinga semuanya tapi sepertinya itu tak berpengaruh banyak pada Nesya yang terlanjur kesal, Titan Bau memukul mukulkan dadanya seperti gorila lalu mengerahkan tangannya untuk menepuk 'lalat' di matanya.


Plak


Sesaat sebelum Nesya penyet, dia sudah mencabut kedua katana dan melompat tinggi-tinggi hingga melewati tangan-tangan yang berusaha membunuhnya. Nesya memasang senyum smirk apalagi saat tangan-tangan itu mengenai mata Titan Bau.


Graahhhh


Erangan keras terdengar dari si Titan, Gusion melihat titik kelemahan Titan Bau, hingga dia mengambil alih jalannya pertempuran yang terganggu ini.


"SEBAIKNYA KAU MATI SAJA!! DASAR NECROMANCER SIALANNN!!!!."


Seruan Gusion diliputi rasa jengkel yang luar biasa hingga tanpa sengaja membuat tekanan aura dalam radius 50 meter, maybe.


Jlebb


Srakk


Grrroaahhh


Katana Gusion tenggelam di mata paling besar milik Titan bau.


Crakk


Prang!


Tubuh Titan bau seperti pecah lalu hancur berkeping keping, Gusion merasa tenaganya telah habis dia terjun ke bawah bersamaan dengan jatuhnya kepingan tubuh Titan bau.


'Selesai....'


Batin Gusion pasrah sambil memejamkan matanya.


Wushh..


Seekor hewan seperti gagak raksasa tiba-tiba muncul dan menangkap tubuh Gusion di antara sayapnya, semuanya hanya ternganga menyaksikan penampilan Nesya, Gusion, Lea (yang udah pingsan) dan Leon yang membuat batasan dimensi di bawah kepingan tubuh Titan.


Kepingan tubuh Titan masuk ke dalam batasan dimensi yang Leon buat, lalu kedua batasan dimensi itu menghilang. Nesya menatap portal itu dengan tatapan berbeda. Dia pun menggeleng dan berbalik menemui yang lain.


Mansion Night Clair


Kamar Vier


"Oi oi oi... dia bakal bangun kan?," tanya Dika tampak agak khawatir.


"Ya iyalah, lo pikir Vier itu elo yang kalo pingsan lamanya ampe 3 hari, bangun cuma kalo nyium bau makanan," sindir Arya yang saat ini sedang duduk di sebelah Vier.


"Dahlah, jan ribut. Bentar lagi Vier bangun kok," ujar Dean menengahi.


"Heleh..."


"Tapi.. Dia baik-baik aja kan?," tanya Doni yang bersandar di tembok.


"Dia baik ko.. lo tenang aja," jawab Arya.


"Btw kalian emang deket ya sama Vier?," tanya Doni.


"Bukan gue..."


Dika mengatakan itu sambil berjalan ke arah sofa dan duduk disana.


"Tapi Dean sama Arya, Arya nganggep Vier tuh kaya adeknya sendiri trus kalo si Dean emang sepupuan sama Vier," lanjut Dika.


"Ooo.. lalu..? putra sulung keluarga Luzeir udah kalian kabarin?," tanya Doni.


"Kak Daniel? dia sih udah kita kabarin cuman kan butuh waktu dari Jerman kesini," jawab Dean.


"Iya sih...."


"......"


Hening terjadi


Doni dan Arya yang asyik main ponsel, Dean yang bermain rubrik dan Dika yang tampak mengantuk, akhirnya Dika pergi ke kamarnya buat tidur.


"Ugh...."


Lenguhan Vier sukses memecah keheningan yang terjadi di kamarnya, dia mencoba untuk duduk dibantu Dean lalu meminum segelas air putih.


"Perangnya dah selesai?," tanya Vier lirih dengan suara serak.


"Udah kok.. lo tidur aja lagi, pasti kecapean kan...? nah, karena lo dah bangun. Rasa khawatir gue berkurang drastis, gue pegi dulu yak biar lo bisa istirahat," ujar Arya sambil mengacak rambut Vier dan berlalu pergi.


"Bandel..."


"...."


Dean menatap Vier tajam berusaha mengintimidasinya walau Vier hanya merasa bersalah, bukan merasa tertekan/terintimidasi:v. Doni mengamati percakapan Dean dan Vier dari jauh.


'Kenapa gue ngerasa bersalah ya?,' batin Doni.


"Ya udah, gue pegi dulu. Lo istirahat baek-baek, ok..?," ujar Dean.


"Iya..."


Dean pun keluar, menyisakan Doni dan Vier.


"Dan lo..?," ujar Vier.


"A ah.. gue? gue... cuma ngerasa bersalah aja," balas Doni.


"Ngerasa bersalah😕? padahal lo ga ngapa-ngapain?," gumam Vier dengan sebelah alis terangkat.

__ADS_1


"Gue juga ga tau," lirih Doni.


"Ya udahlah, kalo lo emang ngerasa bersalah gue maapin. Sekarang lo keluar dari kamar gue, gue mau tidur," ujar Vier datar.


"Eh? oh.. iya, baiklah," balas Doni dengan perasaan canggung.


Dia pun keluar dari kamar Vier, cepat-cepat Vier merebahkan tubuhnya kembali tapi kemudian rona merah muncul di wajahnya.


'Imutnya...😣' batin Vier.


Disisi lain Doni merasa canggung dengan Vier, jantungnya bahkan maraton hanya karena dekat dengan Vier. Apa apaan...?.


Author : Apaan hayooo???


Karina : Emang apaan thor?


Author : Huss.. anak kecil ga usah ikut-ikutan


Nesya : Karina... balik ke kapal mu sana *senyum tapi ngeri


Karina : *gleg, sweatdrop. I i iya kak... bye bye readers *lesu


~oOo~


Dimensi Lux


Nyonya Lea, sang pemilik dimensi Brilea sedang memulihkan diri, energi Qi nya habis. Di batu sebelahnya ada Gusion yang sedang membersihkan katana miliknya.


"Kak... kakak kok bisa kesini? bawa monster sama nyonya Lea lagi," tanya Nesya penasaran.


"Kakak tadi lagi ngelawan monster tadi, dia tadinya dah mati cuman dihidupin lagi sama Necromancer sialan itu. Kekuatannya 2 kali lipat lebih besar dari sebelumnya, makanya kakak bisa kewalahan apalagi Lea kena kutukan," jelas Gusion.


"Kutukan!?."


"He'em, kutukan yang membuat setiap skill yang dikeluarkannya memakan 2 kali lipat jumlah energi Qi yang seharusnya."


"Hm... itu bakal susah," gumam Nesya.


"....."


"Apa aku bisa membantu, master?," tanya Lav.


"Em.. Lav ya? apa Lav punya tungku kualitas tinggi?," tanya Gusion.


"Em! Lav punya beberapa tungku kualitas tinggi, apa paman master mau menggunakan nya?," tanya Lav memastikan.


"Hm.. ya, aku akan menggunakan nya. Tolong tunjukkan dimana tempatnya."


"Hait (baik)..."


"Ei? kau yang mengajarkannya?," tanya Gusion.


"Enggak tuh," jawab Nesya santuy.


~oOo~


Besok paginya


Di dalam markas TBB, mereka sudah membereskan kekacauan kemarin, bahkan mereka sudah beraktifitas seperti biasa.


"Huaaa... pertarungan kemarin membuatku kelelahan," keluh Lyra.


"Kelelahan? yang benar saja. Kau bahkan tak turun langsung ke lapangan," protes Arya.


Dimulailah perdebatan mereka, sedangkan Nesya yang sudah keluar dari dimensi Lux hanya tersenyum tipis. Nesya sendiri merasa lelah, dia tiba-tiba mendapat telepon dari Wira.


"📱Yo kak, ada apa nih?."


"📱Bisa ke RS xxx di kota F sekarang?."


"📱Kenapa emang?."


"📱Kakak patah tulang, kamu kesini sekarang."


"📱Eh? oklah, bye-bye. Btw aku ajak kak Gu juga yak."


"📱He'em.. cerewet."


Tuut.. tuut...


"Gaes... gue pigi dulu yak," ujar Nesya.


"Kemana?," tanya Feter.


"Ke RS xxx di kota F, kak Wira ada disana. Patah tulang katanya," jawab Nesya.


"Ooo.. sendiri?," tanya Satya.


"Gak ko, sama kak Gu," jawab Nesya, dia pun pergi setelah mengambil jaketnya.


"Bye-bye...."


~oOo~


Sementara itu


Beberapa menit sebelum Wira menelpon Nesya.


RS xxx kota F


"Hah... jadi Fefe ada disini ya?," gumam Wira.


Saat ini Wira berada di RS xxx kota F, dia berencana menjenguk kekasih rahasianya, Fefe. Fefe di obname karena tifus yang di deritanya, Fefe kenal dengan Wira sejak... beberapa tahun lalu.


Seusai menjenguk Fefe, Wira yang sedang santai berjalan koridor tiba-tiba mendapat sambutan 'hangat' dari seseorang, sambutan berupa bogem mentah yang melayang ke arahnya.


"Wah.. aku kedatangan tamu," gumam Wira, setelah menghindari serangan barusan.


"Jadi kau pria yang mengganggu Fefe terus menerus..!," ujarnya.


" 'Mengganggu' Fefe katamu?," tanya Wira.


"Ya..! namaku ~~~~ (sensor padahal males nyari nama buat si pemeran tambahan:v), aku adalah pacar Fefe," ujarnya sombong.


"😑."


'Jadi dia berbohong dan memanfaatkanku?,' batin Wira geram namun wajahnya tampak sangat datar.


"Oh.. selamat," ujar Wira datar.


Wira melewati pria itu dengan tampang datar, selang beberapa menit saat Wira berada di lobi (yah.. lobi RS itu lho, yang rame. Tau kan?). Pria itu berlari dan menarik pakaian Wira dengan kuat nya hingga Wira entah kenapa jatuh tersungkur.


Pria itu menginjak tangan kiri Wira dengan keras, awalnya Wira biasa saja tapi kemudian...


Krak!!


Tangan Wira retak, mereka berdua menjadi sorotan apalagi dengan suara retakan tulang milik Wira dan juga ekspresi terkejut Wira tapi ga teriak, padahal itu sakit + nyerinya minta ampun, maybe sih Author belum pernah ngerasain:v.


'Aw.. nyerinya kurang ajar juga yak tapi ga sesakit pengobatan yang dilakuin adek laknat gue itu sih,' batin Wira.


"Hahahaha... gimana? sakit kan!? makan nih!!," ujarnya.


'Ni orang dah gila,' batin Wira lagi.


Bugh


Bugh


Bugh


Dia menginjak injak tangan Wira sampai patah, Wira diam dengan ekspresi kurang mengenakkan.


"Udah?," tanya Wira dingin hingga menimbulkan efek psikologis pada orang-orang di sekitarnya.


"Kal–"


Bugh!

__ADS_1


Tangan kanan Wira sukses menghantam wajah pria di depannya hingga terpental, semua terkejut kecuali Wira yang bangkit berdiri meskipun tangan kirinya patah. Tatapannya menjadi dingin membuat siapapun ketakutan.


"1 tulang ku patah, sebagai gantinya tulangmu juga harus patah," gumam Wira membuat lawannya merinding.


Bugh


Bugh


Krak!


Arghhhh...


Tolong...!


Bugh


Bugh


Krak krak krak


Siapa sangka hanya dengan 1 tangan Wira bisa membuat tulang-tulang lawannya patah, ralat remuk malah.


"Selesai...? sayang sekali," ujar Wira.


Dengan lengan kiri yang berwarna ungu karena patah tulang, dia merogoh kantung celananya dan menelpon Nesya.


"......"


"📱Bisa ke RS xxx di kota F sekarang?."


"......"


"📱Kakak patah tulang, kamu kesini sekarang."


"....."


"📱Hn? iyain deh. Buruan ya dek."


"....."


Tuut.. tuut...


"E– huh... dasar bocah," gumam Wira, tangan kanannya kembali menghubungi seseorang.


"📱Datang ke RS xxx sekarang."


"📱Baik tuan muda."


"📱Hm...."


Tuut.. tuut...


"Maaf untuk kejadian barusan, saya akan tanggung jawab. Kalian bisa bubar sekarang...?."


Setelah itu Wira menghampiri resepsionis yang masih terbengong.


"Ekhem..! bisa saya mendapat penanganan sekarang?," tanya Wira.


"A ah.. iya."


Bla bla bla


Begitulah kejadian yang dialami Wira sampai patah tulang dan awal dari kisah asmaranya, muehew. Asmara mulu dari tadi ehe:v.


~oOo~


Kembali ke Nesya


Perjalanan ke kota F membutuhkan waktu sekitar 5 jam sedangkan jarak dari gerbang kota F ke RS yang dimaksud membutuhkan waktu 15 menit, jadi Nesya dan Gusion sampai di RS xxx pada pukul 15.35. Mereka mandi dulu gaes di kamar mandi umum, abisnya mereka males kalo harus mandi di ruang rawatnya Wira, adek laknat emang:).


"Huah... kita pergi sekarang kak?," tanya Nesya.


"Makan dulu yuk, nanti kamu retas kamera CCTV, ga usah dihapus rekamannya. Cukup liat apa yang terjadi sama kak Wira aja," jawab Gusion.


"Ei? kakak sengaja ngulur waktu karena males ketemu kak Wira ya?," tebak Nesya, Gusion hanya mengangguk.


Disisi lain Wira sedang sibuk diceramahi asisten pribadi nya sendiri, laknat kan? kasian Wira, dah adek-adeknya laknat, asisten pribadi nya pun laknat.


"Udahlah Ted, bukan salah gue juga," balas Wira membuat Ted berhenti mengomentari/menceramahi Wira.


"Huh.. baiklah... gue kasih tau tuan besar nih?," tanya Ted.


"Heh.. kaga usah! yang ada tangan gue diremukin biar makin lama di RS, bgst kan...?😒," jawab Wira membuat Ted terkekeh.


Di suatu tempat makan


"Puft... bwahahaha...!!."


Gusion dan Nesya tertawa melihat ekspresi kurang mengenakan Wira yang ditampilkan ulang di laptop milik Nesya, mereka hanya merasa lucu karena mereka dah lama ga liat wajah Wira yang lucu itu 😑😂.


"Ya ampun... masih lucu aja mimik tu muka," ejek Gusion.


"He'em, ga nyangka yak masih tetep lucu," balas Nesya.


"Eh mau nyamperin sekarang?," tanya Gusion.


"Boleh tuh, eh kalo gasalah bentar lagi tuh jam nya pemeriksaan pasien ga sih?," tanya Nesya.


"Iya keknya," balas Gusion.


"Gimana kalo....... pssttttt."


Nesya berbisik sebuah rencana pada Gusion membuat Gusion menyeringai kejam lalu tertawa renyah, setelah itu mereka pergi dari rumah makan.


Saat ini RS xxx kota F


Seorang dokter dan suster baru saja masuk ke ruang rawat Wira, Wira mengernyit saat rasa sakit yang ditimbulkan karena bergerak 3 kali lebih sakit dari sebelumnya, parah kan?.


"Wira? jadi beneran kamu yang patah tulang tadi pagi?," tanya dokter perempuan yang mengenal Wira.


"Eh? kamu Vanya kan, ponakannya dokter King?," tanya Wira memastikan.


"Haha.. iya, btw kok bisa sih cari masalah di rumah sakit?."


"Cuma masalah kecil kok, ga penting-penting amat."


"😑, bandelnya ga berubah ya."


"Hehe.. mangap."


"Puft..."


Suster hanya tersenyum melihat interaksi Wira dan Vanya. Disisi lain Wira mengerutkan dahinya begitu merasakan sakit yang luar biasa pada tangan kirinya, hanya diganti gips saja bisa sesakit ini? tuhan.. cobaan macam apa yang kau berikan..? batin Wira berteriak.


Setelah beberapa menit, Nesya dan Gusion pun sampai di RS xxx. Mereka langsung menuju ke ruang rawat Wira, darisanalah mereka tau rencana mereka untuk mengerjai Wira berhasil.


Cklek..


"Yo, kakak. Bagaimana kabarmu?," sapa Nesya.


Wira memicingkan matanya, menatap tajam Nesya dan Gusion yang asyik tersenyum dengan watadosnya. Seketika Wira berseru.


"WOI! ADEK-ADEK LAKNAT KURANG AJAR!!! BERANI YA NGERJAIN KAKAK SENDIRI!!!."


Kekesalan Wira terlanjur meluap, dia memarahi Gusion dan Nesya tapi sebelumnya dia sempat memasang peredam hingga ga mengganggu. Dia bahkan ga segan menggunakan kekuatannya supaya 2 adik laknatnya ini ga kabur-kaburan.


"Huh.. sekarang bilang ke kakak, apa yang kalian lakuin sampai tangan kakak jadi sakit banget?," tanya Wira membuat Gusion dan Nesya tersenyum kecut.


"Aku meminta... ralat, kak Gu mengutuk kakak supaya rasa sakit pada luka kakak 3 kali lebih sakit dari sebelumnya," jawaban Nesya mendapat pelototan dari Gusion.


"Dia yang memberikan ide itu padaku kak!!."


Terjadilah perdebatan, baiklah. Mari kita skip saja, Ok.


Bersambung...


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2