
"Sudahlah, kalau kalian tak mau masak, aku saja yang masak," kata Nala malas berdebat, dia cukup lapar dan juga malas mendengar ocehan Veronica Park yang... manja.
~~~
"Memangnya kau bisa?," tanya Arya tak percaya.
"Ya... sedikit tapi cobalah dulu," jawab Nala, dia berlalu ke dalam dapur yang luas.
"Kakak maid dan yang lain sudah sarapan?," tanya Nala.
"Kami sudah sarapan, nona," jawab salah satu kakak maid yang berada di dapur, dia sedang mencuci piring di bantu kakak maid lainnya.
"Oh... Yi Fan!!," panggil Nala yang melihat Yi Fan melewati dapur.
"Ya, nona Nala," jawab Yi Fan.
"Kau dan yang lain sudah makan?," tanya Nala menggunakan bahasa Indonesia.
"E... kami baru mau makan," jawab Yi Fan, Nala mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?," tanya Nala bingung.
"Em.....," Yi Fan bingung mau menjawab apa.
"Yi Fan! jawab!," bentak Nala, Yi Fan menunduk.
Nala keluar dari dapur dan pergi mencari para mafioso diikuti Yi Fan, sesuai dugaan nya Lina dkk makan di luar bersama para mafioso dan maid yang sudah selesai makan.
"Kenapa kalian makan di sini?!," seru Nala, mafioso dan Lina dkk terkejut akan kedatangan Nala.
"Nona...," seru mereka tertahan.
"Jelaskan kenapa?!," tanya Nala, suaranya naik 1 oktaf, dia marah.
"Kami tidak pantas makan bersama nona," jelas Lina hati².
"Hah?! siapa bilang?!! saya sudah anggap kalian semua sebagai keluarga jadi kenapa kalau kita makan bersama?! jangan bilang ini karna kakek!!," cerocos Nala cepat, dia mencoba menetralkan emosinya.
"Tuan besar tak menyuruh kami nona, ini insiatif kami," jelas Wendy menunduk.
"Huh.... kalian ikut saya, tinggalkan makanan itu! tak ada yang membantah!," perintah Nala.
Nala pergi ke ruang makan di ikuti Lina dkk kecuali bi Maya.
"Ada apa ini?," tanya Jendral.
"Duduk!," perintah Nala pada anak buahnya, Nala tak mengubris pertanyaan Jendral, mereka menuruti kemauan Nala.
"Kenapa dengan mereka?," tanya Arya.
"Ada 1 hal yang harus kalian semua pahami, saya memperlakukan anak buah saya seperti keluarga, jadi kami selalu makan bersama, jika kalian tidak suka dengan kebijakan saya, ya sudah silahkan angkat kaki dari rumah ini," jelas Nala ketus, Veronica cemberut, yang lain terkekeh kecil.
"Aku tak masalah, by the way soal makan, kapan kita akan makan?," tanya Dika.
"Ups... sorry, aku belum masak," kata Nala.
"Ya ampun.... kami bantu saja ya," kata Lyra sambil berdiri lalu pergi ke dapur.
"Memangnya kalian bisa?," tanya Nala.
"Kalo diajarin kakak maid ya bisalah," jawab Karina, dia berdiri mengikuti Lyra yang sudah ke dapur.
"Kau juga?," tanya Nala.
"Walaupun baru 7 tahun tapi aku bisa membantu di dapur," tukas Karina dari dapur.
"Akan ku bantu juga," sahut Vier.
"Wah.. wah... aku dapat banyak bantuan nih," gumam Nala, amarahnya sudah hilang rupanya.
"Bersikap biasa saja," kata Nala pada Lina dkk, mereka tersenyum.
Nala pergi ke dalam dapur dan mulai memasak di bantu Karina, Lyra dan Vier, diawasi dan diajari kakak maid.
"Kau tak membantu mereka?," tanya Arya pada Veronica, Veronica terdiam.
~~~
Di dapur
"Kita masak apa?," tanya Lyra.
"Em... yang ga ribet apaan?" tanya Nala.
"Nasi goreng aja!," usul Karina.
"Pake telor sama sosis," sambung Nala.
"Boleh juga tuh," kata Vier setuju.
"Kalian bisa bahasa Indonesia?," tanya Karina pada Lyra dan Vier.
"Kalo aku sih bisa," jawab Lyra menggunakan bahasa Indonesia.
"Aku juga bisa kok," sahut Vier.
"Mulai sekarang kita komunikasi pake bahasa Indonesia aja," usul Karina.
"Ok," jawab mereka bersamaan.
Mereka memasak nasi goreng untuk banyak orang, Karina menggoreng telur dadar, Lyra menggoreng sosis, Nala dan Vier memasak nasi goreng, setelah beberapa menit masakan mereka telah jadi dan siap di sajikan.
__ADS_1
"Yeay, nasi goreng nya udah jadi!," seru Karina senang, kakak maid tersenyum melihat mereka berhasil memasak nasi goreng+sosis+telur.
"Ayo kita hidangkan," ajak Vier, dia mengambil 3 piring yang besarrr untuk porsi nasi goreng itu.
Nala, Lyra dan Vier membawa 3 piring itu, Karina membawa minuman dan beberapa gelas.
"Wuih.... makanannya udah jadi nih," ujar Dika senang.
"Mantul," puji Arya, memberikan 2 jempolnya.
"Ya udah di makan dulu aja," ajak Lyra.
"Di makan loh, bersikap biasa saja, kita keluarga," jelas Nala pada Lina dkk.
"Terima kasih, kak," kata Mei.
"Ken, kau juga duduk dan makanlah," kata Leon pada sekretaris nya.
"Tapi..."
"Duduk saja, di sini kita keluarga," lanjut Leon, dia melirik Nala yang sedang tersenyum.
"Terima kasih, tuan muda," kata Ken, dia duduk di sebelah Leon dan mulai makan.
"Yang lain juga duduk dan makan saja tak apa kok," kata Nala.
"Terima kasih, nona muda Nero," ujar para sekretaris.
Mereka makan dengan lahap sehingga makanan ludes dalam beberapa menit, Nala dibantu Lina, Lyra, Vier, Wendy dan Yi Fan membawa piring kotor untuk di cuci, setelah mencuci piring barulah mereka bersantai, Veronica sudah tak menggerutu lagi eh ralat! masih cuma kadang² aja.
Nala sudah keluar untuk memperhatikan anak buahnya berlatih, mereka begitu fokus hingga hampir tak memperhatikan Nala datang.
"Prok... prok.. prok...," Nala bertepuk tangan pada mereka.
"Selamat pagi, nona," sapa anggota TDB dan Guardian.
"Pagi, kalian bertambah kuat saja," puji Nala.
"Tidak nona, ini belum seberapa," jawab salah satu anggota TDB.
"Oh ya? ayo duel," ajak Nala.
"Baiklah, nona," jawab mereka.
Mereka mulai duel dan seperti sebelumnya Nala hanya mengeluarkan 5-10% kemampuan dan kekuatannya, mereka tetap kalah tapi ada peningkatan, Jendral mengamati sesi latihan TDB dan Guardian, dan dia terpikir sebuah ide.
"Kumpulkan ke anak² itu di halaman, kita akan mulai latihannya," perintah Jendral pada Cheng -sekretarisnya-.
"Baik, tuan," jawab Cheng.
Sekretaris Cheng mengumpulkan ke 10 pewaris di halaman depan mansion, para anggota TDB dan Guardian menyingkir dari halaman.
"Kenapa kita di kumpulkan di sini sih?," keluh Veronica.
"Tau tuh," sahut Dika.
"Sudahlah, lihat ke depan," kata kak Alfie menengahi, Dika, Arya dan Veronica segera bungkam dan melihat ke arah depan.
"Anak², kalian sudah tau tujuan awal kalian ke Indonesia bukan? sekarang kita akan mulai latihan," ujar Jendral, Nala bingung mereka akan latihan apa.
"Sekarang kalian serang saya," sambung Jendral, mereka tersentak kaget.
"Kenapa? kalian ragu? baiklah, saya akan mulai duluan," ucap Jendral.
Bughh
Jendral menyerang Arya sampai Arya jatuh terduduk.
"Ouch... sakit juga," gumam Arya.
Tanpa ba bi bu lagi, Dika menyerang Jendral dan dapat ditangkis dengan mudah oleh Jendral, Veronica juga, Lyra dan Vier mencoba juga dan terjungkal bersama, giliran Leon dan Nala, serangan mereka tertahan dan tak bisa mengenai tubuh Jendral.
Dika dan Arya menyerang bergantian, Veronica sudah meringis kesakitan memegangi perutnya yang di pukul, Karina, Lyra dan Vier menyerang bersama di kanan dan kiri Jendral, kak Alfie dan Feter menyerang dengan cepat dan tanpa celah di bagian depan tapi kalah juga, Nala dan Leon menyerang bergantian lalu bekerja sama, bugh... serangan mereka mengenai tubuh Jendral dan membuatnya terjungkal.
"Lumayan juga," puji Jendral.
Mereka (kecuali Veronica) kembali menyerang Jendral bersamaan dan hasilnya seri, hari itu mereka terus latihan dengan berduel melawan Jendral maupun Cheng, sampai mendekati waktu makan siang, mereka menghentikan latihan.
"Sebaiknya kita istirahat lalu makan siang, kalian masak sendiri ya," kata Jendral sambil berlalu pergi di ikuti Cheng.
"Karina, Veronica, kalian baik² saja?," tanya Nala, dia masih bisa berdiri tegap walaupun sudah menerima banyak pukulan.
"Ouch... sakit," keluh Veronica.
"Aku tak apa, sakit sih tapi harus di biasakan bukan?," jawab Karina bijak, dia mencoba berdiri dan berjalan walaupun terpincang-pincang.
"Dia jauh lebih bijak daripada dirimu Veronica, belajarlah, latihan dengan baik. Jangan jadi nona muda yang manja dan tak bisa apa²," nasehat Nala datar tanpa membantu Veronica berdiri, Veronica terdiam.
"Nona baik² saja?," tanya Yi Fan yang tiba² muncul.
"Tak apa, ini belum seberapa," jawab Nala datar, dia berlalu pergi.
Yang lain juga kembali ke kamar masing² baik untuk mandi, membalut luka maupun berganti pakaian, Nala sendiri langsung mandi baru membalut luka supaya darahnya berhenti mengalir, baginya ini belum seberapa, tapi tiba² Nala menangis di kamar mandi.
'Sakit... tapi ini belum seberapa dengan sakit yang di alami ayah, paman Daryn, kakek dan bunda, bunda melahirkanku pasti sakit dan ketiga orang itu juga merasa kesakitan saat bertarung dengan mafia² itu, ouch... aku harus tahan... aku pasti bisa!,' tekad Nala kuat.
Nala berhenti menangis dan pergi ke walk in closet untuk menggunakan pakaian dan membalut luka, dia menggunakan pakaian casualnya lalu turun ke ruang makan, seperti dugaannya tak ada makanan di meja.
"Bagus, sekarang aku harus memasak," gumam Nala agak kesal.
Dia pergi ke halaman untuk sekedar bertanya.
__ADS_1
"Kalian sudah makan?," tanya Nala agak dingin.
"Belum, nona," jawab mereka serentak, Nala mengangguk dan berlalu pergi.
"Kakak maid, bantu aku membuat makanan dengan porsi besar untuk mereka," jelas Nala.
"Baik, nona," jawab kakak² maid.
Nala mulai memasak makanan dibantu kakak² maid, tidak masalah jika Nala dibantu membuat makanan karna porsinya yang memang besar, setelah memasak hingga hampir 1 jam, akhirnya masakan Nala dan para maid selesai juga, mereka menyajikan makanan di ruang makan.
"Wah.. wah... udah ada makanan aja nih," puji Dika yang baru datang.
"Kau ini kalau bahas makanan saja cepat yang lain... lemot," ejek Lyra yang duduk di salah satu kursi.
"Heh! ngomong apa kau?! mau tanding?!," tantang Dika dengan sombongnya.
"Alah... kau saja masih lemah," lanjut Lyra dengan bahasa Indonesia yang belum dipahami seluruhnya oleh Dika.
"Sudahlah, tinggal duduk apa susahnya sih," sahut kak Alfie dari arah belakang.
"Kakak maid, panggil semua orang kesini untuk makan ya," pinta Nala pada salah satu maid di saat Dika masih adu bacot sama yang lain.
"Baik, nona," jawab maid itu lalu pergi keluar mansion.
Semua anggota TDB dan Guardian sudah berkumpul di ruang makan, mereka duduk di meja panjang dengan kursi yang bisa di tempati ±100 orang, meja+kursi yang sengaja Nala pesan secara khusus, mereka pun mulai makan dengan situasi yang... hening?.
'Situasi macam apa ini?,' batin Mei.
"Kak... kakak... situasi macam apa ini? tidak biasanya," kata Mei pada Nala sambil berbisik.
"Tau nih, ga enak banget mungkin mereka canggung," balas Nala pada Mei sambil berbisik juga.
Ternyata bukan hanya Mei dan Nala yang merasa aneh, Leon, Ken, Arya bahkan kak Alfie juga merasa aneh. Makan siang berakhir dengan canggung, seusai makan Nala langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Sehari... seminggu.... sebulan.... 3 bulan kemudian, sudah 3 bulan para tuan/nona muda di latih secara militer oleh Jendral Kojhiro di mansion Night Clair, 3 bulan pula Nala belajar memasak, akhir² ini Nala sibuk mengurusi usaha²nya karna dalam 3 bulan, Nala dilarang mengurus usaha miliknya tapi mau bagaimana pun sebuah usaha tetap memerlukan pemimpin.
3 hari terakhir Nala bekerja dan berlatih, bangun tidur jam 1 pagi langsung ganti baju dan pergi ke GYM pribadi untuk berlatih sebentar, lalu pergi ke ruang kerjanya mengurus usaha nya sampai jam 4 pagi, setelah itu Nala berlatih dengan TDB dan Guardian, jam 8 pagi Nala berlatih dengan Jendral sampai hampir jam makan siang, Nala dibantu maid dan yang lain memasak, lalu Nala mandi dan bekerja non-stop sampai jam makan malam, setelah makan malam, dia bekerja lagi sampai pagi, jam 1 pagi, dan terulang kembali sampai 3 hari.
Menandatangani/menolak kontrak kerja sama, memeriksa dan membalas e-mail dari pak Edi dan bu Mira, mengurus three B yang semakin besar, melatih Guardian dan TDB, mengurus semua usaha yang Nala miliki sekaligus hingga tuntas tanpa mengganggu kinerja yang lainnya itulah Nala, dia ingin cepat selesai dan hasil kerjanya memuaskan.
Q : Nala ga sekolah, thor?.
Author : Sekolah cuma dia jadi berandalan jadi di skors 3 bulan karna... bikin kepseknya nyungsep selokan sekolah, guru MTKnya basah kuyup dan ngunci in guru IPAnya di gudang.
Q : Lha yang lain ga sekolah?
Author : Sekolah, tapi nanti masuknya bareng Nala.
Saat ini dia sedang latihan di lapangan, Nala dan yang lain dijemur di lapangan, panas itulah keluhan yang sering keluar dari mulut mereka, Nala, Leon, kak Alfie, Feter dan Vier memilih diam, Nala pusing, keringatnya terus saja bercucuran, pandangannya mulai kabur, matanya yang berat selalu ingin terpejam, dia mencoba bertahan tapi ternyata sulit.
Bruughh
Nala jatuh pingsan untuk pertama kalinya, untung Leon ada di sebelahnya yang cepat tanggap saat melihat Nala terus²an mengerjapkan matanya, Leon menangkap tubuh Nala yang lemas dan segera membawanya masuk ke dalam mansion, panas yang dirasakan Leon saat menyentuh tubuh Nala cukup tinggi.
"Sebaiknya kita bawa nona beristirahat di kamar," usul bi Maya selaku pemimpin tim medis mansion Night Clair setelah memeriksa Nala.
"Aku akan membawanya," ujar Leon, dia langsung membawa Nala ala bridal style ke kamar Nala di lantai 3, yang lain ngekor di belakang.
Berhubung Leon yang paling kuat jadi ga masalah kalau dia bawa Nala kaya gitu, latihan di hentikan sementara, Nala mengalami demam tinggi lagi malah lebih tinggi dari sebelumnya.
Q : Sebelumnya Nala udah pernah demam?
Author : Ya, hampir setiap tahun Nala demam tinggi tapi dia tak sampai pingsan.
Leon membaringkan Nala secara perlahan di ranjang, dia duduk di pinggir ranjang dekat Nala.
"Apa dia akan baik² saja?," tanya kak Alfie, tersirat nada khawatir di suaranya.
"Ya, nona hanya butuh istirahat dengan begitu nona akan sembuh," jelas bi Maya dari arah pintu, dia membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil.
"Kenapa Nala bisa seperti ini?," tanya Lyra yang mulai andil suara.
"Kemungkinannya nona Nala tak tidur selama kurang lebih 3 hari, hari ini hari ke 4, mengingat nona yang sangat kompeten dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, mungkin nona memang lelah apalagi ditambah jadwal latihan yang padat," jelas bi Maya, dia mengompres kening Nala dengan handuk itu.
"Apa jadwal latihan nya harus di kurangi?," tanya Arya.
"Itu mungkin hanya sedikit membantu, walaupun nona Nala tak dilatih oleh tuan Jendral, nona tetap berlatih sendiri di GYM pribadi, bekerja sampai larut malam dan hanya tidur 3 jam," jelas bi Maya.
"3 jam?!," seru mereka tertahan.
"Ya, sejak kejadian itu nona hanya tidur 6 jam lalu saat berusia 5 tahun hanya 4 jam lalu sampai sekarang nona hanya bisa tidur 3 jam, walaupun nona punya banyak waktu untuk istirahat tapi nona tetap tidur 3 jam saja, sulit untuk merubahnya," jelas bi Maya.
"Apa Nala tak pernah tidur lebih dari 3 jam?," tanya Jendral.
"Pernah, kalau nona merasa aman dan nyaman maka nona akan tidur lebih dari 3 jam, itu pun jika bersama orang lain seperti tuan Alfra maupun nyonya Tasha, dan jika demam seperti ini maka nona bisa tidur sampai 8-12 jam lamanya seperti orang normal," jawab bi Maya.
"Kejadian apa yang bibi maksud?," tanya Veronica.
"Saya tidak bisa memberi tahu anda, mohon maaf," kata bi Maya.
"Sebaiknya biarkan nona beristirahat dulu dan tolong keluar dari kamar nona Nala," pinta bi Maya.
"Baik, kami keluar semoga Nala lekas sembuh," kata Jendral sambil pergi keluar kamar di ikuti yang lain.
Bersambung...
Nala bakal sembuh?
__ADS_1
Next eps guys! bye...