My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Kak Wira sakit


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa para guru membiarkan Lu shi dkk pergi, kini Yue/Nala sudah melewati portal antar dimensi, mereka langsung disambut hangat oleh anggota TBB padahal mereka hanya pergi 3 hari.


~oOo~


"Mita!," seru Nala di ruang tengah.


"Uhuk! iya²," jawab Wendy alias Mita sambil terbatuk karna hampir saja tersedak pohon eh salah keselek air.


"Lah dah balik juga nih orang, 3 minggu disana enak ya?," ejek Mita saat melihat Nala dan langsung menghampiri nya.


"Hah.... membosankan, lebih seru ngancurin mafia HexDrak," jawab Nala acuh sambil menjatuhkan diri di sofa.


"HexDrak? salah apa mereka sama lo sampe lo pengen ngancurin mereka?," tanya Mita sambil duduk di sofa seberang Nala.


"Salah mereka adalah berani mengusik keluargaku," jawab Nala dengan senyum evil.


"Wuih... keren bro, kapan beraksi?," tanya Mita dengan mata berbinar.


"Gue ikut," sahut Lyra dari arah pintu masuk, mereka masih menggunakan hanfu khas perguruan.


"Ngebantai ga ngajak² ajg!," sahut Dika kesal.


"Tau nih, bangs*t emang," balas Arya sama kesalnya.


"Kok kalian balik?," tanya Nala.


"Bodo amat, gue males disana," jawab Ica, maksudnya Veronica.


"Ngebosenin banget disana, helppp!!!," sahut Karina.


"Yoi, males bat yakin," kini Vier ikut angkat bicara.


"Ngeluh teroosss," balas Feter yang tumben ikut ngomong.


"Kak Wira kenapa?," tanya Leon sambil duduk disebelah Nala diikuti yang lain.


"Hah...," jawab Nala dengan helaan napas frustasi dan mengacak rambutnya kasar, sebelumnya Nala sudah melepas aksesoris di rambutnya.


"Kepalaku jadi pusing karna mikirin itu," sambungnya tetap dalam posisi frustasi yang membuat teman²nya bingung juga iba.


"Ada apa sih?," tanya Lyra yang sudah penasaran.


"Hei, ayo bercerita. Kami sahabatmu 'kan?," tanya Alfie.


"Hum..... Farel," panggil Nala tanpa mendongak.


"Ya, nona," jawab Lina/Farel patuh.


"Siapa yang mengurus perusahaan Pratama milik kak Wira selama kakak sakit?," tanya Nala pada Farel.


"Sekretaris di setiap perusahaan tapi tentu ada beberapa rapat yang menghasilkan begitu banyak uang yang mungkin akan membuat kerugian ratusan juta dollar pada proyek itu," jawab Farel.


"Dengar bukan? jika kak Wira tak ada mungkin perusahaan akan diujung tanduk, ya... kalian tau kan ada beberapa rapat yang ga bisa ditunda," balas Nala murung.


"Bukankah selama ini baik² saja? perusahaan Pratama memang besar dan rapat itu kan bisa virtual, lagian kamu ga perlu sampe turun tangan lah," ujar Feter menenangkan.


"Justru si rubah tua licik itu bakal manfaatin kejadian ini sebagai latihanku," balas Nala makin frustasi.


"Kami bantu," celetuk Leon.


"Hm... Mita, siapkan jet pribadi ku," perintah Nala.


"Hei, kuberikan sebuah usul ya. Kau beli jet pribadi baru khusus untuk DarkLight," usul Mita.


"DarkLight?," tanya Lyra bingung.


"Gabungan dari Dark team dan Light neo," jawab Mita.


"Ide bagus," balas Alfie.


"Ya sudah, terserah kalian saja," ujar Nala sambil berdiri.


"Mau kemana?," tanya Vier saat melihat Nala berdiri.


"Ganti baju, ga risih pake hanfu terus?," tanya Nala balik.


"Oohh.... bener juga, yok ganti baju," ajak Dika sambil berdiri juga diikuti yang lain.


SKIP


Mereka sudah membeli jet pribadi khusus untuk DarkLight, dan mereka bersiap lepas landas di bandara khusus milik markas TBB yang memang sudah dibuat.

__ADS_1


~oOo~


Di Australia


Seorang pria berusia 17 tahunan yang tertidur pulas di ranjang sebuah rumah sakit di Australia, seorang gadis muda yang jauh lebih muda dari pria itu menunggu nya sambil ngoceh sendiri.


Anggap aja ngomong nya pake bahasa Inggris.


"Ya ampun... jika kau mendengarkan ku maka kau tak akan seperti ini!. Kau kan tau wanita itu tidak baik tapi masih saja kau mengejarnya. Hadeh... kenapa kau jadi bod*h seperti ini kak?," omelnya pada pria yang terbaring dan belum sadarkan diri yang ternyata adalah kakaknya.


"Jika adik keempat, kau tau si Nala itu tau kakak kaya gini. Heh... auto mamp*s gue dan lo juga kak," sambungnya, dialah Ari yang sedang menemani kak Wira, pria yang terbaring dan belum sadarkan diri sejak tadi.


"Biar kutebak, sekarang Nala sedang dalam perjalanan ke Australia. Ya jelas untuk menemuimu, cepat bangun kak supaya Nala ga ngomel ke aku nanti," lanjutnya.


"Lu aneh yakin, Wira belum sadar malah lu ajak ngobrol kaya orang gila," celetuk Ted, sekretaris pribadi Wira.


Nala, Wira, Ari dan Gusion selalu memperlakukan anak buahnya seperti keluarga membuat semua anak buahnya sangat menyayangi mereka dan merasa seperti berada di lingkungan keluarga masing².


"Brisik lo Ted, apa lo tau hah kalo Nala dateng kesini dia ga segan² buat mukul gue, walaupun gue itu kakaknya dia!," balas Ari sewot.


"Santuy mamank," balas Tia, adik Ted sekaligus sekretaris pribadi Ari.


"Halah, bomat. Lu berdua kaga ngerti rasa sakitnya sih, dia kalo mukul ga kira² coy! sampe sekretaris nya itu masuk RS gegara bikin kesalahan trus dapet bogemnya Nala dah," ujar Ari kesal.


"Iya², percaya ko. Santai dong," balas Tia.


"Ti," panggil Ari.


"Hm, paan?," tanya Tia sambil duduk di sofa.


"Coba lu cek bandara dah, dan elu Ted, cek perusahaan. Pasti Nala ambil alih rapat² penting," jawab Ari sambil mengambil ponselnya dari atas nakas.


"Ha?? masa adek lo ngambil alih rapat penting di perusahaan nya Wira??," tanya Ted ga percaya.


"Cek aja sonoh," jawab Ari acuh, dia membuka buka ponselnya.


Di Bandara


Di Bandara kota Sydney, Australia sedang ramai diperbincangkan, bagaimana tidak? beberapa menit yang lalu sebuah jet pribadi mewah terparkir rapi di parkiran bandara yang besar itu, Nala dkk turun menggunakan topeng, rencananya mereka akan menjenguk Wira lebih dulu di RS khusus milik keluarga Nero.


"Na, kita pergi kesana naik apa?," tanya Lyra yang membawa tas ransel kecil yang imut di punggung nya.


"Tuh," jawab Nala sambil menunjuk rombongan mobil limosin + sedan berwarna hitam.


Mereka pun pergi ke RS tempat Wira dirawat, Ari yang tau kedatangan Nala udah pasrah sama apa yang bakal adiknya lakuin, Tia dan Ted kembali mengurus usaha² Wira + Ari, tinggal Ari dan Wira yang masih belum sadar di ruangan itu.


Cklek


Pintu kamar rawat Wira di buka membuat Ari menoleh ke sumber suara, seketika Ari melemas lalu menegang kembali dan segera berdiri begitu melihat wajah adik keempatnya yang sudah berdiri di depan pintu dengan topeng yang bertengger manis di wajahnya yang terukir senyum evil di bibirnya begitu melihat Ari.


"Hallo kakakku," sapa Nala sambil mendekati Ari.


"Tidak lupa dengan permintaan adikmu ini kan?," tanyanya.


Gleg


Ari menelan ludahnya kasar lalu mengangguk pasrah.


Sret


Nala menarik kerah baju Ari sampai wajah mereka berdekatan lalu bertanya.


"Apa permintaan adik kesayangan mu ini?," tanya Nala menantang.


✌Flashback on✌


1 minggu sebelumnya


Nala menelepon Ari guna meminta kakaknya itu untuk menjaga Wira dari leader HexDrak yang perempuan, leader itu dekat dengan Wira bahkan Wira mengejar wanita ular itu, ga tau kenapa Wira ngejar² dia mulu, Nala yang tau akan hal itu langsung memberitahu Ari.


"📱Kak gue mau minta tolong kak Ari buat jagain kak Wira di Australi," ujar Nala dalam sambungan telepon.


"📱Ha? ngapain gue jagain dia, kan dia dah gede," balas Ari.


"📱Huh... kakak gue yang satu itu parah bat yakin, masa iya leader HexDrak mau dia embat," jelas Nala.


"📱Iyadeh, gue jagain," jawab Ari pasrah.


"📱Bagus kalo dia sampe kenapa napa lo abis di tangan gue kak," ancam Nala serius.


"📱Wtf! lu serius dek?," tanya Ari kaget.

__ADS_1


"📱Ho'oh, ok bye," jawab Nala lalu langsung mematikan sambungan telepon.


Tuut tuut tuut


Di seberang sana Ari gemetar karna takut lalu tubuhnya melemas di kursi.


'Astaga... ancaman adikku ga bisa di anggap angin lalu,' batin Ari cemas.


✌Flashback✌


"Menjaga kak Wira dari wanita ular, si leader HexDrak," jawab Ari lemas.


"Bagus lu inget, trus kenapa kak Wira bisa kaya gini hm?," tanya Nala lagi.


"Gue ga tau sumpah, tapi gue denger dari Tia kalo ini ulah HexDrak," jawab Ari makin pasrah.


"Humm," dehem Nala lalu...


Bugh


Nala memukul wajah Ari sampai Ari terjatuh dan bibirnya pecah, semua orang yang melihat itu kaget bukan main juga merasa ngeri.


"Kalo lo tau...," ujar Nala menggantung lalu berjongkok dan kembali menarik kerah baju Ari dengan kedua tangan.


"KENAPA DIA BISA LUKA SAMPE KAYA GINI, HAH?!! JAWAB!!!," bentak Nala di depan wajah Ari.


"So sorry, gue ga tau sumpah," balas Ari yang lemas sambil menahan rasa sakit di bibirnya yang pecah.


"Ck," decak Nala lalu melepaskan cengkraman nya.


"Kak Gu tau?," tanya Nala sambil menatap Ari.


"Kalo lo ada disini kemungkinan besar dia dah tau," jawab Ari sambil berdiri.


"Sial!," gumam Nala lalu pergi ke tembok dekat pintu ruang rawat Wira, tempat dimana teman²nya masih membeku kecuali Leon, Alfie, Feter dan Vier.


Bugh


Nala memukul tembok beton itu sampai tangannya berdarah dan tembok itu bolong, Nala kembali berdecak malas lalu memanggil Farel, menyuruhnya untuk memperbaiki tembok beton itu dan menyiapkan satu set pakaian formal untuknya.


Nala duduk di sofa setelah memberikan perintah pada Farel, dia menatap Ari malas.


"Tau 'kan apa yang terjadi kalo kak Gu tau?," tanya Nala memastikan.


"Hm.... 1.... 2.... 3....," gumam Ari membuat yang lain bingung karna tiba² Ari berhitung dengan tempo pelan.


Tap tap tap


Seorang pria yang sangat dikenali Ari dan Nala ikut memasuki ruangan bersamaan dengan Teman² Nala yang lain duduk, Nala beranjak berdiri di samping Ari lalu....


Plak plak


Pipi Nala dan Ari di tampar oleh pria itu yang tak lain adalah Gusion, teman² Nala kembali terkejut, Gusion menatap kedua adik perempuan di hadapannya nya dengan tatapan tajam.


"Paham apa yang kesalahan kalian?," tanya Gusion dingin.


"Paham, kak," jawab Ari dan Nala sambil menunduk lesu.


"Huh... sudahlah, nanti malam kau akan lakukan pembantaian kan?," tebak Gusion pada Nala.


"Ya," jawab Nala sambil mendongak menatap kakak laki² keduanya itu.


"Nanti malem ga usah kesini, kalian semua disuruh nginep di mansion Leon," balas Gusion.


"Oh ok kak," jawab mereka.


Tak berselang lama Mei/Fani datang membawa pakaian untuk Nala, dia melihat Gusion di ruangan itu dan tanpa basa basi langsung memeluknya, Gusion kaget tapi membalas pelukan itu begitu tau jika Fani yang memeluknya.


"Kakak akhirnya pulang," ujar Fani polos mengundang senyum di wajah Gusion.


Nala mengangkat sebelah alisnya bingung sama seperti Ari, Ari dan Nala saling memandang lalu tersenyum.


"Hubungan kalian sampai mana?," tanya Ari dan Nala bersamaan.


"Ha??," tanya Lyra, Ica, Karina, Dika dan Arya.


Bla bla bla


Nala mengurus sebagian rapat penting yang ga bisa di tunda, dia bekerja sampai larut malam.


Bersambung....

__ADS_1


~oOo~


Sorry pendek + up nya telat🙏


__ADS_2