
Mereka takjub tak terkecuali dengan Jendral Kojhiro Hyugai, pemimpin penyelamatan kapal itu, mereka pikir para ******* telah ditumpas dan para sandra hanya tinggal mereka bertiga, salah! masih ada ketua komplotan ******* tersebut yang melarikan diri dengan sandra lainnya (sandra itu untuk dijual) ketua komplotan itu pergi 1 minggu sebelum operasi penyelamatan, ketua komplotan ******* tersebut menjadi geram saat tau banyak anak buahnya yang terbunuh.
Ketiga balita dipulangkan, tapi anak laki² dan Nala mengalami trauma berat, sang anak laki² selalu memimpikan kejadian² tragis itu sehingga dirinya tak jarang melukai diri sendiri, sedangkan Nala menjadi dingin, sangat dingin, 'ya' dan 'tidak' adalah jawaban Nala, di ultahnya yang ke 4, Nala juga tetap dingin bahkan Nala sudah menjalankan psikoterapi, hal itu membuat seluruh keluarga Nero khawatir.
Bundanya sudah mengajaknya berkeliling Jepang, tapi Nala tetap dingin, Nala makan sangatlah sedikit, ayahnya bilang jika Nala mau tersenyum, maka ayahnya akan membawanya berkeliling Eropa, ketiga kakaknya juga khawatir dengan perubahan sikap Nala yang berubah drastis.
Suatu hari kakek, nenek, ayah dan bundanya Nala mendapat kunjungan khusus dari Jendral Kojhiro Hyugai, mereka mengadakan perjamuan tertutup pada pagi hari yang cerah.
"What's the general visiting us? (Ada apa jendral mengunjungi kami?)," tanya ayahnya Nala sopan menggunakan bahasa Inggris.
"Look, Mr. and Mrs. Nero. It's about the youngest child of the Nero family, Ms. Natalia Lavender (Begini, tuan dan nyonya Nero. Ini tentang anak bungsu keluarga Nero, nona muda Natalia Lavender)," kata Jendral sopan, mereka ber-empat terkejut bukan main dengan ucapan sang Jendral.
"My child? What is the matter, general? (Anakku? sebenarnya ada apa jendral?)," tanya bundanya Nala cemas.
"Young lady ... has killed most of the terrorist plotters who kidnapped her, miss even cooperated with the boys' hostages to get rid of the terrorists (Nona muda... telah membunuh sebagian besar komplotan ******* yang menculiknya, nona bahkan bekerja sama dengan sandra anak laki² untuk menyingkirkan para ******* tersebut)," jelas Jendral menggunakan bahasa inggris dengan sopan.
"WHAT?!!," teriak sang bunda histeris lalu jatuh pingsan, sang ayah segera membopong istrinya ke kamar, sang istri ditemani ibu mertuanya serta para maid di dalam kamar, sang ayah kembali ke ruang perjamuan.
"Is that true? (apakah itu benar?)," tanya sang ayah kembali memastikan, Jendral memberi anggukan yakin atas perkataannya.
"I will return the day after tomorrow to see the situation of young lady, excuse me and apologize for my impudence (Saya akan kembali berkunjung lusa nanti untuk melihat keadaan nona muda, saya permisi dan mohon maaf atas kelancangan saya)," ijin jendral, lalu sang jendral berlalu pergi.
Sang ayah tak bisa diam mendengar anak bungsunya melakukan pembunuhan pertama, sedangkan sang kakek tetap tenang dan menghela napas maklum.
~oOo~
Sore harinya
"Nak...!," panggil sang kakek menggunakan bahasa Jepang, kakek yang tak lain adalah Alrescha Nero, anaknya Alfranando Nero mendekati ayahnya yang berdiri di depan kaca besar di mansion keluarga Nero.
"Ada apa, ayah?," tanya Alfra, ayahnya Nala.
"Sepertinya kita harus mengajarkan anak² bela diri lebih cepat, nak. Terutama Nala," jelas Rescha, panggilannya semasa muda.
"Ayah benar, tapi Nala masih 4 tahun ayah. Umur segitu masih memerlukan kasih sayang," kata Alfra cemas.
"Lakukan saja, ajari mereka bela diri di usia saat ini, tapi tetap memberikan kasih sayang yang cukup. Gembleng mereka dengan benar, jadikan mereka pribadi yang mandiri dan kuat," pinta Rescha dengan yakin.
"Baiklah, ayah. Aku akan tetap mengajari mereka bela diri, aku permisi," kata Alfra, ia segera pergi dari ruang baca khusus milik sang ayah.
Alfra bingung bagaimana cara memberi tahu istrinya tentang mengajarkan seni bela diri kepada anak²nya yang masih kecil?, akhirnya dia memutuskan untuk langsung memberi tahukannya pada sang istri, sesampainya di kamar, ia meminta waktu berdua dengan istrinya kepada para maid, mafioso yang menjaga dan sang ibunda, yang tak ayal bunda Zelfa, eh nenek Zelfa buat cucu²nya.
"Tasha sayang," panggil Alfra kepada istrinya setelah semua orang pergi, Alfra telah menutup pintu kamar yang kedap suara itu.
"Ada apa?," tanya Tasha, istri Alfra.
"Sepertinya.. aku harus mengajarkan seni bela diri pada anak² lebih awal, sayang," jelas Alfra lembut tapi bagi Tasha kata² itu benar² membuatnya khawatir.
"Tapi, sayang... mereka masih sangat muda," bantah Tasha khawatir.
"Aku memang harus melakukannya, sayang. Mereka harus bisa menjaga diri mereka sendiri, tidak apa kan?," tanya Alfra.
"Lagipula, Nala telah membunuh orang. Jika kabar ini tersebar maka... nyawanya bisa terancam," lanjut Alfra meyakinkan Tasha.
"Kumohon, sayang... Aku tak akan terlalu keras pada mereka, tegas bukan berarti melakukan kekerasan, keras tapi berguna untuk mereka di masa depan, manjakan secukupnya saja, ajarkan berhemat dan mandiri untuk kehidupan lebih baik," jelas Alfra panjang kali lebar.
"Baiklah, tapi aku juga akan turun tangan. Aku juga akan mendidik mereka menjadi pribadi yang baik," kata Tasha akhirnya walau masih ada rasa cemas dan tak rela.
"Makasih, sayang... udah hampir waktunya makan malam, ayo kita turun," ajak Alfra setelah mengecup kening istrinya, mansion keluarga Nero terdiri atas 3 lantai, bangunan tersebut bahkan menggunakan lift untuk ke lantai berikutnya, bangunan klasik yang megah bak istana.
~oOo~
DI RUANG MAKAN
Alfra memberi tahu pada ke-empat anaknya tentang rencananya, mereka memang terkejut (kecuali Nala, oh iya, Nala dipaksa buat makan malem bareng keluarga), mereka setuju dengan keputusan sang ayah bahkan mereka bersemangat.
~oOo~
KEESOKKAN PAGINYA
Mereka ber-empat dibangunkan begitu pagi (jam 4 pagi, waktu menyesuaikan di Jepang), kini mereka siap melakukan aktifitas baru mereka.
__ADS_1
Pertama mereka disuruh lari santai bersama para mafioso ke luar mansion, sang kakek dan nenek, eh oma maksudnya (disuruh manggil oma buat cucu²nya doang), kakek Rescha dan oma Zelfa mengawasi cucu² mereka menggunakan drone yang terhubung dengan laptop yang di gunakan kakek Rescha, jujur saja dari tadi oma sangat khawatir kepada cucu²nya padahal kakek tenang² aja tuh.
Nala berada di barisan paling depan di depan para mafioso dan kakak²nya, Nala dan kakak²nya di pisahkan menjadi 4 regu, Nala berada di regu pertama yang membawa Nala mengitari kota/desa kecil di sekitar tempat Nala tinggal, begitu pun kakaknya yang lain.
Rombongan mafioso beserta tuan/nona muda mereka menjadi sorotan warga sekitar yang melihat mereka, karna jumlah mafioso yang cukup banyak (jumlahnya sih 250, setiap regu 60 orang dikali 4 regu jadi 240 orang, sisanya mengawal tuan dan nyonya Nero yang ikut lari bersama anak²nya), mereka hanya dibolehkan beristirahat 2 menit setelah itu lari santai kembali.
Setelah pulang dari lari santai pukul 8 pagi, mereka lalu istirahat 5 menit lalu ke empat anaknya di suruh mandi yang cepat dan sarapan sehingga pukul 9 pagi mereka dapat kembali melanjutkan latihan, yang kedua mereka ber-empat diminta untuk menggunakan senjata jarak jauh, seperti panahan dan pistol (buru² ga sih?), mereka di ajarkan oleh salah satu mafioso yang sudah berpengalaman dalam panahan, setelah ditunjukkan caranya oleh mafioso, para tuan dan nona muda di persilahkan untuk mencontohnya.
•Bagi kak Wira (kakak pertama di keluarga Nero, 12 tahun), panahan lumayan sulit juga karna kak Wira hanya mendapat skor 24 pada 3 percobaan pertama.
•Bagi kak Gusion (kakak kedua di keluarga Nero, 10 tahun), panahan tak terlalu sulit karna mendapat skor 25 pada 3 percobaan pertama.
•Bagi kak Ari (kakak ketiga di keluarga Nero, 7 tahun), panahan lumayan juga karna mendapat skor 27 pada 3 percobaan pertama.
•Dan bagi Nala (anak bungsu keluarga Nero, 4 tahun) yang paling mecengangkan dalam 3 percobaan pertama mendapat skor sempurna 30! dan dia bilang 'panahan tidak sulit kok'.
Para mafioso, para maid, kakak²nya, dan orang tuanya langsung ternganga melihat nona muda ke empat mereka yang dingin bisa sangat berbakat, padahal baru 4 tahun! Gilaaaaa! coba bayangin kalo anak 4 tahun aja udah bisa memanah ntar gedenya kaya gimana??!!.
Lalu mereka diajarkan menembak dengan pistol laras pendek dari jarak 4 meter, setelah diajarkan mereka kembali mencoba dalam 3 kali percobaan, kak Wira bisa menahan daya tolak pistol pake 1 tangan, kak Gusion lumayanlah buat se umurannya walau pake 2 tangan, kak Ari.... gak! kak Ari agak kepental karna daya tolak pistol padahal udah megang pistol pake 2 tangan dan.... sekali lagi Nala membuat seluruh orang di mansion keluarga Nero takjub dan tercengang, Nala menembak hanya dengan 1 tangan, wajahnya datar nan dingin, umurnya itu lohhh!.
Latihan selesai pada jam makan siang, mereka segera makan, jam selanjutnya tidak ada aktifitas, Nala yang sering mengamati para mafioso dari balkon kamarnya melihat ayahnya mengambil katana, Nala terkejut bukan main melihat kelihaian sang ayah dalam memainkan katana, cepat² Nala berlari ke tempat sang ayah berlatih pedang katana, para maid sampai bingung dengan sikap nona muda ke empat yang berlarian di mansion.
Nala melihat 'pertunjukkan' pedang katana dari ayahnya, gerakannya halus dan indah tapi sangat mematikan, cepat dan tepat, Nala sendiri sangat takjub dengan pertunjukkan pedang katana itu.
"Ayah...!," panggil Nala, para mafioso dan maid serta sang ayah yang terkejut dengan suara kecil putri bungsunya itu, Alfra langsung menghentikan latihan, meletakkan pedang katana dan segera menghampiri putri bungsunya.
"Kau tadi bilang apa?," tanya Alfra bersemangat saat mendengar putri bungsunya memanggilnya, saat ini dia sedang berjongkok di hadapan Nala.
"Ayah... tolong ajari aku," kata suara kecil Nala.
"Ajari... teknik pedang? dengan pedang katana?," tanya Alfra memastikan.
"Em! aku ingin belajar teknik pedang tadi, gerakannya sangat indah dan halus tapi tajam, cepat dan tepat!," cerocos Nala sambil tersenyum bersemangat, Alfra sangat senang karna putri bungsunya sudah mau tersenyum kembali.
"Kau pintar menilai ya, Nala," puji Alfra senyum merekah, Nala senang mendapat pujian dari ayahnya.
"Ayah akan mengajarimu, tapi.. ," ucap Alfra menggantung.
"Tapi kamu harus tersenyum mulai dari sekarang, jangan bersikap dingin lagi. Ayah tak suka jika kau bersikap dingin seperti sebelumnya," pinta Alfra.
"Emm....," Nala tampak berpikir dengan mengerutkan keningnya.
"Baiklah, akan Nala coba, ayah," kata Nala menyanggupi.
"Bagus! mau ayah ajari sekarang?," tanya Alfra pada Nala yang langsung disetujui oleh Nala.
Nala mengambil pedang katana yang lain, karna pedang katana yang cukup ringan jadi Nala bisa mengangkatnya dengan mudah, Alfra mengajari teknik pedang katana pada Nala dan Nala dapat mengikutinya dengan baik, saat sedang asyik latihan, Alfra juga diminta untuk mengajari kak Gusion yang ternyata juga tertarik pada teknik pedang katana.
~oOo~
3 hari latihan
Sudah 3 hari mereka latihan menggunakan senjata jarak jauh (panahan dan pistol), Nala dan kak Gusion bahkan sudah menguasai hampir seluruh teknik pedang katana, Ari bisa dengan mudah menggunakan panahan dalam lingkungan manapun, begitu pula Wira, dia sudah menguasai pistol laras pendek di mansion keluarga Nero di Jepang, Nala sudah menguasai semua kemampuan yang diajarkan, baik memanah, menembak maupun menggunakan pedang.
Sekarang waktunya duel setelah duel ini selesai, mereka akan diajarkan menggunakan senapan laras panjang, waktunya duel! duel dimulai dengan beregu, Nala dengan kak Ari dan kak Gusion dengan kak Wira.
Kak Ari membawa panah kesayangannya, Kak Gusion dan Nala membawa pedang katana masing² dan kak Wira membawa pistol dengan peluru yang tak berbahaya, mereka mencari objek yang dijadikan bahan duel yaitu sebuah kertas yang bertuliskan pemenang.
Kertas tersebut berhasil didapatkan setelah melewati penjaga berupa mafioso terlatih, tim Nala berhasil mendapatkan nya tapi karna ini duel jadi tak masalah jika merebut paksa, Nala berebut kertas dengan kak Gusion yang berduel menggunakan pedang katana, sedangakan kak Ari dan kak Wira berduel membantu rekan mereka.
Tim Nala berhasil memenangkan duel tersebut, setelah itu mereka ber-empat diajarkan ilmu meringankan diri dari kakek mereka, mereka kembali diajarkan teknik² yang sangat berguna, teknik menggandakan diri, teknik ninjutsu dan lainnya.
Bersambung....
~oOo~
Sorry kalo bahasa inggrisnya ga bener, pake google soalnya
Like, Vote and comment novelku ini ya
Sorry kalo typo
Ok thanks for everything
Novel by. Tyas
__ADS_1
(Jika ada Eps ... : ...., artinya eps udah di revisi ok)
Sudah sebulan mereka diajarkan berbagai kemampuan yang sangat berguna, hari ini Nala sedang tidur²an di sofa sambil menonton TV, dia bosan menunggu kakak²nya pulang sekolah, matanya melihat sekeliling ruang tengah yang besar, dan retinanya menangkap sebuah laptop milik ayahnya yang diletakkan di meja.
Nala mengambil laptop tersebut, dia sering melihat ayahnya menggunakan laptop, dia mengotak-atik laptop dan tanpa sadar telah meretas sebuah perusahaan Rare Tyro, perusahaan yang akhir² ini menyerang perusahaan ayahnya, tepat setelah Nala berhasil meretas perusahaan itu ayahnya datang ke ruang tengah untuk mengambil laptopnya, Alfra terkejut saat melihat laptopnya sudah berhasil meretas perusahaan Rare Tyro.
Mereka bahkan memohon supaya tak diretas lagi, Alfra terkekeh membaca email dari perusahaan Rare Tyro.
"Kau bisa meretas perusahaan Rare Tyro?," tanya Alfra tak percaya.
"Em? meretas? apa itu?, aku hanya memberikan mereka sebuah... file mungkin? lalu tiba² muncul file lainnya," jelas Nala polos.
"Wah... kau hebat sekali, Yue," puji Alfra sambil mengotak-atik kembali laptopnya, Nala tersenyum manis mendengar ayahnya memujinya.
"Yue...," panggil Tasha sambil melangkah mendekati Nala dan Alfra di ruang tengah, Tasha bundanya Nala.
"Em? ya bunda?," jawab Nala dengan suara imutnya.
"Yue sayang, kesini dong," ajak bundanya, Nala punya panggilan kesayangan yaitu Li Yue, hanya Alfra dan Tasha yang memanggilnya begitu setelah Nala berhasil menguasai teknik pedang katana.
~oOo~
Berikut panggilan kesayangan mereka setelah latihan
•Panggilan kesayangan kak Wira, Wi rae fan
•Panggilan kesayangan kak Gusion, Fan Gu
•Panggilan kesayangan kak Ari, Yueku
•Panggilan kesayangan Nala, Li Yue
~oOo~
Nala berhambur ke pelukan sang bunda, Nala dan kakak²nya memang agak dimanja oleh kedua orang tuanya tapi di saat latihan, tak ada yang dimanja, mereka malah dilatih dengan keras, walaupun baru 4 tahun tapi cara bicara Nala sama sekali tak cedal bahkan lancar.
Tasha menggendong Nala lalu menghampiri Alfra yang masih terkagum-kagum menatap laptop nya.
"Kamu kenapa, yah?," tanya Tasha pada Alfra.
"Ini lho, ayah kaget karna Yue udah bisa ngeretas perusahaan Rare Tyro," jelas Alfra.
"Oh ya? ya ampun... kamu hebat banget sih, Yue," puji Tasha sambil menciumi pipi chubby Nala, semenjak Nala berlatih ilmu bela diri, nafsu makan Nala bertambah sehingga dalam waktu 1 bulan, Nala sudah kembali seperti semula, embul dan lucu.
"Emm..., geli bundaaa," Nala terus²an di ciumi Tasha sampai geli sendiri.
Mereka bertiga bersenda gurau bersama, keluarga mereka sebenarnya cukup hangat dan ramah, tak berapa lama kemudian, kakak²nya kembali dari sekolah.
"Selamat siang, ayah.... bunda... dan adik kecilku yang imut ini," sapa kak Ari dengan teriakkan khasnya yang cempreng, kak Ari berlari menghampiri ayah, bunda dan adik kecilnya di ruang tengah, kak Gusion dan kak Wira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu kak Ari.
"Ooo... anak² bunda udah pulang," ujar Tasha, Mereka bertiga (WiGuRi/Wira, Gusion, Ari) ikut duduk disofa bersama keluarga kecilnya yang lain.
"Ganti baju dulu sanahhhh, kakak bauuu," ejek Nala sambil memegangi hidung kecilnya, yang langsung disambut tawa kedua orang tuanya.
"Wah wah, ada apa ini?," sahut oma Zelfa dari arah lift yang diikuti kakek Rescha.
"Kakek... oma... masa aku dibilang bauu sama Nala..," adu kak Ari manja.
"Emang kakak bauu, kok," balas Nala tak mau kalah dari kakaknya yang lagi² mengundang gelak tawa anggota keluarga nya yang lain.
"Ga tau, deh. Nala nyebelin," balas kak Ari, kak Ari memanyunkan bibirnya ke depan dan menyilangkan tangannya ke depan dada.
"Biarin... wleee," balas Nala sambil menunjukkan lidah mungilnya.
Kak Ari berlalu ke dalam kamarnya di lantai 3, untuk berganti pakaian karna dia juga merasa lengket dengan baju yang melekat pada tubuhnya, setelah berganti pakaian kak Ari kembali ke ruang tengah dan hanya mendapati kak Gusion serta kak Wira telah berganti pakaian.
"Cepat sekali, kak Gu dan kak Wira ganti baju," kata kak Ari heran.
"Kamu aja yang lama ganti bajunya," balas kak Wira.
"Eh? masa sih? bentar doang kok, aku ganti bajunya," tanya kak Ari tak percaya.
"Lamaaaaa tauuu, dasar Ari!," keluh kak Gusion, kak Ari cemberut mendengar kata² kak Gusion.
"Udah² ayo latihan," kata kak Wira menengahi.
Mereka bertiga menyusul Nala ke arena latihan, sesampainya di arena latihan, mereka melihat Nala sedang berlatih panahan, tembakannya semakin jauh dan akurat saja padahal baru sebulan latihan.
"Hai, Nala. Semakin hebat saja kau," puji kak Gusion.
"Hmm, jangan ganggu aku, kak," balas Nala dingin sambil tetap melanjutkan latihannya, Nala memang tak suka diganggu saat sedang latihan.
Kak Gusion hanya menghela nafas lalu beralih fokus ke latihannya sendiri, Nala menyelesaikan latihan panahnya mengganti dengan latihan menggunakan senapan jarak jauh, ketiga kakaknya tidak bisa mengganggu Nala saat sedang berlatih, walaupun umurnya baru 4 tahun tapi kalau mengamuk akan sangat sulit untuk ditenangkan bahkan harus di suntik dengan obat bius.
Nala segera memfokuskan kembali latihan nya, sudah waktunya untuk duel, 1 tuan/nona muda banding 100 mafioso, dan pastinya Nala selesai dalam 5 gerakan dalam 2 menit, rekor baru! karna ilmu meringankan diri yang dipelajari Nala membuatnya menjadi sangat ringan apalagi berat badannya yang belum terlalu berat.
Semakin lama Nala berlatih, semakin kuat juga fisiknya walaupun Nala masih belum siap menerima serangan mental lagi, tapi setidaknya Nala bisa mengatasinya.
Pada akhir tahun, Alfra mengajak istrinya, Nala beserta kakak²nya pergi ke Prancis, dia sudah membeli mansion kecil di daerah pengunungan di Prancis, hari itu juga Nala berhasil menghafal bahasa Inggris dan Prancis dengan fasih, walau tak sefasih adik kecilnya mereka (WiGuRi) lumayan fasih juga dalam berbahasa Inggris dan Prancis.
Untuk pertama kalinya, keluarga kecil Nero merayakan tahun baru di Prancis, Nala sangat senang karna Alfra menepati janjinya walaupun belum berkeliling Eropa, Nala diajak berkeliling Prancis terlebih dulu, Nala jalan² ke museum lauvre, situs keagamaan, dan banyak tempat menarik lainnya.
Tak terasa sudah sebulan mereka tinggal di Prancis, ketiga kakak Nala harus kembali ke Jepang karna harus bersekolah, di bulan Februari mereka harus kembali ke Jepang, kakek Rescha sedang berada di mansion utama keluarga Nero di Inggris, Nala ingin pergi kesana, jadi Nala pergi sendiri menggunakan jet pribadi dikawal 50 mafioso dan 10 maid.
Nala dan rombongan datang pada pukul jam 10 pagi, bandara tempat jet pribadi keluarga Nero singgah mendapat perhatian dari banyak pihak, tak lupa Nala menggunakan topeng yang menutupi matanya untuk menyembunyikan identitasnya sebagai keponakan mafia Inggris Daryn Pratama Saintasly .
Nala dikawal begitu banyak mafioso dan maid, dia di gendong salah satu mafioso, itu keinginan Nala, Nala ingin digedong seorang mafioso bukannya maid, kebetulan ketua pengawalan Nala menyukai anak kecil jadinya Nala digendong mafioso bukannya maid, Nala dijemput menggunakan limosin jenis Cadillac limo sedangkan yang lainnya mengawal di depan dan belakang menggunakan mobil BMW hitam, selama perjalanan ke mansion utama, Nala tak mau turun dari gendongan mafioso itu sehingga Nala tertidur dalam gendongan mafioso tersebut.
Beberapa menit kemudian, Nala beserta rombongan telah sampai di mansion utama, mansion 5 lantai dengan fasilitas terbaik dan gaya klasik tapi elegan serta sebuah halaman/taman yang indah dan luas, Nala masih belum bangun dari tidurnya dan tetap kekeuh tak mau turun, akhirnya Nala dibawa ke kamar untuk beristirahat dan tetap dalam gendongan mafioso tersebut, setelah diletakkan di ranjang akhirnya Nala mau dilepaskan dari gendongan mafioso tersebut.
Nala tertidur cukup pulas sampai pamannya Nala, Daryn datang untuk melihat ponakannya yang imut itu.
"Oh ya ampun... ponakanku sangat imut," puji Daryn, dia sangat gemas dengan keponakan kecilnya itu sampai² Daryn mencubit pipi Nala sampe Nala bangun.
"Emm...," gumam Nala, Nala mengucek kedua matanya, menyesuaikan matanya pada keadaan sekitar, dia melihat seorang pria paruh baya yang kira² beberapa tahun lebih tua dari ayahnya, Alfra.
"Paman siapa?," tanya Nala dengan suara imutnya menggunakan bahasa Inggris, dia mencoba duduk di ranjang.
"Paman adalah pamanmu Nala, paman Daryn," jawab Daryn juga menggunakan bahasa Inggris di sebelah ranjang tempat Nala tidur.
"Paman Daryn? bunda sering menceritakan tentang paman!," seru Nala bersemangat dengan senyum merekah diwajahnya.
"Hahaha....! tentu saja, bundamu itu adik paman, dia pasti menceritakan banyak hal tentang paman, apa saja yang bundamu ceritakan?," tanya Daryn tak kalah semangat.
"Banyakkkk.... tapi sekarang Nala laperrrr... Nala mau maem dulu ya, paman," kata Nala dengan polosnya.
"Hahaha...! ayo pergi, paman juga lapar," sahut Daryn, Nala tersenyum lalu digendong oleh sang paman ke ruang makan.
Nala makan bersama kakek Rescha, oma Zelfa dan paman Daryn, Nala makan makanan yang disajikan koki dengan lahap, membuat orang yang melihat nya bahagia, setelah selesai makan kakek Rescha dan paman Daryn ingin membicarakan sesuatu, sedangkan oma masih harus mengurusi butik miliknya, jadilah Nala jalan² di taman ditemani maid dan beberapa mafioso, Nala melihat banyak tanaman bunga berwarna-warni di taman.
Saat Nala sedang mengamati bunga² di taman, Nala melihat beberapa anak kecil sedang dihukum, Nala ditemani maid menghampiri anak² itu, Nala tau kalau ini mansion pribadi dan tidak sembarangan orang boleh masuk ke mansion.
"Paman... kenapa mereka dihukum?," tanya Nala pada pria yang menghukum mereka yang tak lain adalah mafioso yang tadi menggendong Nala.
"Mereka melakukan kesalahan, nona muda ke empat, mereka telah menghilangkan barang yang sangat penting," jelas pria itu hormat.
"Barang apa yang mereka hilangkan, paman?," tanya Nala lagi.
"Sebuah rekaman dari tuan dan nyonya untuk nona muda ke empat yang disimpan dalam flashdisk perak anti rusak," jelas pria itu.
"Ah...! maksud paman flashdisk ini?," ujar Nala, lalu mengambil sebuah flashdisk dari sakunya.
"Iya, nona muda, maafkan saya. Telah menghukum mereka," maaf mafioso tersebut.
"Tak apa, paman. Bolehkah aku berbicara dengan mereka?," tanya Nala sambil tersenyum.
"Tentu boleh, nona muda ke empat," jawab pria itu, Nala segera mendekati anak² itu sambil tersenyum manis.
"Hallo, kenalin namaku Natalia Lavender panggil aja Nala, kalian mau berteman denganku?," kata Nala, dia menyodorkan tangan mungilnya untuk mengajak mereka berjabat tangan, para maid dan mafioso terkejut dengan sikap Nala yang baik hati dan mau berteman dengan siapa pun.
"Nona... tapi mereka...," ujar mafioso di sebelah Nala menggantung.
"Kenapa, paman? apa aku tak boleh berteman dengan mereka ya?," potong Nala dengan wajah cemberut lalu menarik tangannya.
"Bu-bukan begitu, nona. Tentu saja nona boleh berteman dengan siapa pun," jawab pria itu akhirnya.
"Hem... siapa nama kalian?," tanya Nala kembali memusatkan perhatian pada anak² yang masih berlutut di depan nya.
"Apa benar tak apa?," tanya salah satu diantara mereka dengan ragu, Nala menganggukkan kepala mungilnya yakin.
"Namaku Na Wang Sik, aku berasal dari korea selatan, umurku 5 tahun, aku disini ingin ikut dalam kelompok mafia ini," jawab anak laki² bernama Wang sik itu dengan yakin menggunakan bahasa Inggris.
"Sedangkan namaku Wu Yi Fan, asalku Tiongkok, umurku 4 tahun," sahut anak perempuan yang lain juga menggunakan bahasa Inggris.
"Yang ini Wu Mei Fan, adikku, baru 3 tahun," jelas Yi Fan sambil menunjuk adiknya yang bersembunyi di belakang kakaknya.
"Namaku Kakashi Ihjitama, berasal dari Jepang, umurku 5 tahun," jelas pria kecil bernama Kakashi itu.
"Nama saya Farellina Reatsy Domilasta, umur saya 4 tahun," kata anak perempuan lainnya dengan bahasa Inggris formal.
"Dan.... dan namaku Wendy Dentaska Halim, umulku 4 tahun," ucap Wendy agak cedal dan agak takut.
"Senang berkenalan dengan kalian semua, jangan takut, meskipun ayah, kakek dan paman seorang mafia tapi kalian tak usah takut padaku," jelas Nala kembali menyodorkan tangan mungilnya.
"Terima kasih, nona muda ke empat," jawab Wang sik, Kakashi dan Yi Fan, mereka membungkuk untuk memberi hormat diikuti yang lainnya.
"Nona... bagaimana jika tuan besar tau?," tanya pria di sebelah Nala.
"Tentang aku berteman dengan mereka? tenang saja, aku yang akan bicara langsung pada kakek dan oma, kalau ayah dan bunda sudah pasti setuju," jelas Nala santai.
"Ayo ikut aku ke dalam," ajak Nala.
"Tapi nona...," Wang sik ingin bicara tapi dipotong oleh Nala, dia bilang,
"Kalian tak usah takut, ada aku disini."
Nala membawa keenam teman barunya itu ke dalam mansion, Nala meminta kakak maid untuk memberikan mereka pakaian dan makanan yang layak, setelah semua selesai, Nala dengan keenam teman barunya menemui kakeknya di ruang baca.
"Kakek...!," panggil Nala lembut tapi terdengar jelas di ruangan itu, kebetulan disana ada oma dan paman Daryn, semua orang di ruangan itu menoleh ke sumber suara, Nala berjalan cepat ke arah kakeknya.
"Ada apa, cucuku sayang?," tanya Rescha sambil menggendong Nala dan menciumi pipi chubby Nala.
"Nala mau mengenalkan beberapa teman baru Nala, kakek ga marah kan kalo Nala bawa temen baru, walaupun mereka berbeda baik status maupun yang lain?," tanya Nala to the point dan hati² saat masih dalam gendongan kakek Rescha.
"Em? tentu kakek tak marah, asal mereka punya kemampuan yang berguna, tulus berteman sama kamu, setia dan kamu senang berteman sama mereka, bagi kakek itu ga masalah," kata kakek Rescha bijak lalu menurunkan Nala dari gendongannya.
"Terima kasih, kakek. Nala sayangg kakek Rescha, cup!," Nala mencium pipi kakek Rescha.
"Sama² sayang...," balas Rescha balik menciumi pipi chubby Nala.
"Memang siapa saja mereka?," tanya oma Zelfa penasaran, lalu keenam teman barunya berjejer rapi di belakang Nala.
"Yang ini namanya Farellina Reatsy Domalista, trus ini Wu Mei Fan, yang ini kakaknya Wu Yi Fan, yang ini Wendy Dentaska Halim, kalo yang ini Kakashi Ihjitama, nah yang terakhir Na Wang Sik," jelas Nala panjang kali lebar, berhubung otaknya encer, Nala juga punya daya inget paling kuat.
"Trus mau kamu apain mereka? ga mungkin kan kita yang ngurus mereka?," tanya oma Zelfa.
"Kalo itu tenang aja, oma. Nala udah pikiran jalan keluarnya 2 menit yang lalu. Gimana kalo Nala jadiin mereka teman sekaligus bawahan Nala, Nala bakal ngajarin mereka dan bertanggung jawab atas mereka," usul Nala.
"2 menit yang lalu baru nyari solusi? otak apa otak itu? encer bener... tapi kalo usul kamu tadi paman sih setuju aja, lagian ga ada salahnya kan ngebiarin kamu bertanggung jawab atas mereka," sahut paman Daryn.
"Kakek setuju tapi janji kalo Nala yang bakal tanggung jawab," jelas kakek Rescha, karna 2 orang penting di ruangan itu udah setuju jadi oma juga harus setuju.
"Beneran? makasih kakek.... Nala janji Nala bakal tanggung jawab," janji Nala pada kakeknya.
Bersambung......
~oOo~
Solusi apa yang dipikirin Nala?
Sorry kalo typo
Vote, like dan comment, lhooo
__ADS_1
Bye... author sayang para readers