
"Ehem..," suara deheman seseorang yang berhasil masuk ke kamar Nala membuat Nala tersadar dan menoleh ke sumber suara.
"Oh... kau," ujar Nala lega mengetahui siapa yang datang.
~oOo~
"Kupikir kau tak akan datang," sambung Nala.
Pria yang dimaksud Nala membuka penyamaran nya dan mendekati Nala sambil tersenyum manis.
"Adikku sudah besar rupanya," ujarnya sambil mengacak rambut Nala.
"Hum... itu kan hanya Leonardo, kak. Jangan salah paham," tukas Nala cepat.
"Usowotsukuna, ani ni usowotsuku na [ bohong, jangan berbohong pada kakakmu ini ]," ujarnya dengan lancar.
"Meiwakuna kyodai! [ kakak menyebalkan ]," seru Nala kesal.
"Anata wa okotte iru toki anata wa totemo kawaidesu, watashi no aisuru imoto [ kamu sangat imut saat sedang marah, adikku sayang ]," rayu kakak Nala yang tak lain adalah Gusion, kakak kedua Nala.
"Huh... shimai [ kakak ]," panggil Nala.
"Hum?," jawab Gusion.
"O genki desu ka [ apakah kakak sehat ]?," Nala menanyakan kabar kakaknya.
"O kage desu [ kakak baik² saja ]," jawab Gusion sambil mengangguk.
"A, tasukatta [ syukurlah ]," balas Nala lega.
"Kakimu patah?," tanyanya melihat kaki Nala yang terbungkus gips, mereka kembali menggunakan bahasa Indonesia.
"Hem.. begitulah," jawab Nala acuh.
"Nih, makan pil ini. Buatan kakak, mungkin akan sakit tapi..."
"Nikmati saja rasa sakitnya, udah tau slogan kakak kalo ngasih obat pil dari dimensi lain kaya gini," potong Nala.
"Cerdas sekali adikku ini," puji Gusion sambil mencubit pipi Nala.
"Huh... kakak memang menyebalkan seperti kak Wira dan kak Ari," gerutu Nala.
Bla bla bla mereka mengobrol banyak.
Kakak kedua Nala alias Gusion berhasil menemukan portal menuju dimensi lain, karna itulah dia lost contact sama keluarga nya sendiri, Nala dan Gusion memang dekat, sangat dekat, walaupun Gusion pergi tapi dia selalu mengunjungi Nala setiap ada kesempatan.
Mereka berdua membuat alat perpindahan khusus, yang terhubung dengan seluruh tempat di dunia juga dimensi itu yang sebenarnya dunia persilatan, Nala pikir itu hanya ada di novel, game dan manga saja ( komik jepang ), tapi setelah Nala ditunjukkan betapa luasnya dimensi itu juga seberapa rumitnya dunia ini Nala pun mengubah pemikirannya tentang dunia ini termasuk dunia persilatan.
Back to story
"Kak, kapan aku bisa makan pil ini?," tanya Nala penasaran.
"Nanti sebelum tidur, tapi tadi kamu udah tidur kan? dipeluk lagi sama cowo," ejek Gusion.
"Kakak!," seru Nala kesal.
"Jika dia macam² lagi, kakak yang akan memberinya pelajaran," ancam Gusion sambil tersenyum tapi auranya menakutkan untuk orang lain tapi tidak untuk Nala yang memang sudah terbiasa.
"Hah... iya deh," balas Nala.
"Ya sudah, lusa kakak akan datang lagi untuk mengecek keadaan mu, kau harus memakan pil itu jika ingin cepat sembuh," ujar Gusion serius.
"Iya kak, kakak tenang saja, pasti akan kuminum kok," balas Nala.
"Ya sudah, kakak pergi dulu, mata ne [ sampai jumpa ]," ujar Gusion.
"Hem, mata ne, shimai [ sampai jumpa, kakak ]," balas Nala.
Gusion pun pergi dari kamar Nala, meninggalkan Nala yang memandang kepergiannya dengan senyuman.
~oOo~
Di ruang tengah
Setelah makan malam, Lyra, Vier, Vyone yang habis diobati, Feter, Arya dan Dika berkumpul di ruang tengah, mereka meng-ghibahi Nala dan Leon, mereka dikejutkan suara Leon dari lift.
"Kakak maid, ini troli makanannya," uhar Leon yang membuat teman²nya kaget.
"Njer, dia ga denger kan?," tanya Dika berbisik.
"Semoga," jawab Lyra berbisik juga.
"Woy! ada apaan nih, serius amat," seru Leon dengan wajah sumringah sambil berjalan menghampiri teman²nya.
"Lu kenapa? keliatannya seneng bener," sahut Vyone pura² tak tau.
"Emang keliatan ya? sebenarnya itu cuma boongan," ujar Leon sambil mengubah wajahnya menjadi datar tapi sebenarnya dia sangat senang.
.
.
.
Mereka bingung, kaget dan takjub dengan perubahan ekspresi Leon, mereka benar² speechless mungkin, Leon yang melihat ekspresi lucu teman²nya semakin tak tahan untuk tertawa.
__ADS_1
"Puft... bwahahahaha..... klean lucu bat sumpah! hahah... mau aja dikibulin," ledek Leon yang tertawa keras.
Orang² di ruang tengah : 😑
Mereka mulai menggerutu satu per satu secara bergantian, dengan wajah datar tentunya, Leon berhenti tertawa untuk mendengarkan gerutuan mereka.
Lyra : "Bast**d."
Vyone : "Monyed ga ada akhlak."
Arya : "Bangs*t kurang ajar."
Vier : "Pelawak kampungan."
Feter : "Setan sial*n."
Dika : "Garing woy, sial*n emang."
Lyra : "Liat situasi bangs*d."
Vyone : "Anying memang."
Dika : "Kita lagi serius woy!, lu malah ngajak bercanda, gue gedik juga lu."
Arya : "Janc*k bikin kesel aja lu."
"Lanjutkan aja terus gerutuannya," ujar Leon dengan nada biasa yang tanpa sadar malah menekan mereka dengan aura yang dikeluarkan nya.
"Njer, jan ngancem juga kale," protes Vyone yang merasa tertekan.
"Ha? gue juga ngomong biasa aja kok, apanya yang ngancem?," tanyanya bingung.
"Tanpa lo sadarin lo malah ngeluarin sedikit aura menindas milik lo itu," jawab Dika yang sudah terbebas dari rasa tertekan.
"Ya, sorry guys, lagi pada ngomong in apa sih?," tanya Leon yang dengan santainya duduk di salah satu sofa setelah menekan kembali aura menindasnya.
"RHS," jawab mereka bersamaan.
Bla bla bla, mereka mengobrol hingga sekitar pukul 9 malam.
~oOo~
Nala telah meminum pil obat yang diberikan kakaknya, dia paham betul jika kakaknya bilang pil ini akan terasa sakit maka rasa sakitnya lebih luar biasa lagi dari patah tulang, mungkin dia akan berteriak, saat ini dia bisa beraktifitas seperti biasa karna pil itu belum bereaksi.
Dia harus bisa menahan rasa sakit itu nanti, karna dia tak mungkin berteriak, kamarnya belum dipasangi peredam, dia akan menarik banyak perhatian di malam hari.
Pukul 9 malam obat itu mulai bereraksi di tubuh Nala, teman²nya baru saja melewati kamar Nala yang gelap karna Nala sudah mematikan lampu untuk mengurangi kecurigaan, tapi Leon malah makin curiga melihatnya, Leon tau betul jika tadi Nala sudah tidur bersamanya maka Nala akan kesulitan untuk tidur lagi.
Nala benar² merasa sakit yang luar biasa di tubuhnya, dia bahkan menggeliat kesakitan di atas ranjang, menahan diri sendiri untuk tak berteriak kesakitan, dia tak mungkin turun ke ruang latihan khusus nya di dekat basement yang sudah dipasangi peredam suara, karna akan makin mencurigakan apalagi dengan keadaannya saat ini.
Cklek
Ctak
Leon menyalakan lampu kamar Nala, betapa terkejutnya Leon saat melihat Nala menggeliat di atas ranjang sambil menggigit bibirnya sendiri demi tak berteriak kesakitan, gips di kaki Nala masih terpasang tapi tinggal sedikit lagi dapat dibuka dan terlepas.
"Nala..!," seru Leon pelan karna Nala mengisyaratkan untuk diam.
Leon mendekati Nala yang mencoba duduk di ranjangnya sambil tetap menahan rasa sakitnya, Leon menatap Nala dengan begitu khawatir apalagi saat Nala menyandarkan kepalanya di dada Leon membuat Leon bisa merasakan betapa besar sakit yang dirasakan Nala walau tak benar² merasakannya.
"Kenapa kau terlihat kesakitan?," tanya Leon khawatir.
"Ma, matikan... matikan lampunya," jawab Nala terlebih dahulu dengan suara lirih menahan sakit.
Leon beranjak mematikan lampu dan menutup pintu juga menguncinya supaya tak ada yang tau, dia kembali menghampiri Nala yang mulai berkeringat, Leon memeluk Nala dengan erat mencoba memberi ketenangan pada Nala.
"Apa yang sebenarnya terjadi?," tanya Leon penuh kekhawatiran sambil mengelus rambut Nala yang mulai basah akan keringat.
"Hanya obat tapi ini efek sampingnya, jangan khawatir," jawab Nala lirih.
"Jangan khawatir bagaimana, kamu aja sampe gigit bibir gitu kok, rambut kamu juga mulai basah," balas Leon benar² khawatir dan tetap memeluk Nala erat sampai pakaiannya mulai basah oleh keringat Nala yang merembes tapi Leon tak peduli.
"Shh... jangan keras² ngomongnya, nanti yang lain tau trus khawatir kaya kamu," tegur Nala sambil berbisik.
"Hm... kamu kenapa sih? kalo kamu kaya gini malah bikin aku makin khawatir, aku minta penjelasan sekarang," tuntut Leon sambil berbisik di telinga Nala.
"Ini karna pil pelebur tulang dari kakak, memang sakit tapi sangat berguna," jelas Nala lirih.
"Pil pelebur tulang? apa maksudnya?," tanya Leon bingung tapi tetap berbisik.
"...."
"Aku ga bisa jawab itu, Leonardo, maaf," jawab Nala akhirnya.
"Jelaskan!," seru Leon menuntut di telinga Nala.
"Panjang ceritanya, sulit dijelaskan," tukas Nala berbisik.
"Ga bisa kamu jelasin sekarang?," tanya Leon lagi sambil berbisik.
"...."
Nala tak bisa menjawab karna memang itulah kenyataannya, sulit menjelaskan hal diluar nalar pada orang lain.
Cup
__ADS_1
Kesal bercampur khawatir mendorong Leon untuk mencium bibir Nala, Nala kaget tapi tak bisa apa², pil dari kakaknya seperti obat perangsang yang membakar tubuhnya walaupun bukan itu kenyataannya karna sebenarnya sel² di dalam tulang Nala sedang dileburkan untuk menjadi lebih kuat lagi.
Nala hanya bisa pasrah dan membalas perlahan cium*n Leon, Leon memang kaget tapi tak menghentikan aksinya yang terus mel*mat bibir Nala, panas di tubuh Nala seakan membakar tubuhnya sendiri saat bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Nala mencengkram bahu Leon supaya bisa menahan rasa sakitnya, kini tubuhnya benar² basah oleh keringat.
Author : Mau dijelasin posisi mereka? okd, btw bacanya nyantuy aja ga usah dibayangin sampe segitunya yak
Kedua tangan Nala mencengkram bahu Leon erat, tubuh mereka berkeringat hingga ke sprei kasur, mereka berbaring di atas ranjang, bibir Leon mel*mat bibir Nala, tangan Leon di pinggang Nala dan membelai lembut rambut Nala, njer.. kok intim banget? lah emang kenyataannya deng.
Author : Hei guys! jan kira mereka ena² woy! Nala cuma nahan rasa sakit dibantu Leon, baju mereka juga masih lengkap.
Leon melepas ciuman mereka dan menatap Nala yang masih menahan rasa sakit, Leon mengelus rambut Nala yang benar² basah akan keringat, Nala menatap Leon balik lalu mencoba tersenyum.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Leon.
"Kenapa?," tanya Nala lirih.
"Aku ga bisa bantu kamu disaat kaya gini, kamu lagi kesakitan tapi aku malah..."
"Sstt... jangan khawatir sampe segitunya lah, aku tau kakak ga bakal ngasih barang yang dirinya sendiri ga yakin kalo aku bisa naklukin hal itu," potong Nala sembari menatap Leon lembut juga dengan senyum di wajahnya.
"Ya sudah, aku percaya kok, sampai kapan kamu bakal kesakitan kaya gini?," tanya Leon khawatir.
"Aku ga tau," jawab Nala lirih.
Cup
Leon kembali mengecup dan mel*mat bibir Nala, membuat Nala terdiam dan memejamkan mata guna menikmati rasa ciuman itu, Leon memeluk tubuh Nala erat berharap rasa sakit itu dapat hilang dengan segera, Leon melepaskan ciuman nya dan melihat Nala kelelahan menahan rasa sakit yang kembali menyerang.
"Kamu harus tahan rasa sakitnya, kamu pasti bisa," ujar Leon menyemangati sambil tetap memeluk tubuh Nala.
"Hem," balas Nala.
Berkat Leon malam itu Nala bisa menahan rasa sakit di tubuhnya, ia merasa tulangnya semakin keras bahkan mungkin lebih keras dari baja, Leon dan Nala tertidur sambil berpelukan dan baju yang basah akan keringat.
"Ck, adikku ini ya. Mereka seperti pasangan kekasih saja," gumam Gusion yang ternyata melihat dan memperhatikan Nala juga Leon sejak awal.
Gusion memperhatikan mereka tanpa diketahui siapa pun, dia bahkan tak menyangka jika ada seseorang yang akan masuk ke dalam kamar adiknya hanya karna penasaran dan sudah mengenal adiknya dengan baik, Gusion makin penasaran dengan sikap Leon, dia mencoba mencari tau motif Leon mendekati adiknya hingga sedekat itu, tapi nihil!.
Leon melakukan itu semata mata karna dia sangat menyayangi Nala, bukan sebagai sahabat atau pun saudara tapi lebih sebagai hubungan pria dan wanita, 'oh ya ampun, adikku ini benar² ya,' gumam Gusion melihat hasil pencariannya tentang motif Leon mendekati adiknya.
Back to Nala and Leon
Tepat tengah malam, Nala berhasil menaklukan rasa sakit di tubuhnya, dia kelelahan saat ini, Leon juga mengantuk karna terus berusaha membantu Nala selama.... beberapa jam terakhir.
Wush...
Angin kembali berembus kencang, membuat tubuh Nala yang basah akan keringat kedinginan, rupanya Gusion masuk ke dalam kamar Nala, mengangetkan Leon tapi membuat Nala senang.
"Aku berhasil, kak," ujar Nala lirih dengan senyuman, dia tetap bisa melihat dengan jelas walau di kegelapan begitu pula Leon.
Leon duduk di dekat tubuh Nala yang mulai mengigil, dia menatap tajam Gusion dan mengeluarkan aura menekan, sayangnya tingkatan Gusion berada di atas Leon alias master karna itulah dia tak terpengaruh, Gusion menatap datar pada pria yang membantu adik kesayangan nya itu.
"Kau hebat, tapi masih dibantu orang lain, lain kali kakak akan memberimu pil lagi, dan kau juga. Jangan mencium adikku lagi," ujar Gusion dengan aura menekan yang memang pekat dan mengerikan tapi tetap tak membuat Leon gentar atau takut.
"Kau kakaknya?," tanya Leon dingin.
"Iya, kenapa?," tanya Gusion balik.
Mereka saling melempar tatapan tajam, Nala segera menyadari kalau atmosfer diantara Gusion dan Leon tidak bagus, dia mencari pengalihan lain seperti...
"Kak, sedang apa kakak disini?," tanya Nala.
"Kakak mantau kamu, dik. Dan tadi kakak juga liat semuanya lho," jawab Gusion dengan tatapan mengejek yang membuat Nala kesal.
"Apa hubungan kalian?," tanya Gusion yang kembali menatap tajam Leon.
"Sahabat," jawab Nala santai.
"Benarkah? hanya sahabat? kalo hanya sahabat mana mungkin dia mau ngebantuin kamu sampai segitunya," tukas Gusion cepat.
"Hum.. nanti lagi ya kak, Yue mau istirahat," ujar Nala pada kakaknya.
"Istirahat lah, dan kau, segera pergi dari kamar adikku," ancam Gusion pada Leon.
Gusion pergi dari kamar Nala tapi dia tetap memantau Nala dan Leon, Leon beranjak menutup jendela, pintu dan gorden supaya Nala merasa lebih hangat.
"Sudah lebih baik?," tanya Leon sambil mengelus wajah cantik Nala.
"Hem, makasih atas semua yang kamu lakuin hari ini," jawab Nala dengan suara lemah.
"Ya, tidak masalah. Masih butuh bantuanku?," tawar Leon di akhir kalimat.
"?," mengangkat sebelah alisnya.
Leon berdecak lalu berbaring di sebelah Nala, memeluk Nala seperti tadi siang, Nala dengan cepat mengerti maksud Leon dan kembali tidur di pelukan Leon.
Bersambung.....
~oOo~
Mereka dah tidur guys
Tungguin kelanjutan ceritanya ya, hoaaam..
__ADS_1
Dah malem, good night
Next eps! bye..