
Mei baru saja bangun karna dia tidur jam 2 pagi sedangkan White masih terlelap.
~oOo~
"Hoammm.... jam berapa ini?," gumam Mei sambil berdiri dari duduknya.
"Haish, sudah jam 4 pagi untung aku cepat bangun kalo engga sudah kena pukul kakak nih," sambungnya.
"Kau istirahat saja," sahut Nala dari arah pintu.
"Eh? kakak!," ujar Mei sambil menoleh, dia pun menghampiri Nala dan Leon.
"Kau pasti lelah, istirahat saja," ujar Nala sambil mengacak rambut Mei.
"Tapi kak, kalo aku ga olahraga nanti badanku kram gapapa ya ya ya, plissss🙏," rengek Mei manja.
"Boleh ya kak Phoenix, kak Lion," rengek Mei dengan puppy eyes nya, Nala dan Leon saling tatap sejenak.
"Ya sudah, terserahmu saja," balas Leon sambil mengacak rambut Mei.
"Kak Lion yang terbaik," seru Mei senang.
"Ck, aku ga diakuin nih," sindir Nala.
"Kak Nix juga kok, ehehe😁," balas Mei cengengesan.
"Hust.. senyum² sendiri kaya kesambet setan," ujar Leon membuat Mei cemberut imut.
"Ish... menyebalkan," balas Mei dengan wajah imut.
"Hahaha... udah sana," sahut Nala sambil tertawa kecil.
"Bye kak," balas Mei sambil menerobos keluar dari ruangan itu tapi.
"Kak," panggil Mei menghentikan langkahnya.
"Em?," balas Nala sambil menoleh diikuti Leon.
Cup
Cup
Mei mencium pipi Nala dan Leon.
"Dadah~," ujar Mei sambil berlari kencang ke arah halaman tempat anggota TBB latihan.
"Ha?? apa maksudnya?," tanya Leon bingung.
"Oh ya ampun, ada² saja," jawab Nala sambil mendekati laptop Mei dan White.
"Apa maksudnya sih?," tanya Leon makin bingung.
Bla bla bla
SKIP
Nala dan Dika pergi ke Greenland bersama sekretaris mereka masing², Lina dan Wang sik berhasil menjalankan misinya, Yi Fan dan Kakashi juga sama, Wendy ikut Nala ke Greenland, sisanya tetap di London.
Begitu sampai di bandara Greenland Nala dan Dika menjadi sorotan publik disana karna mereka menggunakan jet pribadi masing², style yang mereka pakai juga kebanyakan dari brand ternama seperti Gucci, dan lainnya.
"Welcome back, miss P and mr. D.F," sapa mafioso TBB cabang Greenland.
P.S : Jika di publik Nala dkk dipanggil hanya menggunakan nama inisial saja
•Phoenix = miss P
•Lion = mr. L
•Dragon = mr. D
•Fox = mr. F
•Devilfish = mr. D.F
•Werewolf = miss W
•Vampir = miss Vr
Karina juga ikut tapi dia ngurus bagian perairan karna dia suka berlayar, julukannya Angelfish/miss A.F.
Sekedar info Nala dkk sudah pernah ke Greenland untuk liburan dan mengatur TBB.
Back to story
Mereka menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi.
"Dimana pak Ran?," tanya Dika datar + dingin.
"Pak Ran sudah menunggu di markas sambil mengumpulkan para ketua sesuai perintah nona," jawab mafioso itu dengan nada datar tapi tetap sopan dan formal, Nala mengangguk pelan.
"Baiklah, bawa kami ke markas," ujar Dika setelah melihat reaksi dan kode dari Nala.
"Baik, silahkan ikuti saya," balas mafioso sambil berjalan dan memberi kode pada anak buahnya untuk mengawal rombongan Nala dan Dika.
±20 menit kemudian Nala beserta rombongan sampai di markas TBB, lebih tepatnya mansion tempat markas TBB, keamanan disini memang kuat tapi masih lebih kuat di markas pusat.
"Selamat datang kembali, nona Phoenix dan tuan Devilfish," sapa para mafioso yang berdiri berjejer di pintu masuk markas, Nala beserta rombongan hanya mengangguk.
"Senang bertemu dengan anda lagi nona Phoenix dan tuan Devilfish," sapa Ran ramah di depan pintu masuk.
"Senang bertemu dengan anda juga, pak Ran," sapa Wendy datar.
SKIP
__ADS_1
Malam harinya Nala, Dika, Ran, Wendy dan Panca (sekretaris pribadi Dika) sudah bersiap untuk menghancurkan Thunder sampai akarnya.
Nala sudah tidak peduli lagi dengan nyawa mafioso disana karna mereka semua bejat, baik wanita maupun pria sama² bejat, kenapa? wanita disana hanyalah wanita murahan dan ngejal*ng demi mendapat harta dan perlindungan, rencananya Nala akan membawa para tetua Thunder dan ketua mereka ke markas guna mengorek info.
Nala sudah tau apa yang akan mereka rencana kan jadi dia dengan mudah membuat rencana untuk menyerang habis²an bukan hanya itu, para mafioso di sana kebanyakan sudah tak punya keluarga kalaupun punya mereka pasti sudah dibuang atau dibenci keluarga sendiri, Thunder juga sering berbuat ulah dan membuat masyarakat geram, karna itulah Nala ga ragu buat ngancurin mereka sampai ke akarnya.
'Nona, saya dan Kei mendapat banyak info baru, setelah misi Farel dan Shin berhasil dan Thunder mendapat beritanya, mereka berusaha untuk menjalin kembali kerjasama lagi dengan BlueSam tapi hasilnya nihil, rencana mereka selanjutnya adalah menjalin kerjasama dengan musuh besar BlueSam, meminta kerjasama dengan 2 musuh besar BlueSam yaitu Yakuza atau Zardax, 2 mafia di bawah kekuasaan TBB.
Tentu saja permintaan kerjasama mereka ditolak mentah² oleh Yakuza dan Zardax, BlueSam sudah berhasil direkrut TBB, kini TBB menguasai perairan kami akan memberikan sebagian wilayah pada nona Angelfish, Thunder berhasil ter-block oleh Fani dan White, mereka tak bisa meminta bantuan pada siapa² lagi, sekian laporan kami. Semoga anda suka
-Lani''
Nala mengingat kembali e-mail yang dikirim Yi Fan, dia juga sudah paham seluk beluk markas Thunder dari data yang dikirim White, siapa saja sandera yang pantas di rekrut dan di selamatkan, Nala juga sudah tau tentang semua kelakuan Thunder selama ini.
Thunder yang sudah berkiprah di dunia gelap selama lebih dari 10 tahun kini harus hancur hanya karna mengusik TBB, Nala sudah siap untuk mengumumkan pada mafia lain jika Thunder telah hancur dan menunjukkan betapa mengerikannya TBB jika sampai terusik oleh mereka.
"Woi, lo udah siap kan?," tanya Dika menyadarkan lamunan Nala.
"Ya," jawab Nala mantap.
Nala dan Dika sedang dalam perjalanan menuju markas pusat Thunder, cukup jauh, mereka hanya membawa sedikit orang, ya... jumlahnya bisa dihitung dengan jari, bagaimana tidak? hanya Nala, Dika, Wendy, Panca dan Ran saja yang pergi, Nala tau ada lebih dari 1000 orang di markas pusat Thunder apalagi sejak seminggu yang lalu mereka sedang mengadakan rapat pertemuan di markas pusat.
Mafia Thunder berkuasa di sebagian Greenland, London dan di beberapa negara/kota termasuk Indonesia yang sudah berada di bawah kekuasaan TBB, nama TAC/The Assassin Club juga tak kalah mendunia lho.
Semua anak cabang Thunder di negara lain sudah diringkus polisi atas bantuan TBB, kini mereka hanya memiliki markas pusat di Greenland saja, hm... hanya dalam hitungan bulan saja Thunder sudah di ujung tanduk.
"Nona, kita akan bagaimana?," tanya Wendy begitu sampai di 2 km dari markas Thunder, kenapa 2 km dari markas Thunder karna Nala yang menyuruh mereka berhenti.
"Kita datang baik² pada mereka," jawab Nala santai.
"Kalian ikuti saja perintah saya, perhatikan sekitar, saya akan menggunakan telepati jika ingin berbicara, kalian akan mengikuti permainanku, jadilah pemain yang baik ya," sambungnya dengan senyum licik yang samar².
"Lo yakin?," tanya Dika sambil memandang keluar jendela.
"Tentu, jika rencana saya tidak berhasil maka saya akan jalankan rencana cadangan," jawab Nala sambil menatap keluar jendela, dia menatap seseorang yang berada di atas pohon, mengamati gerak gerik mereka.
Wush...
Angin berembus kencang, sudah 5 menit mereka berhenti tapi Nala masih setia menatap orang itu, akhirnya yang Nala tunggu², orang itu datang sendiri dan masuk ke dalam mobil lewat salah satu kaca jendela mobil.
"Kau Phoenix?," tanyanya dingin dengan suara khas.
"Ya, saya Phoenix," jawab Nala santai dan mengabaikan aura yang dikeluarkan orang itu.
Wendy, Panca dan Ran jelas kaget tapi Dika engga karna dia juga tau kalo Nala merhatiin orang itu, orang di dalam mobil itu juga ga terpengaruh sama aura menekan dari orang itu.
'Keren juga orang² ini,' batinnya.
"Ga usah ngomong sama arwah," tegur Dika datar tanpa menoleh, sebenarnya dia hanya membaca dan menebak pikiran si orang itu doang.
'Busyeeett... keren, tau gini gue ikut mereka aja,' batin nya kagum.
"Nix, kenapa kau menunggu orang ini?," tanya Dika bingung sambil menoleh dan melirik si tamu ini sejenak.
"Pegasus," panggil Nala membuat si cowo tercekat.
"Huh... nama saya memang Pegasus tapi bagaimana anda bisa tau?," tanyanya bingung dan penasaran.
"Itu tidaklah penting, kau mau bergabung atau tidak? jika mau kau akan mendapat konpensasi yang bagus," jawab Nala acuh.
"Konpensasi apa?," tanyanya lagi.
"Kerjakan dulu misimu maka kau akan tau," jawab Nala.
"Baiklah, apa misiku?," tanyanya.
"..................," Nala membicarakan misi yang akan Pegasus lakukan.
Kini mereka berada di dalam markas Thunder, di ruang rapat dan disambut dengan cukup 'baik' oleh penghuni markas itu.
"Nona Phoenix, sebenarnya apa yang anda inginkan?," tanya bos besar Thunder.
"Thunder cabang Indonesia telah mengusik dan membuat masalah dengan Fox, saudara kami. Kami hanya ingin sesuatu saja," jawab Nala santai dan terdengar angkuh juga kesal (kesalnya dibuat buat itu mah).
"Sesuatu apa?," tanya bos besar Thunder.
"Konpensasi dari apa yang dilakukan kalian selama ini," jawab Nala perlahan tapi terdengar jelas di telinga mereka.
"Apa maksud anda?," tanya bos besar Thunder dengan nada takut yang disembunyikan.
"Saya sudah tau semuanya, anda bertanya saya ingin apa bukan? saya ingin tau siapa backing kalian?," tanya Nala tetap dalam posisi santainya, dia mengamati jika para tetua Thunder merinding begitu mendengar kata 'backing'.
.
.
.
Hening yang mencekam membuat bulu kuduk berdiri, Nala duduk dengan santainya sambil menopang kepalanya dengan tangan kiri dan menatap datar tetua² Thunder, senyum smirk tipis menghiasi wajah Nala yang tertutup topeng, mata indah ungu-birunya terlihat cukup mencolok diantara kulit putihnya.
Dika duduk di sebelah Nala dengan posisi santai yang biasa dia lakukan, menatap malas para tetua Thunder dengan mata hitamnya, dia tak habis pikir tentang apa yang Nala lakukan, Dika hanya memasang wajah datar dan acuh.
Ran dan Panca berdiri tepat dibelakang kursi itu, memperhatikan sekitar dan berwaspada, 5 sniper Thunder sudah siap membidik Nala dan Dika, Wendy di dalam mobil untuk mengawasi lewat drone, Pegasus mulai menjalankan misinya.
Nala menguap tanda sudah mengantuk, ya jelas ngantuk, dia hampir ga tidur 2 hari 2 malem.
"Sudahlah saya tidak ingin berbasa basi lagi, Thunder. SAYA INGIN KEHANCURAN THUNDER," ujar Nala datar sambil menekankan kalimat terakhir dari ucapannya, membuat semua orang kecuali Dika merinding.
Senyum smirk di wajah Nala telah hilang sepenuhnya, diganti dengan wajah datar penuh wibawa, terlihat dingin dan acuh tapi tak bisa menghilang kan kecantikan nya walaupun sudah ditutupi topeng dan kekejaman.
Gleg
Hampir semua orang di ruangan itu ketakutan dengan ancaman Nala sampai² menelan ludah kasar, Nala memejamkan matanya setelah memberi kode pada Dika.
__ADS_1
Dika, Panca dan Ran ikut memejamkan mata setelah mendapat telepati dari Nala.
Sring
Dika membuka matanya cepat dan membuat hawa panas, Panca dan Ran tetap memejamkan mata walau ikut merasakan hawa panas di sekeliling Dika, sesaat Dika melirik Nala yang terpejam.
'Lakukan!,' perintah Nala menggunakan telepati pada Dika.
Perlahan hawa panas Dika membuat sebagian besar anak buah Thunder mati karna dehidrasi yang berlebihan, tentu saja para tetua tidak dibuat mati oleh Dika tapi mereka merasakan panas yang begitu membakar.
'Cukup, mereka kehilangan 4000 orang, kemampuan mu lumayan kawan,' perintah Nala menggunakan telepati.
Dika langsung menghentikan aksinya dan merubah hawa disekitarnya menjadi normal kembali, Dika melihat 200 orang mati di ruangan itu, Ran dan Panca membuka mata dan melihat hal yang sama seperti Dika.
'Kenapa ga dibunuh semua aja sih?,' protes Dika.
'Kaga usah protes, gue punya rencana, bro. Jadi pemain yang baik, ok,' balas Nala.
'Ck, gue ga ngerti jalan pikir lo,' pikir Dika yang tentu dapat didengar Nala.
Nala kembali memberi kode menggunakan telepati, Ran maju dan berkata di hadapan para tetua Thunder tanpa rasa takut.
"Sudah jelas bukan? jika Thunder tidak hancur maka kami yang akan membuat Thunder hancur malam ini juga," ancam Ran datar tapi di setiap katanya selalu mengeluarkan aura menekan yang kuat.
"Hahahaha.... kalian pikir bisa menghancurkan Thunder, hah?!," seru salah seorang wanita bodoh diantara wanita yang sedang duduk di tempat tak jauh dari tetua² Thunder.
Yang lain juga mulai menyahut dengan tawa yang meledak, tapi ketua/bos besar Thunder tidak tertawa, justru dia malah mengamati Nala dengan intens, Nala sendiri tampak acuh dengan semua olok²an mereka, Dika tak mempedulikan ocehan² orang bodoh yang akan mati itu, Panca dan Ran hanya mengangkat bahu lalu berdiri di belakang kursi Nala dan Dika dengan patuh.
"Silahkan tertawa sepuasnya, karna sebentar lagi kalian akan mati," ujar Dika datar membuat orang² yang sebelumnya tertawa menjadi tercekat dan merinding.
"Nona Phoenix, bukankah anda sudah setuju jika Thunder akan menjadi koneksi TBB?," tanya salah seorang tetua Thunder dengan keringat dingin di tubuhnya.
"Oh iya, itu sebelum saya tau apa yang telah dilakukan Thunder, dan sekarang saya tidak mau kalian menjadi koneksi saya lagi," jawab Nala tanpa membuka matanya dan tetap dalam posisi santai.
.
.
Hening lagi
"Sudahlah, sudah terlambat untuk kalian," sambung Nala sambil mengibaskan tangan kanannya.
"Yeu... lo yakin? biar gue aja ya," balas Dika begitu melihat dan memahami kode Nala, Dika berdiri dari duduknya dan memasang tampang garang disertai senyum smirk yang terlihat begitu menyeramkan.
"Ingatlah saya mau informasi, untuk orang yang tidak berguna kuberikan padamu saja," ujar Nala tetap santai.
"Sisakan tetua dan bos Thunder itu, mereka berguna untukku," sambungnya.
"Oh ok², no problem," balas Dika sambil berjalan mendekati para mafioso.
'Pak Ran, Panca. Cover Devilfish,' perintah Nala dengan telepati.
"Baik, nona," jawab mereka pelan secara bersamaan.
Ran dan Panca memusatkan perhatian mereka pada Dika yang sedang membantai orang² tak berguna Thunder.
Aaaaa!!!
Tolong!
Ampun...
Suara teriakan pria dan wanita mendominasi backsound ruangan itu, para tetua dan bos² Thunder merasakan rasa ngeri dan tekanan besar dari Dika.
"Anda sudah lihat bukan? saya akan menghancurkan Thunder bagaimana pun caranya," ujar Nala datar sambil menatap mereka dan menyunggingkan senyum licik.
Pertempuran di markas Thunder terjadi, darah segar berceceran dimana mana, Nala masih duduk dengan posisi santainya, tersisa bos besar Thunder dan para tetua Thunder, tangan mereka terikat ke belakang dan mulut mereka di lakban, oh iya mereka juga pingsan.
"Mau kita apakan mereka?," tanya Dika.
"Kita bawa ke markas pusat," jawab Nala sambil berdiri dan meregangkan tubuhnya.
"Pak Ran," panggil Nala.
"Ya, nona," jawab Ran sigap.
"Suruh Mita untuk menyiapkan jet-ku, kita berangkat sekarang," perintah Nala.
"Anda tidak beristirahat dulu, nona?," tanya Ran.
"Tidak usah," jawab Nala sambil merapihkan pakaiannya.
Pada malam itu Nala, Dika, Wendy dan Panca membawa bos besar dan para tetua Thunder ke kota C, Indonesia.
Bersambung....
~oOo~
Hallo readers! apa kabar semuanya??? sayang banget kemaren commentnya sepi😔, tapi ga masalah, Author kan baek😊
Author mau ngingetin para readers buat selalu jaga kesehatan ya, jangan sampe sakit nanti Author sedih😖, corona udah mulai capek nih jangkitin orang wkwk, jadi... buat readers dimanapun berada walaupun Jakarta, dan beberapa daerah lain memulai kegiatan 'new normal' yah kalian tau lah artinya, kita harus tetap jaga kesehatan!.
Jangan bandel
Jangan lupa cuci tangan
Pake masker kalo keluar rumah
Budayakan hidup sehat
Jaga diri baek²
Sekian ocehan Author terima kasih
__ADS_1
Next eps! bye..
(Revisi!! Author memutuskan untuk mengganti Pegasus menjadi perempuan walau tampilannya tetep tomboy.)