
"Oo... Apa?!!," pekik Satya kaget lalu menghela napas kasar, dia pun menyeringai yang membuat teman²nya kecuali Dean dan Nesya kembali terkejut.
~oOo~
"Boleh kan ya?," tanya Satya memastikan tanpa menoleh ke arah Nesya, dia terus menatap para penyerang yang siap dengan AK47 masing².
"Silahkan, kalo masalah peluru, yang disini aman gue yang jaga. Habisin mereka tapi jangan sampe mati, kita masih butuh info soalnya habis itu lo bisa bunuh mereka, terserah mau pake senjata atau tangan kosong," jawab Nesya datar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Nice Queen... ntar gue traktir wine di barnya Vyone," balas Satya membuat teman²nya yang lain terkejut kecuali Nesya dkk + Dean dan Bagas tentunya.
"Good job man," balas Vyone sambil memberikan jempolnya diikuti Lyra.
Satya langsung melepas atribut sekolah yang dia kenakan, berhubung hari ini hari jum'at jadi dia pake atribut pramuka, Satya pun menyiapkan kuda² dan mulai bertarung dengan tangan kosong, menerobos hujan peluru tanpa rasa takut, ya jelas ga takut kan dia leader mafia DinoY.
Beberapa kali tembakan meleset ke belakang kelas tapi sebelum menyentuh orang² di belakangnya Nesya sudah menghalau peluru itu dengan barrier yang melindungi nya secara transparan, semua orang kembali terkejut sedangkan Dean lagi mempersiapkan sesuatu entah apa itu.
"Mati kau bocah tengik!!," seru si B kesal.
"Haha... kau akan mati dengan cepat paman jelek dan bodoh😈!!," seru Satya mengejek membuat si B kesal setengah mati.
Satya membuat tangan 3 orang di depannya patah hanya dengan pukulan yang begitu keras miliknya, suara erangan kesakitan kembali terdengar, Satya makin ganas, gerakannya malah makin cepat dan gesit, dia bahkan ga dapet 1 tembakan sama sekali dan dia juga cuma dapet beberapa pukulan yang buat mukanya memar.
5 menit kemudian
Satya selesai menghabisi lebih tepatnya membuat mereka babak belur sesuai permintaan Nesya, Satya pun kembali ke bagian belakang kelas, pakaiannya kini berantakan malah membuat kesan keren dan bad boy di mata ciwi², Bagas sampe iri.
"Aelah gue juga pengen tenar dong," keluh Bagas.
"Tadi lu kaga bantu," celetuk Satya kesal.
"Bantu elo? ck, yang ada gue juga ikutan babak belur karna lo ga terima trus marah. Ga inget kejadian waktu itu? gegara elo gue masuk RS seminggu😡😒," balas Bagas makin kesal.
Kejadian yang dimaksud Bagas adalah kejadian beberapa bulan yang lalu dimana saat itu Bagas sedang menjahili Satya, Satya yang saat itu sedang bersama Lyra berniat untuk menggoda Lyra tapi malah kena timpuk sepatu milik Bagas, langsung saja dia marah dan mengejar lalu memukuli Bagas sampe babak belur dan masuk RS seminggu, sejak kejadian itu ga ada yang berani ngusik Satya kecuali Nesya dkk dan Leon dkk sama orang beg* yang berani ngusik Satya.
"Kejadian itu salah lu ogeb😒," kesal Satya.
Nesya melangkah keluar barrier transparan dan menemui para penyerang yang sudah tergeletak di bawah, Nesya berjongkok di depan mereka dengan wajah datar.
"Darimana kalian berasal?," tanya Nesya datar.
"...."
"FAST!," Nesya menekan kata 'fast' dengan tekanan suara dan aura yang luar biasa menakutkan bagi yang memiliki ketahanan rendah seperti tingkat Wood sampai silver menengah.
"B b black b bear," mereka gemetar dan menjawab dengan suara terbata.
"Tujuan?."
"M mendapat b budak b baru d da..n m men c coba m mem membuka b brang k kas m milik b bos l la ma."
"Brangkas?."
"Y ya."
"Jumlah?."
"J jum lah or orang d di sini ad a 5000 or..ang."
"Pemimpin?."
"B bos m mu..da."
"Nama?."
"V vure r ram...on."
"Senjata?."
"A AK47, g granat, b bom as..ap, s stun gun........ m ma maaf s say a t tak t tau l lag gi."
"Jendral kali ini?."
"Indrafen."
Bukan pria tadi yang menjawab melainkan seorang pria yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam kelas ini, Lyra, Vier dan Vyone sedikit terkejut beda dengan Nesya yang tetap tenang.
"Ternyata kau."
Nesya berdiri setelah mengatakan itu, para penyerang mengernyit, itu bukan jendral mereka ataupun orang yang mereka kenal.
"Ada apa?," tanya Nesya.
"Kau tak merindukan ku hum? padahal kita tak bertemu sejak 5 tahun yang lalu, tapi kau tak memeluk ku seperti orang lain { bahasa Jepang }," jawab nya ga nyambung dengan suara yang dibuat seolah kecewa.
__ADS_1
Nesya mendecakkan lidahnya lalu berbicara dengan nada dingin dan aura menekan yang sangat kental.
"Katakan."
"Baiklah², jendral Indrafen, diambil dari nama jendral yang sering terdengar di dalam film. Kemampuan tempurnya cukup besar tapi masih dibawah Dika, mentalnya cukup kuat tapi belum sekuat Haris, ketahanan fisik dan mental termasuk rata² { bahasa Jepang }," jelasnya menggunakan bahasa Jepang yang kental.
"Yang menjadi spesial adalah kemampuan khusus karna dia seorang manusia percobaan, ngomong² mereka juga manusia percobaan, jantung mereka terbuat dari kaca tebal. Kemampuan khususnya berupa dia bisa memanipulasi keadaan sedemikian rupa { bahasa Jepang }," lanjutnya serius sambil menunjuk para penyerang yang terkapar babak belur dengan dagunya.
"Jantung kaca? hanya 1 orang yang bisa melakukan nya," gumam Nesya pelan yang di dengar Lyra karna pendengarannya sangat tajam seperti serigala.
"Jantung kaca?," gumam Lyra sangat lirih dengan dahi berkerut.
"Astaga... seharusnya kita tau sejak tadi," Lyra berkata begitu membuat yang lain terkejut dan bingung.
"Nesya! biar ku perintahkan bawahanku untuk menangkapnya, Ok!," seru Lyra yang langsung diangguki Nesya.
Lyra berjalan ke arah jendela yang lumayan jauh dari teman²nya saat itu, dia bertelepati dengan penjaganya yang memang 24 jam selalu mengawasinya kecuali saat Lyra berada di rumah atau mansion, Lyra memerintahkan dia pergi ke pulau Fluo, pulau terpencil yang berada di selatan Indonesia.
Untuk apa? untuk menemui ilmuwan bernama dokter Aze, satu-satunya orang yang bisa mengoperasikan jantung kaca, karna kemampuannya itu membuat dia mengasingkan diri di pulau Fluo tapi siapa yang menyangka berhasil menemukannya dan bersedia memberikan manusia sebagai objek penelitian.
"Sudah kuperintahkan, ayo kita selesaikan permainan ini dengan cepat. Aku sangat lapar tau," rengek Lyra dengan wajah menggemaskan tapi tidak bagi Nesya dkk yang udah tau tentang itu.
"Tunggu dulu! dari yang sebelumnya kudengar kalau tujuan mereka adalah membuka brangkas? itu benar bukan?," tanya Vyone yang dalam mode berpikir, Nesya mengangguk.
"Untuk apa mereka melakukan itu? untuk kekayaan kurasa mereka tak perlu mengkhawatirkannya karna usaha mereka ada dimana mana, selain itu mereka memiliki banyak orang untuk dijadikan budak, untuk apa lagi mereka membuka brangkas dan mencari budak?," pertanyaan yang dilontarkan Vyone dengan cepat itu membuat Nesya dan assassin di sampingnya berpikir kembali.
"Eum... mungkin ada sebuah rahasia dibalik itu?," tebak Lyra.
"Itu sudah jelas Lyra, lagipula yang kita butuhkan saat ini adalah rahasia apa yang di cari Black bear, kuharap otakmu menjadi jernih secepatnya😒," balas Vier datar membuat Lyra kesal, sangat kesal.
"Kurasa karna kekayaan mereka menipis," sahut Dean.
"?."
"Why?," tanya Vyone.
"Ah gue inget! beberapa hari yang lalu DinoY mengambil atau merebut sebagian besar penghasilan black bear membuat mereka mulai terpuruk dalam kebangkrutan," jawab Satya menyahut.
"Lagipula mereka hanya mafia yang banyak orang dan uang, sekarang mereka mungkin lagi ngumpulin orang buat nyerang mafia kuat yang kaya," sambung Dean datar, dia menghampiri Satya sambil memberikan 2 belati.
"Darimana lo dapet belati ini?," tanya Satya.
"Huh... bukannya kalian nimbun senjata di lemari belakang?," tanya Dean datar setelah menghela napas pelan membuat Vyone teringat kembali.
"Eh iya, nji*r gue lupa," jawab Vyone dengan cengiran khasnya.
"Sip!," balas mereka serentak sambil memberikan jempol pada Nesya.
"Brarti kita ga main dong?," tanya Arya dari mini handsfree dengan kecewa.
"Yah... padahal gue pengen liat lautan darah," sahut Dika yang ikutan kecewa.
"Intinya penyerangan kali ini buat latihan GoD squad," balas Nesya mutlak.
Seketika Leon, Dika, Arya dan Feter merasa kecewa, jujur saja sudah lama mereka tak menyaksikan lautan darah yang begitu menyenangkan dan menggiurkan, sebagai mafia tentu menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka apabila melihat lautan darah, membunuh atau bermain wanita.
Tapi selama ini mereka selalu dilarang bermain wanita, seperti **** yang dilarang keras oleh Nesya, bukan hanya mereka tapi semua anak buah Nesya juga dilarang, alasan? nanti HIV bukankah pel4cur yang ada di bar selalu melayani pria lain? itu membuat Nesya jijik.
Back to story
"Tapi ntar malem kita main," lanjut Nesya membuat keempat orang yang berkomunikasi dengannya kegirangan.
Nesya memutus komunikasi itu dan tersenyum samar.
Nesya kini dihadapkan dengan pria yang dia kenal, seperti assasin karna memang seorang assasin, pria yang seumuran dengan Leon dan Arya, pria yang tak bertemu Nesya sejak 5 tahun yang lalu.
"Jadi? masih ada yang ingin kau katakan? { bahasa Jepang }," tanya Nesya.
"Tentu, ini berhubungan dengan kematian kedua orang tuamu { bahasa Jepang }," jawab nya membuat Nesya menegang di tempat.
Grep
Nesya mencengkram kerah pakaian milik pria di depannya dengan kuat, membuat teman²nya kembali terkejut, Nesya menatapnya tajam, sangat tajam membuat pria di depannya bergidik ngeri.
"Katakan!."
"Baik² tenang dulu dong. Begini, informasi yang kudapatkan lumayan berguna untukmu, kematian kedua orang tuamu adalah perbuatan seseorang bukan? setelah kucaritahu ternyata White Fheater hanyalah bidak { bahasa Jepang }," jelasnya.
"....."
Nesya diam mendengarkan, pikirannya melayang entah kemana, Nesya sendiri sudah menduga jika White Fheater hanyalah bidak dari seseorang yang memang sangat menginginkan kehancuran keluarganya.
"Orang yang mendalangi semua ini adalah Andy { bahasa Jepang }," lanjutnya membuat Nesya makin mengeratkan cengkraman nya di kerah pria di depannya.
__ADS_1
'Sial*n kau Andy!,' seru batin Nesya dengan amarah yang memuncak.
"Tenang dulu kawan, Andy hanyalah bidak yang meneror karna kau dan Leon sudah membunuh rekan sekaligus adik kesayangannya { bahasa Jepang }," lagi² ucapannya membuat Nesya marah besar.
Ternyata benar apa yang Nesya pikirkan selama ini, penculikan saat dia masih balita yang dilakukan para ter**is, pembantaian sadis di dalam kapal, perbudakkan yang melibatkan adik Leon, kematian kedua orang tuanya, bungkamnya sang kakek dan guru²nya, kemarahan kakeknya beberapa tahun yang lalu, semua itu saling berhubungan.
Tangan Nesya mengepal erat, wajahnya memerah menahan amarah, bola matanya perlahan berubah tapi karna dia menggunakan softlens jadi ga terlalu terlihat, pria di depannya tentu tau akan kemarahan Nesya, dia tak bisa menahannya karna ini adalah fakta.
"Andy juga seorang manusia percobaan { bahasa Jepang }," kata² pria itu membuat Nesya terkejut tapi dia paham mengingat beberapa tahun yang lalu dia sempat bertarung dengan pria bernama Andy.
Saat itu Andy terluka parah dan jantungnya hampir pecah, entah di bawa siapa dia bisa mendapatkan jantung kaca, Nesya hanya meninggalkan Andy karna saat itu dia sedang sakit, sekarang semuanya mulai terlihat, jelas! sangat jelas ada orang yang membenci keluarganya.
"Hah.. aku akan bertemu dengannya lagi ya?," gumam Nesya sambil melepas kan cengkraman nya pada kerah pria di depannya itu.
"Hanya itu yang ingin kuberitahukan padamu," ujarnya kembali menggunakan bahasa Indonesia.
"Ya ya ya, Arsene. Kuharap kau tak mengecewakanku," balas Nesya sambil menepuk pelan pundak pria yang dia panggil Arsene.
"Tentu, kau tak mau memeluk sepupu kesayangan mu ini ha?," godanya.
"Ck, selalu saja seperti ini," keluh Nesya lalu tersenyum tipis.
Arsene yang merupakan sepupu kesayangan Nesya pun ikut tersenyum di balik penutup wajahnya, Nesya memeluk Arsene guna melepas kerinduan selama ini, Arsene adalah seorang assassin yang hidup di antara dimensi.
Dimensi modern atau dimensi kultivator yang biasa di sebut dunia persilatan.
Selain itu ada dimensi lainnya yaitu dimensi Flame, dimensi yang berupa dunia fana yang terbuat dari pemikiran seorang dewa, dimensi Allion, dimensi hampa yang menampung banyak bahan bangunan, semua sampah luar angkasa di buang kesana.
Ada juga dimensi Lox, dimensi tempat Nesya melarikan diri dari masalah yang sering di hadapinya, dimensi Lox sendiri memiliki keindahan alam yang luar biasa indah, disinilah sebuah pagoda milik twins Tian dan Tianlong berdiri, juga sebagai tempat Nesya berlatih.
Dimensi Brilea, dimensi yang dimiliki wanita cantik bernama nyonya Lea, kehidupan disana ga berbeda jauh dengan dunia persilatan dan masih banyak dimensi lainnya.
Seperti pemikiran Nesya :
'Dunia ini tak sesederhana yang kalian pikirkan, ada dimensi lain dengan kehidupan lainnya yang tersembunyi dengan batasan dimensi, dunia ini adalah dunia paralel yang saling berhubungan.'
Back to story
Arsene memeluk dan mencium pelipis Nesya, Vier dan Lyra yang memang udah tau kalo Arsene itu sepupu kesayangan nya Nesya hanya bisa tersenyum maklum sedangkan Vyone? dia menggelengkan kepalanya menyaksikan pemandangan yang membuat jiwa kejombloan meronta ronta.
"Aelah.. jiwa kejombloan gue meronta ronta," keluh Anjani dengan nada dibuat kecewa.
"Oh iya memang kalau Leon liat kita kaya gini dia ga cemburu gitu?," goda Arsene berbisik.
"Buat apa? toh kita berdua cuma sahabatan," balas Nesya sambil melepaskan pelukannya.
"Yah... STM kali," goda Arsene.
"😕?," tatapan Nesya mengartikan 'apa?'.
"Sahabat tapi mesra, eaa," Arsene terus²an menggoda Nesya.
"Sudahlah, jika kau tak ada keperluan lagi lebih baik kau pergi," usir Nesya membuat Arsene cemberut.
"Kau mengusirku?," tanya Arsene cemberut.
"Iya, nanti kalau ada info lagi segera temui aku," perintah Nesya mutlak.
"Baiklah, jaga dirimu ya. Sampai jumpa, sepupu kesayangan ku," ujar Arsene.
Cup
Arsene mencium puncak kepala Nesya lalu menghilang dari pandangan semua orang, lagi² mereka heran.
"Loh? loh? dia kemana?," tanya Rayen bingung.
"Ya pulanglah," jawab Lyra santai.
"Yok, kita bantai mereka, lagian udah pada siap semua kan?," ajak Dean yang bersemangat.
"Kalian pergilah, gue sama 3 curut bakal adain pertemuan sama Leon dkk, sampai jumpa, jangan sampe mati, Satya dan Dean awasi mereka, ok," perintah Nesya mutlak.
"Iye dah," balas Satya dan Dean malas.
"Woy! ayo pergi!," ajak Nesya.
"Elah.. tadi lu nyebut kita 3 curut kan? nyebut nama makanya biar tau," balas Vyone tapi ikut pergi dengan kecepatan tinggi ke arah kelasnya Leon, 8E tanpa di ketahui para penyerang.
"Hilih bacot kau!," balas Lyra, dia ikutan pergi dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan Vier langsung pergi tanpa menghiraukan kicauan Lyra dan Vyone, Nesya pun sudah menghubungi Arya, Feter, Leon dan Dika untuk berkumpul di kelas 8E.
Bersambung...
__ADS_1
~oOo~
Mereka ngapain cuy? next!!