My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Vampir?


__ADS_3



👆Studio 1


Mereka semua udah siap buat nonton film entah apa yang akan mereka tonton.


"Woi! kita mau nonton apaan si?," tanya Dika saat film hampir di mulai.


"Liat aja napa, protes mulu lu😒," jawab Vier kesal dan datar.


🎬Film pun dimulai


Semua orang yang melihat film itu kecuali Nala terkejut bukan main, bagaimana tidak? itu live guys! LIVE!! di sebuah penjara, lebih tepatnya penjara di ruang penyiksaan Nala.


"Anjhirrr....," gumam Dika ternganga.


"Aaaa!! mataku!," seru Karina tapi tetep menonton.


"Wuih... mantap cu*," ujar Vier antusias.


Mata Author ternodai guys, bagaimana tidak? yang diputar merupakan film langsung di ruang penyiksaan Nala, film tentang sekelompok remaja laki² yang di beri afrosidiak/obat perangsang, di tempatkan di satu tempat, eum... satu sel maksudnya.


Di sel itu ada beberapa ranjang untuk 2 orang (double size), anjhir... mereka kaya Gay njay, saling ngemut, hiii... ena ena kok cowo ama cowo.


"Bwahahahaha!!!," Nala malah tertawa keras sampe keluar air matanya.


"Kamu suka yang kaya gituan ya?," tanya Leon sedikit ngeri dan jijik.


"Mereka itu lucu tau," jawab Nala tanpa menoleh ke arah Leon.


Leon berpindah duduk di sebelah Nala dan Nala ga keberatan, jadi sebelumnya Vier, Vyone sama Karina duduk di sofa besar, di bawah sebelah kiri, barengan guys. Lyra duduk di atas pojok kiri, Arya di sebelah Lyra, Dika di sofa besar bareng Feter. Nala dan Leon kursi sisanya.


"Lucu sih tapi jangan sering² nonton kaya gitu, ntar jadi sangean lagi," saran Leon lembut.


"Santai aja, kamu sama aku itu lebih mesum kamu tau," balas Nala sambil tersenyum mengejek ke arah Leon.


Deg!


'Wtf! lagi? apa²an ini?, senyum Nala membuat jantung ku berdetak lebih kencang? argh!!! membingungkan sekali!,' batin Leon bingung.


Saat film selesai Dika langsung berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari bioskop pribadi, tentu saja kelakuan Dika membuat di pandang bingung oleh teman²nya.


"Lu kenapa, Ka?," tanya Lyra bingung setelah keluar dari bioskop pribadi dan duduk di sofa ruang tengah.


"Nj*irr.. masa iya gue tegang gegara nonton gitu doang," jawab Dika sembari menjatuhkan diri di sofa.


"Ahahaha...," teman²nya malah tertawa mendengar pengakuan Dika.


"Lu gitu doang udah tegang, lemah iman lu," ejek Arya di sela tawa.


"Ho'oh, payah lu," ujar Vier ikut mengejek.


"Lu mau cowo² tadi? yok ikut gue ke tempat penyiksaan," ajak Nala dengan nada mengejek.


"Hi.. najis Nal, please gue masih normal," rengek Dika.


"Huft.. iya nyantuy ae lah, ayo gue tunjukkin. Tenang aja gue ga bakal ngasih elo ke mereka, mereka emang gay tapi mereka ga bakal ngapa²in elu kok," ujar Nala sambil berdiri.


Mereka pun pergi ke ruang penyiksaan tengah, milik Nala, yang tersadis. Teman² Nala kecuali Leon terperangah, pasalnya mereka baru pertama kali masuk ke tempat itu sedangkan Leon udah pernah, bisa kalian bayangkan? banyak sel berjajar rapi di lorong dengan pencahayaan neo itu.


Ctak


Nala menjentikkan jarinya dalam sekejap banyak lampu menyala terang, tempat yang cukup bagus dan bersih, cewe emang beda, lebih sadis.


Nala mulai berjalan menyusuri setiap sel, sel² itu berukuran kurang lebih 2 x 2 meter dengan batas seperti sel biasa tapi ada ranjang single size yang terlihat nyaman, wastafel juga toilet yang bisa di katakan cukup bersih, dinding dan pintu sel nya terbuat dari baja dan logam yang Nala temukan, sangat⁴ kuat bahkan debu angkasa ga berpengaruh sama sekali, meteor? bisa tapi mungkin agak bengkok dikit.


"Lah? ini ruang penyiksaan atau real estate? rapi dan bersih juga terawat," tanya Dika mengamati sekitar.


"Oh ya?," tanya Nala dengan seringaian licik.


Ctak


Nala kembali menjentikkan jarinya dan terlihatlah hampir di setiap sel ada orang yang di ikat dengan keadaan kedua tangan di ikat ke atas dan kaki di rantai, Teman² Nala kecuali Leon bergidik ngeri melihatnya bahkan Karina juga Vier yang biasanya psyconya kumat kalo liat kaya gini.


Orang² yang ga terikat memiliki badan yang penuh luka cambuk dan berbau amis, itu karna setelah di cambuk/di siksa mereka di celupkan ke air garam tentu itu membuat mereka berteriak kesakitan bagai kesetanan, rata² orang di sel itu adalah orang TBB yang mencoba berkhianat juga mata² yang ketarik masuk jaring magnet khusus buatan TBB/B'B company, ck, Nala di lawan.


"Hi... ngeri, sadis banget," gumam teman² Nala kecuali Leon.


"Ayo jalan, mau sampai kapan disini?," tanya Leon.


"Ayo jalan lagi," ajak Nala menanggapi ucapan Leon.


Mereka kembali berjalan, di tempat itu hanya ada ±10 sel pribadi yang menghimpit lorong dengan pencahayaan Neo, sel² itu cuma terisi setengahnya, asal mereka tau saja ada begitu banyak sel yang di siapkan Nala untuk hal lainnya.


Setelah melewati lorong itu mereka sampai di tempat selanjutnya, tempat penyiksaan tahap 2, di tempat ini ada 6 buah sel panjang, ukurannya 3 x 6 meter, dengan ranjang double size sekitar 8 ranjang di setiap sel, di setiap sel pula terdapat cowo² dan cewe² yang di tempatkan terpisah.


"Phoenix! kau monster tak berperasaan!," seru salah satu wanita yang melihat Nala dkk.


Pastinya Nala dkk pake topeng lah guys juga pake sarung tangan jadi bisa di kenali sama tawanan mereka, Nala menatap sumber suara dengan sinis tapi wajahnya datar.


"Ini semua tidak akan terjadi jika kau mau menurutiku," ujar Nala dingin dan mengeluarkan sedikit aura menyeramkan.


"Cih, seharusnya aku tak menuruti baj*ngan itu," gumamnya yang dapat di dengar Nala.


Nala langsung membuka pintu sel yang terhubung dengan wanita tadi, tentu saja hal itu membuat wanita² lain yang satu sel beringsut mundur karna takut pada Nala, Nala mendekati wanita yang tadi berseru dan bergumam.


"Siapa?," tanya Nala dingin sambil menatap tawanannya dingin juga.


"Apa yang akan kudapatkan jika menurutimu?," tanyanya balik.


"Negosiasi kah?," tanya Nala sinis.


"Kau pikir aku tak berani hum?," tanyanya sengit.


"Kau bisa mendapat kepuasan dari lelaki yang kau suka," jawab Nala dingin karna Nala tau wanita itu adalah seorang pel**ur di bar milik Vyone dan ternyata dia merangkap sebagai pembunuh bayaran.

__ADS_1


"Oh ya? baiklah," jawab wanita itu, demi kepuasan dia berani bertukar info.


Nala mengibaskan tangannya lalu ada seseorang yang melepaskan rantai wanita itu tapi wanita itu langsung di tarik ke tempat lain, melewati Leon dkk begitu saja, Nala kembali menutup pintu sel lalu melanjutkan berjalan ke tempat dimana mereka akan bernegosiasi.


"Jadi? kau punya info apa?," tanya Nala dingin saat tawanannya sudah duduk di hadapannya dengan angkuh dan pakaian yang sangat terbuka.


"Pria yang menyuruh ku setidaknya seumuran dengan mu atau teman² mu, dia membiarkan bodyguard nya untuk memuaskanku," jawabnya.


"Lalu?," tanya Nala.


"Kalau tidak salah dia anak angkat dari Thunder yang sudah hancur itu," jawabnya lagi.


"Siapa namanya?," tanya Nala lagi.


"Devano Samuel, Dev panggilan nya," jawabnya.


"Bagus, pilih pria mana yang akan memuaskanmu," ujar Nala dingin sambil berdiri.


"Aku ingin dia, pria yang berpostur tinggi dan menggunakan topeng silver," balas pel**ur itu dan mendeskripsikan Leon.


"Pergilah," ujar Nala.


"Terima kasih, kukira dia adalah pria mu. Ternyata tidak," gumamnya.


Pel**ur itu berniat menghampiri Leon yang berdiri tak jauh dari pintu ruang negosiasi yang terbuka tapi sebelum dia menyentuh Leon, Nala sudah membunuhnya dengan pisau yang tertancap tepat di jantung si pel**ur.


"Kau boleh mengambil pria lain tapi jangan pernah kau sentuh Lion dengan tangan kotormu itu," ujar Nala dingin, sangat dingin.


"Sudah kuduga, dia adalah pria mu," balas si pel**ur lalu mati.


"Brisik," gumam Nala lalu menyuruh orangnya membereskan mayat si pel**ur.


"Kenapa tak memberikannya padaku saja nona?," tanya Han, salah satu bawahan terpercaya Nala, dia sangat menyayangi Nala seperti adiknya sendiri, Leon sudah pergi ke ruang kumpul.


"Kau mau kena HIV?," tawar Nala sinis.


"Heh? dia kena HIV? ga jadi deh," jawab Han ngeri.


"Jyu, urus ya," perintah Nala pada bawahannya yang dia panggil Jyu.


"Baiklah, kau tenang saja," jawab Jyu. Jyu, Myu, Nala dan Han memang akrab.


Myu sendiri adalah hacker penjaga keamanan tempat penyiksaan tengah, milik Nala, sisanya adalah pengurus di sini.


"Kalian semua suka darah, hati² kalo nyiksa orang jan sampe mati," saran Nala.


"Iye² santuy ae napa," balas Han.


"Hm," jawab Nala dingin lalu pergi ke tempat dimana teman²nya sudah berkumpul.


Di ruangan itu Nala hanya melihat Leon yang terdiam sambil menatap datar benda di depannya.


"Yang lain kemana?," tanya Nala dengan nada biasa.


"Jalan² di ajak Myu," jawab Leon.


"Kenapa kau mengatakan hal itu?," tanya Leon balik.


"Aku ga tau, aku ga suka kamu di dekatin cewe lain apalagi pel**ur kaya dia," jawab Nala jujur dengan nada biasa.


Leon menatap Nala lalu menarik tangan Nala sampai duduk di pangkuannya, Nala mengernyit heran, ga biasanya Leon kaya gitu.



👆Anggap aja di ruangan trus bajunya kek gitu😜


"Leon? ada apa?," tanya Nala mengulang pertanyaan sebelumnya.


"Aku... kayanya aku sakit," jawab Leon sembari memeluk Nala dari belakang.


"Sakit apa?," tanya Nala sambil berbalik menghadap Leon dan meletakkan tangannya di kening Leon.


"Ga panas," gumam Nala.


Deg!


'Astaga.. lagi? aish... ini terlalu dekat mungkin? terserahlah,' batin Leon.


"Oh iya malem ini bulan purnama ya?," tanya Nala membuyarkan lamunan Leon.


"Iya," jawab Leon.


"Kamu mau minum darah atau makan daging?," tanya Nala.


"Eum.. minum darah aja lah, kalo makan daging ntar malah ketangkep sama polisi hutan kan repot," jawab Leon.


"Haha.. polisi hutan kan anggota TBB, ingat?," ujar Nala sambil tertawa kecil.


"Inget lah, kan aku yang milih orangnya," balas Leon dengan senyum kecil.


"Iya deh," ujar Nala.


"WOI!! I'M COME BACK GUYS!!!," teriak Lyra dengan hebohnya sembari memasuki ruangan.


"Eh?," gumam Lyra begitu melihat Nala dan Leon.


"Wah kita salah ruangan kayanya," balas Arya yang melihat Leon dan Nala di ruangan itu.


"Kalian duduk aja napa, kaya ga biasa aja loh," ujar Nala masih dalam pangkuan Leon.


"Buat elu biasa, kita yang liat kaga biasa anjer," balas Dika tapi duduk di sofa ga jauh dari sofa yang di tempati Nala dan Leon.


"Bodo amat," balas Nala acuh sambil mengangkat kedua bahunya.


"Myu, malam ini bulan purnama. Kalian sudah siap kan? jangan sampai bunuh orang," ujar Nala pada Myu.


"Santuy ae napa, kaya kaga kenal kita aja," balas Myu.

__ADS_1


"Apaan sih?," tanya Lyra yang sudah duduk di sebelah Vyone.


"Ini," jawab Leon ngegantung, semua orang melihat Leon meminta penjelasan termasuk Nala.


"Maksudnya itu malam ini bulan purnama. Myu, Han dan Jyu sudah melakukan persiapan untuk ras legenda. Kalian pah--- Ahh!," ucapan Nala terpotong karna tiba² Leon menggigit leher Nala membuatnya agak memekik.


Nala dengan cepat mengatasi keterkejutannya dan membiarkan Leon menghisap darahnya, tanpa sadar Myu meneteskan air liur lalu dia mengambil kantung darah di kulkas mini di ruangan itu dan meminum nya, sedangkan teman² Nala membeku menyaksikan Leon menghisap darah Nala dan.. Nala ga mati? padahal udah 5 menit di isep darahnya.


"Maksudnya tuh kaya gini," ujar Leon setelah menghisap darah Nala dan di bibirnya masih ada jejak darah.


"Ngagetin tau gak," gerutu Nala kesal.


"Maap.. hehe😁," balas Leon dengan cengirannya.


"Kek vampir anjay," gumam Dika tanpa sadar.


"Ga liat gue emang Vampir?," tanya Leon balik sambil menunjukkan gigi taring dan matanya yang berubah menjadi merah.




Teman² Nala kembali terkejut, bahkan Myu dan Wendy yang tiba² dateng, luka bekas gigitan Leon menghilang dengan cepat dari leher Nala.


"Jadi selama ini kalian semua ga sadar kalo malem bulan purnama Leon nyelinap masuk ke tempat penyimpanan darah?," tanya Nala.


"Hah?!," seru mereka kaget.


"Haish... jadi gini...," Nala mulai bercerita.


✌Flashback on✌


3 tahun yang lalu


Ruang penyimpanan darah


Malam itu malam bulan purnama, Nala merasa haus tapi bukannya ke dapur dia malah ke ruang penyimpanan darah, masih ingat jika Nala memang bisa minum darah seperti vampir.


Di depan ruang penyimpanan Nala melihat pintunya tidak tertutup dan tidak terkunci, Nala mengendap endap untuk masuk tapi keberadaannya di deteksi oleh orang itu, akhirnya Nala menyalakan lampu tempat itu dan terlihatlah sesosok pria yang sangat di kenal Nala.


"Loh? Leon??!," tanya Nala bingung sama seperti Leon.


"Ah akan ku urus nanti saja," gumam Leon lalu kembali sibuk meminum darah.


Nala membuka satu kulkas penyimpanan darah dan meminum 3 kantong darah, Leon terperangah mengetahui mata Nala berubah juga dia punya gigi taring seperti vampir.


"Kau vampir juga?," tanya Leon.


"Bukan," jawab Nala sembari mengambil 5 kantong darah lalu membawanya keluar.


"Mau ikut atau tidak?," tawar Nala.


Leon mengambil sekantong darah lagi dan kantong darah lainnya dia buang, Leon pergi keluar dan tak lupa menutup juga mengunci pintu lagi. Leon menyusul Nala yang sudah pergi ke atap, di atap Nala kembali meminum darah dengan santainya.


"Kau ini masuk ras apa sih?," tanya Leon sambil duduk di sebelah Nala.


"Ras tertinggi," jawab Nala santai.


"Oohh... ras tertinggi, sama dong," balas Leon sambil membuka kantong darah dan meminumnya.


"Aku bisa berubah jadi ras demon, manusia, 2 ras legenda dan ras iblis," sambung Leon di sela acara minumnya.


"Kalo aku semua ras bisa," jawab Nala.


"Hebat," gumam Leon.


"Jadi kamu yang tiba² melolong di bulan purnama? dah gitu di atas kamarku lagi," tanya Nala kesal.


"He'em, sorry Nal," jawab Leon.


"Hem," balas Nala.


✌Flashback off✌


"Jadi gitu ceritanya," ujar Nala mengakhiri ceritanya.


"Ooo...," balas mereka serentak.


"Eh kuy balik dah mau makan malem nih," ajak Nala.


"Eh eh nona tunggu sebentar," cegah Wendy.


"Ada apa?," tanya Nala.


"Eum... aku dapat kabar kalo kak Cleo sama kak Tara mau tunangan," jawab Wendy.


"Hah?! kak Cleo?!! sama kak Tara?!," seru Leon kaget padahal tadi lagi minum darah, sekarang mulutnya jadi penuh darah apalagi ada darah yang keluar dari mulutnya.


"Kalo minum tuh yang bener," saran Nala sambil mengelap mulut Leon dengan tisu.


"Maap, cuma kaget," balas Leon.


"Kita kayanya bakal iparan dah," ujar Dika.


"Hem... serah lu, Ka," balas Leon datar dan malas.


"Hilih😒," balas Dika.


"Untung lu sahabat gue, kalo engga udah abis lu," gumam Dika.


"Yang ada tu elu yang abis beg*," balas Leon sengit.


"Udah² ayo balik ke mansion," ajak Nala.


Semua orang pun pergi ke mansion untuk bersiap makan malam.


Bersambung...

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2