My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Experience 2


__ADS_3

"Bener juga ya," balas Leon yang ikutan bersantai di dahan pohon sambil mengamati mereka.


~oOo~


Tak berselang lama, para anggota TAC mulai menyadari jika sedang di amati, Ryuki naik ke dahan pohon diam² untuk menyerang mereka, sayangnya pertahanan Nala dan Leon jauh³ lebih kuat dari Ryuki, Ryuki terlempar hingga ke arah teman²nya yang sedang berlatih dan untungnya dia punya kuda² kaki yang kuat sehingga tak terjatuh.


"Hydra!," seru mereka terkejut, Hydra adalah kode nama Ryuki, kenapa Hydra? karna Ryuki bisa ilmu membelah diri seperti Kakashi juga punya otak yang cerdas dan cepat tanggap, Ryuki berdiri dengan tegap sambil menatap tajam Nala dan Leon.


Mereka tetap menggunakan penyamaran walaupun masih di dalam markas untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.


"Tadi kamu yang lempar dia?," tanya Nala santai ke Leon.


"Iya, salah siapa mau nyelakain kita," jawab Leon kembali ke posisi santainya.


"Siapa kalian?!," tanya Yunli garang.


"Human," jawab Nala santai.


"Cih, belagu! mau lo berdua apa?!," bentak Ana.


"Liat cara berlatih anggota TAC," balas Leon santai.


"Kalian!!...," Ana emosi, tangan Ryuki menahan Ana untuk tak pergi.


"Dari mana kalian tau?," tanya Ryuki dingin+datar, dengan aura menekan juga.


"Dari... kalian ga perlu tau lah," jawab Leon tak terpengaruh dengan tekanan yang diberikan Ryuki.


Ya jelas ga ngaruh, perbandingan kemampuan dan kekuatan Nala dan Leon jauh³ melebihi anak buah TAC, belum lagi kejeniusan, kecerdikan dan kelicikan mereka, aura tekanan juga jauh lebih kuat dan tajam dari mereka, kelihaian dalam bertarung dan masih banyak lagi, tekanan yang dikeluarkan Nala dan Leon bisa membuat seseorang mati (mungkin).


"Woy! turun ga!," bentak Ana ngegaz, dia emosi banget rupanya.


"Ogah...!," tukas Nala dan Leon santai bersamaan.


"Kuy, bareng," ajak Yunli yang langsung di setujui teman²nya kecuali Ryuki dan Joshie tentunya, Joshie masih belum kembali dari misi nya.


Sebelum mereka menyerang, Nala dan Leon sudah turun ke bawah supaya lebih leluasa untuk bermain.


Bugh...


Bang...


Akh..


Plak..


Mereka saling bertarung, tapi tentu saja Nala dan Leon menang, hanya dalam beberapa saat saja anggota TAC sudah terkapar di tanah, Ryuki tertegun melihatnya dan mulai menyerang dengan penuh taktik dan perhitungan.


Cocok jadi leader tuh anak, tetap kalah, itu yang terjadi, Nala dan Leon masih segar dan belum terkena serangan padahal serangan Ryuki barusan tanpa celah.


"Huh... masih lemah," gumam Nala.


"Yok pergi, males main sama mereka," ajak Nala, Nala berbalik dan lebih dulu pergi ke dalam mobil.


"Tingkatkan kemampuan dan kekuatan kalian lagi, perbedaan kalian dengan kami masih sangat jauh, kalian masih lemah," ujar Leon sebelum pergi menyusul Nala, Ryuki dkk terdiam mendengarnya.


'Siapa sebenarnya mereka? mereka sangat kuat,' batin Ryuki penasaran.


"Lama," gerutu Nala saat Leon masuk mobil, dia sudah berganti pakaian.


"Haish... cepat sekali kau berganti pakaian," balas Leon heran.


"Sudahlah, kamu ganti baju di mobil habis itu kita ke penginapan," ujar Nala.


Leon menurut, seusai berganti pakaian, Leon melajukan mobil ke penginapan tak terlalu jauh dari markas TAC, Nala langsung beristirahat di kamar, karna penginapan itu kecil dan lumayan ramai jadi Nala dan Leon tidur satu kamar, emang sisanya tinggal 1 kamar deng.


Nala tidur di ranjang dan Leon di sofa, kesepakatan nya gitu padahal Nala bersikeras tidur di sofa, Nala mandi sebentar dan kembali membuka laptop, sedangkan giliran Leon yang mandi.


"Kamu ngapain?," tanya Leon setelah mandi dan berpakaian.


"Lagi liat plat mobil yang tadi, kayanya orang yang aku tembak tadi salah satu anggota mereka," jawab Nala.


"Kenapa kamu bisa yakin gitu?," tanya Leon lagi, dia menghampiri Nala yang tiduran sambil tengkurap di ranjang, Leon duduk di pinggir ranjang sebelah Nala.


"Plat mobilnya sama kaya plat yang ngejar kita tadi pagi," jelas Nala.


"Mungkin orang yang ngejar kita nyewa jasa," balas Leon sambil mengeringkan rambutnya.


"Bisa jadi sih," gumam Nala.


"Eh? apa ini?," tanya Nala pada dirinya sendiri, Leon menoleh untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah e-mail masuk ke laptop Nala, sebuah e-mail dari orang tak di kenal.


'*Aku tau kamu di kota B, 2 hari lagi dateng ke jalan XXXxx, di taman dekat danau jam 10. Ada hal penting yang ingin kubicarakan.


~Fan Gu*'

__ADS_1


Itu isi e-mail misteriusnya, Nala terkejut sekaligus senang.


"What?! ini beneran?!!," seru Nala terkejut.


"Emang kenapa?," tanya Leon bingung.


"Gapapa kok," jawab Nala, tersirat rasa senang di suaranya.


Nala senang, sangat senang, karna orang yang sangat dia rindukan, selama 3 tahun ini orang itu benar² lost contact dengan keluarganya, Leon menatap Nala dengan tatapan bingung tapi di sisi lain dia juga senang melihat Nala seperti itu.


"Kamu mau dateng besok?," tanya Leon.


"Hem? ke alamat ini? tentu saja aku datang," jawab Nala bersemangat.


"Kayanya kamu semangat banget, siapa sih orang itu?," tanya Leon makin penasaran.


"Orang yang aku rindukan selama beberapa tahun terakhir, aku senang dia mau bertemu lagi denganku," jawab Nala dengan senyum merekah di wajahnya.


"Oh... kirain siapa," gumam Leon.


"Emang kamu pikir siapa?," tanya Nala sambil menoleh, melihat reaksi Leon.


"Em... siapa ya?... intinya aneh aja gitu liat kamu senyum² ga jelas," jawab Leon juga bingung.


"Ye... gaje kau!," seru Nala memukul badan Leon, Leon hanya tertawa mengejek.


Tok... tok... tok...


Pintu diketuk perlahan, Nala dan Leon menebak jika pelayan yang mengetuk.


"Bukain sana," suruh Leon.


"Lah... nyuruh seenaknya," balas Nala dengan wajah datar dan menutup laptop.


Cklek..


Pinti dibuka oleh Nala dan benar saja, seorang pelayan wanita datang dengan sikap formal dan begitu sopan.


"Maaf mengganggu waktu anda, makan malam telah siap, silahkan menikmati makanannya di ruang makan atau anda ingin makanannya di antar saja?," tawar pelayan itu.


"Em... sebentar lagi saya dan kakak saya akan ke ruang makan, terima kasih atas pemberitahuan nya," jawab Nala, mereka berdua ber-drama dengan alasan kakak beradik jadi ga ada yang curiga kalo mereka sekamar, lagian ga ngapa²in juga.


"Kenapa?," tanya Leon setelah Nala menutup pintu dan berbalik.


"Ngajak makan malem," jawab Nala sambil kembali membereskan barang² elektronik yang berada di atas ranjang.


Mereka makan malam seperti biasa dan tetap menggunakan penyamaran penuh, keesokkan paginya pada pukul 6 pagi, Nala dan Leon kembali menemui anggota TAC, tapu nihil mereka mungkin sedang menjalankan misi.


"Sepi," gumam Leon saat dia dan Nala sudah berada di pohon yang kemarin, mereka juga tetap menggunakan penyamaran dengan baik.


"Aku tau lah, kan aku punya mata," balas Nala sengit, Leon malas berdebat dengannya dan memutuskan untuk diam.


"Turun jangan?," tanya Leon pada dirinya sendiri.


"Kalo ada jebakan?," tanya Nala balik, dia menatap Leon lekat di balik softlens coklat nya.


"Ya kita terjang aja, kenapa? takut?," ejek Leon.


"Kita lihat² dulu, tapi lewat atas," balas Nala, dagunya menunjuk ke arah rooftop/atap gedung itu.


"Ok," sahut Leon.


Mereka turun dari pohon dan menuju ke bagian belakang gedung, dengan kecanggihan alat yang mereka buat, Nala dan Leon dengan mudahnya naik hingga ke rooftop, sedangkan anggota TAC di dalam gedung penasaran dengan apa yang akan dilakukan 2 orang misterius itu, mereka memantau melalui CCTV di setiap ruangan tak terkecuali rooftop, mereka bukan orang bod*h yang bisa di tipu begitu saja.


Nala yang langsung menyadarinya begitu naik ke rooftop langsung meng-hack kamera CCTV dengan jam tangan canggihnya, untung mereka belum terekam.


"Kenapa?," tanya Leon setelah menyingkir kan jejak saat mereka naik, tempat saat mereka naik kini bersih seperti tidak terjadi apa².


"CCTV, itu berarti setiap ruangan punya CCTV, mereka mungkin ga curiga karna di waktu pagi gini ada kabut tipis yang biasanya bikin CCTV ga ngerekam dengan jelas apa yang terjadi di rooftop ini," jawab Nala cepat dan jelas.


"Kamu liat berapa CCTV di setiap lantai, trus kasih tau aku, inget! jangan sampai ketauan," ujar Nala, Leon mengangguk mengerti dan mematuhi apa yang Nala inginkan, sedangkan Nala bersiap untuk meng-hack CCTV di setiap lantai, Leon kembali ke tempat Nala berada.


"2 CCTV di lantai bawah rooftop, bawahnya juga ada 2, trus sampe lantai 3 CCTV nya cuma 2, tapi dilantai 1&2 CCTV nya tergolong lumayan banyak," jelas Leon padat dan dapat di cerna dengan baik.


"Itu berarti lantai 1&2 tergolong penting untuk mereka," ujar Nala menyimpulkan.


"Iya, lalu di rooftop hanya 1," balas Leon dengan anggukan.


"Siapa bilang cuma 1?, lihat itu! CCTV itu baru mau di pasang," tukas Nala sambil menunjuk rangka CCTV yang baru akan di pasang.


"Ouh... kuy masuk," ajak Leon mengakhiri perdebatan itu.


Sampai lantai 4 perjalanan mulus² saja tapi saat akan masuk lantai 3, Nala dan Leon di kejutkan oleh beberapa orang yang sedang mengobrol, mereka bisa mendengar cukup jelas pembicaraan mereka karna cukup sepi.


Mereka membahas tentang hal yang tak dipahami Nala dan Leon, pasalnya mereka membahas tentang leader, kayanya bakal ada yang diangkat jadi leader di TAC cabang pusat, tapi yang jelas mereka bakal minta ijin Nala ato Leon.


"Dah yuk balik," ajak Nala pada Leon.

__ADS_1


"Loh? kenapa?," tanya Leon bingung.


"Bakal ada yang patroli sampai rooftop," jawab Nala santai lalu berlalu meninggalkan Leon, Leon yang tersadar langsung mengikutinya, dengan gerakan secepat kilat Leon dan Nala sudah berada di rooftop, lalu mereka turun kembali ke bawah.


"Kamu mau kemana habis ini?," tanya Leon setelah mereka berjalan beberapa meter, menjauh dari markas TAC.


"Masih jam 7, lari aja yok. Itung² olahraga," ajak Nala.


"Hem... boleh juga tuh, dah lama ga olahraga nih, ntar kalo ada samsak berjalan yang nantangin kan lebih enak," gumam Leon.


"Ya udah, lari sekalian cari samsak berjalan yang belagu," balas Nala.


Mereka mulai berlari dari markas TAC sampai sangat jauh dan asing, banyak orang yang melihat mereka dengan tatapan datar, sampai jam 9 mereka memberhentikan olahraga pagi itu dengan napas terengah-engah.


"Ini dimana?," tanya Leon setelah napasnya teratur kembali.


"Aku ga tau, kita beli minum dulu," ajak Nala.


Nala dan Leon masuk ke minimarket terdekat untuk membeli minum, setelah mengambil apa yang di butuhkan, Nala dan Leon kembali ke kasir untuk membayar.


"Jumlahnya jadi 7.000 rupiah," ujar cewe cantik yang bekerja sebagai kasir di minimarket itu dengan sopan dan ramah.


"Ini uangnya, oh iya mba mau tanya boleh?," tanya Nala sopan sambil memberikan uang 10.000 rupiah yang kebetulan ada di saku celananya.


"Boleh, mau tanya apa dik?," ujar kasir ramah itu.


"Ini daerah mana ya, mba?," tanya Nala to the point, kasirnya tersentak kaget lalu tertawa kecil.


"Lho kalian ga tau? ini daerah ********, kalian bukan orang sini ya?," tebak mba kasir setelah memberi informasi.


"Iya, kita bukan orang sini, juga bukan warga kota ini, kami hanya berkunjung saja ke kota B," jawab Nala sopan sambil tersenyum.


"Trus kalian nyasar ke daerah ini ceritanya? kalian naik apa kesini?," tanya mba kasir tetap ramah, Leon dan Nala berpandangan sejenak.


"Kami lari dari daerah ****** sampai daerah ini," jawab Leon polos.


"Hah?!," seru mba kasir terkejut, membuat pelanggan lain menoleh dengan dan menatap dengan tatapan aneh.


"Emang kenapa, mba?," tanya Nala bingung dengan reaksi mba kasir.


"Daerah itu kan pinggir kota, dan jauh banget dari sini, kalian pasti bercanda kan?," ujar mba kasir tak percaya, Leon dan Nala kembali berpandangan.


"Kita ga bercanda, mba. Kalo mba nya ga percaya sih gapapa," balas Leon acuh, mba kasir masih tercengang.


"Uangnya udah aku kasih ya, mba. Kita pergi dulu, permisi," ujar Nala sopan lalu menarik tangan Leon keluar minimarket, alhasil Leon tersedak minuman sebab kaget.


"Uhuk... apa yang kau lakukan!," bentak Leon.


"Sorry... abisnya kalo kita debat sama mba kasir itu nanti malah ga ada ujungnya, kamu juga ngapain pake ngomong kaya tadi, ga ada yang bakal percaya walaupun kita bersikukuh," tegur Nala.


"Iya juga sih, ga ada yang bakal percaya sama apa yang kita omongin," balas Leon yang baru menyadari kesalahannya.


"Mau jalan² dulu apa langsung pulang?," tanya Nala mengalihkan pembicaraan.


"Jalan² dulu lah, kita baru dateng kesini belum ada 5 menit, masa iya kita lari lagi. Udah gitu hampir 3 jam waktu yang kita butuhin kalo lari dari sini ke penginapan," jawab Leon, Nala mengangguk paham, ucapan Leon ada benarnya juga.


Alhasil mereka berjalan berdua mengitari daerah itu, dengan canda tawa di sepanjang percakapan, Nala dan Leon sama² senang bisa menghabiskan waktu hanya berdua, bukan apa² hanya saja Nala dan Leon merasa senang dan nyaman berinteraksi secara intens dengan lawan jenis selain keluarga sendiri.


Nala dan Leon sedang melewati sebuah lapak kecil, dimana seorang nenek membawa cucunya yang baru sekitar 5 tahunan untuk berjualan, saat ditanya ternyata si anak tak ingin di rumah sendirian, dengan cepat Nala dan si gadis kecil itu akrab bahkan seperti saudara, Leon senang melihatnya, dia diam² tersenyum dan disadari nenek si gadis kecil.


"Kalian punya hubungan apa, nak?," tanya nenek itu ramah.


"Kami bersahabat, nek. Belum lama sih sekitar... 4-7 bulan yang lalu, saat itu Nesya sedang terpuruk karna kehilangan salah satu sahabat terbaiknya, keluarga Nesya kenal dengan keluargaku dan temanku yang lain, kami di minta supaya bisa membuat Nesya ceria kembali, tapi...," jawab Leon menggantung.


"Tapi apa?," tanya nenek itu lembut.


"Tapi ternyata sulit untuk membuat Nesya tersenyum ataupun tertawa bahagia dengan tulus, aku takut jika dia akan membenciku jika sudah mengetahui semuanya," gumam Leon lirih, tersirat rasa khawatir di suaranya, nenek itu mendengar gumaman Leon.


"Kalau begitu beritahu saja dia, jangan membuat dirinya makin sedih saat tahu yang sebenarnya," nasehat nenek itu bijak, Leon menoleh cepat dan melihat sang nenek tersenyum.


"Terima kasih, nek," balas Leon.


Nala sebenarnya mendengar apa yang nenek itu dan Leon bicarakan, karna semua indra yang Nala miliki sangatlah tajam, dia bisa mendengar percakapan sampai 30 meter jauhnya kalau lebih fokus maka akan lebih jauh lagi, Nala penasaran apa yang sebenarnya Leon sembunyikan sampai suara Leon terdengar khawatir.


"Kakak, nama kakak cantik siapa?," tanya si gadis kecil agak cedal, membuyarkan lamunan Nala.


"Nama kakak Nesya, kalo kamu?," tanya Nala balik.


"Andina, aku pengen kaya kak Nesya, cantik, baik, lembut, pokoknya Dina mau kaya kak Nesya," jawab Dina bersikukuh.


"Dina bisa jadi gadis yang cantik tapi Dina harus tetep rendah hati," nasehat Nala.


"Maksudnya?," tanya Dina bingung.


"Dengerin kak Nesya baik²!, Dina akan jadi cewe cantik, lembut, penyayang dan baik tapi ada kalanya Dina terlihat tegas dan disiplin, jangan takut kalo ada yang membully atau apapun itu, paham?," ujar Nala lembut dan jelas.


"Em! Dina paham!," balas Dina semangat.

__ADS_1


Tak lama Nala dan Leon kembali pergi ke penginapan dengan berlari, 3 jam kemudian mereka sampai dengan napas terengah-engah.


__ADS_2