
"Iya, sudah," jawab sambil ngangguk.
"Lalu apa masalahnya?," tanya Leon setelah Nala duduk di sebelah Leon.
~oOo~
"Masalahnya adalah data kita bocor ke markas pusat Thunder," jawab Nala sambil mengambil laptop dan menunjukkan data² yang bocor.
"Hanya sedikit ya," ujar Leon setelah mengamati data² di laptop Nala.
"Walaupun sedikit tapi itu sudah menandakan banyak celah di sistem keamanan IT," balas Nala menyadarkan pikiran Leon.
"Kau benar, kalau begini terus kita bisa kebobolan, jadi apa yang kau pikirkan?," tanya Leon.
"Hm... sebentar, aku mikir dulu," jawab Nala.
Nala berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya, Leon mengamati wajah Nala yang sedang serius, menurutnya Nala sangat imut jika dalam mode serius tapi kadang menyeramkan.
"Singkirkan tanganmu," perintah Leon, Nala menoleh sambil mengernyit heran.
Leon mendorong tubuh Nala hingga bersandar di sofa, menyingkirkan kedua tangan Nala dari paha Nala, sedangkan Leon berbaring di sofa dengan paha Nala sebagai bantalnya.
"Oh... bilang aja mau tiduran," ujar Nala baru paham setelah Leon berbaring.
"Kalo aku bilang mau tiduran nanti kamu bilang 'ya udah tidur aja sana'," balas Leon.
"He..?? kok tau?," tanya Nala bercanda.
"Hahaha... dah ketebak," jawab Leon sambil tertawa kecil lalu memejamkan matanya, Leon merilekskan tubuhnya di sofa.
"Hm..," gumam Nala lalu mencoba mengambil ponselnya tapi sulit karna Leon berbaring di pahanya.
"Hei hei, diam dulu," celetuk Leon sebal.
Nala kembali diam di posisinya, Leon menatap Nala tajam, dia kesal dan Nala hanya mengangkat sebelah alisnya sembari memasang tampang tak bersalah.
"Kalau mau ambil sesuatu di meja kan tinggal bilang aja, kenapa harus dorong² aku sih. Bikin aku hampir jatuh tau," gerutu Leon sebal tapi tetap berbaring.
"Ck, aku kan cuma mau ngambil hp doang, makanya jangan tiduran di sini," balas Nala.
"Ish.. nih hp mu," ujar Leon sambil memberikan ponsel Nala yang dia ambil.
"Ga jadi," jawab Nala begitu saja membuat Leon mendelik karna kesal.
"Kau ini!," gerutu Leon sebal, dia baru akan meletakan ponsel Nala kembali malah ditahan oleh Nala.
"Ntar dulu, itu ada notifikasi di hp ku, sini in hpnya," perintah Nala dengan tampang tak bersalah.
"Haaaa..... huuuuu...," Leon mengatur napasnya untuk meredam emosinya.
Nala dengan cepat mengambil ponselnya dari tangan Leon, Leon mendengus kesal lalu mengambil ponselnya dari atas meja, Leon bermain game online yang sedang populer saat itu.
"Leon," panggil Nala tanpa melihat Leon yang berbaring di pangkuannya.
"Hm..," jawab Leon tanpa menoleh dan tetap fokus dalam gamenya.
"Kita main malem ini," sambung Nala membuat Leon menghentikan gamenya dan mendongak, menatap Nala dari bawah, Nala juga menatap Leon yang berada di pangkuannya.
"Kau serius?," pertanyaan itu yang berhasil terlontar dari mulut Leon.
"Ya, ternyata bos besar Thunder udah kirim banyak orang buat ngelawan kita dari jauh² hari," jelas Nala membuat Leon tercengang dan membeku di tempat.
"Tapi cuma anggota Thunder cabang Indonesia," sambung Nala.
"Oh ya ampun... kukira semua anggota Thunder di seluruh dunia," ujar Leon sembari menghela napas lega dan kembali ke posisi santainya.
"Mereka ga mau ambil pusing lah kalo masalah kaya gini, markas pusat Thunder kan di Greenland, Dika udah ngurus mereka," jelas Nala.
"Mereka juga mau jadi koneksi kita kok, kita bantu mereka berkembang dan mereka menjadi koneksi," sambung Nala.
"Aku tau, BTW berapa orang yang mereka kirim?," tanya Leon.
"Entah, mereka ngajak ketemuan di jalan xxxx tengah malam ini," jawab Nala.
"Ngajak berantem? apa balapan? atau by one?."
"Aku ga tau, ayo siap²," ajak Nala.
"Hm... ayo," balas Leon sambil beranjak duduk.
"Aku pergi ke kamar buat ganti dulu, nanti kita ketemu di atap," jelas Leon sambil berdiri dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
Sedangkan Nala pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian dengan pakaian biasa yang dia pakai saat bermain, yang dimaksud bermain di sini adalah bermain dengan samsak berjalan alias berantem, malam itu pukul 09.48, Nala dan Leon sudah siap lengkap dengan topeng dan senjata, mereka bertemu di atap rumah tanpa diketahui yang lain.
"Kita jalan?," tanya Leon.
"Gak, kita loncat dari rumah ke rumah," jawab Nala.
"Oh ok, siap mulai!," seru Leon dengan senyum di wajahnya.
Nala dan Leon pergi ke jalan tempat yang disepakati untuk bertemu, mereka meloncati atap rumah supaya cepat sampai, Leon tak pernah merasakan sebebas dan sesenang ini, mungkin hanya Nala yang bisa membuat Leon seperti ini.
Pukul 10.12 malam, mereka berdua sampai di tempat tujuan, Nala dan Leon berdiri tegap di atas atap salah satu rumah di sekitar jalan xxxx, ramai, itu yang dapat menjelaskan keadaan di sana.
"Lah? kok rame?," tanya Nala bingung.
__ADS_1
"Ho'oh, banyak warga sipil lagi," jawab Leon.
"Kamu tau dari mana?," tanya Nala sambil menoleh ke arah Leon.
"Ini kan pasar malam, pasti ada warga sipil," jawab Leon santai.
"Eh, iya juga ya."
"Kok kamu jadi beg* gini?," tanya Leon bingung.
"Ha?? kamu bilang aku beg*?!," tanya balik Nala dengan kesal.
"Shh... liat itu, anak buah Thunder," ujar Leon mengalihkan pembicaraan dan menunjuk ke salah satu orang di sekitar pasar malam.
"Ha?," gumam Nala lalu memfokuskan penglihatannya ke orang yang di tunjuk Leon.
Leon menunjuk seorang laki² berpakaian biasa tapi punya tato petir di lehernya, dengan lambang T di sebelahnya, pria yang terlihat biasa saja tapi sebenarnya anggota geng mafia Thunder.
"Ayo kesana, tapi kita gunakan penyamaran dulu," ajak Nala.
"Hm... terserah," balas Leon, Nala dan Leon hanya menggunakan sedikit alat untuk menyamar.
Mereka menggunakan topeng, ga pake softlens, sarung tangan, alat pengubah suara, pakaian hitam lengkap dan topi hitam khas.
Tap
Dengan mudahnya Nala dan Leon mendarat di permukaan tanah bahkan mereka sama sekali tak oleng saat mendarat, tak ada orang yang memperhatikan mereka.
Sret sret sret
Nala dan Leon membawa 5 anggota Thunder ke gang sempit tanpa disadari orang² disana.
"Siapa kalian?!," tanya salah satu diantara mereka dengan garang, Nala dan Leon malah tak mengikat mereka.
"Ada anggota Thunder yang lain?," tanya Leon dingin yang menusuk, atmosfer dingin dan mengerikan.
"Bagaimana kalian tau kami anggota Thunder?! kalian siapa?!," tanya yang lainnya sewot.
"Perkenalkan, saya Phoenix dan dia teman saya Lion, malam ini kalian —Thunder— mengundang saya dan Lion untuk datang kesini, ke jalan ini," jelas Nala yang terdengar ramah tapi ada sedikit aura menindas di dalamnya.
"Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan," ujar Nala menggantung sembari mendekati mereka berlima, mereka gemetar ketakutan di atas tanah gang kecil itu.
"Yang pertama, ada berapa anggota Thunder yang datang ke kota C?," tanya Nala sambil mengitari mereka, seperti siap menerkam siapa saja yang membangkang.
"Tu-tujuh ratus orang," jawab mereka terbata dan gemetar.
"Kedua, siapa yang memimpin dan memerintahkan?," tanya Leon dingin dan datar.
"Bo-bos muda dan yang memerintah adalah bos besar," jawab yang lainnya.
"Kami mencari Fox! Fox telah membantai saudara kami di yang ada di kota C!," jawab yang lain ngegaz.
"Fox adalah saudara ku, saudara kami. Jika ingin berhadapan dengannya maka kalian harus menghadapi kami dulu," ujar Nala dingin.
"Dimana kalian berkumpul? dan bos muda kalian ada dimana?," tanya Nala dengan tatapan intimidasi dan suara dingin.
"Kami... kami berkumpul di gudang tak jauh dari tempat ini, bos muda sedang bermain di dalam," jawab mereka dengan suara bergetar.
"Terakhir, mau mati bagaimana?," tanya Leon membuat kelima orang itu ketakutan bahkan sampai terkencing di celana.
Mereka mati kedinginan hanya dengan tatapan Leon yang sedingin kutub bahkan mungkin saja lebih dingin dari kutub, Nala berjalan mendekati Leon yang berdiri mematung dengan tatapan kosong.
"Hei, jangan lepas kendali," tegur Nala sambil menepuk pundak Leon, Leon tersadar dan menatap Nala lembut.
"Aku tidak akan lepas kendali jika hanya menatap mereka seperti itu," balas Leon sambil tersenyum tipis dan menatap Nala hangat.
"Huh... baiklah, jangan melamun dan lengah saat bermain," ralat Nala dengan senyum tipis juga.
"Ya, maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana saja," balas Leon.
"Hm... bisa dimengerti kok, BTW kita mau apain mereka?," tanya Nala, tangan kanannya menunjuk kelima orang mati dibelakangnya dengan jari jempol.
"Biarin aja, palingan nanti polisi patroli yang nemuin mereka," jawab Leon acuh.
"Kuy pergi," sambungnya.
Mereka masuk ke dalam taman bermain tapi sebelumnya mereka sudah berganti pakaian dengan pakaian biasa, tentu saja penuh dengan penyamaran.
"Wah... main dulu yuk," ajak Nala antusias melihat begitu banyak permainan.
"Lah? hm... ya sudahlah, ayok," balas Leon menuruti kemauan Nala.
Mereka bermain banyak permainan sebelum akhirnya melaksanakan tujuan awal mereka, Nala dan Leon melihat banyak anggota Thunder yang berjaga di setiap permainan, mereka juga melihat seorang anak laki² yang seumuran dengan Leon bermain di setiap permainan dan selalu dikawal.
"Leon, kau merasa orang itu selalu di kawal anak Thunder kan?," tanya Nala sambil menikmati es krimnya dan sesekali memperhatikan orang yang mereka bicarakan.
"Ya, mungkin anak itu adalah bos muda yang mereka maksud," jawab Leon santai.
"Sekarang hampir tengah malem, kita juga udah senang², sekarang waktunya kembali ke tujuan awal," sambung Leon.
"Kuy," ajak Nala.
Mereka pergi dari pasar malem itu tapi hanya untuk berganti pakaian dan penyamaran, segera Nala dan Leon pergi ke tempat berkumpul anak Thunder.
Nala dan Leon berhasil masuk dengan mudah tanpa diketahui, Nala mengecek setiap ruangan dan Leon memperhatikan keadaan sekitar, perlahan Nala mengambil barang² yang berguna, berkas² yang terlihat penting, dan beberapa peluru.
__ADS_1
Saat memasuki kamar yang terlihat sepi tapi selalu ada orang yang berlalu lalang di depannya, Nala dan Leon bertemu anak yang tadi, baru tidur rupanya, dia kaget mendengar pintu dibuka.
"Siapa kalian?," tanyanya menggunakan bahasa Indonesia, dia kaget dan duduk di atas ranjang.
"Hallo, selamat malam," sapa Nala ramah.
Nala dan Leon masuk ke dalam kamar itu, menutup pintu dan berwaspada jika ada yang mencurigakan, mata mereka dengan lihai melirik sekitar dan dengan jeli menemukan beberapa alat sadap.
"Shh...," ujar Nala dengan menempelkan jari telunjuk yang terbungkus sarung tangan di bibir imut nya.
"Jangan berisik," sambung Nala dengan bahasa isyarat.
Wush..
Dalam beberapa kejap saja Nala sudah berada di atas ranjang, di dekat anak laki² itu, berhadapan dengannya yang masih muda, cepat tanggap dan baik.
"Ba-bagaimana bisa?," tanyanya sembari menatap Nala bingung, sedangkan Leon mengecek alat sadap dan mematikannya.
"Shh... kau diam saja ya, kami ingin bertanya beberapa hal saja. Kau bersedia menjawab kan?," ujar Nala tepat di telinga anak itu dengan senyum tipis yang dipaksakan, dia hanya mengangguk cepat.
"Kau adalah bos muda?," tanya Leon dingin.
"Ya," jawabnya murung.
"Kenapa murung?," tanya Nala memperhatikan perubahan ekspresi nya.
"Jangan terlalu dekat ya," jawabnya sambil mendorong kepala Nala dengan jari telunjuknya agak menjauh.
"Cih, ga usah gitu juga kali," gerutu Nala.
"Aku akan beritahu kalian apa yang kutahu saja," sambungnya.
"Aku hanyalah anak angkat bos besar Thunder, mungkin aku dipanggil bos muda oleh mereka karna aku sangat di sayang bos besar. Aku mendapat sebagian besar harta warisan, mereka ingin aku cepat mati karna itu aku di kirim kesini," jelasnya, Nala dan Leon saling menatap sejenak.
"Aku paham aku paham, hei kau. Tatap aku," ujar Nala.
Mereka saling menatap, Nala mencari kebenaran dan menemukannya, kenyataan yang pahit dan besar, anak laki² itu menatap mata ungu-biru Nala dengan kagum, tiba² saja dia merona dan memalingkan wajahnya.
"Ck, kau ini kenapa sih?," tanya Nala kesal.
"Terlalu dekat, matamu juga terlalu Indah," gumamnya.
"He..?? apa maksudnya?," tanya Nala bingung lalu menatap Leon yang terkekeh kecil.
"Apa maksudnya, Lion?," tanya Nala lagi.
"Dia menyukaimu, Nix. Seharusnya kau paham jika dia merona seperti itu," jawab Leon dengan nada biasa.
"Hm... mungkin saja dia demam," gumam Nala.
"Terserah kau saja," balas Leon pasrah.
Buk
Nala membuat anak itu pingsan dalam satu pukulan di belakang leher, Nala menatap Leon sambil tersenyum tipis tulus.
"Kau ingin menyelamatkannya?," tanya Leon.
"Yups, kita kirim ke keluarga aslinya. Itu lebih baik dan lebih baik lagi jika dia membuat mafia yang bisa menjadi koneksi kita," jawab Nala santai.
"Kita tinggalkan dia disini dulu, saat kita habisi mereka baru kita bawa anak ini," lanjut Nala.
"Ok," jawab Leon singkat.
Mereka menghabisi semua orang di gudang itu dan hanya menyisakan anak laki² yang pingsan.
"Kita apakan dia?," tanya Leon setelah menghabisi mereka semua, tubuh Nala dan Leon sudah berlumuran darah anggota Thunder.
"Dia hanya anak angkat, tapi sangat disayang bos besar Thunder. Keluarga aslinya keluarga bangsawan Prancis, karna itu dia fasih berbahasa Prancis. Dia hilang ingatan lalu bertemu bos besar Thunder, umurnya 11 tahun, dia di kirim kesini untuk di bunuh, karna itu Thunder mengirim pesan pada kita," jelas Nala.
"Jadi kau akan kirim dia ke Prancis?," tanya Leon memastikan.
"Iya, di Prancis ada paman Frans, polisi yang jadi koneksi ayah dulu, paman Frans juga teman baik ayah dan selalu setia walaupun dia menjadi polisi," jawab Nala.
Nala mengirim anak itu ke Prancis, setelah itu Nala dan Leon kembali ke rutinitas biasa, yang lain masih belum tau kalau malem itu Nala dan Leon pergi main berdua doang.
Bersambung....
~oOo~
Main berdua doang ga ngajak²😔
Jahat mereka tuh, Author aja ga di ajak
Like
Comment
Share
Jangan subscribe karna bukan you tube
Klik tombol favorite biar ga ketinggalan eps selanjutnya
Thanks yang udah like, share, comment, dan klik tombol favorite😊
__ADS_1
Next eps guys! bye..