
"Em.. entah," elak Vyone lalu duduk di kursinya.
"He??."
~oOo~
Beberapa bulan kemudian
Tepatnya 1 bulan sebelum UAS, ujian akhir sekolah yang menilai apakah mereka naik kelas 8 atau tidak.
"Wahh.. ga kerasa udah mau kelas 8 aja," celetuk Anjani.
Bla bla bla
Anak² GoD squad mengobrol ringan, beberapa bulan ini ada perasaan baru yang dirasakan 4 orang tertentu, siapa lagi kalo bukan Dean, Satya, Lyra dan Vyone. Vier sampai bingung sendiri, Nesya pun hanya acuh selama ini.
"Dean, Satya, Nesya. Kalian dipanggil kepsek tuh, suruh ke ruang kepsek," ujar salah seorang siswa yang berada di depan pintu.
"Oh ya udah, thanks ya infonya," balas Nesya lalu berdiri diikuti Satya dan Dean.
"Yoi," balas siswa tadi lalu pergi.
Ruang kepsek
Di dalam ruang kepsek ada 4 laki² yang sedang duduk dengan tampang serius, 4 laki² itu adalah Connor, Wira, kepsek dan... Vio, Vio adalah paman dari Deandra, paman yang paling dekat dengan Dean.
Nesya, Satya dan Dean pun masuk ke ruang kepsek. Kepsek pun berdiri dan pamit pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa?," tanya Nesya.
"Kau jangan lupa dengan janjimu pada kakek, dia ingin kau datang ke klan Ashura untuk tes masuk," jawab Wira dengan bahasa Jepang.
"Dean kau dipanggil ke Paris oleh ayahmu, datanglah setelah ini," ujar Vio dengan bahasa Prancis.
"Satya kau harus melanjutkan sekolahmu di Prancis, tak ada penolakan. Ini permintaan ibumu," ujar Connor dengan bahasa Prancis.
Nesya, Dean dan Satya membeku di tempat tapi dengan cepat Dean dan Nesya menyetujuinya. Satya? dia bingung, dia diharuskan memilih Lyra atau Rossie.
"Akan kupikirkan," jawab Satya dengan bahasa Prancis.
Connor mengangguk lalu memberikan berkas pada Satya, Vio memberikan sebuah surat yang ditandatangani langsung oleh ayah nya Dean, Wira memberikan copy surat perjanjian Nesya dan Rescha pada Nesya.
"Urusan kami sudah selesai," ujar Vio lalu berdiri diikuti Wira dan Connor.
Mereka pamit pergi menyisakan Nesya, Dean dan Satya di ruangan itu. Satya tampak frustasi, Dean bingung dan Nesya cukup tenang.
"Akh... bagaimana ini?," gumam Satya sembari mengacak rambut nya kasar.
"Kau ini kenapa?," tanya Nesya.
"Tidak ada," jawab Satya akhirnya.
Mereka pun kembali ke kelas, Dean tak berminat membaca isi surat itu, dia menyimpannya dan tidur di dalam kelas. Satya berpikir keras sampai terlihat sekali dia frustasi. Nesya dia tidur dan memilih tak memikirkan apa yang dikatakan kakaknya.
Kelakuan mereka mengundang tanda tanya di benak teman²nya, Vyone mencoba bertanya pada Dean tapi dia tak mau menjawab, apalagi Nesya dan Satya.
Mansion Night Clair
Kamar Dean
Mereka sudah pulang, ngomong² Dean dan Satya memang sudah tinggal di mansion Night Clair, Dean saat ini sedang membuka dan membaca surat yang tadi diberikan Vio.
PS : Suratnya pake bahasa Prancis gaes
'Deandra, ada hal penting yang harus kita bicarakan, ayah harap Dean bisa menerimanya
TTD : Revandra Fav'
Isi surat itu cukup singkat membuat Dean mengernyit penasaran.
"Ayah ngapain sih pake surat segala padahal kan bisa lewat WA," gumam Dean.
Disaat dia penasaran pintu kamarnya terbuka tiba², Vyone masuk ke kamarnya tanpa rasa bersalah, dia pun menyimpan surat tadi ke dalam nakas dan menatap Vyone yang cemberut.
"Ada apa?," tanya Dean.
"Tadi kau itu kenapa? mengacuhkanku begitu saja! aku kesal tau!," jawab Vyone kesal.
Hah.. entah apa yang terjadi pada mereka, hubungan Vyone dan Dean berubah jadi begitu manis sedangkan Satya dan Lyra? sangat terlihat mereka memiliki perasaan lebih satu sama lain.
"Haih? benarkah? maafkan aku. Aku ga tau tentang itu, maaf," balas Dean merasa bersalah.
"Hump... kau menjengkelkan!," celetuk Vyone sambil duduk di pinggir ranjang dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dean mendekati Vyone dan memeluknya, mulai deh bucinnya😵.
Mari kita tinggalkan pasangan yang sedang dimabuk cinta itu😵, kita beralih ke Satya yang sedang dalam masa sulit.
Kamar Satya
Satya sedang dilanda kebingungan, disatu sisi dia masih bingung dengan perasaannya pada Lyra, disisi lainnya dia ingin membahagiakan sang mama, dilema yang besar.
Tok tok tok
Pintu kamarnya di ketuk perlahan, dia menyuruhnya masuk. Leon pun masuk membawa sebuah laptop, mereka memang memiliki janji temu untuk membahas kerja sama perusahaan.
"Lo ada masalah?," tanya Leon saat melihat raut wajah Satya.
"Ho'oh anj1r, gue bingung bat," jawab Satya.
Leon duduk di sofa yang sudah di sediakan, Satya sendiri duduk di pinggir ranjang.
"Bingung kenapa?," tanya Leon sambil menyalakan laptopnya.
"Gue kudu ngelanjutin sekolah di Prancis dong," jawab Satya bingung dan pusing.
"Ha? seriusan? trus lo udah ngasih tau ini ke Lyra? lo sama dia kan ada hubungan lebih," balas Leon.
"Nah itu, gue bingung gimana ngasih taunya. Gue ga mau bikin dia sedih tapi gue juga ga mau bikin dia kecewa, nanti kalo gue pergi tiba² dikira ga nganggep Lyra lagi. Bingung sumpah," balas Satya yang kepalanya terasa nyut²an.
Author : Dilema jadi cowok, yang sabar ye bro
"Gue kasih saran aja nih ya, lo mending....."
Leon memberi saran pada Satya, mata Satya kembali berbinar setelah itu mereka membicarakan masalah bisnis.
Kamar Nesya
Saat ini Nesya sedang sibuk²nya, tanpa dia sadari Arya memperhatikan nya, Arya juga sudah masuk ke kamar Nesya. Arya merasa kasihan pada Nesya karna harus bekerja ekstra apalagi bisnis Nesya sangat banyak dan kalo bisnis² itu gagal maka akan memperoleh banyak kerugian sampai bermiliaran dollar.
Asal para readers tau aja, menjadi seorang pembisnis harus bisa memilih dengan baik, mempersiapkan dana, memilih orang yang terpercaya supaya ga ada korupsi, memikirkan strategi yang tepat dan masih banyak kesulitan lainnya.
__ADS_1
Back to story
Nesya masih sibuk pekerjaannya, dia mungkin tampak seperti sedang bekerja padahal pikirannya sedang melayang entah kemana, dia memikirkan bagaimana caranya untuk bisa lolos tes masuk klan Ashura.
"Sibuk banget ya?," tanya Arya tiba² membuatnya terlonjak.
"Astaga... kau mengejutkanku," keluh Nesya.
"Hehe maap, peace nes✌," balas Arya dengan cengirannya.
"Iyain," balas Nesya lalu membereskan berkas yang tadi dia kerjakan.
Bagaimana pun Arya juga seorang pembisnis yang bisa mengcopy strategi bisnisnya.
"Lo ngapain disini?," tanya Nesya sembari menatap tajam Arya.
"Gue mau nanya, akses masuk ke Thick Mist Island itu apa?," tanya Arya balik.
"Untuk?," tanya Nesya datar.
"Gue mau masukin Haris kesana lagi, daripada dia gangguin gue mulu kan? males jadinya, gue juga mau nyari tau tentang Nila zan disana. Gue tau lo udah bikin sistem IT yang kelewat canggih disana, dia juga kan yang ngatur robot² disana sama pelatihan Guardian," jawab Arya luwes, dia tau Nesya sangat waspada apabila ada yang menanyakan proyeknya.
"Kenapa?," tanya Nesya masih datar, dia masih belum puas dengan jawaban Arya.
"Huh.... kemarin, udah lama lah intinya. Gue kan nganterin Nila tuh ke tempat bude nya, tapi... gue nemu kejanggalan, gue ngerasa semua yang dilakuin Nila itu udah direncanain," jawab Arya jujur.
"Kejanggalan?," tanya Nesya masih belum puas.
"Ini, pulpen kunci sama buku diary berdarah, gue ngerasa kalo ini ada hubungannya sama Nila," jawab Arya membuat Nesya menghela napas pendek.
"Akses masuk ke Thick Mist Island adalah kartu pengenal, kartu VVIP Diamond, scan anggota tubuh dan mental," ujar Nesya membuat Arya melongo.
"Scan mental? apa itu?," tanya Arya bingung.
"Huh... scan yang merangsang otak, meraih mental untuk melihat adakah kebohongan dan niat tersembunyi di orang itu," jawab Nesya.
"Kau... sangat waspada ya," Arya hanya bisa tersenyum kecut.
"Untuk mengantisipasi seseorang terhipnotis atau akses masuk direbut," Nesya tersenyum devil.
"Oh iya, sebenarnya akses masuk sana hanyalah kartu pengenal dan kartu VVIP Diamond juga scan anggota tubuh. Aku memberitahumu tentang itu supaya kau... bisa memanipulasinya."
Arya memasang smirk lalu mengangguk, dia pun pamit untuk pergi, tak lama setelah Arya pergi Nesya menelepon seseorang.
"📱Cari tau semua tentang gadis bernama Nila zan."
"📱Lalu?."
"📱Awasi.... mereka, awasi juga Joshie dari TAC."
"📱Kenapa Joshie dari TAC?."
"📱Aku rasa, mereka ada hubungan spesial, cari tau semuanya. Semuanya."
Nesya menekan kata 'semuanya' membuat seseorang di seberang sana merinding.
"📱Baiklah, perintahmu adalah keputusan mutlak yang harus dilaksanakan. Tunggu kabar selanjutnya."
Tuut... tuut... tuut..
Sambungan terputus, Nesya memasang smirk mengerikan lalu tertawa sadis, tawanya membuat siapa saja bergidik ngeri, sangat kuat, tekanan dalam suaranya membuat siapa pun yang mendengar tawanya tak bisa berkata apa² lagi, mereka seakan membeku di tempat.
Dia dan Vyone lagi.... lagi apa hayooo??? ups! lagi nobar lewat laptop, ha?? sekali lagi saya perjelas, DEAN DAN VYONE LAGI NOBAR LEWAT LAPTOP DI KAMARNYA DEAN, NONTONNYA FILM ROMANCE GAESSS!! SUER DAH✌.
"Sayang, aku harus ke Paris hari ini," celetuk Dean.
What?!! ga salah denger tuh?! Sayang?!! OMG OMG OMG Author pingsan:v.
"Ngapain?."
"Ga tau juga sih."
"Lama gak?."
"Mungkin... cuma 3 hari sama pulang pergi."
"Em... okd, ga masalah tapi janji dulu."
"Janji apa, sayang?."
"Aku mau... aku mau kamu bawa aku ke Fete des lumiries di Lyon," mata Vyone berbinar.
"Festival cahaya? yakin nih??," goda Dean.
"Em... Dean~," rengek Vyone.
"Hahaha... iya², aku janji bakal bawa kamu kesana," jawab Dean dengan senyuman tulus.
"Janji," Vyone menunjukkan jari kelingkingnya, mengajak berjanji.
"Iya sayang, janji," jawab Dean yang mengaitkan jari kelingkingnya di jari Vyone.
"😊Makasih sayang," balas Vyone sambil memeluk kekasihnya itu, ups! cinta pertamanya.
"😊," respon Dean.
"Kiss dulu dong," goda Dean.
"Em..."
~oOo~
3 hari kemudian
Dean kembali ke Indonesia dengan sikap yang berubah, Vyone juga bingung karna Dean yang terlihat frustasi sedangkan Satya kini akan melaksanakan rencananya.
Ngomong² soal rencana, Satya dah mikirin mateng² pake bantuan Nesya (si jenius + sahabat Nesya), Leon (si bijaksana + pemberi saran baik) dan Feter (si tenang + peramal ulung).
'Semoga aja dia ga marah, hihi,' batin Satya.
Setelah bel istirahat kedua berbunyi Satya pergi membawa Lyra ke taman bermain, mereka mungkin bermain disana sampai sore.
Dean, sekarang dia sedang kesal, dengan kepala yang di telungkupkan di meja membuat teman²nya yang lain kebingungan.
'Kau harus mengakhirinya, ayah tau itu berat tapi inilah kenyataannya kau bisa mengetesnya lagi...'
Kata² itu teriang di telinga Dean, ingin rasanya Dean menculik orang yang dimaksud dan menyimpannya.
__ADS_1
Brak!
Dean menggebrak mejanya dengan keras membuat siswa lain di kelas terlonjak kaget, Dean pergi ke luar kelas, di perjalanan dia bertemu Vyone. Dean menarik Vyone ke rooftop untuk bicara serius.
"Hei... ada apa sih?," tanya Vyone bingung.
"...."
Dean menarik Vyone dan mencium bibirnya, mel*matnya kasar membuat Vyone tambah bingung, saat Dean melepas pagutan mereka mata Dean sudah mulai berkaca kaca.
"Vyone..."
"?," Vyone benar² bingung sekarang.
'Maaf, maafin aku Vyone. Maaf,' batin Dean menangis.
"Aku mau kita putus."
Deg!
4 kata yang diucapkan Dean membuat Vyone menegang di tempat, matanya mulai terasa berat, dadanya sesak, nafasnya udah ga beraturan, jujur... saat ini Vyone merasa sangat sakit di hatinya.
"Haha.. bercanda kan?," tanya Vyone dengan tawa getir.
"Engga, aku ga bercanda," jawab Dean.
"T t tapi k kenapa?," tanya Vyone lagi.
"...."
Dean hanya bisa diam.
Tes
Air mata Vyone mulai berjatuhan, Dean yang melihat itu merasa sakit yang teramat di dadanya, dia sudah sangat ingin menangis.
"Kenapa?," lirih Vyone dengan suara bergetar menahan tangis.
"Jangan menangis kumohon," lirih Dean membuat Vyone...
Anggap aja kaya gitu
"☺(fake smile)."
Hati Dean mencelos melihatnya, dia ingin memeluk Vyone, menenangkannya dan mengecup puncak kepalanya berkali kali tapi sekali lagi dia tak bisa berbuat apa², dia hanya bisa mematung melihat gadis pujaan hatinya menangis tersedu sedu sambil menampakkan fake smlie.
'Sorry Vyone, hanya ini yang bisa kulakukan. Maaf, maaf...,' batin Dean menangis sejadi jadinya.
"☺(fake smile), Vyon. Carilah pria yang lebih baik dariku," ujar Dean.
"Aku menyayangimu Vyone, sangat," ujar Dean sangat lirih hampir ga dengeran.
Dean mengacak rambut Vyone lalu berbalik, saat akan melangkah pergi dia merasa ada yang menggenggam tangannya.
"Kenapa?," tanya Vyone dengan disertai isak tangis yang tertahan.
"...."
"Kau akan tau nanti," lirih Dean begitu pelan.
Dean menghempaskan tangan Vyone lembut dan pergi dari rooftop.
Brak!
Pintu rooftop tertutup sempurna, Vyone berjongkok di tempat dan menangis sejadi jadinya, dia terus menggumamkan kata 'kenapa?'. Dibalik pintu rooftop Dean menangis tanpa suara, hanya ini yang bisa dia lakukan, kenyataan itu memang kejam.
Dean pergi ke toilet yang jarang dilewati orang.
Prang!
Brak
Buk!
Disana dia menangis dan memukul mukul dinding juga kaca membuat tangannya berdarah, Leon yang lagi ada patroli disekitar situ dibuat terkejut, Leon pun segera masuk ke toilet itu, dia melihat Dean yang menangis sambil memukul kaca.
"Lo ngapain sih?," tanya Leon tetap tenang, dia dah biasa liat kekacauan kaya gini.
"Gue putus sama Vyone," jawab Dean membuat Leon terkejut.
"Bukannya lo bilang lo cinta banget ya sama dia? trus kenapa lo mutusin dia?," tanya Leon bingung.
"Masa iya ~~~ ~ ~~~ ~~~ ~~~? ~~~ ~ ~~ ~~ ~, ~~ ~~ ~~ ~~ ~~ ~~ ~~~!," jawab Dean membuat Leon terkejut bukan main.
"Makanya gue ngetes lagi di RS mansion, gue cuma butuh kebenarannya," lirih Dean.
"Trus lo sedih gegara itu? gegara alesan lo putus sama Vyone?," tanya Leon hati² karna emosi Dean bisa makin meledak.
"Karna gue liat dia nangis, dada gue sesek liat dia nangis, gue payah! gue beg*!! gue janji ga bakal bikin dia nangis lagi tapi sekarang?! gue bikin dia nangis karna gue mutusin hubungan tanpa dia tau apa alesannya!," Dean menangis.
"Arrgg!!! gue PENGECUT!! FU*K! GOBL*K! kenapa jaga hati seorang cewe aja gue ga bisa sih?!! kenapa?!," Dean membentak diri sendiri dengan emosi yang menggebu gebu.
~oOo~
Disisi lain
"Huaaa... beneran mau bolos disini?," tanya Lyra memastikan dengan wajah berbinar.
"He'em, ga usah hirauin orang lain. Cukup kita aja yang menikmati," jawab Satya sambil menggandeng tangan Lyra.
Lyra sedikit merona mendengarnya.
"K kalo orang lain main wahana yang sama juga bakal ngerasain hal yang sama kan?," tanya Lyra ga mau kalah.
"Mungkin, tapi kamu harus inget kalo setiap orang itu selain punya cara tersendiri buat menikmati juga punya perasaan tersendiri buat merasakan, makanya aku ngomong kaya tadi," jawab Satya.
Wajah Lyra sukses memerah malu, Satya dan Lyra pun masuk setelah membayar tiket masuk, Lyra terkagum kagum dengan apa yang dia lihat, dengan antusias Lyra dan Satya bermain setiap wahana disana.
Wajah Lyra yang begitu cerah membuat Satya senang dan ga tega buat ngerusak wajah itu, Satya rasa dia udah tau apa perasaannya pada Lyra, mari kita doakan semoga dia berhasil.
Bersambung...
~oOo~
Apa ya yang Dean bicarakan? maap kalo kurang bagus alurnya🙏.
__ADS_1