My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 9 : Teman Pertama


__ADS_3

Nala membeli banyak selimut, kotak P3K, dan banyak lagi, ya... harganya fantastis sih tapi itu uang kecil bagi Nala, hmm.... setara sama uang sakunya per bulan mungkin.


Setelah membeli banyak barang, Nala dkk makan bersama di resto terdekat.


 ~oOo~


Mereka segera kembali ke rumah baru mereka, Nala dkk bertemu dengan orang suruhan kakek Rescha yang dibawa bersama Nala dkk dari Jepang, mereka telah membersihkan dan memrapihkan rumah baru Nala sehingga mirip dengan kamar Nala di Inggris.


Ruang kerja sengaja Nala tempatkan di bawah dekat basement lantai terbawah, hari itu hari yang melelahkan bagi Nala, dia dkk beristirahat di kamar masing², ke 50 mafioso dan 10 maid juga beristirahat di kamar yang Nala sediakan yaitu di sekeliling mansion itu, walaupun tak di dalam tapi kamar² itu cukup nyaman dan seperti tentara, mereka tinggal beberapa orang sekamar tapi tetap di pisahkan laki² dan perempuan.


 ~oOo~


"Hoamm....," suara Nala yang khas bangun tidur sudah terdengar pada pagi itu, jam 1 pagi, Nala memang tidur hanya 3 jam jadi Nala semalam tidur sekitar jam 10 malam.


Nala mengucek kedua matanya lalu beranjak masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengganti kimono tidurnya dengan pakaian biasa, kaus tanpa lengan berwarna putih dengan celana panjang jogging berwarna hitam, dan ia mengikat rambutnya dengan kuncir kuda, Nala turun menggunakan tangga karna dia memang berencana untuk mengelilingi rumah barunya itu.


Di lantai 3 tempat kamar Nala dan 4 kamar lainnya yang belum di tempati serta kamar Lina dkk, di sana Nala menemukan beberapa ruangan kosong, Nala mengaturnya menjadi ruang santai, jam 1 dini hari itu Nala sudah bekerja, sendirian lagi, Nala memindahkan beberapa sofa yang tidak terlalu berat ke ruangan santai itu.


Nala memesan sebuah ayunan rotan gantung dengan bantalan warna biru, setelah itu dia kembali menata dekorasi ruang santai yang terhubung dengan balkon yang luas, setelah menata dan membersihkan ruangan itu Nala kembali menelusuri tempat lainnya di lantai 3 itu.


Sampai matahari terbit, Nala masih bekerja menelusuri, menata dan membersihkan ⅛ bagian dari rumahnya.


"Oh lala, aku baru menelusuri ⅛ bagian dari rumah ini!," gerutu Nala kelelahan, dia beristirahat di salah satu sofa.


 ~~~


Sraaasshh...


Suara air pancuran di kamar mandi menyegarkan tubuh Yi Fan pada pukul 4.35 pagi. Yi Fan, Mei, Lina dan Wendy tinggal sekamar beda ranjang dan sisanya, cowo² tinggal di kamar yang bersebelahan dan hanya di sekat dinding dan di hubungkan pintu yang lumayan besar.


Setelah mandi, Yi Fan segera memakai pakaian casual dan bergegas membangunkan yang lain.


"Hei, Lina! ayo bangun lalu mandi! Wendy juga bangun! Mei! Wu Mei!! huh... anak itu," panggil Yi Fan membangunkan mereka.


"Sudahlah Yi Fan, ini masih pukul 4.35 dan kau sudah berkicau saja, bangunkan Wang sik dan yang lain saja. aku akan mandi," jelas Lina sambil masuk ke kamar mandi.


"Ya sudahlah!," gumam Yi Fan kesal lalu pergi melewati pintu penghubung ke kamar laki².


Ceklek kriet...


Pintu di buka perlahan oleh Yi Fan, dia masuk dengan perlahan, niatnya sih bangunin yang lain malahan Yi Fan yang kaget karna Kakashi yang sudah bangun dan mandi.


"Ya ampun.... kau mengagetkanku, Kakashi," jelas Yi Fan sambil mengelus dadanya untuk menenangkan diri pada Kakashi yang duduk menghadap jendela dengan santai.


"Kenapa kau harus kaget? sudahlah bangunkan saja 2 human itu," jelas Kakashi santai sambil memainkan ponselnya.


"Hmm....," jawab Yi Fan lalu bergegas membangunkan pak Dicky dan Wang sik.


"Kenapa kau bangun begitu pagi?," tanya Yi Fan heran.


"Tidak ada, hanya ingin bangun pagi saja," jawab Kakashi acuh.


"Ya sudahlah, aku akan panggil nona Nala," kata Yi Fan mengalah.


Yi Fan mengetuk pintu kamar Nala tapi tak ada jawaban lalu Yi Fan masuk ke dalam karna pintunya tak di kunci, dan dia tak menemukan nona mudanya di manapun, Yi Fan bergegas kembali ke teman²nya.


"Guys! nona ga ada di kamarnya!," seru Yi Fan agak panik.


"Alah.. palingan juga nona lagi mandi," jawab Wendy yang telah mandi dan berganti pakaian.


"Ga ada di kamar mandi! ga ada di mana²!," seru Yi Fan lagi.


"Benarkah? ayo kita cari, Mei biarkan tidur saja, dia kan tak tidur sampai lewat tengah malam," jelas Kakashi lalu berlalu pergi mencari nona mudanya disusul teman²nya yang lain.


Para mafioso dan maid yang sudah terbangun juga mencari Nala,


'Ya ampun... nona muda sering banget ngilang ya,'


'Kemana lagi, nona Nala?,'


'Nona Nala bangun jam berapa sih?'


Kira² itulah gerutuan para bawahan Nala yang mencari Nala kemana mana dan Nala sedang menelusuri lantai 2 rumah itu dan mendengar banyak langkah kaki, dia melihat ke balkon.

__ADS_1


"Hei! kenapa brisik sekali!," teriak Nala sedang intonasi dinginnya dan wajah kesal.


"Oh ya ampun... syukurlah nona baik² saja, kami minta maaf sudah mengganggu nona," kata para mafioso dan maid.


"Ah iya, tak apa, lain kali jika aku menghilang di pagi hari, kalian jangan khawatir, aku hanya sedang mengerjakan sesuatu, mengerti?," jelas Nala.


"Mengerti, nona!," jawab mereka serentak.


"Kalian bersiaplah untuk latihan, kemarin aku sudah beli peralatannya jadi di manapun kalian berada, kalian tetap berlatih, nanti jam 8 pagi berkumpul," jelas Nala lalu berbalik menelusuri rumahnya lagi.


Nala kembali menemukan ruangan yang menarik, Nala berniat menjadikannya ruangan GYM pribadi, dia memesan banyak alat olahraga yang bisa di gunakan di rumah, lalu Nala kembali melanjutkan kegiatannya sampai lantai 1 dia menghentikan penelusurannya dan bergegas ke lapangan karna jam sudah menunjukkan pukul 7.50.


"Pagi semuanya!," sapa Nala.


"Pagi, nona muda ke empat," jawab mereka serentak.


"Kalian semua akan berlatih baik laki² maupun perempuan jadi kalian sudah siap?," tanya Nala.


"Sudah, nona!," mereka kembali menjawab serentak.


"Bagus, sekarang mulai latihannya hanya saja kita akan pergi lebih jauh untuk mengenal wilayah sekitar, kalian tinggalkan ponsel dan gunakan earphone khusus yang saya berikan kemarin, mengerti?!," kata Nala dengan tegas.


"Mengerti!," jawab mereka serentak lalu mulai membuat formasi.


Mereka meninggalkan rumah tanpa penjagaan karna Nala telah memasang kamera keamanan di sudut² yang bisa di jadikan sasaran maling, dia juga memasang kabel listrik di sekitar pagar rumahnya yang menjulang tinggi padahal sudah di pasangi besi tajam.


Mereka memulai dengan berlari santai untuk mengetahui jalanan kota C, Nala dengan mudah menghafal jalanan dan tempat² yang dia lewati lalu melihat beberapa perusahaan.


'Bagaimana jika aku mengambil alih perusahaan nanti?,' batin Nala.


Mereka sudah mengitari beberapa tempat dan Nala memutuskan untuk membawa semua anak buahnya ke salah satu resto untuk makan bersama, Nala dkk membeli makanan dan sisanya menunggu di lapangan tak jauh dari resto, banyak orang yang mendekat untuk bertanya atau sekedar menyapa orang² yang beristirahat di lapangan itu.


Setelah Nala dkk memesan makanan dan minuman, mereka segera membawa itu semua ke lapangan, mereka makan bersama serasa tanpa ada ikatan atasan dan bawahan, Nala memang butuh teman karna itu dia merekrut banyak orang.


"Silahkan dinikmati makanannya," kata Nala pada semua yang ada di sana.


"Terima kasih, nona!," jawab mereka serentak.


Perlahan senyuman Nala kembali menghiasi wajah cantik nan imutnya, Nala merasa semua bawahannya sudah seperti keluarganya sendiri apalagi pak Dicky hampir seperti ayah kedua bagi Nala. Setelah acara makan selesai, mereka bergegas pulang dan sesuai dugaan Nala, tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah barunya itu.


Hari kelima


Saat istirahat makan seperti hari sebelumnya, yang berbeda adalah Nala yang mulai tersenyum pada orang lain.


Brak! prang!


Barang² berjatuhan di sebuah warung kecil tak jauh dari lapangan, awalnya Nala biasa saja tapi orang² itu berani menyeret seorang anak kecil dan gadis muda yang umurnya jauh lebih tua dari Nala, Nala naik pitam melihat itu tapi mencoba untuk tetap tenang, dia pun menghampiri sumber keributan.


"Ada apa ini?," tanya Nala pada sekumpulan orang yang terlihat memalak pemilik warung kecil itu.


"Ini orang udah ngutang ga dibayar trus nunggak 6 bulan! pokoknya kalo hari ini ga bayar maka mereka harus tutup warung ini!," kata salah seorang di antara mereka dengan tampang sangar.


"Memang berapa utangnya?," tanya Nala lagi, Kakashi dan Lina berdiri di belakang Nala sedangkan yang lain duduk di lapangan.


"5 juta! emangnya kenapa dik?," tanya pria yang tadi.


"Oh... cuma 5 juta, gimana kalo saya yang bayar?," tawar Nala kalem.


"Emangnya adik kecil sanggup?," ejek pria yang lainnya.


"Cek atau Cash?," tanya Nala.


"Cash!," jawab pria yang tampak seperti pemimpin.


"Baik, Lina kau ambil uang 100 juta di bank, pakai kartu ini," jelas Nala lalu memberikan kartu kreditnya.


"Dengan senang hati, nona," jawab Lina lalu pergi ke bank tak jauh dari tempat itu.


"Sekarang kita tunggu, dia yang akan mengambil uangnya," kata Nala lalu duduk di salah satu kursi di ikuti Kakashi (dipaksa duduk sama Nala).


Beberapa menit kemudian, Lina sudah membawa uang 100 juta yang Nala inginkan.


"Ini 5 juta untuk membayar hutangnya," kata Nala sambil memberikan uang 5 juta rupiah.

__ADS_1


"Lalu Lina, kau berikan kepada yang lain 1 juta sebagai DP gaji, kau juga dapat," jelas Nala sambil memberikan amplop berisi uang tadi.


"Terima kasih, nona," jawab Lina dengan senyum merekah.


"Tunggu sebentar! sebaiknya berikan semua uang itu pada kami! jika tidak maka kalian akan mati," ancam mereka menggunakan pisau.


"Kalian sudah kuberikan uang tapi masih ingin yang ini, dasar rakus!," kata Nala.


"Halah... bac*d, kalian ambil uangnya," perintah si leader, saat akan mendekati Nala, Kakashi dengan sigap menangkis setiap serangan dengan tangan kosong.


Nala masih duduk dengan santai di kursi itu dan Kakashi yang menyelesaikan mereka, Lina masih menunggu untuk berjaga jaga jika di perlukan.


"Lemah, masih lemah tapi sudah berani cari masalah, jika kalian mau cari masalah maka carilah lawan yang seimbang!," kata Kakashi penuh penekanan, Lina berbalik dan mulai membagikan uang tersebut pada anak buah Nala yang lainnya, Lina tenang jika meninggalkan Nala di bawah pengamatan Kakashi karna Kakashi adalah tipe orang yang bisa di andalkan.


Dalam beberapa saat orang² itu sudah tergeletak di bawah dengan penuh luka, Nala acuh saja seakan tak terjadi apa², setelah bermain main Nala dkk kembali ke rumah.


Nala sudah menelusuri rumahnya itu dan mulai merasa bosan, dia berjalan jalan ke taman di sekitar komplek rumahnya, dia bermain bersama Mei yang juga bertugas menjaga Nala hari itu.


"Hallo!," sapa seorang anak perempuan seumuran dengan Nala.


"Hai! ada apa ya?," sapa balik Mei.


"Boleh kenalan?," tanya anak tadi.


"Boleh," jawab Nala.


"Ok, Namaku Sarah umurku baru 5 tahun," kata anak itu dengan ceria.


"Namaku Nala, 5 tahun dan ini adikku Mei, baru 4 tahun," jelas Nala dengan nada sedikit lembut.


"Oh, mau kukenalkan dengan yang lain?," tawar Sarah.


"Boleh," jawab Mei dan Nala serentak.


"Sebentar," lanjut Sarah lalu pergi memanggil teman²nya, beberapa menit kemudian, Sarah membawa 2 orang temannya, satu laki² dan satu perempuan.


"Hallo, nama kamu Nala ya? dan kamu Mei? kenalin aku Prime, umurku 5 tahun," kata Prime, si cewe dengan agak tomboy.


"Oh, hallo Prime," sapa Mei dan Nala balik.


"Dan namaku Doni, umurku 6½ tahun, salam kenal," kata si cowo.


"Salam kenal juga, mau bermain bersama?," tawar Mei.


"AYO!!," jawab Sarah bersemangat.


Mulai hari itu mereka berteman baik bahkan bersahabat, teman pertama Nala di Indonesia.


 ~oOo~


Nala dkk sudah mengurus semua persyaratan supaya bisa tinggal di Indonesia.


Baru 2 bulan tinggal di Indonesia, kakek Rescha meminta Nala pulang ke Jepang, entah ada masalah apa, segera saja Nala menyuruh Wendy untuk mengurus transportasi, Nala kembali ke bandara Soekarno-Hatta meninggalkan para mafioso dan maid di sana.


"Kapan pesawat kita take off?," tanya Nala pada Wendy.


"Segera setelah kita sampai, nona," jelas Wendy, Nala dkk sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta menggunakan mobil sport yang baru di beli.


Sampai di bandara, jet pribadi Nala sudah take on dan bersiap untuk take off setelah Nala dkk naik ke dalam pesawat milik keluarga Nero itu, perjalanan dari Jakarta menuju Jepang bukanlah perjalanan singkat, mereka membutuhkan beberapa jam untuk sampai.


Di Jepang


"Selamat Datang kembali, nona muda ke empat," sapa anak buah kakek di mansion menggunakan bahasa Jepang.


Nala mengangguk dan mulai memasuki rumah mewah milik keluarga nya itu di ikuti ke 4 anak buahnya (Kakashi, Yi Fan, Lina dan Wendy, sisanya di tinggal di Indonesia), Nala menemui kakeknya di ruang baca.


"Hallo, kakek," sapa Nala saat memasuki ruang baca, hanya Nala yang masuk.


"Hallo, cucuku sayang," sapa balik Rescha dengan tersenyum lalu memeluk cucu nya itu.


"Kenapa kakek memanggilku kemari?," tanya Nala setelah melepas pelukannya.


Bersambung....

__ADS_1


 ~oOo~


Next eps! tungguin kelanjutan ceritanya! bye... readers😚


__ADS_2