
Nala di jatuhkan begitu saja oleh Rescha, Nala mengatur napasnya kembali, setelah itu dia kembali berdiri, darah masih mengalir dari leher putihnya.
~oOo~
"Kalian boleh pergi," perintah Rescha.
Leon dan Nala langsung pergi dari ruangan laknat itu.
"Kita ga keterlaluan?," tanya Arga setelah Nala dan Leon pergi.
"Ga, kita masih dalam batas," jawab Rescha santai.
"Batas yang dibuat olehmu sendiri 'kan," tebak Arga sinis.
"Yap, selamat anda beruntung karna berhasil menjawab dengan benar," balas Rescha bercanda seperti tidak ada terjadi.
"Oh iya, kekacauan ini?," tanya Arga sambil melihat sekeliling nya.
~oOo~
Back to Nala and Leon
Di saat yang bersamaan
Nala dan Leon baru pergi dari ruangan laknat itu dengan wajah dan tubuh penuh memar jug darah tapi mereka tetap berjalan dengan tubuh tegap seperti biasa, mereka melewati ruang tengah dimana semua orang sedang berkumpul disana, orang² terkejut melihat keadaan Nala dan Leon.
"Apa yang terjadi, dik?," tanya Ari cemas sambil mendekati adik kesayangan nya itu.
Nala dan Leon hanya menatap datar orang² disana, mereka berhenti berjalan dan mendengarkan pertanyaan mereka.
"Kenapa kakak mengadu pada kakek?," tanya Nala datar pada ketiga kakaknya, Gusion juga ikut bertanya dengan wajah khawatir.
"......" ketiga kakak Nala terdiam.
"Kakak hanya ingin kamu ga salah jalan, Na," ujar Wira bijak, khawatir, cemas dan takut jika adiknya mengamuk.
"Oh," respon Nala datar dan acuh.
"Eon, kakak ga tau kalau.. ayah bakal kasar ke kamu, maafin kakak ya," bujuk Cleo pada adiknya.
"Hm..," respon Leon datar.
Nala dan Leon pergi meninggalkan ruang tengah tapi tiba² tangan Nala di tahan Gusion, Nala menoleh ke arah Gusion dengan malas.
"Jangan marah, kami hanya ingin yang terbaik untukmu," ujar Gusion lembut.
Bugh
Perut Gusion di pukul oleh Nala sampai Gusion terpental, dengan gerakan yang sulit diikuti mata manusia, Nala melesat ke arah Wira dan Ari.
Bugh
Bugh
Perut Ari dan Wira juga di pukul oleh Nala sampai terpental, untuk Ari dia mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya, pukulan Nala yang mengenai tubuh mereka cukup kuat sampai membuat mereka terpental, orang² di ruang tengah kecuali Leon yang melihat kejadian itu langsung bergidik ngeri.
Plak
1 tamparan berhasil mengenai pipi Cleo, tamparan yang cukup keras dari Leon (tapi ga sekeras 4 tamparan yang di dapet Leon), sudut bibir Cleo mengeluarkan sedikit darah, semua orang kecuali Nala terkejut melihatnya.
"Untuk kakak LAKNATku, semoga suka," ujar Leon datar sambil menekankan kata 'laknat'.
Cleo benar² merasa bersalah atas apa yang dia lakukan, dia mengusap perlahan sudut bibirnya yang berdarah.
"Walaupun masih belum impas," sambung Leon dengan lirih.
"Terima kasih atas lukanya," ujar Nala, semua terdiam.
"Selamat menikmati, para kakak," sambung Nala sambil berlalu pergi diikuti Leon.
"Hiks... hiks... hiks..," setelah Nala dan Leon pergi Ari mulai menangis dalam pose tersungkur di lantai, perutnya tidak benar² terasa sakit, hanya sedikit nyeri saja.
"Kakak... Nala marah padaku, hiks... dia benar² marah padaku.. hiks.. hiks.. huaaa..," Ari menangis keras dalam pelukan kakaknya.
Ari, Wira, Gusion dan Cleo kembali ke kamar masing² meninggalkan orang² yang terdiam di ruang tengah.
"Luka Nala dan Leon apa bisa di sembuhkan?," tanya Lyra cemas.
"Entahlah, kita berdoa saja supaya mereka cepat sembuh," jawab Vyone.
P.S : Vyone menginap di mansion utama atas permintaan teman²nya, para bawahan Nala sibuk mengurusi usaha Nala, oma-nya Nala lagi ga ada di ruang tengah, ortu² mereka lagi pada sibuk kerja.
"Kasihan kakak²nya, mereka pasti merasa bersalah," ujar Tara, kakak Dika.
"Iya, kak. Kakak sebaiknya temui kak Cleo," balas Dika.
"Hm...," jawab Tara lalu berdiri dan pergi menuju kamar Cleo.
"Woy, Dika. Kakak lo punya hubungan apa sama kak Cleo?," tanya Arya yang bingung setelah Tara pergi.
"Ya.. gimana yah, liat aja nanti," jawab Dika misterius.
~oOo~
Di kamar Ari
"Hiks.. hiks..," dari tadi Ari terus menangis sejadi jadinya padahal udah ditemenin Gusion dan Wira.
"Kak, sudahlah. Nala ga marah beneran kok," ujar Gusion menenangkan kakak perempuan nya.
"Ari, sudahlah. Jangan menangis terus, ok," bujuk Wira lembut.
"Huaa....," tangisan Ari malah makin kencang di pelukan Wira dan Gusion.
Di luar kamar Ari
__ADS_1
Cleo mendengar tangisan Ari dari luar kamar, dia merasa sangat bersalah, Tara menghampiri Cleo yang mematung tak jauh dari pintu kamar Ari.
"Cleo," panggil Tara lembut sambil mengusap punggung Cleo.
"Tara," balas Cleo sambil menoleh.
"Aku bawa kotak P3K, aku obatin luka kamu dulu ya," ujar Tara.
~oOo~
Nala dan Leon dalam perjalanan menuju kamar Nala, hening terjadi diantara mereka sampai masuk ke kamar Nala.
Leon duduk di sofa kamar Nala dan Nala mengambil kotak P3K dari rak tak jauh dari sofa.
"Kamu bisa?," tanya Leon saat melihat Nala duduk lalu membuka kotak P3K dan mengambil kapas + alkohol.
"Iya, aku bisa," jawab Nala sambil mengangguk dan tersenyum tipis.
Nala mulai mengobati luka di wajah Leon satu per satu, membersihkan dan memakaikan plester, wajah Leon penuh dengan darah sampai kapasnya lebih dari 10, Leon mengamati wajah Nala dan dia melihat kesedihan di mata indah Nala.
"Kamu sedih karna kakek kamu ya?," tanya Leon, Nala berhenti mengobati Leon sejenak lalu menggeleng.
"Lalu? kamu kenapa?," tanya Leon cemas.
"......hiks...," jawab Nala dengan isak tangis yang mulai keluar.
"Hei, kamu kenapa?," tanya Leon makin khawatir.
"Maaf... maafkan aku," jawab Nala di sela tangisnya yang tertahan.
"Kenapa sih?," tanya Leon makin bingung.
Greb
Nala memeluk Leon erat dan tangisnya mulai pecah dalam pelukan Leon, Leon hanya mengelus rambut Nala dan mencoba menenangkan nya.
"Maaf... karna kakek kamu jadi kaya gini," ujar Nala lirih.
"Kakek? oh, yang tadi ya, aku udah pernah di tampar ayah kok jadi itu bukan salah kamu atau kakek Rescha," balas Leon, Nala mendongak untuk menatap Leon.
"Kenapa kamu di tampar?," tanya Nala penasaran disertai isakan nya.
"Karna... aku pernah ngelakuin kesalahan, jadi aku udah pernah di tampar sih. Udah jangan nangis lagi ya," jawab Leon sambil membujuk.
"Hem... aku masih ngerasa bersalah sama kamu," lirih Nala.
"Udah ya, nanti aku makin bingung nih mau nenangin kamu gimana lagi," balas Leon sedikit bercanda.
"Em...," dehem Nala sambil mengeratkan pelukan.
"Oh iya, kamu pernah dihukum pergi ke dimensi lain ya?," tebak Leon sembari mengelus rambut Nala.
"Iya," jawab Nala sambil melepaskan pelukannya dan kembali mengobati luka di wajah Leon.
"Nanti aja," jawab Nala acuh padahal luka di lehernya terus mengeluarkan darah walaupun sedikit, dia beranjak berdiri sambil membawa kotak P3K.
"Udah sini-in kotaknya," suruh Leon, Nala memberikan kotak P3K itu pada Leon.
Nala di tarik duduk kembali dan luka di lehernya mulai diobati Leon, Nala sedikit tersentak begitu merasakan perih akan luka di leher yang bersentuhan dengan alkohol.
"Aw.. pelan² dong, Leonardo," pekik Nala kesakitan karna Leon menekan lukanya dengan keras.
"Maap maap, ga sengaja hehe," balas Leon sambil cengengesan.
"Bisa ga rambut kamu di singkirin dulu, susah nih ngobatinnya," protes Leon saat akan mengobati luka di leher bagian belakang Nala.
"Sans dong," balas Nala sambil memindahkan rambut panjangnya ke bahu, lalu duduk membelakangi Leon.
"Leher kamu panjang juga kek jerapah, sering makan daon yak?," goda Leon sambil tersenyum dan mengobati leher Nala.
"Makan daon palakau, mau ku gedik ya?," ancam Nala kesal.
"Ye... serius amat sih, santuy santuy," balas Leon sambil cengengesan.
"Aw! di bilangin jangan keras² juga!," pekik Nala kesal.
"Santuy napa," balas Leon sambil memasangkan plester pada leher Nala.
"Udah?," tanya Nala saat melihat Leon membereskan kotak P3K.
Leon memeluk Nala dari belakang lalu mengecup leher Nala yang terbuka dan terdapat bekas luka yang baru Leon obati, Nala membiarkan Leon seperti itu selama beberapa detik sampai pintu kamar Nala di buka dan menampakkan 2 wanita paruh baya yang tak lain adalah mamanya Leon dan omanya Nala.
"Nala!."
"Leon!."
Panggil mereka bersamaan membuat Leon melepaskan pelukannya dan menoleh ke sumber suara diikuti Nala, Zelfa dan Rani Amartha Adijaya biasa dipanggil Rani langsung berhambur memeluk Nala dan Leon.
"Ya ampun, Leon... kok muka kamu bisa sampe babak belur gini sih?," tanya Rani cemas setelah melepaskan pelukannya.
"Nala... kamu itu ya, di bilangin jangan buat kakek kamu marah masih aja bandel," ujar Zelfa memarahi Nala setelah melepas pelukan nya.
"Ini leher kamu pasti di cekik ya sama kakek kamu itu," sambung Zelfa begitu melihat luka di leher Nala.
Bla bla bla
Mereka memarahi sambil mencemaskan Nala dan Leon, Nala dan Leon hanya diam dan terkekeh kecil mendengar omelan kedua wanita paruh baya yang begitu mencemaskan mereka.
"Udah dong, ma," ujar Leon menenangkan mamanya.
"Huh... nanti mama marahin papa kamu itu," ujar Rani akhirnya.
"Eh, ini siapa? cantik banget," sambung Rani yang baru sadar akan keberadaan Nala di sebelah Leon dan Zelfa.
"Hallo tante, kenalkan namaku Nala," balas Nala dengan ramah.
__ADS_1
"Kok aku baru sadar kalo di keluarga Nero ada yang secantik kamu," puji Rani senang.
"Wah wah, kau baru menyadarinya Rani, dia ini salah satu cucu yang paling cantik diantara yang lain," ujar Zelfa menyombongkan Nala.
"Udah dong, oma," tegur Nala.
"Eh, bener kok, kamu cantik banget. Kamu kesini dong, Leon geser," ujar Rani menyuruh Leon bergeser supaya Nala bisa duduk.
"Anak sendiri diusir," gerutu Leon dengan wajah kesal.
"Utututu... sini deh sama oma, kamu ganteng banget sih udah gitu imut lagi," puji Zelfa gemas sambil mencubiti pipi Leon.
"Ya ampun... kamu cantik banget, em... siapa nama kamu tadi?," tanya Rani.
"Nala, tante," jawab Nala ramah.
"Jangan panggil tante dong, panggil aja mama, ok," balas Rani membuat Nala tersenyum senang.
"Iya... ma," ralat Nala agak ragu disertai senyum di wajahnya.
"Maaf ya, ma. Gara² Nala Leon jadi kaya gini," sambung Nala dengan wajah murung.
"Heh, kan aku dah bilang kalo itu bukan salah kamu," tegur Leon sambil menoleh ke arah Nala.
"Leon bener, sayang. Ini bukan salah kamu, mereka emang sengaja biar kalian di hukum," sahut Rani.
"Iya, nanti oma marahin sampe pisah kamar sama kakek kalo perlu," sahut Zelfa.
"Wah... bener juga tuh, biar mereka tau rasa," balas Rani geram.
"😈."
"😈."
Mereka berdua sama² tertawa dan tersenyum devil yang membuat Nala juga Leon angkat tangan, pasrah akan apa yang dilakukan kedua wanita paruh baya itu.
Bla bla bla
SKIP makan malam
Suasana di ruang makan hening, karna jika berbicara saat makan memang tidak sopan, kalo di mansion Night Clair juga sama aturannya yang beda cuma ngobrol² dulu sebelum/sesudah makan.
Drrt drrt drrt
Ponsel Nala berbunyi, dia mengernyit bingung karna hanya sedikit orang yang tau nomor eksklusifnya.
"Excuse me, may I take this call for a moment? [ permisi, bolehkah saya menerima telepon ini sebentar? ]," tanya Nala dengan formal, membuat Ari, Wira dan Gusion murung, Rescha dan yang lain mengangguk.
Nala beranjak berdiri lalu pergi menjauh dari ruang makan, dia manjawab telepon itu di taman menggunakan bahasa Inggris lalu bahasa Indonesia begitu tau siapa yang menelponnya.
Di telpon
Nala : Hallo?
..... : Halo, nona. Ini saya Excer White, hacker yang waktu itu
Nala : Oh, White. Ada apa? 'datar
White : Nona, tolong saya. Saya di incar oleh Thunder dan beberapa mafia lainnya, mereka mengincar saya karna saya telah bergabung dengan TBB
Nala : Posisi kamu dimana? 'biasa
White : Saya sedang ada di rumah saya, di jalan xxxx, London, rumah kecil yang nampak jelek + bobrok, cepat tolong saya, nona. Saya tidak mungkin bisa bertahan dalam keadaan seperti ini 'ketakutan, hampir nangis
Nala : Sembunyilah, jangan keluar sampai keadaan kondusif
Nala langsung mematikan telpon lalu memanggil Kakashi.
"Ada apa, nona?," tanya Kakashi yang datang dalam 2 detik setelah Nala memanggil nya.
"Pergi ke jalan xxxx, bawa seseorang bernama Excer White, orangnya seperti di foto yang waktu itu, dia diincar. Saya tau jelas karna dari suaranya dia sangat ketakutan yang asli maksudnya ga dibuat buat, cepatlah. Bawa White ke markas TBB disini, kau awasi dia sampai saya datang," jawab Nala serius.
"Baik, nona," jawab Kakashi menyanggupi, tanpa ba bi bu lagi Kakashi langsung pergi ke rumah White yang memang ada di London.
Nala masuk ke dalam dan berpamitan untuk pergi tapi sebelum itu.
'Leonardo, kau dan yang lain tolong awasi TBB dan TAC, aku akan mengurus sesuatu sebentar, jangan khawatir dan jangan ikut aku,' ujar Nala menggunakan telepati pada Leon saat dalam perjalanan kembali ke ruang makan.
'Baiklah, hati²,' balas Leon menggunakan telepati.
Setelah berpamitan Nala langsung pergi ke kamarnya, setelah berganti pakaian Nala dan Lina dkk pergi dari mansion.
~oOo~
Di sisi lain
Gusion dengan cepat berhasil menyelamatkan White dan beberapa file penting dari kepungan musuh, sebenarnya White bisa bela diri, sangat jago malah, ya.. setara sama Wendy lah tapi dia habis terluka karna ditusuk oleh anak buah Thunder tempo hari.
"Kau baik² saja?," tanya Kakashi datar pada White yang baru sadar dari pingsannya.
"Ya, terima kasih. Apa kau orang yang dikirim nona Phoenix?," tanya White setelah sadar sepenuhnya.
"Ya, saya orang yang dikirim oleh nona Phoenix, saya salah satu orang kepercayaan nona. Nama saya Kei," jawab Kakashi datar sambil agak membungkuk.
"Saya White, seorang hacker. Terima kasih karna sudah menyelamatkan saya," ujar White sekali lagi.
"Itu perintah dari nona," balas Kakashi datar.
Tak lama kemudian Nala dan yang lain datang ke markas TBB di London, Nala disambut dengan hangat disana tapi Nala hanya mengangguk dan langsung pergi ke tempat dimana White berada.
Bersambung....
~oOo~
Next eps ya! bye...
__ADS_1