My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Bertemu Doni


__ADS_3

Setelah itu mereka pun pulang ke Inggris untuk menghadiri acara penyerahan hak waris.


~oOo~


Di sepanjang hari Nala selalu dikawal begitu banyak mafioso dan maid, tujuannya hanya untuk memastikan Nala aman, sama seperti yang lain, mereka juga dikawal tapi ga sebanyak Nala.


Di mansion utama


Nala menggunakan kursi roda karna mereka pikir kaki Nala masih patah padahal Nala sudah sembuh dan malah makin kuat, kaki Nala juga dipasangi gips lagi.


Para readers ingat! saat di mansion utama mereka komunikasi menggunakan bahasa Inggris.


"Nala," panggil Rescha dari ruang tengah.


"Ya kakek," jawab Nala dari kursi roda yang didorong seorang maid.


"Ikut kakek, ada yang ingin kakek bicarakan," ujar Rescha sambil mengambil alih kursi roda Nala.


Mereka pun masuk ke dalam ruang baca milik Rescha, yang lainnya sebagian masuk kamar dan sebagian lagi bersantai di ruang tengah.


Back to Rescha and Nala


Rescha meninggalkan Nala beserta kursi rodanya di tempat tak jauh dari sofa.


"Apa tujuan kakek mengawalku dengan mafioso sebanyak itu?," tanya Nala membuka pembicaraan.


So, kita flashback dulu apa yang terjadi saat Nala masuk sekolah kembali.


✌Flashback on✌


Hari itu adalah 2 hari sebelum hari pembagian nilai ujian, Nala/Nesya memang sudah berencana untuk berangkat, dia sebenarnya sudah bisa berjalan sendiri tapi hanya kakaknya dan Leon yang tau.


Nala/Nesya masih menggunakan gips di kakinya dan karna kekhawatiran yang begitu tinggi akhirnya Nesya menggunakan kursi roda, hal yang paling membuat Nesya sebal adalah dia dikawal begitu banyak orang hanya untuk pergi sekolah.


Pertama yang mengawalnya adalah Lina dkk, mereka bilang kaki Nesya patah karna kelalaian mereka menjaga Nesya, lalu para mafioso yang berjumlah sekitar 50 orang, mereka mafioso yang kirim kakek Nesya (Rescha) dari Jepang hanya untuk menjaga Nesya, lalu ada 20 bodyguard yang selalu mengawal Nesya dari jarak aman, masih ada 10 kakak maid yang membantu Nesya.


Dalam perjalanan mereka menggunakan mobil jadinya seperti konvoi mobil dan saat sampai di sekolah, Nesya tentu menjadi pusat perhatian di tambah lagi 4 cowo terpopuler di sekolah mengawalnya juga masih ada 3 temannya yang menjadi seperti pengawal hari itu.


"Hei hei hei, kalian ga perlu masuk ke kelas kaya gini juga!!," seru Nesya kesal karna beberapa orang yang mengawalnya ikut masuk ke dalam kelas dan sisanya menyebar di sekolah.


Mereka hanya bisa tepok jidat melihat betapa kompetennya mereka dalam bekerja, mengikuti Nesya ke kelas, toilet! kantin! lapangan! woiii!!! Author aja ga pernah kaya gitu, dasar orang kaya😭.


Wira juga datang ke sekolah Nesya sehari sebelum pembagian nilai, saat itu Nesya kaget mendengar ribut² di kantin, hai [ ya ]! saat itu Nesya dkk sedang ada di kantin sekolah dan Nesya masih dikawal walau tak sebanyak kemarin.


"Kakak sedang apa disini?," tanya Nesya saat melihat kakaknya menghampiri meja tempat mereka duduk.


"Nemenin kamu, kenapa? ga boleh?," tanya Wira sambil duduk di sebelah Nesya.


"Bukan ga boleh si kak, tapi kan kakak sibuk dan aku juga udah dikawal begitu banyak orang kak," jawab Nesya jujur.


"Kakak juga lagi kerja kok, mantau salah satu kekayaan kakek," balas Wira asal.


"Ha??? tunggu sebentar kak, maksud kak Wira apa?," kini Lyra yang bertanya.


"Kalian ga tau?," tanya Wira balik, Leon dkk dan Nesya dkk menatap Wira penuh pertanyaan.


"Huh.... sekolah ini udah dibeli sama kakek," jawab Wira santuy.


"APA?!!!," seru mereka kaget.


"Oh ya ampun...," sambung mereka sambil tepok jidat.


✌Flashback off✌


Back to story


"Kakek hanya ingin memastikan kamu aman," jawab Rescha atas pertanyaan Nala sebelumnya.


Nala melepaskan gips yang melekat di kaki kanannya, dia pun turun dari kursi roda, berjalan dan duduk di sofa, Rescha yang melihat itu hanya berkata.


"Dia?."


"Yap, jangan pernah lupa jika aku punya 1 orang kakak lagi yang selalu menjagaku," jawab Nala cepat dan tersenyum menang.


"Hem.. terserahmu saja," balas Rescha pasrah.


"Ada apa, kek?," tanya Nala kembali sopan, Rescha berjalan mendekati Nala yang duduk di sofa.


"Kau masih ingin tau kenapa kakek melarangmu berpacaran?," tanya Rescha balik setelah duduk di sofa seberang Nala.


Nala teringat pertanyaan dan permintaannya 1 tahun yang lalu, dia masih ingat jelas kenapa dia bertanya akan hal itu.


"Tentu saya penasaran," jawab Nala formal.


"Lihat ini," balas Rescha sambil memberikan sebuah berkas di dalam map biru.

__ADS_1


Nala membuka berkas itu dan membacanya dengan seksama, dia terlihat terkejut setelah membacanya, Nala menatap kakeknya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Apa maksudnya kakek? aku mewarisi beberapa gen langka?," tanya Nala tak percaya sekaligus bingung.


"Ya, bunda mu Tasha mewarisi Alexandria's genesis syndrom, karna itulah matamu berwarna ungu, sedangkan ayahmu mewarisi heterocromia segmental, jadilah warna matamu ungu-biru," jawab Rescha.


"Lalu maksud dari gen langka itu Alexandria's genesis syndrom?," tanya Nala lagi.


"Ya, 1 harus kau tau, bundamu memiliki jiwa psyco, maksudnya seperti sisi gelap jika orang lain menyebutnya, ayahmu juga memiliki kekejaman yang ditakuti banyak orang. Jadi kau mewarisi jiwa psyco bundamu di tambah lagi kekejaman ayahmu, karna itu kau bisa menjadi orang yang sangat² kejam bagai tak punya hati nurani," jelas Rescha membuat Nala kaget setengah mati.


"......" Nala tak merespon kata² Rescha, dia sungguh kaget tapi juga merasa bangga dan kagum.


"Tapi dibalik hal itu, mereka sama² memiliki hati nurani yang baik walau kadang membantu orang lain secara diam² saja," sambung Rescha.


"Mereka juga memiliki kemampuan khusus," ujar Rescha menggantung.


"Apa? kemampuan khusus apa?," tanya Nala sembari mendongak menatap kakek kesayangan nya itu.


"Bundamu bisa memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam, karna itu dia sering merawat alam sekitar jadilah kemampuan itu menurun padamu. Mereka berdua memiliki kemampuan jauh di atas manusia normal," jawab Rescha.


"Ha??? seriusan?," tanya Nala tak percaya.


"Iya," jawab Rescha kalem.


"OH WOW!!! KEREN BANGET, KEK. Kenapa kakek ga bilang sih?!," seru Nala bersemangat.


"Kok kamu malah seneng, semangat banget lagi," balas Rescha datar.


"Ya seneng lah, kek. Huh... ya ampun.. terserah kakek deh, intinya Nala seneng karna fakta itu," jelas Nala senang lalu merubah nada bicaranya menjadi biasa.


"Ada 1 fakta lagi, bundamu adalah mantan pemimpin sebuah organisasi pembunuh bayaran paling ditakuti dan paling kuat, kini organisasi itu udah ga ada lagi alias udah bubar," ujar Rescha.


"Hm... aku sudah tau, aku udah tau sebagian besar masa lalu ayah dan bunda," balas Nala dengan wajah biasa.


"Termasuk tentang Tasha dan Alfra yang belajar bela diri di dimensi lain?," tanya Rescha.


"Hah?! serius?," tanya Nala balik, Rescha mengangguk pelan.


"Soal itu Nala ga tau, kek, jadi agak kaget tadi," sambung Nala.


"So, kenapa kakek tau kalo bunda sama ayah belajar di dimensi lain?," tanya Nala.


"Rahasia, sayang," jawab Rescha misterius.


"Huh... terserahlah, kek," balas Nala pasrah.


SKIP penyerahan hak waris


Hari ini jam 8 malem, di mansion utama di Inggris, acaranya dimulai dengan makan malam bersama lalu sambutan dan penyerahan hak waris, setelah itu mereka adakan pesta dansa.


Saat ini pesta dansa sedang berlangsung, beberapa menit yang lalu Wira, Cleo dan Tara sudah menerima hak waris mereka.


Nala terlihat sangat cantik malam itu, dia menggunakan broket merah, jam tangan dan anting pemberian kakaknya, mahkota indah pemberian bundanya, kalung pemberian kakeknya dan... tanpa make up juga cuma pake topeng khasnya doang.



Foto broketnya


Author : "Kalo buat foto yang lain, kaya kalung, jam tangan, anting dan mahkota udah di kasih tau di eps sebelumnya."


Nala bener² jadi sorotan apalagi dia hanya menggunakan topeng dan menggerai rambut hitam panjangnya, yang lain juga tak kalah cantik dengan dressnya sendiri dan tampan dengan pakaian mereka masing².


"Adik, kau sangat cantik malam ini," puji Ari sambil duduk di sebelah Nala.


"Terima kasih, kak," balas Nala dengan senyum tipis.


"Kau yakin masih mau pake topeng? semua orang jadi makin penasaran sama wajah kamu kan, kakak pikir malem ini kamu mau tunjukkin muka kamu yang sebenarnya," tanya Ari sedangkan dia sendiri juga menggunakan topeng dengan dalih agar bisa bersekolah dengan tenang.


"Gapapa, aku punya rencana, kak," jawab Nala santai sambil meminum minuman di tangannya.


"Hai, anda sangat cantik malam ini, maukah anda berdansa dengan saya, nona Lavender?," tanya seorang laki² menggunakan kemeja putih dibalut tuksedo hitam dengan dasi kupu² senada, cukup tampan dengan senyum ramah di wajahnya.


"Anda ingin berdansa dengan saya? tapi mohon maaf saya tidak mau berdansa malam ini," jawab Nala sopan dan agak formal.


"Baiklah, terima kasih atas perhatian nya, saya permisi," balasnya dengan nada agak kecewa.


"Kasian dia, kenapa kamu ga dansa aja, anak kecil kan boleh dansa kaya gitu," goda Ari.


"Ck, kakak jangan bercanda, mau ku tampol di depan banyak orang?," ancam Nala, Ari langsung bergidik ngeri dan menggeleng cepat.


"Hah, dasar kakak," balas Nala sambil tertawa kecil.


"Hai, Nala. Boleh gabung disini?," tanya Leon, dia menggunakan topeng khasnya, kemeja hitam dibalut jas biru dongker dengan perpaduan warna putih di pergelangan tangan dan lehernya, tanpa menggunakan dasi dan rambut berantakan khasnya membuat Leon terlihat sangat tampan.


"Tentu," jawab Ari dan Nala bersamaan dengan senyuman tipis di wajah mereka.

__ADS_1


"Kita boleh gabung juga kan?," tanya Dika dari arah belakang, Ari dan Nala hanya mengangguk bersamaan.


Malam itu sepuluh pewaris 10 keluarga terkaya menggunakan topeng yang menutupi mata, demi menjaga keamanan, tapi Wira, Cleo dan Tara sudah melepaskan topeng mereka.


Dika menggunakan kemeja hitam dibalut jas merah maroon tanpa dasi yang sangat serasi dengan kelakuannya, rambutnya di atur seperti biasa, tetap menggunakan topeng khasnya.


Feter menggunakan kemeja putih dibalut jas biru gelap tanpa dasi, menggunakan topeng dan rambutnya ditata rapi walau agak berantakan dikit.


Arya menggunakan kemeja putih dibalut jas biru muda yang ga terlalu mencolok, ditutupi dengan topeng dan gaya rambut khasnya.


Tentu dengan gaya mereka ini menjadi sorotan dari para kolega dan keluarga kaya lainnya.


Vyone juga datang, dia langsung menyapa Nala dkk dan disambut senyum tipis Nala, Leon, Feter dan Alfie, senyum lebar Lyra, Karina, Veronica, dan Dika, anggukan pelan Vier dan Arya.


"Waw.. aku ga tau kalo keluarga kalian sangat kaya," puji Vyone kagum.


"Wah, aku tersanjung," balas Dika sombong.


Nala dkk+Leon dkk kecuali Dika : 😂😂


"Oh iya, aku dengar tuan muda Arashi, keluarga terkaya no 11 juga datang," ujar Veronica.


"Benarkah?," tanya Nala agak bersemangat.


"Kenapa? kelihatannya kau cukup bersemangat," balas Leon yang memperhatikan gerak gerik Nala.


"Tentu aku bersemangat, tuan musa Arashi adalah sahabat lamaku, sudah kuanggap seperti kakakku juga," jawab Nala santai.


Mereka : Ohh...


"Hai, Nala. Lama ga ketemu," sapa seseorang dari belakang Nala, Nalaa menoleh ke belakang dan menemukan sosok yang sangat dia rindukan.


"Doni!," seru Nala agak pelan.


Nala beranjak berdiri dan memeluk Doni, salah satu sahabat yang dia rindukan, Nala memeluk erat Doni yang menggunakan topeng dan tentu saja Nala mengenali topeng itu, Doni mencium pipi dan pelipis Nala, yang membuat Nala merasa senang adalah Doni tak lupa membelikannya hadiah.


Leon merasa tak suka karna Nala memeluk Doni begitu erat tapi apa boleh buat, Leon hanya bisa menahan rasa tidak sukanya dalam² karna bagaimana pun juga mereka adalah sahabat sejak kecil.


"Wah.. kamu makin tinggi ya," puji Doni sambil memegang pipi Nala.


"Ya iyalah, emang kamu pendek," ejek Nala sambil memeletkan lidahnya bermaksud mengejek Doni.


"Eh, hallo kak Ari," sapa Doni sopan saat menyadari ada Ari di dekat kursi Nala.


"Hallo juga Doni, apa kabar?," tanya Ari sambil berdiri dan memeluk Doni juga, ya... mereka memang sudah saling mengenal dengan baik.


"Pasti baik dong, kak. Kakak makin cantik aja ya," puji Doni dengan senyuman menggoda.


"Ah, kau bisa saja," ujar Ari sambil agak tersipu.


"Ada teman²nya Nala juga disini ya, kenalkan semuanya namaku Septiano Doni Arashi," sapa Doni ramah pada teman²nya Nala yang duduk satu meja dengan Nala.


Mereka mulai menyalami Doni satu per satu sambil tersenyum tentunya, Doni memeluk pinggang Nala dan Ari yang berdiri di sampingnya setelah bersalaman, Leon bersalaman juga dengan wajah datar nan dingin.


Leon makin tidak suka saat Doni bisa begitu akrab dengan Nala, apalagi pinggang Nala di peluk oleh Doni itu, kesal karna hal itu, Leon menarik tangan Nala hingga Nala jatuh terduduk di pangkuannya, Nala memang kaget sampai agak memekik, yang lainnya kaget dan hanya tersenyum.


"Eh eh, kayanya si Leon cemburu tuh liat pinggang Nala di peluk Doni," bisik Vyone pada Lyra di sampingnya.


"Iya tuh, sampe segitunya ya," balas Lyra berbisik juga.


Doni hanya menatap Leon dan Nala bingung, dan Nala mendelik meminta penjelasan pada Leon yang tiba² menariknya.


"Kamu ini kenapa sih?," tanya Nala sambil berbisik.


"Aku ga suka kamu di peluk dia kaaya tadi," jawab Leon dengan wajah masam.


"Hanya begitu saja? memangnya apa masalahnya kalo pinggangku di peluk Doni?," tanya Nala lagi, Leon terdiam.


Doni bertanya apa hubungan Nala dan Leon, tapi Ari hanya bilang 'mereka emang kaya gitu, mungkin si Leon cemburu liat kamu meluk pinggang Nala', Doni hanya menggelengkan kepalanya maklum.


Tak terasa acara penyerahan hak waris telah usai dan kini mereka bisa kembali ke kamar masing², kamar Nala berada tak jauh dari kamar Leon jadi mereka balik ke kamar bersama.


"Kamu ga suka aku di peluk Doni?," tanya Nala saat menyusuri lorong menuju kamarnya.


"Iya, aku ga suka. Kamu boleh peluk cowo tapi jangan lama², aku ga suka kamu di peluk cowo lain," jawab Leon posesif.


"Heh? dasar aneh," gumam Nala.


Tiba² Leon menghentikan langkahnya dan memojokkan Nala ke dinding belakang nya, Nala kaget tapi kakinya di kunci.


Bersambung....


~oOo~


Hm... ga suka ya?

__ADS_1


So, next eps aja deh!


__ADS_2