My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Kakak


__ADS_3

Leon berdecak lalu berbaring di sebelah Nala, memeluk Nala seperti tadi siang, Nala dengan cepat mengerti maksud Leon dan kembali tidur di pelukan Leon.


~oOo~


Keesokkan paginya


Pukul 4 pagi, artinya baru 4 jam mereka tidur, kini sudah ada orang yang mengetuk pintu kamar Nala, Nala masih terlelap karna memang sangat kelelahan, dan Leon yang beranjak membuka pintu.


Cklek


Leon membuka pintu sedikit yang menampilkan kedua kakak Nala dan penghuni mansion lainnya, mereka terkejut melihat Leon di dalam kamar Nala.


"Kenapa kau ada di kamar Nala?! Nala mana?!," tanya kak Ari dengan nada membentak tapi khawatir.


"Oh, Nala ya. Stt... dia sedang tidur karna kelelahan, jangan diganggu dulu," jawab Leon tenang dan santai.


"Buka pintunya lebih lebar," perintah kak Wira dingin.


"Oh," respon Leon tak terpengaruh dengan tatapan tajam kedua kakak Nala itu.



Foto kamar Nala di mansion Night Clair


Leon membuka pintu lebih lebar, kak Wira dan kak Ari langsung masuk diikuti Lyra, Vier, Dika, Arya dan Feter, kalo Vyone kan ga tinggal di mansion.


"Haish..," Leon menghela napas maklum.


Dia kembali menghampiri Nala di ranjangnya dan langsung berbaring di samping Nala dengan posisi tengkurap, Nala memang bangun tapi hanya melihat sekilas kakak²nya.


"Hem... kakak?," tanya Nala sambil mengusap pelan kelopak matanya dan beranjak duduk, tapi tangan Leon menahan Nala untuk duduk.


"Tiduran lagi," perintah Leon sambil tetap memejamkan matanya.


"Nanti, ok. Ada kakakku disini," balas Nala tanpa menyingkirkan tangan Leon di pinggang nya.


"Kalian.. punya hubungan apa?," tanya kak Ari membuka pembicaraan.


"Sahabat," jawab Nala santai dan tenang.


"Ga mungkin sahabat kaya gitu, kalian tau kenapa mereka kaya gini?," tanya kak Wira pada yang lain.


"Sebenarnya.... Leon sama Nala memang sahabatan tapi, hubungan mereka kaya bukan sahabatan malah kaya pacaran," celetuk Lyra begitu saja.


Kak Wira dan kak Ari menatap tajam Leon dan Nala, mereka juga mengeluarkan aura menekan yang pekat dan kuat, semua di ruangan itu tertekan sampai hampir mati jika saja Leon tidak berkata.


"Aura menekan kalian berdua ga mempan padaku, tapi kalau kalian ingin membuat mereka semua mati, silahkan lanjutkan," itu yang di katakan Leon dalam posisi tidur yang sama.


Kak Wira dan kak Ari menekan kembali aura itu sehingga suasana menjadi normal kembali, kedua kakak Nala itu tetap melontarkan pertanyaan² untuk Nala dan Leon.


"Apa yang kalian lakukan semalam??."


"Kenapa kalian bisa sangat akrab?."


Bla bla bla


Mereka melontarkan pertanyaan tanpa celah untuk Nala/Leon menjawabnya, Leon malah tertidur di samping Nala, mungkin baginya pertanyaan yang dilontarkan kak Wira dan kak Ari adalah lagu tidur yang menenangkan, akhirnya untuk menghentikan ocehan kedua kakak nya Nala mengeluarkan sekotak pil dari dalam lacinya.


Untuk mendapat perhatian, Nala mengeluarkan sedikit aura dingin yang begitu kuat, bahkan sanggup membuat beberapa bagian ruangan di kamar Nala membeku, semua orang kecuali Leon menoleh ke arah Nala setelah badai salju kecil itu selesai.


Nala mengangkat kotak pil dari kakak keduanya itu ke hadapan kak Wira dan kak Ari, mereka langsung kaget dan mengambilnya dari tangan Nala.


"Jadi semalam....," gumam kak Wira.


"Kalian semua bisa keluar, kami akan bicara secara pribadi, harap jangan menguping jika masih menguping kalian tau akibatnya," ujar Nala dengan sedikit aura menekan.


Gleg


Mereka hanya bisa menelan ludah begitu merasakan tekanan dari Nala.


Cklek


Setelah pintu ditutup, Nala memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Semalam kak Gu datang," ujar Nala.


"...."


Kak Wira dan kak Ari nyimak mode on, dan Leon tidur sambil tangannya meluk pinggang Nala.


"Dia ngasih pil ini supaya aku cepat sembuh, dia tau kalau kakiku patah, dengan pil ini aku bisa pulih begitu cepat."


"Itu berarti semalam kau kesakitan karna pil ini?," tanya kak Wira dan kak Ari masih menyimak juga mencerna kata² Nala.


"Iya, Leon cukup mengenalku jadi dia penasaran karna aku matiin lampu kamar, Leon menemukanku terbaring kesakitan di ranjang, jadi dia mencoba membantu dengan menemaniku malam itu."


"Apa?! kalian tidur bareng semalem?!," tanya kak Ari kaget.


"Apa masalahnya?," tanya Nala balik.


"Tapi, dia... dia laki² woy, bangun dek bangun," jawab Ari terbata.


"Trus apa masalahnya coba?," tanya Nala tak mengerti.


"Sudah², lalu apa yang terjadi setelah itu?," tanya Wira menengahi.


"Ya.. Leon membantuku, kalo bukan karna Leon mungkin akan lebih sulit lagi menghadapi rasa sakitnya," jawab Nala senang.


"Harusnya aku mendapat hadiah dong," sahut Leon sambil menatap Nala dari posisi tidurnya.


"Memangnya kau mau apa?," tanya Nala melirik Leon sekilas.


"Morning kiss," jawab Leon sok polos.


"Kau ini," timpal Nala agak kesal tapi malu malu.


"Ha??? apa yang kau maksud, bocah!?," seru Ari kesal.


"Satu hal yang harus kalian tau kakak², aku sudah mengambil first kiss adik kesayangan kalian ini," balas Leon santai dan bangga.


"APA?!," seru Ari dan Wira kaget.


Pletak pletak


Wira dan Ari menjitak kepala Leon bersamaan hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


"Aw... sakit kak," protes Leon tetap dengan posisi tidurnya tapi memegangi kepalanya yang terkena jitakan maut Wira dan Ari.


"Sudah², ok. Harus kuakui kalau Leon cukup membantu semalam, makasih ya," ujar Nala lembut.


Cup


Nala mengecup sekilas bibir Leon, membuat kedua kakaknya ternganga dan membeku di tempat, Leon tersenyum senang karna mendapat morning kiss dari Nala.


"Dik, kau... kau baru saja mencium bocah tengik ini?," tanya Ari kaget sekaligus tak percaya.


"Sudahlah kak, ini masih jam setengah 5 pagi, Nala mau istirahat lagi," jawab Nala sambil menoleh ke arah kedua kakaknya itu.

__ADS_1


"Ah, ya sudah kau istirahat saja. Tapi bocah tengik ini harus pergi," ujar Wira tegas.


"Lah? aku yang duluan dateng kenapa aku harus ikut pergi?," protes Leon mengganti posisi tidurnya.


"Ya sudah kalian semua keluar," ujar Nala akhirnya, Leon duduk di sebelah Nala.


"Tapi kan..."


Cup


Baru saja Leon mau protes bibirnya kembali di kecup oleh Nala dan kali ini sedikit lebih lama, Nala sedikit mel*matnya dengan lembut membuat Leon terpejam dan melupakan apa yang ingin dia protes.


"Turuti saja, ok," ucap Nala setelah melepaskan ciumannya dan tersenyum manis.


"Ya sudahlah," ujar Leon pasrah karna kalah debat dengan Nala, disertai wajah cemberut yang sangat menggemaskan tentunya.


Leon turun dari atas ranjang dan menarik tangan Wira juga Ari yang masih membeku karna Nala, Nala hanya terkekeh kecil melihatnya, Nala kembali beristirahat setelah mendengar suara pintu ditutup.


Di luar kamar Nala


Leon melengos masuk ke kamarnya begitu saja setelah menyadarkan Wira dan Ari tentunya, ga mungkin Leon ninggalin Wira dan Ari yang masih membeku nanti Wira sama Ari malah kesambet setan.



"Hah... masih ngantuk, ternyata tidur bareng Nala enak juga ya," gumam Leon setelah berbaring di ranjang empuk miliknya.


"Hem, sial*n bagaimana bisa bibirnya begitu lembut dan manis, bahkan ekspresi terkejutnya sangat menggemaskan, imut sekali," gumam Leon senang juga agak merona.


"Ah, sudahlah. Aku tidur saja," sambungnya.


Leon kembali tertidur di ranjang empuknya.


SKIP


Jam 8.30 pagi, Nala terbangun dari tidurnya, dia melepaskan gips di kakinya setelah merasa kakinya jauh lebih baik dari sebelumnya, Nala beranjak mandi dan berjalan sendiri.


"Wah... sepertinya obat dari kakak sangat manjur ya," gumam Nala senang karna bisa berdiri tegak.


Brugh...


Nala jatoh gak lama setelah bergumam, lebih tepatnya 3 langkah setelah bergumam dan hanya 1 langkah lagi sampai di depan pintu kamar mandi.


"😑," respon Nala sesaat setelah jatuh.


"Aku terlalu cepat mengambil kesimpulan, bangs*t kali," gerutu Nala sambil berdiri dibantu dengan berpegangan pada tembok.


Cklek


Pintu kamar Nala dibuka tepat saat Nala mencoba bangun, dan ternyata... si Leon yang buka.


"Sial*n," gerutu Nala.


"Astaga... sedang apa kau disana?," tanya Leon sambil masuk dan kembali menutup pintu kamar Nala.


"Mau mandi," jawab Nala acuh dan terdengar kesal.


"Mau mandi?😕 kok duduk di bawah?," tanya Leon lagi.


"Jatoh kamvret," jawab Nala malas.


"Ha? hahahaha.... ada² aja kau ini," seru Leon disela tawanya.


"Bantuin kek, sial*n bat," balas Nala kesal menghentikan tawa Leon.


"Iya², santay dong," ujar Leon setelah tawanya berhenti.


"Udah ga sakit lagi?," tanya Leon sambil memeriksa kaki Nala.


"Lumayanlah, udah jauh lebih baik dari kemaren," jawab Nala.


"Karna pil obat itu?," tebak Leon menatap mata Nala.


"Iya, manjur kan?," tanya Nala senang.


"Manjur sih manjur tapi bahaya, kalo kamu ga bisa nahan rasa sakitnya gimana?," tanya Leon balik dengan suara penuh kecemasan.


"Jangan khawatir, walaupun sakit tapi ternyata sakitnya itu cuma 3 jam, kalo tahap pertama. Kalo tahap kedua mungkin 4-6 jam," jawab Nala dengan senyuman dan tangannya yang membelai lembut wajah tampan Leon.


"Itu berarti nanti malem kamu bakal makan pil itu lagi?," tanya Leon lagi.


"Hm... iya," jawab Nala hati².


"Huh.. jangan ya, pliss🙏. Nanti kamu kesakitan lagi," balas Leon dengan penuh harap.


"Ga bisa, kalo aku ga lanjut ke tahap 2 malah nanti ga sembuh²," ujar Nala lembut.


"Tapi...."


"Percaya deh sama aku, aku bisa Leonardo," potong Nala disertai senyuman.


"Em... terserah, mau aku temenin lagi nanti malem?," tawar Leon.


"Ga usah, gapapa kok. Aku harus bisa nahan rasa sakitnya sendiri," jawab Nala.


"Nala..."


"Gapapa, please trust me, Leonardo," potong Nala lagi.


"I trust you, Nala," balas Leon lalu memeluk Nala dari posisi jongkok.


Nala mengusap lembut rambut Leon, memberi ketenangan akan kekhawatiran Leon tentang keadaannya.


'Kalo ayah, bunda dan kak Angga tau, kira² bakal se-khawatir Leon ga ya?,' tanya batin Nala.


"Oh iya, kamu bilang mau mandi, mau aku temenin juga ga?," tawar Leon sambil mendongakkan kepalanya dan disertai dengan senyuman liciknya.


"Dasar mesum!," seru Nala sambil melempar bantal ke wajah Leon.


"Hei, aku kasih tau ya. Kalo cowo ga mesum gimana punya anak coba?," goda Leon.


"Leonardo!," seru Nala malu dan kesal.


"Hahaha... wajahmu lucu sekali," balas Leon sambil tertawa melihat wajah Nala.


"😳😬😡," respon Nala.


"Dahlah kamu mau ngapain sih?," tanya Nala kesal.


"Aku mau ngasih tau, habis mandi nanti kamu turun ke bawah ya, buat pasang gips lagi," jawab Leon tenang.


"Lagi? tapi aku ga betah," protes Nala.


"Mereka bakal kebingungan karna patah tulang itu minimal lebih dari 1 bulan baru sembuh," balas Leon.


"Ya sudah sana, aku mau mandi," usir Nala.


"Yah, kok ngusir sih?," tanya Leon.

__ADS_1


"Biarinlah, suka² aku," jawab Nala.


Leon menggendong Nala dengan tiba² membuat Nala memekik kaget, Leon membawa Nala masuk ke kamar mandi dan menurunkan Nala di bathub.


"Yakin ga mau aku temenin?," goda Leon setelah menurunkan Nala di bathub.


"Mau kugampar ya?," tawar Nala dengan wajah kesal.


"Jangan dong," protes Leon dengan wajah imut.


"KELUAR!!," seru Nala.


Leon beranjak keluar dari kamar mandi dan merebahkan diri di ranjang empuk Nala, Nala mandi sambil mengunci pintu kamar mandi karna dia tau Leon belum pergi dari kamarnya.


SKIP mandi dan makan siang


Nala dan yang lain sedang berkumpul di ruang tengah, Nala menekuk wajahnya cemberut karna kakinya di pasangi gips lagi.


"Kak Wira sama kak Ari kenapa dateng ke Indonesia?," tanya Arya membuka pembicaraan.


"Kak Ari sama kak Wira mau bawa kalian semua balik ke Inggris, buat penyerahan hak waris kak Wira, kak Tara, dan kak Cleo," jawab Ari serius.


"Kak Tara itu kakaknya Dika kan?," tanya Lyra.


"Ya iyalah ogeb, kakak gue itu," jawab Dika.


"Jan ngegaz juga kali," protes Lyra.


"Bentar lagi tahun baru, seminggu setelah taun baru kita bertiga bakal penyerahan hak waris, kalian sebagai pewaris harus dateng," ujar Wira.


"Eh bentar, kak Tara itu cewe apa cowo?," tanya Karina yang ga paham.


Semua orang di ruang tengah : 😂


"Jadi lo belum tau? Karina² lucu banget sih," ujar Arya setelah tertawa mendengar pertanyaan Karina.


"Ya ampun... kak Tara itu cewe makanya aku yang jadi pewaris ayah," sahut Dika setelah tawanya mereda.


"Ooooh.... gitu," ujar Karina polos.


Bla bla bla


~oOo~


Di sekolah


Murid² di SD ****** tempat Nesya/Nala dkk belajar, mereka sudah melaksanakan ujian dan hanya menunggu hasilnya saja.


"Ok, karna hasil ujian udah dibagi, sekarang kita tunjukin nilai tertinggi yang kita punya," ujar Nesya/Nala sambil memegang hasil ujian dengan nilai tertinggi, saat ini mereka berada di dalam kelas karna nilai baru saja dibagikan.


Lyra : "Satu."


Vyone : "Dua."


Vier : "Tiga."


Saat dibuka Nesya mendapat 100, Vyone 97, Vier 98 dan Lyra 95, tampak kekecewaan di wajah Lyra.


"Sial*n malah gue yang paling rendah," gerutunya kecewa.


"Santai aja kali," ujar Vier menenangkan.


"Hm...," dehem Lyra malas.


"Udahlah, sekarang nilai terendah yang kita punya, siap² ya," ujar Nesya.


1... 2... 3 ...


Nesya mendapat nilai terendah 96, Vier 93, Vyone 88, Lyra 87, lagi² Lyra merasa kecewa.


"Eh jumlah pelajaran kan ada 11, kita sebutin berapa yang kita dapet, trus kita itung nilai rata²nya," ujar Vyone.


"Maksudnya?," tanya Lyra ga maksud.


"Gini, gue kan dapet 97 1, trus 93 3, 88 2, 90 3, 96 1 sama 89 1, jadi jumlah semua nilaiku 1007 dibagi 11 pelajaran jadi rata² nilaiku 91,54 atau kita singkat aja 91,5. Simple, jadi kita tau kira² rangking berapa, itu pun kalo belum dipotong sama kelakuan kita selama ini," jelas Vyone sambil mencorat caret bukunya.


"Bener juga ya," gumam Vier.


"Ya udah, gue sebutin nilai gue. 95 1, 87 3, 94 2, 90 4, 89 1, jadi jumlahnya...," ujar Lyra terhenti karna berpikir.


"993 dibagi 11 jadi nilai rata² mu 90,27 atau 90,3. Udah ketemu kan? dicatet woy," sahut Nesya yang sudah menemukan jawabannya, Lyra segera mencatat hasil jawaban Nesya.


"Vier, rata² nilai lo berapa?," tanya Vyone penasaran.


"98 2, 95 4, 97 1, 93 4, jumlahnya jadi 1045 dibagi 11 jadi nilai rata²ku 95," jawab Vier cepat.


"Wow... 95 njay, keren👍," puji Lyra.


"Nesya?," tanya Vyone, Lyra dan Vier bersamaan.


"100 6, 98 3, 96 1, 97 1, jumlahnya jadi 1087 dibagi 11, nilai rata²ku jadi 98,81 atau 98,8. Nilaiku menurun kayanya," jawab Nesya santai.


"WHAT?!!," seru mereka bertiga bersamaan.


"Nilai segitu menurun?!!," tanya Lyra dengan suara keras membuat siswa lain memperhatikan mereka.


"Iya, kayanya sih," jawab Nesya santai.


"Eh nilai tertinggi kalian berapa?," tanya Satya yang tiba² ikut gabung.


Mereka pun menjawab sambil bersautan


Vier : "98."


Lyra : "95."


Vyone : "97."


Nesya : "100."


"Hah?!! buset... tinggi amat😱," puji Satya kaget.


Bla bla bla


Setelah itu mereka pun pulang ke Inggris untuk menghadiri acara penyerahan hak waris.


Bersambung....


~oOo~


Wow.... keren amat nilai Nesya


Nih yang minta crazy up


Author baek kan😁


Next eps guys!

__ADS_1


__ADS_2