
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 lebih 45 menit, mereka hampir melewatkan makan siang, kini mereka sedang bercengkrama, bercanda dengan teman² yang lain ataupun bermain game, untuk ponsel dan segala jenis gadget di letakkan di atas meja yang tak terlalu jauh dari ruang tengah.
~oOo~
"Ekhem! jadi apa yang akan kita lakukan disini?," tanya Satya.
"Sudah kubilang bukan? kita akan merayakan tahun baru disini," jawab Nesya.
"Huh... maksud ku adalah apa yang akan kita lakukan, kita tak m–," ucapan Satya terhenti karna nada dering ponsel miliknya yang menandakan ada telepon masuk.
Satya pun berdiri dan mengangkat telpon, sedangkan yang lain kembali berbincang, tak lama Satya kembali dengan wajah pucat dan kekhawatiran yang tercetak jelas.
"What's wrong?," tanya Leon bingung.
"My mom," jawab Satya khawatir.
"?," semua orang menatap bingung.
"Nyokap gue kecelakaan, dan sekarang masuk RS," ujar Satya membuat semuanya terkejut.
"Trus sekarang lo mau apa?," tanya Nesya.
"Gue harus balik ke Prancis," jawab Satya.
"Gue pinjem jet pribadi lu, nes. Gue harus secepatnya sampe kesana," lanjut Satya memohon.
"Ok, biar gue telpon pihak bandara Narita dulu, lo tinggal tunggu pesawat take on," balas Nesya sambil berdiri dan mengambil ponselnya.
"Thanks nes," balas Satya sedikit tenang.
"Perlu kita temenin?," tawar Lyra sambil menarik Satya duduk di sebelahnya.
"Lu pada ga masalah?," tanya Satya.
"Gue ikut, disana ada kenalan gue, dokter Aaron Kynel," jawab Arya.
"Ok, bisa hubungin dia? nyokap gue ada di CHU Clermont-ferrand : site Estaing," balas Satya sambil memijit pelan pelipisnya.
"Ok, eh bentar. Itu kan..."
"Rumah sakit universitas? nyokap gue punya sahabat dokter sekaligus dekan disana, trus dari dulu keluarga sahabat nyokap gue itu emang dokter langganan sekaligus dokter terbaik tapi milih tinggal di Clermont-ferrand ketimbang di Lyon atau Paris, padahal jarak ke Lyon ga terlalu jauh," jelas Satya yang masih khawatir menyambung ucapan Arya yang terhenti.
Yang lain hanya ber-Oh-ria lalu Arya berdiri dan beranjak menelpon Aaron Kynel, salah satu dokter terbaik di Prancis selain keluarga sahabat nyokapnya Satya, entah kebetulan atau apa saat itu Aaron Kynel ada di CHU Clermont-ferrand : site Estaing atau sering di sebut CHU Estaing, dan Aaron itu seorang mahasiswa terbaik dan jenius di RS univ itu.
"Sat, ayo ke bandara. Jet pribadi gue lagi di siapin," ajak Nesya sambil memanggil maid.
"Lo juga ikut?," tanya Satya.
"Ho'oh, itung² nengokin perusahaan gue di Lyon atau Paris," jawab Nesya.
"Thanks😊," lirih Satya senang, dia senang mendapat kawan yang setia seperti mereka.
"Santuy lah, kuy! pergi," ajak Dika sambil merangkul Satya.
SKIP
Akhirnya perjalanan sekitar 8 jam (kalo pake pesawat/jet biasa itu 12 jam) itu selesai, kini mereka berada di Airport Clermont-ferrand Auvergne, bandara kecil di Clermont-ferrand, untung nya jet pribadi Nesya cukup buat mendarat disana kalo engga mungkin mereka harus mendarat di Lyon atau kota lainnya.
Karna mereka berangkat pukul 14.00 yang artinya pukul 2 siang maka mereka sampai pukul 22.00 dan karna perbedaan waktu di kota ini 7 jam dengan Tokyo, maka kini jam menunjukkan pukul 15.00 sore, mereka semua kelelahan tak terkecuali Satya.
"Gue punya mansion disini, kalian istirahat disana aja, besok baru ke RS. Biar gue yang langsung ke RS," ujar Satya.
"Tapi kan...."
"Turutin aja apa kata Satya, gue juga capek tapi bener gapapa?," tanya Leon memastikan, dia memotong ucapan Nesya.
"Iya, Dean. Lo bisa nginep di mansion gue," jawab Satya.
"Ok, ti ati bro," balas Dean.
"Eh! lo kesana pake apa?," tanya Lyra tiba².
"Tadi mafioso gue udah bawain mobil, yang itu," jawab Satya.
Abaikan plat nomornya
Lyra ber-Oh-ria, Satya tersenyum tipis sedangkan yang lainnya beranjak pergi dengan mobil van yang udah disiapin juga, Karina? dia ga jadi ikut gegara harus balik lagi ke pangkalan lautnya.
"Eh ra! lo mau kemana?," tanya Vyone begitu melihat Lyra pergi ke arah lain.
"Bacott," gumam Lyra.
Lyra bukannya pergi ke van malah ke mobil sport milik Satya, dia dengan santainya masuk dan duduk di kursi penumpang.
"Biarin aja lah, namanya juga hubungan. Palingan Lyra ntar ketemu ama calon mertuanya," celetuk Dika dalam keadaan setengah sadar, semua orang di dalam van kecuali supir memandangi Dika heran.
"Lo kesambet apaan ka?."
"Eh buset dia udah ga sehat ya?."
"Mabok ni anak."
"Tumben amat tu mulut bisa ngomong bener, nasehatin pulak."
Pertanyaan mereka tak digubris oleh Dika yang terlanjur tidur lagi.
"Pantesan aja, orang dia setengah sadar," ujar Dean membuat yang lain kembali ke aktifitas masing², tidur.
~oOo~
RS Univ CHU Clermont-ferrand : site Estaing atau CHU Estaing.
Mobil sport milik Satya sudah terparkir di parkiran RS, Satya keluar dengan terburu buru, diikuti Lyra yang hanya membawa tas kecil.
Anggap aja pake bahasa Prancis
"Bonsoir, ada yang bisa saya bantu?," tanya resepsionis ramah.
"Reserfasi atas nama Rossie Georgan," jawab Satya cepat.
"Nyonya Rossie berada di ruang presidental suite khusus no 15," jawab resepsionis tadi.
'Sudah kuduga!,' batin Satya.
"Merci," balas Satya lalu menggandeng tangan Lyra ke lift.
Ting!
Lift pun sampai dan Satya langsung pergi ke ruangan yang sudah dia hapal, ruangan khusus milik mamanya di RS ini, ruangan terbesar, ternyaman dan terlengkap fasilitasnya, ada toilet beserta bathub nya, ada dapur mini beserta fasilitas yang lain, sofa yang begitu empuk dan lainnya.
Satya langsung masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu, dibelakangnya Lyra terengah-engah.
"Mama," seru Satya, dia mendapati Rossie sedang duduk sambil bersandar di tembok du atas ranjang pasien.
__ADS_1
"Yohan?," gumam Rossie kaget sekaligus senang.
"Ma, mama gapapa kan?," tanya Satya khawatir.
"Mama gapapa kok, kok Yohan ada disini? ga sekolah?," jawab Rossie dengan senyum manis.
"Syukurlah, Yohan takut mama kenapa² jadinya Yohan langsung dateng kesini, trus untuk sekolah belum lama di serang mafia makanya di liburkan," jawab Satya membuat Rossie terkejut.
"Tapi kamu gapapa kan?."
"Gapapa kok ma, tenang aja."
Lyra tersenyum mendengar interaksi Satya dan Rossie, dia jadi merindukan mamanya, btw mama nya Lyra meninggal 3 tahun yang lalu karna sakit keras, trus papa nya Lyra lagi deket sama seorang cewe tapi Lyra nolak cewe itu buat gantiin mamanya yang meninggal, tapi papanya tetep keras kepala jadilah Lyra jarang banget pulang ke Filiphina.
"Oh ya ma, Yohan.. ah! panggilan Yohan sekarang Satya ma bukan Yohan lagi, trus ini kenalin temennya Satya," ujar Satya sambil menarik tangan Lyra hingga Lyra berada di antara Satya dan Rossie.
"Hallo tante," sapa Lyra dengan senyum manisnya.
"Hallo juga cantik, nama kamu siapa?," balas Rossie.
"Lyra tante, Kimberlly Chamara," jawab Lyra dengan senyum manis.
"Lyra? nama yang bagus," puji Rossie.
"Hubungan kalian apa iya cuma temen? apa jangan² kalian pacaran?," tanya Rossie membuat Satya tersenyum penuh arti dan Lyra gugup.
"E engga kok tante, k kita c cuma te temen doang," bantah Lyra sambil menunduk malu.
"Haha... bukan ma, ini calon mantu mama," celetuk Satya membuat Lyra berbalik dan menatap Satya tajam.
"Jangan ngomong yang engga² deh," kesal Lyra.
"Oh ya? pinter juga kamu milih, cantik," balas Rossie membuat Lyra malu bukan kepalang.
"Ahaha..."
Tawa Satya pecah melihat wajah merah Lyra yang di sembunyikan di dadanya.
~oOo~
Mansionnya Satya
Mereka semua sudah tidur di kamar masing² kecuali Nesya yang sudah tidur di jet pribadi, dia mengerjakan suatu hal, entah apa itu.
"Kamu lagi ngapain sih?," tanya Leon yang baru aja dateng.
"Oh.. ini lho, aku dapet alat yang bisa nyimpen banyak barang," jawab Nesya membuat Leon bingung.
"Ha?," tanya Leon.
"Cara kerjanya sama kaya cincin penyimpanan tapi ini namanya gelang semesta tak terbatas," jawab Nesya.
"Oh... dapet darimana?," tanya Leon.
"Dari kakak," jawab Nesya.
"Kak Gu?."
"He'em, dia ngirim gelang ini pake merpati, dan katanya ini juga dari guru Tian."
"Oo..."
Dah lama Author ga bahas dimensi lain ya? ekhem! ayo kita dengarkan lebih lanjut.
"Emangnya apa aja yang bisa dilakuin gelang itu, trus ini apa?."
"Yang itu isinya kalung, katanya sih kalung dimensi, trus kemampuan gelang ini tuh bisa ngambil apa aja yang ada di dalemnya sesuai keinginanku, aku dapet ini waktu kita istirahat di mansion, aku juga udah masukin beberapa batang emas, senjata dan isinya, buku² tentang seniman bela diri dan banyak lagi."
"Oo..."
"Coba kamu pake kalungnya," usul Leon.
"Hem... ok," balas Nesya, dia mengambil kalung di kotak warna ungu gelap berkilau lalu membukanya.
"Wow...," gumam Leon melihat penampakan kalung itu.
"Ini... kalung dimensi?," tanya Nesya kaget, tak lama rasa kagetnya berubah menjadi rasa senang.
"Sini aku pakein," balas Leon.
Dia pun memakaikan kalung tadi di leher Nesya, sebuah cahaya menyilaukan mengejutkan Nesya dan Leon, Nesya merasakan sakit saat kalung itu menyatu dengan tubuhnya.
"Ugh..."
Leon yang menyadari itu langsung memegangi Nesya, dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, cahaya yang menyilaukan itu pun memudar secara perlahan. Leon sedikit terkejut sedangkan Nesya? jangan di tanya dia aja udah melongo melihatnya.
Yang dilihat mereka bukanlah ruangan dengan interior mewah (ruang tengah) melainkan hamparan ladang bunga yang indah dengan bukit kecil nan indah, belum lagi onsen (sumber mata air panas) yang masih alami. Hamparan padang rumput yang luas, pohon² tinggi dan rindang, kolam ikan yang asri, serta pemandangan bunga lavender ungu yang memukau. Juga ada sebuah rumah kuno yang indah, Sungguh memanjakan mata.
"Selamat datang master!," sapa sebuah suara khas loli membuat Nesya dan Leon menoleh ke sumbernya.
"Hallo(?). Siapa kamu?," tanya Nesya.
"Saya adalah penjaga dimensi ini master!," jawabnya.
"Namamu?."
"Saya belum memiliki nama master!."
"Baiklah², begini saja. Mulai sekarang namamu adalah Lav," ujar Nesya mutlak.
"Baik, master!. Mulai sekarang namaku adalah Lav," balas Lav senang.
"Oh iya namaku Nesya, Yuena Nesyanie Putri. Aku punya banyak nama, karna kau adalah penjaga dimensi ku. Maka kau harus tau tentang ini," ujar Nesya membuat Lav terdiam mendengarkan dengan baik.
"Nama asliku adalah Natalia Lavender Yuena Nero, Yuena Nesyanie Putri adalah nama samaranku selama ini. Di dimensi persilatan aku dikenal sebagai Iblis merah, pemimpin organisasi pembunuh Bulan merah. Aku juga dikenal sebagai Li Yue, pendekar sekaligus murid khusus twins Tian."
Saat itu Lav terlihat sedikit terkejut tapi senang, dia pun mengatakan suatu hal yang membuat Leon juga Nesya terkejut dan bingung.
"Lav tau itu, sang pencipta memberitahukan Lav. Beliau bilang kalau nanti master Lav adalah orang yang hebat, master adalah putri alam, master bisa membuka pintu dimensi lain dan dimensi yang kadang master datangi adalah dimensi Lox."
"Ha?? SANG PENCIPTA??."
"Oh iya, ada lagi."
Perkataan Lav membuat Nesya dan Leon kembali ke mode serius.
"Lav diberitahu juga tentang sebuah ramalan."
"Ramalan itu berisi kata² aneh
__ADS_1
'Seorang gadis muda yang teramat cantik dan jenius akan membawa kehebohan, hidup di antara dimensi, bisa keluar masuk dimensi dan amat disayang sang pencipta. Banyak orang yang akan memburunya, penderitaan akan datang seiring waktu berjalan. Gadis itu dibimbing 3 guru yang sangat hebat, mampu mengguncangkan dunia atas. Membongkar rahasia yang mengancam keberadaan semesta, dialah sang putri alam'
Begitu isinya master! Lav berpikir jika orang di ramalan itu adalah master!," jelas Lav.
'Tuan! ijinkan Candy dan An ye bertemu Lav!,' ujar An ye dengan telepati.
'Baiklah,' jawab Leon.
Tak lama An ye dan Candy pun keluar dari dimensi Dominiq, Lav pun memandang mereka heran.
"Hallo, perkenalkan namaku Candy dan ini kak An ye, kami berdua adalah penjaga dimensi Dominiq," ujar Candy memperkenalkan diri.
"Namaku Lav, senang bertemu denganmu, penjaga dimensi ini," balas Lav dengan senyumannya.
"Oh iya, sebaiknya Lav ajak kalian semua berkeliling," ujar Lav.
"Kita mulai dari tempat ini, tempat yang master pijak adalah altar pengirim, disitulah tempat keluar masuk ruang dimensi ini. Tempat ini adalah taman bunga, disini Lav akan membantu master dari dalam dimensi. 1 hari di dimensi ini sama dengan 30 menit di dunia luar."
Bla bla bla
Lav menjelaskan secara rinci setiap ruangan di dimensi ini, sama seperti saat Candy dan An ye menjelaskan dimensi Dominiq pada Leon.
~oOo~
Disisi lain
"Kau sudah memberitahu nya?," tanya seorang pria yang kini sedang duduk di depan pria yang dia tanya.
"Sudah, apa kau akan mengambil kembali klan ini?," tanya pria di seberangnya.
"Hem... nanti," jawab pria yang lain.
"Oh ayolah, kasihan dia tak tau yang sebenarnya," ujar pria di depannya.
"Arsene! kau diam saja!," kesal pria satu lagi.
Yap! saat ini Arsene sedang dihadapkan pria yang tak lain adalah Gusion, Arsene di perintahkan untuk memberitahu Nesya tentang orang tuanya, padahal semua info itu belum dia sampaikan sepenuhnya.
✌Flashback on✌
Masih ingat eps 64 (balapan yok), disana kan ada dimana kota A, Jepang. Klan Ashura.
Pemimpin sementara klan Ashura adalah Arsene sedangkan pemimpin yang sebenarnya adalah Gusion, beberapa bulan yang lalu Gusion mengambil alih klan Ashura lalu membuatnya seperti sekarang, tapi kemudian kepemilikan klan Ashura pun di pimpin sementara oleh Arsene, dipaksa sih:).
Jadi hari itu Arsene sedang melihat berkas Nesya, terdengar kata yang berhubungan dengan Nesya, saat itu Gusion datang dengan pakaian khas pendekarnya.
"Oh kau.. Akhirnya kau datang juga ya, ada perlu apa?," tanya Arsene, dia sudah lelah mengurus klan Ashura ini.
"Aku ingin kau menyampaikan berita pada Nesya."
"APA???!!! kenapa tidak kau saja yang menyampaikannya?!!," ujar Arsene terkejut dan kesal.
"Ayolah, Arsene," bujuk Gusion.
"Haish... baiklah," jawab Arsene akhirnya.
"Begini, kau sampaikanlah padanya. Andy, White Fheater hanyalah bidak dari seseorang yang sangat kuat. Andy juga seorang yang mendalangi kejadian penyerangan B'B internasional junior high school. Untuk pemimpinnya kau bisa cari tau sendiri, intinya dia harus tau info ini."
"Lalu? ada lagi?."
"Sebenarnya ada, tapi jangan beritahu dia, aku akan memberitahumu karna aku percaya padamu."
"Baiklah, aku mendengarkan."
Gusion pun memasang sihir cahaya yang bisa membuat ruangan kedap suara, Gusion pun duduk di depan Arsene.
"Kemarin aku pergi ke dimensi Brilea, disana aku menemukan ramalan. Ramalan itu sangat mirip dengan apa yang terjadi pada adikku, kau tau lah."
"...."
Arsene diam, mencerna setiap perkataan Gusion.
"Yang membuatku bingung adalah, di ramalan itu guru yang membimbing ada 3 sedangkan adikku memiliki 2 guru, twins Tian."
"Itu... sedikit membingungkan, mungkin nanti adikmu akan mendapat guru baru, jadilah 3. Ya kan?," ujar Arsene.
"Ada lagi, kau tau Vilement?."
"Vilement? kerajaan terkuno di dimensi Brilea," jawab Arsene.
"Kemarin aku bertemu dengan putri kedua dari kerajaan itu, yang membuatku bingung adalah jantungku berdebar saat bertemu dengannya, apa aku sakit?," ujar Gusion bingung.
"Hei!! jangan melenceng dari pembicaraan!," kesal Arsene.
"Baiklah, di kerajaan Vilement aku bertemu seorang panatua, panatua itu memberitahu ku suatu hal, yah... bisa dibilang curhat sambil istirahat. Dia bilang akhir² ini merasakan firasat buruk, dan lagi di dimensi Brilea, planet Y. Sering terjadi pembantaian, dan pembantaian itu dilakukan oleh satu kelompok."
Arsene mengernyit, memikirkan segala kemungkinan kelompok yang telah membuat masalah.
"Soul blood, dalam bahasa Inggris yang tak dipahami orang² di planet Y."
"Soul blood? darah jiwa? hii... dari namanya saja membuat ku geli sekaligus merinding dan juga bergairah," ujar Arsene membuat Gusion memutar bola matanya malas.
"Trus ada lagi yang mau kau katakan, aku tak akan memberitahukan nya pada adikmu itu," tanya Arsene kembali ke topik.
"Hm.. soul blood itu membuatku berpikir jika ada jika ada jiwa dari seseorang yang sudah mati, berpindah kesana. Bukankah itu bisa terjadi?."
"Em... ya, itu bisa terjadi. Itu juga ulah dari dunia atas, dewa atau dewi kematian. Kau tau lah, seberapa menjengkelkannya mereka."
"Ya, aku pun sempat bertemu salah satu dari mereka."
"Siapa?."
"Aprhodite, dewi cinta."
"Puft... ahahaha! ada² saja kau ini, lalu kau di goda olehnya??."
"Ya, seperti itu. Aku juga pernah ketemu Hera."
"Ratu dunia atas? dia baek sih, tapi males ah bahas dunia atas."
"Hm..."
✌Flashback off✌
"Jadi, apa kau menemukan hal baru?," tanya Arsene.
"Begitulah, aku akan menyelidikinya lagi," jawab Gusion.
"Oh iya, aku ngerasa sang pencipta ngasih barang ke adek lu itu."
"Barang? oh iya, kemaren sang pencipta ngasih kalung sama gelang, kata pengantar nya sih buat dia."
"Ooo..."
Mereka pun melanjutkan perbincangan kembali.
Bersambung....
__ADS_1
~oOo~
Next!