
Beberapa menit kemudian Nala sudah mengenakan pakaian yang diberikan Yi Fan.
~oOo~
Eh ralat! maksudnya pakaian Tiongkok, kan pake bajunya Yi Fan trus Yi Fan nya dari Tiongkok, sorry² lupa sama typo juga, maklumin dong, sebagai gantinya ini foto baju+aksesorisnya yang dipakai Nala, baju sama aksesorisnya lho bukan orangnya.
Saat Nala sedang berbenah diri/dandan/benerin penampilan, seseorang mengetuk pintu.
"Nona, ini aku," suara Yi Fan terdengar dari balik pintu.
"Masuk," jawab Nala.
"Wah... nona kau sangat cantik," puji Yi Fan setelah menutup pintu di belakangnya.
"Biasa aja ngomong nya, kita lagi berdua jadi jangan formal² amat lah. BTW kenapa lo ngasih baju ini coba?," tanya Nala ketus.
"Ehe... pengen aja gitu liat elo pake baju tradisional lagi, wkwk..," jawab Yi Fan sambil tertawa kecil.
"Sial*n lu, nanti kalo di ketawain Leon gimana?," tanya Nala ragu.
"Lah, kalo dia mau ketawa, ya ketawa aja si, kenapa lu yang repot juga," jawab Yi Fan bercanda sambil mendekati Nala yang duduk di depan meja rias.
"Ya ga gini juga cong! malu gue."
"Ya udah lah, bomat. Sini gue bantuin dandan, biar Leon kepincut, haha...," ejek Yi Fan sambil membantu Nala membereskan penampilannya.
"Njay, lu seneng kalo gue bareng Leon?," tanya Nala pada Yi Fan yang sedang menata rambut hitam panjangnya.
"Iyalah, buat gue sih gapapa, abisnya lo itu beda pas ada Leon," jawab Yi Fan jujur.
"Beda gimana?."
"Ya.. lo itu lebih ceria, lebih jinak, lebih imut, lebih... apalagi ya? banyak dah intinya."
"Eh bentar, maksud lo dari lebih jinak itu apaan?."
"Eh keceplosan gue."
"Jadi... selama ini gue garang gitu? hah?! jawab gak! jujur!."
"Iya nih gue jujur, keuntungannya lo deket sama Leon," ujar Yi Fan membuat Nala terdiam dan mendengarkan dengan seksama setiap perkataan Yi Fan.
"Keuntungannya itu lo lebih ceria dan imut kalo deket Leon, trus dulu kalo lo marah susah di jinakin maksud gue di tenangin biar ga marah gitu loh, tapi sejak lo deket sama Leon, jadi ada yang jinakin elo waktu ngamuk, habis itu lo... apalagi ya? banyak dah," jelas Yi Fan panjang x lebar.
"Ok, kerugiannya?."
"Lo makin sadis di deket Leon, gue aja sampe gemeter banget tadi," pengakuan Yi Fan membuat Nala tertawa lepas.
"Ish.. gue serius!."
"Hahaha... ok ok, trus?," tanya Nala setelah tawanya mereda.
"Lo makin kuat, makin hebat, makin jenius, makin... kaya cewe."
"Njerr lo ga seneng gue makin kuat, hebat sama jenius gitu?!," tanya Nala.
"Ya... ga juga sih, kalo lo makin kuat kan posisi gue dari gold bisa turun ke silver coy, trus ntar ujian TAC sama TBB nya makin susah dong," Nala terdiam memikirkan apa yang dikatakan Yi Fan.
"Trus maksud lo apa gue 'lebih kaya cewe'? gue selama ini kaya cowo gitu?."
"Hem... dikit sih, gue bahkan pernah ngira lo itu lesby soalnya lo gitu amat sama cowo, acuh, biasa aja, trus kalo sama cewe kaya malu² trus ceria, hiiii.... geli gue ngebayanginnya," aku Yi Fan bergidik geli mengingat kelakuan Nala.
"Anjirrr... gue geli sendiri bayanginnya."
"Wkwk... nyadar juga kan lo."
"Jadi kalo gue deket Leon apa bedanya?."
"Bedanya itu... lo lebih feminim, lebih malu² kaya cewe walau dikit, lebih bisa dandan...," belum selesai Yi Fan ngomong malah di potong sama Nala.
"Lah gue kan emang bisa dandan cok!."
"Iya deh, serah lu. Nah dah selesai, tuh kan lo cantik padahal ga pake make up," puji Yi Fan menyelesaikan kegiatan mendandani Nala tanpa make up.
"Lu cantik sumpah, kalo ga percaya ngaca dah," ujar Yi Fan, Nala melihat dan menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
"Lani... lo yakin ini bayangan gue?," tanya Nala tak percaya.
"He'em," jawab Yi Fan, kedua tangannya di letakkan di bahu Nala.
Nala terpukau oleh kecantikannya sendiri, dia masih menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan tak percaya, tangannya terangkat untuk menyentuh wajah cantik, putih juga halus miliknya.
"Cantik," gumam Nala tanpa sadar.
"Gue yang dandanin pasti cantik lah," sanjung Yi Fan pada dirinya sendiri.
"Dah, sekarang lo keluar dan tunjukin kalo lo itu emang cewe," bisik Yi Fan di telinga Nala.
"Topeng gue."
"Masih pengen pake topeng? kenapa ga tunjukkin aja."
"Gak, gue belum mau ngasih tau ke mereka, gue masih pengen idup tenang."
"Oh.. nih topengnya," ujar Yi Fan sambil memberikan topeng khas Nala sebagai Phoenix.
"Gue pasangin ya?," tawar Yi Fan, Nala mengangguk setuju.
"Dah, eh softlens lo mana?," tanya Yi Fan setelah melihat warna mata Nala dan memasangkan topeng di wajah Nala.
"Gue simpen, kelamaan pake softlens ga baik tau."
"Masa? bukannya softlens lo ancur ya?."
__ADS_1
"Loh kok tempe?."
"Tahu, pe a."
"Bosen tahu mulu, sekali kali tempe kan gapapa."
"Tadi gue liat lo lepas softlens lo sebelum ganti baju, trus pas mau pake malah jatuh habis itu ancur deh sama tempatnya, ya kan?."
"Wuih... canggih, kok lo bisa tempe si?."
"Gimana ya, gue itu bisa liat masa depan orang," jawab Yi Fan menyombongkan diri sendiri, tapi dia bohong.
"Halah... paling juga elo ngintip dari pintu kan?," tebak Nala sambil beranjak berdiri dari duduknya.
"Kok sekarang lo yang tempe sih?."
"Dah kebaca, gini aja daripada lo gue panggang, mending lo pake baju tradisional juga biar impas!."
"Lah, ogah!."
"Etss.. siapa yang suruh lo ngelawan? ganti. baju. sekarang. !!," perintah Nala dengan penuh penekanan dan senyum smirk di bibirnya.
"Ok, gue kalah sama elo," jawab Yi Fan akhirnya.
SKIP
Nala dan Yi Fan sudah selesai mengenakan pakaian tradisional, Yi Fan keluar dari ruang ganti terlebih dahulu, Leon yang sedang berbincang dengan Kakashi dan yang lain langsung menoleh dan terpukau, semua yang ada di ruangan itu terpukau dengan kecantikan Yi Fan walaupun di balik topeng khasnya.
"Lani? elo..."
"Nix mana?," tanya Leon.
"Kenapa?," tanya balik Nala yang keluar dari belakang tubuh Yi Fan.
Lagi² semua orang terpukau oleh penampilan Nala, bahkan Leon sampai tak berkedip melihatnya.
"Kalian main cosplay ya?," tanya Ana setelah sadar dari lamunannya.
"Engga," jawab Nala dan Yi Fan bersamaan.
"Trus ngapain pake baju itu?."
"Tau nih, Lani yang ngasih dan... biar impas, Lani juga harus pake baju yang sama, ya kan, Lani?," ujar Nala sambil menoleh ke arah Yi Fan, Yi Fan hanya mengendikkan bahu acuh.
"Ga ada baju lain?," tanya Leon tiba² dan tetap menatap Nala dengan intens.
"Lani ga mau ngasih," jawab Nala santai, pandangan Leon beralih ke Yi Fan, Yi Fan kesulitan menelan salivanya saat mata Leon menatapnya.
"Huh.. ya sudahlah, kemari dan duduk di sini," ajak Leon.
"Hem..," dehem Nala sambil melirik Yi Fan sejenak lalu duduk di sebelah Leon.
"Mulai hari ini, kalian akan kami latih seperti latihan Lani, Kei dan yang lain," ujar Nala setelah duduk di sebelah Leon, Kakashi dan Yi Fan langsung bergidik ngeri mengingat latihan yang mereka terima.
"Iya, walau ga sama persis," jawab Nala.
"Yang di latihan di hutan? iya juga kan? iya ya plisss," rengek Yi Fan setelah duduk di sofa seberang Nala.
"Emang di sini ada hutannya?," tanya Nala balik.
"Em... ada sih tapi ga segede yang di deket markas," jawab Yi Fan.
"Kalo yang itu nanti aja deh kalo dah kumpul di markas," balas Nala.
"Yah...," ujar Yi Fan dan Kakashi bersamaan.
"Kalo latihannya di hutan sini nanti kurang menantang," sambung Nala sambil berbisik, tentu saja dapat di dengar Kakashi dan Yi Fan.
"Yes!," gumam mereka.
"Sekarang masih jam setengah 10 pagi, kalian bisa beraktifitas seperti biasa," tegas Nala.
"Hem..," jawab mereka serentak, Nala beranjak berdiri tapi di tahan Leon.
"Kalian semua keluar, saya mau bicara dengan Phoenix," tegas Leon sambil menarik Nala duduk lagi di sebelahnya.
Tanpa ba bi bu lagi, semua orang di ruangan itu keluar dari ruangan hingga menyisakan Nala dan Leon.
"Ada apa?," tanya Nala acuh sambil memainkan ponselnya.
"Lihat aku dulu," jawab Leon ga ada hubungannya sama pertanyaan Nala.
Nala hanya melirik Leon sejenak lalu diam dan tetap memainkan ponselnya, karna kesal Leon langsung mengambil ponsel Nala dan melemparnya ke sofa seberang, untung ga rusak.
"Hei!," seru Nala tak terima, Nala melakukan hal yang sama pada ponsel Leon.
"Impas!," seru Nala ketus sembari membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Huh, maaf untuk ponselnya, kau masih marah tentang hal itu?," tanya Leon mengalah.
"Menurutmu?," tanya balik Nala dan menatap Leon sekilas lalu membuang muka lagi.
"Maafkan aku, kumohon... jangan marah terus. Aku bingung harus ngapain kalo kamu marah," Leon memelas sambil memaku wajah Nala dengan kedua tangannya.
'Imut sekali,' puji batin Nala gemas tapi ditahan.
"Lepaskan aku," elak Nala dengan wajah datar dan kembali menatap ke arah depan.
"Mau maafkan aku tidak?," tanya Leon sembari menatap Nala lekat, jarak antara mereka semakin dekat.
"Tergantung," jawab Nala tanpa menoleh.
"Mau sampai kapan kau marah padaku?," tanya Leon memelas dengan wajah imutnya yang membuat Nala gemas.
"Sampai... entahlah," jawab Nala sembari mengendikkan bahu.
__ADS_1
"Hem...," raut wajah Leon menjadi murung tapi tambah imut.
"Sudahlah, nanti setelah 1 minggu, kita balik ke markas, aku dah kirim e-mail ke mereka buat nge-upgrade sistem² keamanan di sana, jadi waktu kita pulang sistem keamanan di sana tinggal di uji dan di cek," jelas Nala tanpa menoleh.
"Ok, trus?," tanya Leon.
"Ya udah," jawab Nala gaje-_.
"Lah, gaje amat," balas Leon datar.
SKIP
Biar chapternya ga kepanjangan jadi langsung kita skip aja, Ok👌
Setelah 1 minggu melatih anggota TAC dengan keras, kini Nala dan Leon sedang dalam perjalanan pulang ke markas pusat TBB di kota C, oh iya kenapa Nala sama Leon ga sekolah? karna Nala/Nesya di skors gegara ngerjain guru sama rusakin gerbang belum lagi bikin listrik 1 sekolah anjlok, Leon juga sama tapi kasusnya beda.
"Nala," panggil Leon lembut sembari menatap Nala.
"Kenapa?," tanya Nala masih fokus menatap layar laptop di pangkuannya.
"Makan dulu yuk, kamu belum makan dari kita pergi lho," jawab Leon.
"Kamu makan dulu aja," balas Nala tanpa menoleh.
"Udah dulu, ok," ajak Leon sambil mengambil alih laptop di pangkuan Nala dan mematikannya, Nala mendengus kesal.
Leon turun dari mobil lalu berjalan untuk membuka pintu mobil yang di tempati Nala, Nala tak bergeming, alhasil Leon menariknya ke dalam resto untuk makan, mending di tarik daripada di gendong.
SKIP
Kok skip lagi sih? biar ga banyak ngetik, maklumin lah lagian kebanyakan kata² ga guna kan mubazir😞.
Nala dan Leon sudah sampai di markas pusat TBB tapi Nala baru tidur 2 jam dan belum bangun sampai mobil parkir di basement, sebelumnya Nala udah di pindahin sama Leon ke jok belakang biar lebih nyenyak kayanya.
"Na.. Nala," panggil Leon sambil menepuk pelan pipi Nala.
"Huh... sudahlah, ku gendong saja," gumam Leon.
Leon menggendong Nala, berhubung Nala tidurnya masih nyenyak jadinya di gendong ala bridal style sama Leon, Leon membaringkan Nala di ranjang dengan perlahan, tanpa sengaja Leon mencium aroma tubuh Nala.
'Lavender? wanginya menenangkan,' batin Leon sambil mengendus tubuh Nala dan memejamkan matanya.
Tak terasa Leon terus mengendus tubuh Nala, untung aja ponsel Leon berdering karna telepon masuk kalo ga udah nyosor kali, Leon buru² keluar dari kamar Nala dan masuk kamarnya sambil menerima telepon, Nala membuka mata setelah pintu kamarnya tertutup.
'Tadi Leon ngendus aku? lah bomat ah!,' batin Nala lalu dia kembali tidur.
Di telpon
Leon : Hallo
..... : ............
Leon : Em? Ok gue yang urus, lo tenang aja
..... : ..........
Leon : Santuy aja kali, bro. Kaya ga kenal gue aja lu
..... : .........
Leon : Ashiap santuy
Tuut tuut tuut
"Ada mainan baru nih," gumam Leon dengan senyum smirk nya setelah sambungan telpon di matikan.
Leon segera pergi ke kamarnya untuk mandi.
SKIP, makan malam
"Akhirnya kalian pulang juga, kesel gue nahan emosi gegara si Lydia sama temen² nya," gerutu Lyra saat melihat Nala dan Leon bergabung ke aula yang disulap menjadi ruang makan, aula yang sangat besar dan cukup menampung semua anak TBB, tapi anggota TBB belom pada dateng.
"Emang mereka ngapain lagi?," tanya Nala setelah duduk di tempat biasa dan tentu saja mereka menggunakan penyamaran.
"Males gue cerita di sini, ntar aja kita kumpul di...," ujar Lyra terhenti.
"Di mana?," tanya Vier yang baru duduk di sebelah Lyra.
"Kita beli rumah aja yuk," ajak Nala tiba².
"Ha?," tanya mereka (Veronica, Lyra, Arya, Dika, Karina) tak percaya, Veronica di skors karna nyelametin anak yang dibully, gilak! nyelametin anak yang dibully kok malah di skors, dan Karina rencananya mau tinggal bareng Nala dkk aja.
"Iya, nanti ketauan lagi kita tinggal di sini, lagian di sini keamanannya udah terjamin jadi ga masalah kalo kita tinggal di tempat lain," jelas Nala.
"Ohhh.... gitu."
"Hm...," gumam Nala.
Tak berapa lama mereka pun makan bersama.
Bersambung....
~oOo~
Kebanyakan Skipnya Ga Sih? Hm... Nanti Di Bikin Yang Lebih Bagus Deh
Like
Comment
Share Ke Temen² Yang Lain
Jangan Lupa Klik Tombol Favorite
Next Eps! Bye...
__ADS_1