My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Lyra story : Alasan dibalik keraguan


__ADS_3

Beralih dari saat Satya dan Lyra masih melakoni kegiatan panas mereka jam pun sudah pukul 8 malam, semua orang pergi ke kamar masing², tak terkecuali Nesya dkk kecuali Lyra.


Kebetulan kamar Nesya, Lyra, Vier dan Vyone berdekatan dan hanya kamar mereka ber-empat yang di pasang peredam suara.


Saat mereka sedang berjalan melewati kamar Lyra mereka bertiga mendengar desahan keras Lyra, tentu saja mereka bertiga terkejut dan mengecek kamar Lyra, waktu itu kamarnya Lyra belum di kunci, tapi tiba² kekunci sendiri bebarengan dengan di nyalakannya peredam suara.


"Loh?," gumam Vyone.


"Nes, kamera mini lo itu bisa buat liat apa yang terjadi di dalem kan?," tanya Vier.


"Ayo buruan," ajak Nesya.


Nesya langsung menyalakan kamera mini yang dia rancang di dalam robot seperti lalat, lalat itu berhasil masuk ke kamar Lyra dan mereka bertiga terkejut bukan main melihat apa yang terjadi.


"Anjayy..," gumam mereka bertiga bersamaan.


"Gila tuh orang," ujar Vyone.


Mereka pun memutuskan untuk membiarkan saja dan mengirim kembali robot lalat itu ke kamar Nesya, mereka langsung keluar kamar Nesya dan pergi ke kamar masing² untuk beristirahat.


~oOo~


Keesokkan paginya


03.20 pagi


"Hoammm...."


Lyra terbangun dari tidur nya lebih cepat dari biasanya, dia merasa sedikit nyeri di bagian bawahnya, mungkin rasa nyeri karna dibuka paksa masih agak berasa.


Lyra melihat ke sebelah kanannya, dia teringat kejadian beberapa jam yang lalu, tanpa sadar Lyra tersipu malu sampai menyembunyikan wajahnya di dada bidang Satya.


"Eum...," Satya sedikit terusik karna rambut Lyra bersentuhan dengan tubuhnya yang ga pake baju jadinya geli gitu deh.


"Oi..! Satya!," panggil Lyra perlahan.


"Hem..," Satya masih ga mau di usik.


Cup


1 kecupan mendarat di pipi kiri Satya.


"...."


Satya ga bergeming akhirnya Lyra mencoba untuk pergi ke kamar mandi tapi tubuhnya ditahan oleh tangan Satya, Satya langsung menarik Lyra kembali sampai jatuh di pelukannya.


"5 menit lagi ra," ujarnya sambil memeluk Lyra seolah olah Lyra adalah guling.


"Ya udah si lo tidur aja orang gue mau ke kamar mandi doang," balas Lyra.


"Mandi?," tanya Satya dengan setengah sadar.


"Ya iyalah," jawab Lyra.


"Masa jam segini mandi sih? nanti aja lah," balas Satya manja.


"Manja ih, gue intinya pengen mandi titik!," ujar Lyra mutlak.


Satya sukses terbangun, dia menatap Lyra dengan tatapan menarik dan sedikit mesum, Lyra menatap Satya bingung.


"Mau mandi bareng?," tawar Satya sukses membuat mata Lyra membulat tak percaya.


Pletak


"Jan ngadi² dah, gue pen mandi sendiri kalo mandi sama elo yang ada malah **** di kamar mandi," jawab Lyra setelah menjitak kepala Satya.


"Tau aja lo," balas Satya dengan cengiran khasnya.


"Tapi gue pengen lagi, boleh ya please," pinta Satya dengan puppy eyesnya.


"Dih ogah," balas Lyra sambil mencoba bangun tapi ga bisa karna Satya lebih kuat.


"Ya udah deh," jawab Satya akhirnya tapi bukan berarti dia mengalah saat itu.


"Ah!," pekik Lyra kaget andai saja kamar itu ga dipasangin peredam suara pasti teman²nya pada kebangun.


Lyra memekik kaget karna tiba² saja Satya menggendongnya ala bridal style tanpa mengenakan pakaian, tentu saja hal itu membuat Lyra malu.


"Turunin gue Sat!," seru Lyra tapi ga di gubris Satya.


Satya membawa Lyra ke kamar mandi, dia mengisi bathub dengan air hangat lalu dia dan Lyra berendam di bathub itu bersama.


Lyra masih saja malu karna itu dia menyembunyikan wajahnya di bawah leher Satya, hal itu malah membuat Satya meremang.


Cup


"Jangan bikin dia bangun lagi, ini masih pagi tau," bisik Satya menggoda Lyra setelah mencium leher Lyra yang ga tertutup rambut.


"Ish!," keluh Lyra membuat Satya terkekeh.


Cup


"Tatap gue!," perintah Satya sehingga kau tak mau Lyra menatap Satya dengan wajah imut, tadi Satya kembali mencium leher Lyra.


Satya merasa sangat gemas sampai dia mencubit pipi Lyra lalu menciumnya.


"Ga usah malu, gue dah liat semuanya loh semalem," ujar Satya membuat pipi Lyra memanas.


"Gue yang malu tau!," kesal Lyra cemberut sambil kembali menyembunyikan wajahnya di leher Satya.


"Haha... ternyata seorang Kimberlly Chamara Ramosie bisa malu juga," ledek Satya dengan tawanya.


"Kok lo tau sih marga keluarga gue?," tanya Lyra sembari menatap Satya penasaran.


"Marga gue kan Georgan, keluarga terkaya dari Prancis. Waktu itu bokap lo pernah Paris buat atur kerja sama sama bokap gue dan saat itu juga gue ketemu sama elo," jawab Satya.


✌Flashback on✌


Beberapa tahun yang lalu

__ADS_1


Saat Lyra dan Satya berusia 6 tahun, saat itu Lyra bersama ayahnya pergi ke Paris, Prancis. Saat itu juga Lyra dan Satya saling bertemu dan berkenalan.


Sayangnya kejadian itu sudah bertahun tahun yang lalu, hal itu membuat Lyra melupakan masa lalu nya saat dia bertemu Satya, dia saat ini hanya ingat namanya saja tapi wajahnya ga inget.


✌Flashback off✌


"Loh? kan namanya setahu gue Yohan deh bukan Satya," respon Lyra bingung.


"Nama gue kan Yohanes Fasatya Georgan, inget?," ujar Satya mengingatkan.


"Oo... masuk akal," balas Lyra.


"Tapi kok elu bisa sekolah disini?," tanya Lyra.


"Disuruh my mom diriin cabang perusahaan di Indonesia trus kenapa gue bisa ada di kota C, jawabannya adalah gue pernah ada proyek disini and gue ngerasa nyaman di kota ini. Daripada ke kota D kan yang banyak mafia + preman," jawab Satya.


"Oo... dah lo minggir gue mau mandi," pinta Lyra.


"Dih nyuruh, mandi bareng napa sih," pinta Satya manja.


"Ish...," keluh Lyra.


~oOo~


Disisi lain


Sementara mereka berdua mandi bareng, Nesya baru aja selesai kerja dan dia ga ngerasa ngantuk, Nesya memutuskan untuk pergi ke bawah, ke arah ruang tengah.


Nesya menuruni tangga dan melihat seseorang masih berhadapan dengan benda pipih, laptop. Orang itu sedang memainkan laptop, jika dilihat dengan seksama, sedari tadi pria itu membuka file lalu mengecek kurva saham, sempat mengetik beberapa kalimat hingga menjadi file lalu mengirimnya dan hal itu membuat sahamnya naik beberapa persen.


"Siapa?," tanya Nesya begitu sampai di ruang tengah.


Pria yang dimaksud Nesya pun menoleh ke belakang lalu...


Plok plok


Dalam 2 tepukan tangan lampu yang sebelumnya redup menjadi terang, terlihatlah Arya yang sedang menatap Nesya dengan senyum tipis tentunya.


"Ngapain jam segini dah bangun?," tanya Nesya heran karna biasanya yang bangun jam segini tuh dia atau engga Leon.


"Insomnia gue kambuh makanya gue kerja jam segini," jawab Arya lalu kembali memusatkan perhatian nya pada laptop yang masih menyala.


"Oo...," Nesya hanya ber-Oh-ria dan berlalu ke dapur besar di villa itu.


Nesya mengambil air dari kulkas dan meneguknya lalu mengembalikan botol dan gelas tadi ke tempat semula, Nesya kembali ke ruang tengah, tempat Arya masih bekerja.


Note : Arya kadang insomnia sampai membuatnya tak bisa tidur dan memilih bekerja hingga rasa kantuk menyerangnya, kadang Arya sampai ketiduran begitu pulasnya sampai dia harus di bopong teman²nya.


"Ya, lu kapan dateng?," tanya Nesya begitu sampai di ruang tengah.


"Jam... 10 an, bareng si Feter ama Leon juga kok," jawab Arya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Si Feter palingan lagi tidur trus Leon mungkin lagi di ruang kerjanya," lanjut Arya.


"Hm... ntar waktu gue sama yang laen bawa anak² lari pagi, kalian ber-empat buatin rintangan kaya di Thick Mist Island ya," ujar Nesya yang bermakna perintah.


Nesya tersenyum kecil lalu kembali ke kamarnya di lantai 2.


~oOo~


Sementara itu Lyra dan Satya sudah selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut dengan hairdrayer, mereka bercakap cakap sedikit bahkan tak jarang Satya meledek Lyra.


"Ra," panggil Satya.


"Hm? apaan?," tanya Lyra.


"Lu yakin mau jadi **** friend gue?," tanya Satya agak ragu.


Sejujurnya Satya senang karna bisa merasakan **** tanpa menghamilinya, lagipula Lyra yang ngajak, tapi Satya takut dia akan kebablasan dan akhirnya membuat Lyra kehilangan mahkota keperawanannya lalu Lyra akan membencinya.


Kalo aja tadi Satya ga bisa nahan hasratnya mungkin Lyra udah buka segel dari tadi bahkan mungkin Satya akan kembali bermain di kamar mandi.


"Emang kenapa? lu ga yakin? atau lu ga mau?," tanya Lyra sambil tetap fokus mengeringkan rambut Satya.


"Bukan gitu ra, kalo nantinya gue bener² kelepasan gimana? trus akhirnya lo hamil diluar nikah gimana? apalagi kalo lo hamil di usia lo yang bahkan belum 15 tahun," jelas Satya membuat Lyra tersadar.


"Kalo lo kelepasan sih.... gapapa," jawab Lyra membuat Satya terkejut bukan main.


"Hah?!!," seru Satya kaget, Lyra terkekeh kecil mendengar keterkejutan Satya.


"Gue tau Satya orangnya bertanggung jawab, terbukti dari apa yang lo lakuin beberapa jam yang lalu. Lo sebenernya bisa aja masukin junior lo ke punya gue cuma lo nahan semua itu karna ga pengen buat gue kecewa kan?," tanya Lyra, Satya pun termenung.


"Gue juga tau kalo lo sebenernya juga mau," lanjut Lyra membuat Satya menatapnya serius.


"Ra, ada alasan dibalik keraguan gue," balas Satya.


"Dengerin gue baik²," pintanya, Lyra terdiam, menghentikan aktifitas mengeringkan rambut Satya lalu mulai mendengarkan.


"Dulu gue punya seorang kakak, kakak gue cewe. Karna pacarnya dia jadi hamil di luar nikah, untung aja cowo itu mau tanggung jawab, waktu itu gue masih 8 tahun. Kakak menikah dan hamil di usianya yang masih berusia 14 tahun," ujar Satya mengejutkan Lyra tapi Lyra tetap diam mendengarkan, Satya mengambil napas sebelum melanjutkan ceritanya.


Satya tak pernah menduga akan menceritakan ini lagi, kisah kelam yang membuat Satya berubah, mungkin kelakuan nya masih sama tapi dia menjadi agak anti terhadap wanita dan ya dia tak pernah berpacaran atau melakukan **** dengan wanita lain selain Lyra, sejauh ini.


"9 bulan kemudian kakak gue melahirkan, anaknya sehat, laki². Tapi, kakak gue meninggal karna pendarahan hebat saat melahirkan, ini yang buat gue ragu. Ketakutan gue... ketakutan gue dari kecil, tahun itu adalah masa terkelam di hidup gue," lanjut Satya diakhiri dengan suara bergetarnya menahan kesedihan yang dia pendam beberapa tahun lalu.


Lyra menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia ga nyangka jika sosok Satya yang periang dan penggoda wanita memiliki masa lalu yang kelam, coba bayangkan jika anda kehilangan kakak perempuan yang sangat anda sayangi diusia yang terbilang masih belia.


Grep


Lyra memeluk Satya yang duduk di sofa kamarnya, tangisnya pecah di pelukan Satya, dia sedih mendengar cerita Satya, senang karna Satya mau bercerita tentang masa lalu nya, tak tega melihat Satya menangis.


Satya nangis? yap benar sekali, sebelum Lyra memeluk Satya yang mengenakan jubah mandi, air mata Satya sempat²nya lolos dan tentu saja hal itu tak luput dari penglihatan Lyra.


"Sorry... gue ga tau, gue minta maaf karna bikin lo inget lagi. Hiks... sorry," bisik Lyra sambil memeluk Satya erat.


"Em... gapapa kok lagian gue yang duluan cerita kan," balas Satya berbisik sambil mengusap pelan punggung Lyra yang tertutup jubah mandi.


"Tetep aja gue ngerasa bersalah," balas Lyra sambil duduk di pangkuan Satya menatap Satya, mata Lyra berkaca kaca.


"Udahlah, cerita lama. Ga usah dipikirin," ujar Satya sambil mengusap pipi basah Lyra lembut.

__ADS_1


Cup


Satya mencium pipi Lyra, mencoba menenangkan gadisnya itu, gadisnya? sejak kapan Lyra jadi wanitanya?.


"Trus? keponakan lo gimana?," tanya Lyra, mendengar kata keponakan membuat senyum Satya mengembang.


"Namanya Rolland Formilion, panggilan nya Rolland. Dia tumbuh jadi anak yang tampan, baik, cerdas tapi dingin kaya makanan kesukaannya, es krim," jawab Satya bersemangat menceritakan keponakannya.


"Sebentar, marganya Formilion?," tanya Lyra, Satya mengangguk mantap.


"Formilion... gue pernah denger marga itu," gumam Lyra mengingat sesuatu.


"Formilion, marga kakak ipar. btw, nama kakak ipar gue Andreas Formilion, ingat? artis solo yang begitu terkenal dan kaya karna itulah ponakan gue kaya dari lahir," jelas Satya.


"Oo... anaknya om Andreas!," ujar Lyra senang.


"Emang lo kenal sama kak Andreas?," tanya Satya bingung.


"Ya kenallah, orang dulu gue tetanggaan sama om Andreas trus anaknya tuh imut banget, waktu itu anaknya om Andreas yang namanya siapa tadi... eum.. ah! Rolland! jadi waktu itu si Rolland masih 3 bulanan makanya om Andreas minta tolong tante gue buat ngasih sedikit ASI nya ke Rolland," jawab Lyra antusias, Satya tersenyum senang mendengarnya.


Satya pun menggendong Lyra dan menjatuhkan Lyra di ranjang, Lyra gimana? ya jelas dia kaget sampai mengomel, tapi dia paham apa maksud Satya karna tadi Lyra ngerasa kalo... juniornya Satya tegang.


"Kan gue dah bilang jangan bikin dia bangun pagi²," ujar Satya sambil melepas ikatan jubah mandinya.


"Ya sorry, mana gue tau kalo dia bakal bangun pagi² gini," balas Lyra cemberut sambil beringsut ke belakang, ke kepala ranjang.


"Ets.. mau kemana? lu ga bisa kabur lagi dari gue. And lu tadi juga dah bilang kalo gue kelepasan ga masalah kan," ujar Satya sambil menarik salah satu kaki Lyra dan menyeringai.


"😲," respon Lyra.


'Duh salah ngomong gue, mamp*s! kayanya gue mau diterkam beneran deh. Gawat😨,' batin Lyra.


Brugh


Satya menindih tubuh Lyra dan langsung melum*t bibir manis Lyra, Lyra sebelumnya memberontak tapi akhirnya dia ikut terbuai dengan permainan Satya.


Ya ya ya, Satya dan Lyra pun kembali melakoni kegiatan panas mereka bedanya Satya memilih ngiprit ke kamar mandi buat nyelesaiin sendiri sedangkan Lyra udah klimaks karna sentuhan dan usapan Satya.


~oOo~


Jam 04.03 pagi


Nesya dkk + semua orang udah pada kumpul di lapangan depan villa, kalian nanya kok Satya (tukang makan + penggoda wanita) ama Dean (tukang tidur) dah bangun? jawabannya adalah Satya dipaksa sama Lyra kalo engga ga dapet jatah, sedangkan Dean di tarik sama Dika karna memang kamar mereka berdekatan.


"Hoam... masih ngantuk nih gue, ngapain sih pagi² di suruh kesini?," protes Rayen.


"Elah bacod lu yen, gue bacok juga ye" ancam Vyone ketus, mood nya ga baik hari ini.


Yang paling aneh diantara semuanya adalah Lyra, Nesya dkk termasuk Leon dkk mengernyit bingung karna biasanya Lyra yang pakai pakaian minim kalo mau olahraga, sama kaya Vyone dan Nesya, tapi hari ini dia malah pake hoodie dah gitu bawa headphone lagi.


"Ra, lu kok tumben pake hoodie? biasanya juga sama kaya Vyone sama Nesya," celetuk Dika membuat pandangan semua orang tertuju pada Lyra.


"Gara² dia nih, ngeselin!," jawab Lyra sambil menyikut pinggang Satya.


"Ya elah gitu doang juga, ya udah deh sorry. Please forgive me," pinta Satya sambil memeluk Lyra dari belakang.


"Lu berdua semalem ngapain?," tanya Nesya penuh selidik diikuti tatapan yang lain.


Lyra dan Satya tentu terkejut, Lyra menundukkan kepalanya malu sedangkan Satya nyengir ga jelas.


"Cuma nyicip dikit sih," jawaban vulgar sukses keluar dari bibir seksi Satya membuat Vyone tersedak air liur dan teman²nya yang lain memikirkan hal mesum terutama Bagas.


Plak


Nesya melempar sandal yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri ke arah Satya, akhirnya tangan Satya yang jadi imbasnya.


"Anjiirrr! sakit cu*!," seru Satya tak terima.


"Lo yang paksa dia atau kemauan kalian berdua?," tanya Nesya dingin dan datar.


Gleg


Ini yang ditakuti semua orang di villa, nada dingin dan datar yang dimiliki Nesya membuat bulu kuduk mereka berdiri, bahkan mereka kesulitan menelan saliva mereka apalagi kalo Nesya udah lepasin nafsu membunuhnya sudah pasti mereka akan kesulitan bernapas dalam radius 10 meter sekalipun.


"Kemauan kita berdua," jawab Satya mewakili Lyra dengan mencoba tenang tapi bulu kuduknya ga bisa tenang.


"Oh ya?," tanya Nesya dengan hawa yang mulai berubah di sekitarnya.


"Y ya," jawab Satya dan Lyra bersamaan.


"Huft... sabar nes sabar," nasehat Vyone dan Vier bergantian.


"Huft...," Nesya menghela napas kasar lalu berjalan ke arah Leon dkk.


"Woy curut!," panggil Nesya.


"Kita punya nama ye, bisa kaga sih manggil orang tuh pake nama?," protes Arya kesal.


"Santuy ae lah," balas Nesya.


"Gue mau minta tolong ama kalian, bikinin rintangan kaya di Thick Mist Island," lanjut Nesya.


"Eum..."


Mereka ber-empat berpikir sejenak lalu tanpa di komando, tanpa kontak apapun mereka berkata.


"Siap boss!," sambil hormat ala militer.


"Bagus!," Nesya pun merasa senang dan berbalik ke arah teman²nya.


"Kalian ikut kita buat lari, siapapun yang berhenti sebelum istirahat maka dia harus push up 10 kali," ujar Nesya dengan suara keras.


"Hah?!!!," seru mereka kecuali Leon dkk serta Satya dan Dean dan jangan lupakan 3 curut cewe tak terima.


Bersambung...


~oOo~


Next next next up!

__ADS_1


__ADS_2