
Tak lama Nala dan Leon kembali pergi ke penginapan dengan berlari, 3 jam kemudian mereka sampai dengan napas terengah-engah.
~oOo~
"Huh... selesai, capek juga ya," gumam Leon senang setelah napasnya teratur.
"Kuy masuk, aku mau mandi," balas Nala sembari masuk ke dalam penginapan dan kamar.
Setelah makan malam dan masuk kamar, wajah Nala terlihat serius, Leon yang menyadari hal itu langsung merasa bingung.
"Kamu kenapa?," tanya Leon, rasa penasaran nya tak bisa di pendam lagi.
"Ada yang kamu sembunyiin dari aku?," tanya Nala to the point.
"Ga ada," bohong Leon.
"Jangan bohong Leon," balas Nala.
"Kenapa?," tanya Leon balik, dia dengan menyembunyikan rasa gugup dan khawatir nya dengan begitu baik.
"Aku denger semuanya," jawab Nala datar, tatapan nya kosong ke depan.
"Kamu mungkin bakal benci aku setelahnya," balas Leon lirih, tersirat rasa cemas di suaranya.
"Kasih tau aku dulu, baru lihat reaksiku selanjutnya," sahut Nala datar.
"Sesuatu yang membuat persahabatan kita semua dimulai, hanya aku, Arya, Dika dan Feter yang terlibat dalam hal itu, dan sisanya tidak tau tentang itu," jelas Leon perlahan, sorot matanya mulai sendu.
"Apa?," tanya Nala meminta penjelasan.
"Sebuah kontrak," jawab Leon pasrah jika Nala akan membencinya, Nala benar² tercengang, hening beberapa menit.
"Apa isinya?," tanya Nala berhasil menyembunyikan keterkejutannya dengan nada datar.
"Kami ber-empat akan menjagamu dan membuatmu bahagia sampai kau lulus," jawab Leon mulai frustasi.
"Siapa yang memberi kalian kontrak itu? apa untungnya untuk kalian? kenapa kalian bisa melakukan itu?," tanya Nala beruntun dengan nada datar.
"Nero Revano Wira Pratama, kami diancam oleh orang tua kami masing² jika tidak mau menerimanya maka semua aset kami akan dibekukan, bukan karna apa² tapi aku berpikir apa yang akan terjadi jika semua asetku di bekukan, sama sepertimu, aku juga membutuhkan nya untuk anak buahku," jelas Leon, Nala terdiam.
"Entah keuntungan apa lagi yang mereka tawarkan, tapi yang jelas setelah kami ber-empat bertemu denganmu...., kami merasa persahabatan yang sedang kita jalin ini begitu tulus, kau memberi begitu banyak keuntungan pada kami melebihi keuntungan yang mereka tawarkan," lanjut Leon, Nala masih terdiam, mungkin mencerna kata² Leon.
"Aku, Arya, Dika dan Feter baru sadar, jika kau membutuhkan kami sebagai sahabat yang baik, maaf sudah membuat dirimu kecewa," Nala makin tercengang.
"Sudah kuduga reaksimu seperti ini, maaf, aku hanya takut ketika kau tahu hal ini maka kau akan membenciku," jelas Leon lirih.
"Kau bisa istirahat," ujar Nala akhirnya tetap datar.
Nala dan Leon beristirahat seperti biasa tapi Nala hanya berbicara seperlunya saja, membuat Leon frustasi menghadapinya.
~oOo~
Di kota C
Sehari setelah Nala dan Leon pergi hari² kembali berjalan seperti biasa baik di mansion maupun di sekolah, yang berbeda adalah Feter semakin pendiam dan aneh.
Beberapa hari belakangan Feter mencari tahu tentang apa yang terjadi di keluarga Lynn bahkan dia tak segan meng-hack orang lain demi mendapatkan informasi itu, itu pun ketauan oleh Nala yang secara tak sengaja atau lebih tepatnya kepo dan sengaja membuka file di laptop Feter tempo hari.
"Lo kenapa si?," tanya Dika tak bisa menahan rasa penasarannya, sehari setelah Nala dan Leon pergi meninggalkan mansion tanpa memberitahukan tujuan.
"Tau nih, kesambet apaan lo?," balas Arya, saat itu Feter sedang bermain ponsel entah apa yang dia lakukan.
Mereka sedang berkumpul di ruang tengah dan menikmati makanan ringan, hari itu Karina, kak Alfie dan Veronica sepakat untuk datang, sayangnya saat itu Nala dan Leon tidak ada di mansion, alhasil mereka (Dika, Arya, Feter, kak Alfie, Karina, Veronica, Lyra dan Vier) berkumpul di ruang tengah untuk sekedar berbincang.
"Lah? apa yang salah dari dia coba? dingin? iya, datar? iya, trus apaan yang klean maksud aneh??," tanya Veronica bingung.
"Lu aja yang kagak ngerti kampr*t! kita² ini udah jadi sahabatnya! paham ga lu?!," jawab Dika ngegaz.
"Ya udah si, orang gue nanya baik², situ malah ngegaz, otak cok, otak!," balas Veronica tak kalah sengit.
"Udahlah, setiap ketemu mesti kalian berdua adu bacot, jangan² kesambet setan cinta kaya si Nala ama Leon," celetuk Lyra yang mulai terganggu dengan polosnya, dia kembali memusatkan perhatian pada film di TV yang ditontonnya.
"Hah?!."
"Masa iya gue kesambet setan cinta sama dia," gerutu Dika.
Veronica berteriak kaget, kak Alfie dan Karina juga terkejut tapi ga se-lebay itu kalee...-_.
"Seriusan lo? Leon sama Nala punya hubungan lebih dari sahabat? parah.... sumpah parah banget mereka," ujar Veronica tak percaya sembari memikirkan sesuatu, dia melupakan perdebatannya dengan Dika.
"Tau tuh, dari Nala demam sampe sekarang hubungan mereka makin.... gimana gitu," balas Arya kembali memasukkan cemilan ke mulutnya.
"Tapi mereka ga ngapa²in kan?," tanya kak Alfie memastikan, sebagai orang yang paling tua di antara ke 10 anak yang dilatih jendral, sudah sepatutnya dia menanyakan hal itu.
"Mene ketehe, yang jelas mereka ga ngapa²in di depan kita, tapi siapa yang tau apa yang mereka lakuin di belakang, contohnya Nala ama Leon yang sering banget latihan pagi² buta trus sekarang mereka pergi berduaan gitu aja, mana ga ngasih tau tujuan lagi, kan kesel," jelas Lyra kesal tapi matanya tetap fokus pada film yang sedang dia tonton.
"Berdua doang?," tanya Karina memastikan, yang lain mengangguk setuju.
__ADS_1
"Aku pergi," ujar Feter tiba² sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Mau kemane lo?," tanya Arya melihat tingkah Feter.
"Keluar bentar," jawab Feter datar.
"Cok, dah mo malem juga," teriak Dika dari ruang tengah.
"Bodo amat," sahut Feter sambil pergi keluar mansion.
"Dahlah, biarin dia ngelakuin apa yang dia suka," ujar kak Alfie menengahi.
"Ra, tadi lu liat Vyon pulang ga?," tanya Vier.
"Liat, dia di jemput tadi pake limosin, mang napa?," jawab Lyra.
"Kaga, gue ngira kalo Feter dari kemaren cari tau tentang keluarga Lynn dah, abisnya tingkahnya makin hari makin aneh," balas Vier tetap fokus pada film di TV.
"Vyon itu siapa?," tanya Veronica yang tiba² nyaut.
"Mau tau aja lo," balas Lyra ketus.
"Yodah si, ga usah gitu juga kale," balas Veronica balik.
Mereka berbincang hingga makan malam.
~oOo~
Setelah keluar dari kawasan mansion, Feter sedang berjalan di trotoar tak jauh dari mansion, rencananya Feter akan pergi ke bar milik keluarga Lynn yang buka pukul 6 sore, bar terbesar dan paling terkenal di Indonesia, bar itu juga punya banyak anak cabang di negara lain.
"Imutnya...," suara seseorang gadis di sebuah gang.
Kebetulan Feter mengenali gadis muda itu, dia melihat dan memperhatikan nya dari ujung gang, tanpa dia sadari sebuah senyum mengembang di bibirnya, hanya dengan melihat kelakuan gadis muda itu sudah membuatnya senang.
"Vyone...," gumamnya saat gadis muda atau kita panggil saja Vyone Lynn menggendong seekor kucing yang tadi dia tolong.
"Feter? ngapain lo di sini?," tanya Vyone saat melihat Feter memperhatikannya dari ujung gang.
"Cari angin, lo sendiri?," tanya Feter balik tetap setia dengan nada dan wajah datarnya.
"Em... jalan² doang, trus ketemu sama tucing imut ini," jawab Vyone dengan suara imut dan jarinya menunjuk pada kucing di pangkuannya.
"Eh iya, jalan² ke taman aja yok, ga jauh kok dari sini," ajak Vyon sambil menurunkan kucing dari pangkuannya.
Feter dan Vyone jalan² ke taman sampe sore, jam 17.47.
"Gadis yang menarik," gumam Feter tanpa sadar dan tersenyum senang.
Feter kembali ke mansion Night Clair untuk makan malam, malamnya Feter pergi ke bar Lynerra, bar milik keluarga Lynn, dia menyamar sebagai anak keluarga besar kaya yang bodoh, di sana dia meminum bir sambil mengawasi sekitar.
Dia membeku begitu melihat seorang bartender cantik yang datang dan mulai membuat minuman, seseorang yang ia kenal, bartender itu masih kecil dan di kelilingi banyak laki² hidung belang.
"Permisi, siapa bartender itu, kenapa dia dikelilingi begitu banyak orang?," tanya Feter pada bartender di hadapannya.
"Oh dia ya, dia itu anak kedua keluarga Lynn, dia sering kesini untuk membantu, kemampuan nya membuat atau lebih tepatnya sih mencampur minuman beralkohol yang lezat sudah banyak diketahui orang," jawab bartender itu.
"Tapi dia kan masih kecil," ujar Feter yag terdengar seperti nada tak percaya.
"Memang, selain cantik, masih kecil dan pandai membuat minuman, dia juga pandai bermain DJ, sebaiknya anda jangan meremehkan kemampuannya, ini bir anda," balas bartender itu sambil memberi Feter segelas bir yang terisi penuh.
"Hem, terima kasih, birnya enak," puji Feter setelah menyesap sedikir bir.
Feter memperhatikan gadis bartender yang tak lain adalah Vyone Lynn dengan sorot mata tertarik.
'Nona muda kedua keluarga Lynn benar² menarik,' batin Feter.
Feter ga pulang kemaleman juga ga mabuk
SKIP, besok paginya
Feter ketemu lagi sama Vyone sampe 2 hari berturut turut, hari berikutnya Feter melihat Vyone di bawa beberapa orang masuk ke dalam mobil SUV hitam, Feter mengikuti mobil itu dengan pelacak yang dia tempelkan, sedangkan dirinya menggunakan skateboard untuk mengejar.
'Mereka mau membawa Vyone kemana sih?,' batin Feter.
Mobil SUV hitam itu berhenti di sebuah villa besar, setelah berhasil masuk ke halaman, orang di dalam mobil membawa Vyone keluar dan masuk ke dalam villa itu, dengan segala kemampuan Feter berhasil masuk ke dalam villa dan dia tercengang melihat seorang bos mafia yang menjadi sekutu saingan TBB.
'Bos mafia Thunder? si Guntur!,' seru batin Feter kaget.
"Bos, kami sudah mendapatkan targetnya," ujar salah satu diantara mereka.
"Bagus, tinggalkan dia di kamar yang sudah di persiapkan," perintah Guntur, bos baru mafia Thunder.
"Baik, bos," jawab mereka bersamaan.
Feter terus mengamati dan Vyone di bawa ke sebuah kamar yang cukup luas, Feter meninggalkan Vyone sebentar dan beralih ke anak buah yang tadi membawa Vyone.
"Bos mau ngapain sih sama anak kecil itu?," tanya salah satu diantara mereka, panggil aja A.
__ADS_1
"Mana gue tau," jawab yang lain sambil merokok, si B.
"Bos baru itu suka seenaknya ya, senior yang lain juga lebih suka bos yang lama," balas yang lainnya, si C.
"Lo udah bosen idup ya?," tegur si B.
"Bukan gitu kalo kita kaya gini mulu kan bisa gawat kalo ketauan," balas si C.
Bla bla bla..
'Jadi mereka ga suka sama Guntur, baguslah,' batin Feter.
Feter kembali ke kamar Vyone, di kamar itu dia merasa ada yang janggal, masalahnya kamar itu ga seperti kamar pada umumnya, ranjang kingsize dengan kain tipis di sekeliling nya, nakas mewah, bernuansa putih, sofa panjang mewah, benar² seperti kamar pengantin.
"Kenapa gue ada di sini!?," seru Vyone pada orang² di kamar itu membuyarkan lamunan Feter.
"Ini perintah dari bos, nona. Silahkan menunggu," balas salah satu maid dengan hormat dan muka tembok.
Mereka semua pergi keluar, lalu Guntur masuk dengan seringaian menjijikan.
"Elo!?," seru Vyone tertahan, Feter mengernyit bingung.
"Hallo adik kecil, masih ingat dengan saya?," tanya Guntur dengan seringaian yang makin menjijikan, Guntur mendekati Vyone dengan langkah perlahan.
"Mau apa kau!!?," seru Vyone lantang.
"Membalas apa yang sudah kau lakukan, adik kecil," jawab Guntur dengan tatapan yang menjijikan juga.
"Cih, jauh² sana dari gue dasar baj*ngan ga tau diri!," bentak Vyone.
"Wah², mulutmu itu pedas juga ya," puji Guntur makin seneng, dia kayanya masokis deh.
"Iuh... jyjyk gue, lu ga malu apa?! gue ini masih kecil dan lo udah mau macem² ke gue, otak lo dimana cok?!!," bentak Vyone berani membuat Feter berdecak kagum.
"Lo cuma adik kecil yang ketemu gue di bar, masih untung gue ga giring elo ke ruang siksaan!!," bentak Guntur kesal, tapi tak menciutkan nyali Vyone.
"Halah bac*d lo, dasar baj*ngan tua si*lan yang ga tau malu!!!," bentak Vyone makin kencang.
"Cih, dasar anak ga tau diuntung!," balas Guntur.
"Bodo amat!," bentak Vyone ketus, dia mengambil tusuk konde yang ada di kepalanya.
"Mending lo mati aja!," gertak Vyone, dia maju melawan Guntur.
'Keren juga ni bocah,' puji batin Feter.
Feter berdecak kagum melihat kelihaian dan keberanian Vyone, tapi sayang sekali Guntur lebih kuat dari Vyone, Feter mencari penyamaran dan masuk ke dalam kamar, kedatangannya sebagai orang asing mengejutkan Guntur dan Vyone.
"Siapa lo?! kenapa lo bisa masuk kesini?!!," bentak Guntur geram.
"Melawan seorang gadis kecil, heh?, Guntur Guntur lo udah ga ada kerjaan ya," ejek Feter dengan nada datar, terlihat jelas di matanya terdapat sorot penghinaan untuk Guntur, bos mafia Thunder.
"Cih, lo siapa?! ngatur² gue," bentak Guntur lantang.
"Fox, TBB, tujuan saya adalah menghancurkan mafia Thunder," jelas Feter tetap tenang, tapi suaranya dingin dan datar, belum lagi Feter mengeluarkan sedikit aura membunuh yang mengerikan bagi mereka.
"Fox! belagu lu! mana temen² bangs*t lu, hah?!," seru Guntur tak terima.
"Cukup gue sendiri yang ngabisin kalian semua."
"Halah... ga mungkin lo bisa ngancurin mafia Thunder sendirian," mengejek Feter, Vyone merasa mengenali suara datar bin dingin itu tapi dimana.
"Oh ya? kalau begitu buktikan," tantang Feter tetap datar+dingin.
Guntur dan Feter mulai saling bertarung, sayangnya kemampuan Feter jauh di atas Guntur, hanya dalam beberapa menit saja Guntur sudah bersimpuh di depan Feter bahkan berlutut.
"Kenapa? kenapa lo mau ngancurin Thunder? apa untungnya buat kalian?!," seru Guntur di akhir nyawa padahal dia sudah bersimbah darah dan berlutut di bawah Feter.
"Tidak ada memang, tapi melihat kelakuan bejatmu terhadap gadis itu membuatku muak," jawab Feter geli, tatapannya menghangat begitu melihat Vyone yang memperhatikan pertarungan mereka dari pojok ruangan, Vyone tak gentar sedikit pun padahal begitu banyak darah di depannya (darah Guntur).
"Lebih baik lo pergi ke neraka," ujar Feter, Guntur tertegun sejenak lalu ketakutan merayap di tubuhnya.
Sayang sekali, Feter dengan kejamnya menebas kepala Guntur hingga menggelinding di lantai marmer bernuansa putih itu.
"Elo itu siapa sih sebenernya? kenapa lo nolongin gue?," tanya Vyone heran.
Bersambung....
~oOo~
BUAT EPS SELANJUTNYA, AUTHOR BAKAL BAHAS HUBUNGAN FETER SAMA VYONE NIH
SORRY KALO UP NYA LAMA, GA IDE SOALNYA
LAGI NGEHANG OTAKNYA, MAKLUMIN AJA YA
NEXT EPS! BYE...
__ADS_1