My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 87 : Vyone dan berhasil?


__ADS_3

Vyone di bawa ke sebuah tempat namun sebelum itu dia sempat melawan, Vyone mendapat suntikan bius yang membuatnya tak sadarkan diri.


'Ugh... dimana? kenapa kepalaku sakit? HAH!!!? DIMANA INI!!!!!!?,' batin Vyone terkejut.


'Aww.. tubuhku juga sakit, dan astaga! tempat apa ini!!? ruang untuk melakukan **** seperti di mafia lain!!? ya ampun! bahkan ada vibratornya juga!! gilaaaaa.. aku mau diapakan ini!!?.'


Vyone benar-benar terkejut setengah mati, di sekitarnya ada sekitar 4 ranjang yang sedang dipakai untuk ereksi. Gleg. Vyone hanya bisa melihatnya dengan mata sayu namun penuh keterkejutan apalagi tubuhnya saat ini sedang diikat dengan mulut tertutup lakban.


Mata Vyone tidak bisa berkedip, dia bahkan sulit menggerakkan kepalanya hanya untuk memalingkan wajah dari adegan panas di depannya.


Di ranjang 1, seorang pria dengan melakukan 'itu' dengan wanita cantik, Vyone mengenalinya! gaya man on top.


Di ranjang 2, ada seorang wanita yang duduk di atas milik pria dengan sedikit digesek, tempo pelan tapi nikmat, mungkin itu WoT, woman on top.


Di ranjang 3, ada 3 wanita yang mengerubungi 1 pria. Pria itu memainkan balon milik pel4cur 1 lalu menjilati milik 2 selanjutnya miliknya dikulum si 3.


Di ranjang 4, seorang pria asyik menjilati milik pel4cur lain.


Di ranjang 5..... kosong, hanya ada vibrator di ujung sisi ranjang berukuran double size itu, ga gede memang tapi cukup untuk melakukan itu.


'Gaya-gaya itu... jelas aku mengenalinya! cih.. kurang ajar!! akan ku pukul orang yang membawaku kemari!!,' kesal Vyone.


Dia tak bisa apa-apa, dia pun bisa merasakan tubuhnya di angkat dan dipindahkan ke ruangan lain. Dalam keadaan setengah sadar membuat Vyone melihat dan mulai mengingat ruangan yang dia lewati walau ga semua.


Dia dimasukan ke sebuah ruangan dengan dominasi cat berwarna biru dan merah, oh salah. Biru tapi ada bercak darahnya.


Byurr..!


Vyone disiram segelas air membuatnya terbangun secara paksa, dia melihat si pelaku yang membuatnya masuk ke markas mafia ini.


"Kau! cih... kurang ajar! bagaimana kau bisa menemukanku disini ha!?," bentak Vyone.


"Ck ck ck ck ck... kau tau apa Vyone Lynn?," tanya nya.


"Haa... sialan kau! Dev bgst."


"Hahaha.. sebut nama lengkapku baby," goda Dev sambil duduk di kursi depan Vyone, Vyone berdecih tak suka, dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ayo sebut nama lengkapku dengan suara seksi itu lagi hahaha..."


"Itu hanya kesalahan," balas Vyone.


"Iyakah? tapi aku sangat suka mendengar suara itu, begini saja. Jika kau berbicara dengan suara itu lagi, aku akan melepaskanmu," ujar Dev membuat Vyone menatapnya jengah.


"Tak mungkin kau melepaskanku begitu saja..!."


"Coba saja dulu."


Selang beberapa menit Vyone pun menghela napasnya pendek.


"Kau harus janji ya," ujar Vyone.


"He'em..."


"Baiklah... Devano Samuel.."


Vyone berusaha seseksi mungkin ketika berhadapan dengan Devano Samuel yang seumuran Leon dan Arya, dia telah mengambil alih organisasi mafia terkuat di Prancis. Dulu tanpa sengaja, Vyone menarik perhatian Dev bahkan Dev hampir menidurinya.


"Sudah, sekarang lepaskan aku!."


"Tentu, aku akan melepaskanmu.... ke atas ranjangku hahaha!!."


"Kau! sialan!!."


Saat itulah Vyone merasa keanehan pada tubuhnya, dia merasa panas padahal suhu sekitarnya normal.


"Afrosidiak!?."


Dev berdiri, dia mengangkat tubuh kecil Vyone, melemparkannya ke ranjang king size. Dev melepaskan kaus yang melekat di tubuhnya, dia menindih tubuh Vyone, Vyone tak bisa melawan karena afrosidiak membuat tubuhnya melemah.


"Kau tak akan bisa kabur dariku lagi baby.."


"Ugh... minggir! lepaskan!!."


"Sshhh... kau milikku."


"Aghh.. panas! uh.. Dev~ cium aku..."


Kesadaran Vyone mulai hilang, tubuhnya makin panas, dia hampir gila untuk melakukan itu. Vyone butuh penenang sekarang, atau dia akan kehilangan keperawanannya.


"Kau yang meminta lhoo."


Cup


Vyone mencoba memberontak tapi semakin dia memberontak semakin panas pula tubuhnya, kesadarannya juga mulai menghilang. Tubuhnya malah makin membuat Dev kesenangan.


"Ugh.. jangan.. kumohon, Dev... akhh! HENTIKAN!!."


Tidak tahan dengan apa yang terjadi membuat Vyone berteriak, Dev terhenti sambil menatap Vyone. Dia tau, dia tau Vyone marah dan yang pasti Vyone akan membencinya jika melakukan itu. Tapi dia juga tak bisa berhenti.


"Maaf... tapi aku tak bisa berhenti."


"Gak! Dev!! hentikan! ah... hiks.. tolong, hentikan.. kumohon hiks.. hentikann!!"


~oOo~


Di mansion Night Clair


Semua orang dilanda kebingungan, Lyra dan Vyone menghilang, Nesya sudah menjelaskan jika Lyra aman padanya tapi tetap saja mereka... maksudnya Satya khawatir sampai mengancam Nesya.

__ADS_1


Nesya memang bisa meyakinkan Satya tapi tidak dengan Dean yang panik adiknya hilang, dia langsung menyuruh semua anak buahnya mencari Vyone. Mereka mendapat keterangan jika Vyone dibawa seorang pria yang membawa senjata dan di temani beberapa lelaki kekar.


Mereka berpencar mencari Vyone, semua anak buah juga ikut mencari. Mafia mafia kecil dan besar di datangi, itu artinya mereka pergi ke kota D. Mereka terus mencari sampai kelelahan sendiri, mereka ada beberapa tempat lagi yang belum di kunjungi, btw lingkup pencarian mereka sampai ke luar Indonesia lho.


Mereka cukup putus asa, padahal sudah menyisir banyak tempat tapi tetap saja ga ketemu.


Besok paginya


Pukul 10.00


Dong😧!


Suasana hening ditambah wajah murung mereka membuat Author menulis sound effect qiqiqi😈😑. Pusing, itulah yang dialami mereka, Nesya sudah pergi sisanya masih menunggu kabar, Dika dan Vier sampe ketiduran.


.


.


.


Tap tap tap


Nesya melangkah ke tempat dimana Lyra berbaring, dia ingin tau bagaimana hasilnya. Selang beberapa menit kapsul tempat percobaan Lyra terbuka, pertama Lyra membuka mata langsung terkejut, kebutaannya sembuh tanpa efek samping? WOW!! INI BARU NAMANYA KEREN DAN... MENGERIKAN!!.


Lyra duduk, lalu keluar dari kapsul. Di sisi lain Nesya terbelalak hebat, mata kanan Lyra berubah, sungguh!. Bagian yang seharusnya putih berubah menjadi merah bergaris hitam vertikal, lalu pupilnya tampak bulat sempurna dengan tampilan khas.


Gleg


Nesya benar-benar menelan paksa salivanya, kini dia mengakui. Potensinya... MENGERIKAN!!.


"Kau.... kau seperti pewaris klan Bulan merah," gumam Nesya membuat Lyra kebingungan.


Saat Lyra menoleh ke arah cermin, dia terkejut mata kanannya berubah drastis. Lyra menyentuh wajahnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Nes... Nesya! rambut gue kok berubah!?."


Pernyataan Lyra membuat Nesya tersadar kembali dia juga melihat adanya beberapa helai rambut yang berubah warna menjadi merah gelap. Nesya tampak tak terkejut lagi.


"Akan kujelaskan nanti, sekarang kita suruh semuanya pergi ke gedung pertemuan," ujar Nesya.


Beberapa menit kemudian, semua sudah berkumpul di gedung pertemuan. Saat Nesya baru saja akan bicara sebuah video terkirim, mereka penasaran karena video itu menggunakan kode rahasia darurat yang hanya dipahami anggota TBB.


"*********** (titik koordinat, anggap aja gitu)."


"😕?."


Disaat mereka bertanya tanya di dalam hati masing-masing. Video itu berubah.


Bzzzttt..


"Ini aku, pergilah ke koordinat tadi maka kalian akan menemukanku. Lihat apa yang terjadi."


"DEV!!!?."


Satya menjadi pusat perhatian, mereka memandang Satya aneh termasuk Lyra yang bersembunyi di balik bayangan. Jadi gini Lyra tuh nutupin wajahnya di bayangan itu jadi mereka ga liat. Belum sempat bertanya, video itu menunjukkan percakapan antara Vyone dan lelaki bernama Dev itu.


Leon dan Arya merasakan hawa ga enak dari salah satu teman mereka, Feter. Feter mengepalkan tangannya marah, Leon dan Arya saling tatap lalu menggendikkan bahu, bingung dengan situasi dan hubungan rumit.


"Baby.. bagaimana? aku tidak benar-benar melukaimu bukan...?."


"Cih.. seharusnya kau malu! kau sudah membuatku hampir kehilangan keperawanan untuk kedua kalinya!," kesal Vyone sambil menatap Dev jengah.


Dev hanya bisa tersenyum, lembut tapi matanya menyiratkan rasa sedih dan paksaan.


Cup


Dev memaksa Vyone tetap diam dan menurut, dia mencium bahkan melum4t bibirnya.


Setelah itu Dev menggendong tubuh Vyone keluar kamar mandi, video nya memang cukup singkat tapi itu tetap membuat Nesya dan yang lain terkejut hebat.


Mereka langsung melesat –lari– pergi ke koordinat yang di kirim Vyone, Lyra ingin ikut tapi situasinya gak memungkinkan.


~oOo~


Pagi tadi


Di sebuah kamar


"Ugh...."


Lenguhan seorang gadis terdengar jelas, pria di sampingnya tetap terlelap seolah tak terganggu. Gadis dan pria muda itu tidur bersama dalam keadaan telanjang. Sontak saja sang gadis melihat ke balik selimut.


'Ga ada bercak darah, ga kerasa sakit, tapi tetep aja ada cupangnya, huh...! Dev sialan! bagaimana reaksi Dean dan kawan-kawan saat melihatku seperti ini,' batin gadis itu.


Wajahnya merah padam, malu dan kesal di saat bersamaan. Dia adalah Vyone dan pria di sampingnya adalah Devano Samuel, orang yang membuatnya sekesal dan semalu ini.


Vyone turun perlahan mengambil pakaiannya yang tercecer, dia meringis begitu melihat pakaiannya benar-benar disobek. Dia pun melihat ada kaus Dev dibawah, segera dia memakainya. Karena faktor tinggi dan bentuk tubuh yang beda membuat kaus itu tampak kebesaran saat dipakai Vyone.


'Puft....!,' batin Dev menahan tawa.


Dia sebenarnya sudah bangun hanya saja saat melihat Vyone mengenakan kausnya, Dev merasa hiburan baru terpampang jelas. Bagaimana Vyone mengeluh bahkan merasa kesal padanya.


Dev pun tau Vyone mengambil kamera mini secara diam-diam, mengirim koordinat tempat ini dan menaruhnya di kamar mandi, untuk selanjutnya sudah di beritahu. Dev membawa Vyone kembali ke ranjang, Vyone memberontak.


"Kau menghubungi temanmu?," tanya Dev.


Vyone tersentak, dia menatap Dev tajam, mau apa lagi pria ini? tidak puas mengurungnya disini?.


"Apa mau mu?," tanya Vyone dingin sambil menarik kaus hitam bergaris yang dikenakan Dev.

__ADS_1


Memang, sebelum ke kamar mandi Dev sempat menggunakan boxer dan kaus hitam bergaris. Dev bungkam, alasannya melakukan ini hanya satu. Dev mengambil pistol, menembak kamera tersembunyi dan alat sadap di kamar itu. Vyone pun sudah menduganya. Dev berdiri, wajahnya berbeda 180° dari sebelumnya. Vyone tau Dev serius.


"Aku hanya merindukanmu setelah bertahun tahun tidak bertemu," ujar Dev membuat Vyone berdecak kesal.


Grebb!


Plak!


Ditariknya kemeja Dev lalu ditampar wajah Dev, Dev sudah tak terkejut lagi.


"Katakan kenapa?," ujar Vyone dingin.


Dev tetap bungkam.


"Aku ini sahabatmu Dev! setidaknya katakan kenapa!," bentak Vyone membuat Dev tertegun.


Yap, Vyone dan Dev adalah sahabat. Sahabat pena tepatnya, mereka berkenalan di sebuah bar yang baru buka, tebak bar siapa? ya bar punya Vyone lah. Setelah itu Vyone mendapat nomor Dev namun mereka hanya bertemu 1 minggu, setelah itu Dev menghilang tanpa jejak, mereka berhubungan melalui w***sapp.


"Apa kau pernah melihat atau mengenal gadis ini..."


Dev mengambil sesuatu di laci, dia menunjukkan itu pada Vyone. Foto itu....


"!!!."


Wajah terkejut Vyone membuat Dev penasaran, Dev menjelaskan jika itu adalah adik angkatnya yang sudah hilang bertahun tahun, yang dia tau adalah adik perempuannya itu ada di sini, di Indonesia. Dia pun akhirnya tau jika adiknya di tawan oleh Black bear, terakhir dia melihat jika adiknya melarikan diri dari Black bear.


"Vanila, itu namanya," ujar Dev murung.


"Maksudmu Nila Zan?," tanya Vyone memastikan.


"Ha?."


Ekspresi Dev sudah Vyone duga, dia menjelaskan jika gadis yang di foto sangat mirip dengan Nila. Dan Vyone juga menjelaskan jika.... Arya dan Nila sudah berhubungan cukup dekat.


"Lalu apa alasanmu membawaku kesini?," tanya Vyone.


"Ga ada, itu murni pemikiranku dan juga murni perasaanku," jawab Dev tanpa merasa bersalah.


Plak


Lagi-lagi Dev di tampar Vyone, dengan perasaaan kesal Vyone duduk di ranjang.


"Bukankah kita berada di sarang mafia?," tanya Vyone.


"Iya, tapi aku membawamu ke hotel terdekat."


"Oh... tunggu...! kau memberiku apa?."


"Apalagi...? obat penenang lah."


"Fuh... syukurlah."


Saat mereka asyik berbincang tiba-tiba pintu kamar mereka di dobrak, ada banyak orang menodongkan pistol ke mereka. Anak buah Dev ga melawan, mereka bersembunyi menunggu perintah.


Ctak ctak


Sekitar 20 orang menghadang orang-orang di depan pintu, mereka adalah anak buah Dev. Atas perintah sekretaris Dev, mereka menyerang.


"Kami tak punya masalah dengan kalian, berikan gadis itu," ujar Arya garang.


Satya ga ikut-ikut tapi mereka membuat onar di hotelnya, pasti dia kesal. Satya hanya mendengus, dia bahkan ga ikut masuk cuma merokok di lobby.


"Begooo...!! mereka ga tau aja si Dev siapa, ck ck ck ck yah.. walaupun nanti Dev tetep kena bogem Dean sih," gumam Satya jauh di lantai bawah.


"Jadi intinya ini percuma?," tanya Nesya yang ikut pergi.


"Iya, mereka kaya mau laga aja."


Bletak!!


"Napa ga ngomong dari tadi coba!?," kesal Lyra.


Lyra memaksa ikut tapi menggunakan penutup mata dan topi. Barusan Lyra memukul pelan kepala Satya membuat Satya harus menenangkan 'serigala betina' nya.


Di lantai atas, Vyone dan Dev menepuk pelan dahi mereka lalu tertawa bersama. Tentu teman-temannya kebingungan.


"Woi Arya, lo mau ngapain ha? mau laga?," tanya Vyone mengejek.


"Aduh aduh... itu si Dika pemilik DA mukanya biasa aja dong," Dev ikut mengejek.


"Ce ileh si Feter pake senjatanya gitu amat haha," Vyone melanjutkan.


Bertambahlah rasa bingung pada mereka, apalagi dengan Dev dan Vyone yang tertawa mengejek mereka. Leon sudah memprediksinya karena Satya ga ikut, dia cuma menonton dari jarak dekat, dia aja ga ikut nodongin. Puft... kegoblokan yang haqiqi hahaha...😂aduh.. ngakak.


Leon merekam kejadian itu yang disaksikan live orang 1 mansion, di mansion Night Clair sekretaris pribadi mereka ikut tertawa bersama anak buah lainnya, laknat kan? iya mereka memang laknat nertawain atasan sendiri.


"Apaan sih?," tanya Dika kebingungan.


Arya menepuk jidatnya pelan, dia sadar sekarang.


"Jadi begitu ya, Satya sialan! woi otak otot, Dev sama Vyone tuh dah saling kenal, sahabatan mungkin. Dan lo Feter, jan kebawa emosi," ujar Arya.


Membuat Dika dan Feter menurunkan senjata mereka, tapi Feter tetap menatap Dev tajam. Dev pun merasakan tatapan tajam Feter, dia hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Sudahlah, ayo pulang. Tunggu Dean lalu jelaskan semuanya," ujar Leon.


"Baiklah," balas lainnya.


Bersambung....

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2