
"Elo itu siapa sih sebenernya? kenapa lo nolongin gue?," tanya Vyone heran.
~oOo~
"Lo ga perlu tau, harusnya lo terima kasih ke gue karna gue udah bunuh orang yang udah ngebunuh kakek, nenek sama ibu lo," jawab Feter.
"Apa?! jadi geng mafia ini yang udah ngebunuh keluarga gue?!," seru Vyone tak percaya, emosi menggebu gebu di dadanya.
"Lu mau ngabisin mafia ini kan? gue bisa bantu elo," ujar Vyone penuh tekad.
"Ok, gue juga liat elo berani ngelawan Guntur tadi, yang pasti lo bisa pake senjata, senjata apa?," balas Feter.
"Gue bisa pake pistol sama pisau," jawab Vyone semangat.
"Ok, lo ambil pistol sama pisau di laci teratas nakas itu," perintah Feter, Vyone bergegas mengambil barang di laci nakas yang dimaksud Feter.
"Fox, gue yang bantai mereka ya, lo yang cover gue, gue pengen bantai binatang² itu," ujar Vyone geram, Feter mengangguk setuju.
Tak ada salahnya bukan jika Vyone unjuk kemampuan di medan perang, Feter menginginkan wanita yang tak hanya hebat di ranjang tapi juga hebat di medan perang, dengan cepat Vyone mengotori tangannya dengan darah segar milik anggota Thunder, orang² di markas Thunder benar² di bantai habis oleh Vyone, Feter hanya meng-cover Vyone dan mengambil barang berharga dari mafia Thunder.
"Huh... huh... hiks... hiks... mama..," gumam Vyone setelah membantai Thunder hingga halaman depan, Vyone berjongkok sembari menekuk lutut dan menangis.
Dor!
Dor!
Dor!
.
.
Dor!
Feter menembak 4 orang terakhir tepat di jantung, jika saja Vyone tidak lengah maka 4 orang itu sudah tercincang habis dengan menggunakan pisau yang digunakan Vyone saat membantai Thunder.
Duarrr...!! Srrraaasshh..
Hujan tiba² turun disertai petir dengan lebatnya, Vyone masih berjongkok dan menangis, Vyone menenggelamkan kepalanya di celah antara kedua tangannya, Feter menatap Vyone kasihan, dia mendekati Vyon dan mengelus kepalanya.
"Sudahlah, kau sudah membunuh begitu banyak orang, sekarang kau puas atau menyesal?," tanya Feter sambil mengelus puncak kepala Vyone dari posisi berdiri.
"Mama... hei Fox atau siapa pun namamu, siapa sebenarnya dirimu? kenapa membantuku?," tanya Vyone dengan suara serak tapi terdengar jelas oleh Feter di antara bunyi hujan.
"Itu tidak penting, kau puas atau menyesal karna telah membunuh mereka," ucap Feter.
"Aku puas, aku... punya sisi gelap tapi sisi gelap itu seakan akan menyatu dengan kesadaranku, jadi jika aku membunuh orang seperti tadi aku tak merasa bersalah karna mereka orang jahat, tapi jika mereka orang baik, aku merasa jika hati kecilku sedih telah membunuh orang tak berdosa yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka."
Feter berlutut dengan bertumpu satu kaki untuk mendengarkan kisah Vyone dengan seksama, mereka sudah basah kuyup karna hujan yang begitu lebat.
"Aku pernah kehilangan kendali dan sisi gelapku muncul untuk pertama kalinya, aku membunuh anjing kesayanganku dan beberapa hewan peliharaan di halaman belakang rumah dengan brutal."
"Sisi gelapmu tak mungkin muncul karna alasan sepele."
"Hem, kau benar, saat itu aku baru mendengar kabar tentang keluargaku bahwa mereka di bunuh begitu saja, saat itu juga aku berada di halaman belakang tempat hewan² peliharaan tinggal."
"Lalu?."
"Ayah sudah membawaku ke psikoterapi tapi sisi gelap ini tak bisa dihilangkan, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengendalikan sisi gelap ini, aku... menjadi orang yang berbeda di setiap tempat."
"Iya, aku menyadarinya."
'Kau bersikap ceria dan tampak tak ada masalah di sekolah, di bar kau bersikap elegan dan tenang, saat ini kau menunjukkan dirimu yang sesungguhnya, akting yang bagus, Vyon,' batin Feter.
"Fox, apa aku seorang pembunuh?," tanya Vyone, dia mendongak menatap mata Feter di balik topeng, mencari kebenaran di dalamnya.
"Tidak juga, kita semua sama, semuanya selalu saling membunuh sesama mahluk hidup, mulai dari hal yang tidak kita sadari, contohnya rumput, semut, tumbuhan yang di konsumsi, juga hewan². Lalu apa salahnya membunuh orang lain yang sesama manusia? asalkan tidak berlebihan, meskipun mendapat dosa tapi apa boleh buat, orang² itu yang meminta kematian, apa salahnya kita beri kematian untuk mereka," jawab Feter membuat Vyone tertegun.
"Apa itu TBB?," tanya Vyone setelah tangisnya berhenti.
"The Big Bos, organisasi gelap, ya... kau bisa menyebutnya mafia," jawab Feter tenang.
"Mafia? seperti ini?," tanya Vyone menunjuk pada lambang Thunder.
__ADS_1
"Iya, tapi ini berbeda, menurut ku sih berbeda karna mereka tak akan membantai tanpa alasan," jawab Feter sambil berdiri, diikuti Vyone.
"Aku ikut," seru Vyone saat Feter beranjak pergi.
"Kau yakin? jika kau sudah masuk maka kau tak akan keluar lagi, pikirkan dengan baik," ujar Feter memperingati.
"Aku ikut, aku punya kemampuan, jangan pernah meremehkanku," balas Vyone.
"Lawan aku," suruh Feter.
"Ha?."
"Jika kau ingin masuk TBB setidaknya kau harus bisa menerima 5-10% serangan pendiri sepertiku."
"Jadi kau pendirinya! baik, aku akan melawanmu, bersiaplah Fox."
Vyone melesat maju di tengah badai yang kencang, kecepatannya di atas rata² tapi masih di bawah batas manusia biasa, Feter dengan mudahnya menghindar dari setiap serangan yang diluncurkan Vyone membuat Vyone kewalahan.
Bugh...
Hanya dengan tapak sebelah kirinya saja sudah membuat Vyone terpental, tapi itu tak membuat Vyone kecil hati, dia terus melawan hingga dia sendiri muntah darah, Vyone sudah di ambang batas.
Prok... prok... prok...
"Bagus, sangat bagus. Kau di terima menjadi anggota TBB tapi sebelum itu kau harus bersumpah mati atas TBB, ingat! jika kau berani berkhianat maka kau akan mendapatkan ganjaran yang lebih besar," ancam Feter, Vyone berdiri dengan segenap tenaga di bawah hujan lebat beserta petir, sebaiknya kita sebut badai.
"Aku, Vyone Lynn bersumpah akan selalu bersama TBB jika aku berkhianat maka aku akan mati tersambar petir dan terbakar hingga menjadi abu, aku akan selalu bersama TBB, hidup dan mati ku kukerahkan untuk TBB," sumpah Vyone hingga petir menyambar tepat di belakang tubuhnya.
"Ok, kita masuk ke dalam, lalu bersihkan 1 tempat untuk tempat berlatih, kuharap di dalam ada pakaian bagus," ujar Feter lalu berbalik diikuti Vyone.
"Aku harus memanggilmu apa?."
"Tuan muda Fox, Fox saja cukup untukmu, di TBB hanya 30% memandang jabatan/kedudukan, 70% sisanya memandang kemampuan dan kekuatan. Makin kuat kekuatan dan kemampuan orang itu maka semakin di segani, begitu pula jabatan dan kedudukannya seperti Nix, maka akan sangat di hormati dan di segani."
"Ok, Fox. Terima kasih atas pemberitahuannya, nama aslimu?."
"Privacy, aku tak akan memberitahukan padamu di sini."
"Huh.. Ok," ujar Vyon pasrah.
"Vyon, bangun! hujan sudah reda," panggil Feter datar.
"Hem?? iya aku bangun," jawab Vyone sembari duduk di pinggir ranjang.
"Eh, masih jam 10 malem kok," ujar Vyone setelah melihat jam dinding.
"Kita ambil barang² berguna di sini, cari bensin trus kita bakar tempat ini, kita berdua ga pake sarung tangan, nanti ketauan dari sidik jari," balas Feter, Vyone mengangguk mengerti.
Mereka mencari bensin dan membakar markas Thunder, setelah menjarah barang² berguna tentunya.
"Fox, apa di setiap markas ada ruang siksaan atau interograsi?," tanya Vyone setelah pergi dari sana dengan berjalan kaki.
"Biasanya ada, juga ada tempat buat nahan orang² yang cari masalah sama geng itu sendiri, di TBB juga ada, tempatnya di bagi jadi 6 tempat, ruang siksaan utama yang berada di tengah mansion untuk leader, Phoenix. Ruang siksaan barat untuk Devilfish. Ruang siksaan timur untuk ku. Ruang siksaan utara untuk Dragon. Ruang siksaan selatan untuk Lion," jelas Feter sambil berjalan santai.
"Lalu sisanya? bukankah kau bilang ada 7 orang penting."
"Ruang siksaan khusus di markas pusat hanya untuk 5 pendiri dan buat si Werewolf sama Vampir, ruang siksaannya di Filiphina sama Jerman."
"Memangnya seberapa luas sih markas pusat TBB?," tanya Vyone tanpa menoleh, dia fokus mengamati pemandangan di sekitar dan tetap berjalan.
"Beberapa ratus hektar tanah yang sengaja kami beli, di sana fasilitas nya lebih canggih dan lengkap, sangat³ canggih dan lengkap," jawab Feter.
"Kenapa kau tak pulang ke rumah?," tanya Feter lagi.
"Tidak, si jal*ng itu pasti menjualku ke Guntur, karna itulah aku di tangkap dan di bawa ke markas mereka."
"Jal*ng?."
"Sepupu ibuku yang sudah mengadu domba ketua mafia Thunder saat itu, jadi otomatis dia adalah musuh ibuku walaupun masih sepupu."
"Dan kau tak marah?."
"Tentu aku marah, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Keputusanku sudah bulat, aku akan menjadi mafia dan mengabdi pada TBB, membalas dendam keluargaku yang dibantai, karna itulah aku ingin ikut denganmu," tekad Vyone mantap.
__ADS_1
"Bagus sekali, sebelum ke markas pusat, sebaiknya kau berlatih dulu. Kuatkan mental dan fisikmu, orang² TBB bukanlah orang biasa."
"Aku tau."
Feter dan Vyone tinggal selama 1 hari 1 malam di hutan tak jauh dari markas Thunder, Vyone dilatih Feter menjadi orang yang cukup kuat, naik tingkat jadi silver menengah.
"Di TBB juga memiliki tingkatan kemampuan, jika orang awam tingkatannya adalah wood, sedangkan dirimu sudah naik tingkatan menjadi silver menengah," jelas Feter saat latihan selesai dan mereka bergegas pergi ke markas utama.
Karna hutan itu berada di dekat kota maka Vyone dan Feter hanya perlu menaiki angkutan umum, mereka membayar menggunakan uang yang ada di markas Thunder, Feter dan Vyone memilih turun di puluhan kilometer jauhnya dari markas pusat.
"Hei! Fox! hah.. hah... sampai kapan kita akan terus berjalan? huh... aku sudah kelelahan, kita berjalan lebih dari 5 kilometer lho," keluh Vyone tapi tetap berjalan, Feter tak kelelahan hanya saja sedikit haus.
"Markas pusat ada di dekat gunung mati di sana, tempat itu memang sudah menjadi wilayah TBB, dari tempat kita turun juga termasuk wilayah TBB, mereka memantau setiap orang yang datang melalui drone khusus milik TBB, anti karat, anti air, anti api, intinya itu sulit di kalahkan."
"Hah... tempat itu sangat jauh, bahkan gunungnya tak terlihat dari sini, sebenarnya masih berapa kilometer lagi sih??," protes Vyone, dia tak menggubris kata² Feter tentang drone.
"20-25 kilometer dari tempat kita turun, itu pun masih diluar gerbang," jawab Feter santai.
"APA?!! kau ingin membunuhku ya?!," tanya Vyone kesal sambil berteriak.
"Tidak juga, aku kan bersamamu, kenapa aku membunuhmu?," tanya Feter balik membuat Vyone terdiam.
"Kau tidak bisa menjawab? sayang sekali, lebih baik kau jangan banyak protes, berisik saja," balas Feter.
Setelah beberapa kilometer, sekitar ±10 kilometer dari tempat mereka turun, Feter tiba² berhenti ±15 meter dari sebuah parit yang indah dan berukuran belasan meter, di dalamnya juga terdapat buaya.
"Ada apa? kau bilang masih jauh bukan? kenapa berhenti di sini? Hiiii.... ada buaya," tanya Vyone heran juga takut melihat buaya² itu.
"Kau benar² mengira aku akan pergi kesana jalan kaki ya? naif sekali," jawab Feter meremehkan.
"Cih, bodo amat," gerutu Vyone pelan.
"Kenapa kita masih disini?," tanya Vyone lagi.
"Coba kau melangkah ke depan, 1 langkah saja," perintah Feter, Vyone mengernyit heran dan menuruti kemauan Feter.
Bugh..
Vyone terpental ke belakang dan meringis menahan sakit, secercah cahaya transparan terlihat di depan Feter, cahaya itulah hasil penemuan Nala dkk, cahaya yang membuat seseorang terpental sehingga siapapun yang ingin mengacau habitat hewan² yang dilindungi TBB akan terpental bahkan ada yang mati, sekitar 3 drone khusus dengan sigap menghadang Feter dan Vyone, mengecek identitas mereka dengan semacam sinar X-ray.
"Hallo, tuan muda Fox," sapa ketiga drone itu bersamaan dengan suara kaku khas robot setelah mereka mengetahui identitas Feter dan Vyone, mereka menodong Vyone dengan pistol laser, drone² itu sudah memiliki kecerdasan buatan yang bisa berbicara dan merespon kata² orang.
"Hallo juga, dia salah satu orang yang kulatih, dia juga anggota organisasi, buka gerbang, saya akan kembali ke mansion bersamanya. Siapkan kendaraan," perintah Feter dingin dan datar sambil menunjuk ke arah Vyone.
"Baik, tuan muda Fox. Silahkan menunggu, perintah anda sedang dilaksanakan, tapi demi keamanan kami akan tetap mengawasi dia," jawab salah satu drone.
Feter menunggu dengan tenang sedangkan Vyone menunggu sambil ditodong pistol laser, tak berapa lama 2 buah mini car dengan kecepatan yang setara seperti kecepatan roket, sebuah jembatan tiba² naik dari dasar parit menghubungkan daerah yang dihalangi parit itu, pelindung terluar atau kita sebut saja Light protector.
"Silahkan naik, tuan muda Fox," ujar drone² itu.
"Biarkan dia masuk juga," perintah Feter.
"Tentu, tuan muda Fox," jawab mereka serentak.
Feter dan Vyone masuk ke dalam wilayah itu dengan mudah, Vyone masih terus di pantau dengan drone yang berbeda, 3 drone tadi memang berjaga di area buaya.
"Hei! apa aku akan terus di todong seperti ini?," tanya Vyone risih.
"Iya, itu prosedur keamanan di TBB, walaupun kau tak di kelilingi drone seperti ini, drone² itu akan tetap mengawasi mu dari jarak yang aman," jawab Feter, dia mulai menjalankan mini car nya dengan kecepatan yang terbilang sangat cepat.
"Haish... sulit juga ya menembus pertahanan TBB, pantas saja organisasi ini di juluki yang terkuat dan tercanggih, ternyata semua itu benar," gumam Vyone di sela² deru halus mini car dan hembusan angin yang kuat dalam kecepatan itu sudah jelas Feter masih bisa mendengarnya.
Feter diam² tersenyum bangga, dia biasa mendapat pujian dari siapa saja, taoi saat mendengar dari Vyone sendiri membuat Feter merada begitu bangga, aneh sekali ya.
Bersambung....
~oOo~
WOW... TINGKAT HALU NYA AUTHOR MAKIN LAMA MAKIN PARAH NIH
TAPI GAPAPA, DEMI READERS
BUAT EPS SELANJUTNYA BAKAL NYERITAIN HAL YANG SAMA, TENTANG FETER SAMA VYONE
__ADS_1
NEXT EPS! BYE...