My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Patah tulang


__ADS_3

Mereka mulai bertarung, Leon dan Feter mulai mendekat ke tempat Nesya dan lead Five gord bertarung, Nesya memojokkan sang leader ke jurang yang memiliki sungai di bawahnya.


~oOo~


Dor!


'Shit! masih ada lagi!?,' batin Nesya kesal.


Tembakan itu bukanlah dari assassin melainkan dari Lydia, si jal*ng itu menggunakan pistol berkaliber pendek yang mudah digunakan.


"Heh, kalian ga bisa bunuh jal*ng itu ya? percuma dong gue bayar kelas kakap kaya kalian," ujar Lydia angkuh dan terdengar kesal.


'Oh.. si jal*ng ini yang kirim assassin,' batin Nesya geram.


"Jal*ng anj*ng," gerutu Nesya.


"Apa lo bilang?!," tanya Lydia ngegaz.


"Mending lo mati aja deh, bye~ jal*ng," sambung Lydia.


Dor


Dor


Dia melepaskan 2 tembakan ke arah Nesya tapi berhasil di hindari oleh Nesya dan assassin itu.


"Dasar cewe gobl*k! lu kaga ada otak yak?!," tanya assassin itu pada Lydia dengan nada kesal.


"Bac*t lu, gue minta elu bunuh dia aja susah bener," balas Lydia.


Bla bla bla


Mereka sedang adu bacot sampai hampir melupakan keberadaan Nesya, saat itulah Nesya memikirkan banyak siasat untuk membuat mereka terluka tapi tak mati, karna dia punya pikiran untuk menyiksa mereka.


'Jurang, sungai di bawah juga deras, kalo aku pancing mereka masuk jurang ada 2 kemungkinan, satu salah satu dari mereka jatuh atau aku yang jatuh ke bawah, kalo aku jatuh mungkin aku akan patah tulang jika terkena benturan di bawah begitu pula mereka,' pikir batin Nesya.


'Jika aku mengulur waktu hingga yang lain datang, kemungkinan mereka akan menyadarinya dan mengubah rencana, jika aku jalankan rencana pertama Leon mungkin akan segera sampai,' batin Nesya terus berpikir keras.


Akhirnya Nesya membuat keputusan, dia akan melakukan rencana yang pertama, sayangnya saat dia menjalankan rencana itu, dia malah terjatuh ke sungai bersama assassin dan assassin itu mati saat terkena benturan di bawah tepat di batu yang mengenai tubuhnya.


Lydia pergi dari tempat itu secepetnya, Nesya berhasil bertahan dengan bergelantungan di bibir jurang, kedua tangannya mencengkram ranting kokoh di bibir jurang.


"Oh, astaga. Aku hampir mati, untung ada rencana cadangan," gumam Nesya sambil bergidik ngeri melihat jasad assassin itu hanyut oleh derasnya aliran sungai.


"Nesya! Nesya dimana kau?!," seru Leon.


"Nesya! ini kami! dimana kau?!," kini Feter yang berseru.


"Leon? Feter? Leon! Feter! tolong aku! aku disini! di bawah!," seru Nesya balik.


"Hah?! dimana?!," tanya Leon bingung.


"Di bibir jurang!!," teriak Nesya.


"APA?!," seru Leon dan Feter bersamaan.


Buru² Leon dan Feter menghampiri tempat Nesya bertahan, mereka kaget bukan main melihat Nesya bisa bertahan di jurang yang cukup terjal, mereka mencoba menyelamatkan Nesya dari bibir jurang dengan banyak cara.


"Tanganku tak kuat lagi, teman² jika ku jatuh maka ada beberapa kemungkinan," seru Nesya sambil tetap bertahan.


"Yang pertama aku terluka atau yang paling parah patah tulang mungkin juga mati, atau aku akan hanyut terbawa arus. Cari Vyone, dia juga terluka di jurang yang tak terlalu dalam," jelas Nesya.


"Cukup! jangan bicara lagi, aku akan mengangkatmu dari bawah sana, Feter! cari Vyone dan bantuan lain, sekarang!," ujar Leon menahan tangan Nesya, Feter pergi mencari Vyone yang juga butuh bantuan.


"Kau bisa tarik aku? kurasa tidak, tanganku sudah sakit, maaf," balas Nesya menahan sakit.


"Jangan lepaskan tanganku, kumohon, jangan!," ujar Leon.


"Aku tidak akan mati, aku akan bertahan. Akhh... tanganku...," tangan Nesya mulai terlepas dari cengkraman Leon.


"Aaaaa....," teriak Nesya saat pegangan tangannya terlepas.


"Tidak! sial*n!," gerutu Leon kesal.


Byur..


Nesya berhasil jatuh ke air tanpa hambatan, tapi kakinya tidak. Kaki kanannya terbentur batu cukup keras, Nesya merasakan sakit yang luar biasa di kaki kanannya.


Tanpa basa basi lagi, Leon ikut melompat ke dalam air bersama Nesya, dia mencoba membantu Nesya untuk bertahan, Leon melihat Nesya kesulitan berenang karna aliran sungai yang deras juga dia terlihat terluka.


"Leon! apa... yang, kau, lakukan... hah..," tanya Nesya saat tubuhnya dipeluk Leon yang ikut terjun ke sungai.


"Diamlah! kau kesulitan berenang tadi!," jawab Leon sambil tetap memeluk tubuh Nesya.


Leon dan Nesya tetap mengikuti arus sungai hingga menemukan tempat yang cukup luas, dan tempat itu tak jauh dari perkemahan, cukup ramai karna banyak siswa siswi yang berselfie ria.


Leon mengangkat tubuh Nesya yang sudah terlanjur lemas dan pingsan, kedatangan mereka mengejutkan murid² di sana, bahkan guru.


"Nes! bangun, nes. Bangun!," seru Leon sambil menepuk pelan pipi Nesya, setelah membaringkan tubuh Nesya di rumput tentunya.


Leon mencoba melakukan CPR (napas buatan), berharap itu berhasil membuat Nesya sadar, percobaan pertama gagal tapi percobaan kedua berhasil membuat Nesya sadar.


"Uhuk.. uhuk... apa yang terjadi?," tanya Nesya sambil duduk dibantu Leon.


"Kau pingsan tadi," jawab Leon sembari menepuk pelan punggung Nesya.

__ADS_1


"Ini, minumlah," ujar seorang guru pembimbing sambil memberikan sebotol air mineral.


"Terima ka.. akh!," seru Nesya kesakitan.


Dia merasakan sakit yang menusuk di kaki kanannya, Leon terlihat makin khawatir.


"Woy! Arya! Dika!," panggil Leon.


"Paan si?! anj**t! lu kenapa?!," tanya Dika saat melihat Nesya.


"Eh!? lu berdua kenapa?!," tanya Arya tak kalah kaget melihat kondisi Leon dan Nesya.


"Pinjem hp woy!," seru Leon.


"Ha? oh ok ok, bentar," balas Arya.


Arya meminjam ponsel dan Dika melontarkan banyak pertanyaan, Feter masih mencari Vyone, Nesya terus menahan sakit di kakinya.


"Nih," ujar Arya sambil memberikan ponsel setelah beberapa menit.


Leon menelepon markas pusat TBB, lebih tepatnya Ken, asisten pribadinya.


"Hal..."


"Ken!, kirimkan heli pribadi ke gunung belakang, lacak aja ponsel ini, cepat! hanya kau dan beberapa asisten Nesya yang datang!," perintah Leon cepat memotong ucapan Ken.


"Baik, tuan muda," jawab Ken sigap.


Setelah mematikan telpon, dengan cepat Ken dan beberapa asisten Nesya/Nala membawa helikopter pribadi ke gunung mati belakang mansion, Leon mencoba memberi pertolongan pertama pada kaki kanan Nesya.


"Woi! kalian berdua! cari Feter sama Vyone, trus cari juga Lyra sama Vier! nanti kita ketemu di markas," perintah Leon cepat.


"Ok. Lo sans dulu dong," ujar Arya.


"Bac*t! cari sekarang!," bentak Leon kesal.


"Haish.. lo ngegaz mulu sih, iya deh kita cari, bye bro. Ti ati yo," balas Arya santai.


"Bye bro," sahut Dika, mereka berdua pergi lagi.


Tak lama kemudian sebuah helikopter pribadi milik TBB mendarat tak jauh dari posisi Nesya dan Leon, murid² juga guru disana memandang takjub dan juga ngeri, karna mereka melihat beberapa orang penuh dengan senjata dan topeng di dalam heli itu.


"Tuan dan nona muda!," panggil mereka terkejut.


"Jangan matikan mesinnya!," seru Leon, dia mengendong Nesya ala bridal style karna kalo di gendong di punggung nanti kena kakinya Nesya.


"Hei!," pekik Nesya kaget.


"Diam!," seru Leon.


"Nona Phoenix!," panggil dokter itu terkejut melihat keadaan Nesya.


"Tunggu sebentar! saya akan berganti pakaian dulu," perintah Nesya bulat.


"Hei! lukamu ini harus segera di tangani!," seru Leon tak terima.


"Iya aku tau! tapi bajuku basah jadi harus diganti!," balas Nesya/Nala.


"Hum.. kita biarkan nona Phoenix berganti pakaian dulu, baju tuan Lion juga basah jadi harus diganti juga," ujar si dokter.


"Huh... baiklah, tapi kau harus cepat supaya lukamu ga makin parah," balas Leon akhirnya.


"Iya iya, cerewet," gerutu Nala, mereka pun berganti pakaian dan membuka penyamaran.


SKIP


Kaki Nala sudah diobati dan diberi gips tinggal menunggu kesembuhannya saja, Leon menggendong Nala lagi dari RS ke mansion, di ruang tengah, mereka bertemu teman² yang lain.


"Nesya gimana?," tanya Lyra yang khawatir.


"Stt... dia udah diobatin tinggal nunggu sembuh aja, dia kecapean karna itu dia tidur, jangan ganggu dulu ya," jawab Leon sambil tetap menggendong Nala.


"Hm.. yodah sana, gue hubungin keluarganya ya," sahut Arya.


"Terserah, Vyone sama Feter mana?," ujar Leon.


"Vyone lagi diobatin trus ditemenin si Feter," jawab Dika sambil duduk kembali di sofa ruang tengah.


"Hm.. kakak maid! nanti aku dan Nesya mungkin ga ikut makan malam, jadi tolong antarkan saja makan malamnya ya," perintah Leon.


"Siap, tuan muda," jawab kakak maid serentak.


Leon membawa Nala ke kamar Nala di lantai teratas, lantai 3 lah. Leon membaringkan tubuh Nala dengan perlahan di ranjang, para bawahan Leon dan Nala berada di bawah, mereka membiarkan Nala beristirahat.


Karna faktor kelelahan dan aroma tubuh Leon yang menenangkan membuat Nala jatuh tertidur di pelukan Leon, dia tertidur saat Leon membawanya dari RS ke mansion, Leon maupun yang lain tak mau membangunkannya.


"Hem... Leonardo," panggil Nala lirih saat merasakan pelukan hangat itu menghilang, Nala terbangun saat itu juga.


"Kenapa bangun? tidur lagi aja," ujar Leon hangat sambil mengelus rambut Nala.


"Kamu disini aja, aku masih ngantuk," balas Nala manja.


"Kalo kamu ngantuk ya tinggal tidur apa susahnya," tukas Leon.


"Em.. kamu disini aja ya, plis..🙏," ujar Nala lirih dan dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Hem... ya sudah," ujar Leon akhirnya setelah tak tahan dengan wajah imut Nala.


Leon berbaring di ranjang tepat di samping Nala, Leon memeluk tubuh Nala dengan lembut, membuat Nala makin merasa nyaman dan aman, gips di kaki kanan Nala bahkan membuat Nala sendiri sedikit terganggu tapi rasa terganggu itu hilang saat Leon memeluknya.


Mereka tertidur sampai 4 jam, sampai jam makan malam, kakak maid mengantar makanan ke kamar Leon dan Nala, rencananya mereka juga akan memanggil tuan dan nona muda yang lain untuk makan malam.


Saat mereka masuk ke kamar Leon, mereka dikejutkan oleh kamar Leon yang sepi, dan saat mereka ke kamar Nala mereka dikejutkan lagi oleh Nala dan Leon yang tidur satu ranjang sambil berpelukan.


Kebetulan Dika melihat kelakuan kakak maid yang kaget, dia penasaran dan saat ikut melihat ke dalam kamar Nala, dia sukses ternganga dengan kejadian langka di depannya, Dika memanggil yang lain, mereka bahkan berdesakkan hanya untuk melihat apa yang terjadi.


Ckrek


Mereka memfoto Leon dan Nala yang tertidur pulas lalu pergi ke bawah untuk makan malam, tapi sebelumnya mereka meminta kakak maid untuk merahasiakan kelakuan mereka, mereka pun pergi sambil tertawa.


"Nona muda, tuan muda, bangun. Ini makan malamnya," ujar kakak maid sembari membangunkan Nala dan Leon perlahan.


"Emh... sudah waktu makan malam?," tanya Nala sambil duduk diikuti Leon yang mengusap pelan kelopak matanya.


"Ya, nona. Ini sudah waktu makan malam," jawab kakak maid yang lain sambil tersenyum.


Author : "Jadi kakak maidnya itu ada 2 yang nganterin makanannya guys, trus troli makanannya juga ada 2, dah itu aja"


"Kami tinggal dulu ya, nona, tuan. Selamat menikmati," ujar kedua kakak maid itu lalu pergi ke lantai bawah, tak lupa menutup pintu kamar Nala.


"Lihat! ada sup untukmu," ujar Leon sambil mengambil mangkuk sup dari troli makanan itu, setelah turun dari atas ranjang.


"Hem, kamu ga makan?," tanya Nala saat melihat Leon duduk di pinggir ranjang dan terlihat akan menyuapinya.


"Nanti aja, aa..," jawab Leon sambil mengarahkan sendok berisi kuah sup ke arah Nala.


Nala memakan suapan yang diberikan Leon dan bertanya.


"Kenapa ga makan bareng aja?."


"Makan sup?," tanya Leon balik sambil tetap menyuapi Nala, Nala mengangguk sambil menguyah sayuran.


Leon menyuap kuah sup ke mulutnya sendiri lalu kembali menyuapi Nala dengan sendok yang sama, Nala pun tak keberatan sama sekali, Nala dan Leon memakan sup hingga 2 porsi (karna berbagi jadi porsinya 2 kali lipat).


"Kamu mau makan yang lain? ada puding nih," tawar Leon.


"Mau," jawab Nala sambil tersenyum manis.


Leon kembali menyuapi Nala, setelah semua makanan di troli makanan habis, Leon beranjak pergi.


"Leonardo," panggil Nala.


"Hem?," tanya Leon sambil menoleh.


"Makasih😊," jawab Nala ramah dan tulus.


"Iya, sama²," balas Leon sambil kembali menghampiri Nala yang duduk di atas ranjang.


"Kamu perlu sesuatu lagi?," tanya Leon sambil mengacak rambut Nala.


"Aku mau ngecek perusahaan, jadi bisa tolong ambilin laptop, tablet sama ponselku?," tanya Nala.


"Boleh tapi ada syaratnya," jawab Leon dengan senyum licik.


"Apa?," tanya Nala lagi.


Leon mendekatkan wajahnya ke wajah Nala, Nala menatap Leon bingung dalam jarak sedekat itu, tapi hal selanjutnya yang dilakukan Leon membuat Nala lebih terkejut lagi.


Cup


Leon mencium bibir Nala dengan lembut, bahkan Leon mel*mat lembut bibir kecil Nala, Nala benar² kaget dibuatnya, Nala bahkan tak berkedip hingga ciuman itu selesai.


"Haha... kau imut sekali," puji Leon sambil tertawa kecil.


Cup


Leon mengecup sekilas bibir Nala, Nala menatap Leon meminta penjelasan.


"Kenapa?," dari sekian banyaknya pertanyaan di otaknya hanya itu pertanyaan yang berhasil lolos dari mulut Nala.


"Aku suka bibirmu, lembut dan manis. Maaf sudah membuatmu kaget, aku juga sudah mengambil first kiss mu tadi siang," jawab Leon tanpa rasa bersalah.


Leon beranjak mengambil barang² yang diinginkan Nala lalu meletakkannya di atas nakas samping ranjang, dia pergi sambil membawa troli makanan keluar, tak lupa Leon menutup pintu kamar Nala.


Wush...


Angin berhembus kencang melewati jendela kamar Nala yang terbuka, membuat gorden disana terbawa angin untung ga copot, Nala masih mematung karna Leon.


"Ehem..," suara deheman seseorang yang berhasil masuk ke kamar Nala membuat Nala tersadar dan menoleh ke sumber suara.


"Oh... kau," ujar Nala lega mengetahui siapa yang datang.


Bersambung...


~oOo~


Siapa hayo yang dateng??


Penasaran?


Next eps!

__ADS_1


__ADS_2