
Bla bla bla, mereka pun ngobrol sebentar lalu kembali masuk ke kelas karna ada guru yang dateng, tak lama setelah guru datang Nesya merasa firasat buruk, beberapa menit kemudian firasat Nesya benar.
~oOo~
"Semuanya angkat tangan!," perintah seseorang yang membawa senjata berupa senapan berupa AK47.
"😒," respon sekelas termasuk guru.
"Elah banyak gaya lu pada😒," celetuk Bagas datar.
"Loh?," orang² yang tadi masuk jadi bingung sendiri tapi tetep masuk sambil nodongin senjata walaupun GoD squad+ gurunya ga keliatan takut.
Ira, guru kelas 7A alias GoD squad langsung duduk di kursinya dengan tampang datar, sekedar info Ira juga diajarin seni bela diri taekwondo dan karate jadi dia ga takut walaupun dari lubuk hati yang paling dalam dia takut dengan adanya senapan AK47.
"Kok kalian ga pada takut?," tanya yang lainnya.
"Ck, buat apa? sama² manusia, sama² makan nasi, sama² mahluk hidup, kecuali kalian mahluk astral lah....," jawab Nesya datar dengan akhiran menggantung.
"Takut?," tanya Satya.
"Engga, b aja malah kalo mahluk astral gue kirim ke neraka kalo perlu gue bakar sampe ga bisa reinkarnasi," jawab Nesya datar.
Gleg
Mereka hanya bisa menelan ludah paksa, jawaban Nesya membuat mereka merinding bahkan Lyra, Vier dan Vyone juga merinding.
"Dahlah kalian diem aja dan jadi anak baek atau gue bunuh kalian semua," balas salah satu diantara mereka, anggap aja si ter**is A.
"...."
Semuanya diam bukan karna takut pada ter**is A tapi takut pada Nesya, sebelumnya Nesya memang sudah meng-instruksikan supaya anggota GoD squad tetap tenang, mereka tak mau melanggar perintah langsung dari Nesya jadilah mereka diam hingga membuat suasana hening.
Para orang² itu saling berbincang seolah tak terjadi apa², sedangkan di tempat lain laki² hidung belang yang menyergap menggunakan senapan AK47 sudah melecehkan banyak siswi, sebagian siswa melawan tapi yang ada malah mereka kena tembak.
Salah satu lelaki hidung belang di kelas 7A yang anggap aja si A mulai mendekati Nesya dkk, karna tertarik dengan perawakan dan tubuh mereka yang begitu menggoda, ada sebagian yang mulai menggoda mereka hingga mengeluarkan kalimat frontal.
Melihat hal itu ingin rasanya Satya membantai mereka semua tapi dia masih harus berdiam, berpura pura demi suatu hal yang hanya diketahui Dean, ok salah! 8 orang itu juga udah tau apa tujuan Satya pura² beg* dan bersikap seperti baj*ngan.
Satya melakukan semua itu karna ayahnya, ya ayahnya, ayahnya sendiri yang telah membuat Satya seperti itu, apa? kejadian yang membuat hubungan antara Satya dan ayahnya retak, tapi beruntung kejadian itu tak terulang lagi.
✌Flashback on✌
4 tahun yang lalu
Di sebuah mansion megah di Lyon, Prancis.
Kota terbesar ke-2 di Prancis, dikenal sebagai pusat perdagangan, hiburan, pariwisata dan perindustrian yang besar. Disinilah mansion ke-7 keluarga Georgan berdiri, mansion megah dengan nuansa elegan dan abad pertengahan, bedanya lebih nyaman.
Saat itu Yohanes Fasatya Georgan masih dipanggil Yohan, Yohan saat itu berusia 8 tahun, seminggu setelah kakak perempuannya meninggal, Anderson membawa Rolland ke Filiphina, tujuannya supaya bisa tetap memantai Rolland, dan Anderson juga tak tega meninggalkan sang buah hati di Prancis.
Setelah mengantarkan sang kakak ipar ke bandara, Yohan/Satya langsung masuk ke kamarnya untuk tidur, dia lelah seharian menangis tanpa suara, hatinya sudah begitu sakit begitu mengetahui sang kakak perempuan yang sangat disayangi Yohan telah meninggal.
Saat terbangun waktu hampir menunjukkan waktu makan malam, Yohan bergegas mandi dan turun ke ruang makan, betapa terkejutnya dia melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat terbuka menggoda sang ayah, dan sepertinya ayahnya sendiri, Connor Georgan sudah tergoda sampai berani menyentuh wanita itu tanpa menghiraukan sekitarnya.
Saat itu Yohan marah, sangat marah. Disaat sang ibu, Rossie Georgan berada di Filiphina guna mengurus keperluan cucunya, ayahnya sendiri malah asyik bermain wanita di mansion, Yohan tak bisa membendung kemarahan nya lagi hingga berteriak.
"PÈRE!!! (AYAH!!!)," seru Yohan lantang dan penuh amarah mengejutkan semua orang.
(Anggap aja pake bahasa Prancis nanti kalo pake Prancis beneran malah repot hehe😁)
"APA YANG AYAH LAKUKAN?!!," bentak Yohan sambil sedikit berlari ke arah sofa ruang tengah.
"Yohan?," gumam Connor gak jelas, sepertinya Connor mabuk tapi masih setengah sadar.
"Hei bocah kecil, ga usah ganggu deh," kesal si pel4cur.
Plak
Yohan dengan berani menampar si pel4cur, dengan mereka berdua yang duduk memudahkan Yohan yang masih belum tinggi supaya bisa menampar si pel4cur, tentu hal itu membuat pel4cur geram, dia tak menyangka bocah berusia 8 tahun bisa menamparnya sangat keras.
Connor mulai tersadar karna tamparan keras yang menimbulkan sedikit gema di ruangan besar itu, walaupun tamparan itu tak mengenai dirinya tapi dia merasa sakit dan bersalah, seharusnya dia memang tak pergi ke club malam.
"Disaat mama sedang pergi dan sibuk, AYAH MALAH BERSENANG SENANG DISINI! MANA ETIKA AYAH!!," bentak Yohan dengan amarah yang meluap luap, dia berbicara dengan diakhiri teriakan keras.
"Ck, brisik kau bocah. Diam dan pergilah, anggap ini tak pernah kau lihat," balas si pel4cur.
"Hei siapa kau hingga bisa memerintahku?!!," kesal Yohan malah nada suaranya makin tinggi.
"Yohan hentikan!!!," bentak Connor sembari menjauh dari si pel4cur dan memegangi kepalanya.
"Apa?! ayah membentakku dan membiarkan jal4ng itu senang?!!," kesal Yohan yang kelepasan kalo marah, emosinya ga stabil apalagi setelah kakaknya meninggal.
"Yohan cukup!!," bentak Connor lagi, si pel4cur tersenyum kemenangan.
"Ck, ayah! kuperingatkan padamu, jika kau memiliki wanita lain selain mére (mama/ibu) maka simpanan ayah itu akan kubunuh," ancam Yohan ga main², dia paling ga suka mamanya di khianati kaya gitu.
Si pel4cur menatap remeh Yohan, tanpa basa basi lagi Yohan mengambil pistol di laci nakas yang berada tak jauh darinya dan menembak si pel4cur tepat dikepalanya, seketika si pel4cur itu mati ditempat.
"YOHAN!!!," seru Connor yang entah kenapa malah kesal dan marah.
"Apa ayah?! aku tidak salah apa²!! ayah pikir aku menyesal membunuhnya?!!," bentak Yohan sambil menggenggam pistol seerat eratnya, Connor berdiri sedikit sempoyongan lalu.
Plak
Connor menampar Yohan hingga Yohan tersungkur sambil memegangi wajahnya yang kena tampar, dia terkejut, sangat terkejut.
"Ayah...," lirih Yohan menahan sakit akibat tamparan yang begitu keras, bahkan bibirnya mengalirkan banyak darah.
"Ayah menamparku karna pel4cur itu?," tanya Yohan menyadarkan Connor.
"D dia a adalah sahabat papa waktu dulu," jawab Connor lirih.
"Begitukah? lalu kenapa dia menggoda ayah?! KENAPA?!!," kesal Yohan makin menjadi jadi.
"....."
Connor terdiam, Yohan pun berdiri dan menatap Connor tajam.
"Kau tau apa yang kau lakukan, tuan Connor Georgan?," tanya Yohan menekankan kata 'tuan Connor Georgan', Connor terkejut mendengar nya.
"....." lagi² Connor terdiam.
"Kau melakukan kesalahan besar, tuan," ujar Yohan lalu pergi ke kamarnya.
Mulai hari itu hubungan keduanya merenggang, dingin dan acuh, Yohan merubah namanya menjadi Satya dan pindah ke Indonesia bersama mamanya yang katanya pengen tinggal di Indonesia, Bali.
Selama di Indonesia Satya berubah, dia berpura pura beg* padahal sebenernya kalo dia mau belajar ataupun serius dikit ama pekerjaan dan pelajaran, Satya dah masuk SMA dari awal sama kaya Nala yang punya IQ tinggi mengingat mereka terus dilatih sebagai pewaris seluruh kekayaan keluarga.
Satya juga ingin menghindari Connor karna malas berurusan dengan ayah kandungnya itu, bukan benci hanya saja rasa kecewa masih membekas di hati Satya.
✌Flashback off✌
Nesya merasa risih di goda terus²an apalagi mereka mulai berani menyentuh tubuh Nesya dkk, tak hanya Nesya, siswi² yang lain juga merasa jengah menghadapi sikap kurang ajar para penyerang.
"Cukup! menjauhlah!!," bentak Lyra super kesal.
"Woow... aku suka wanita galak," ujar si C menggoda.
"Berhenti membuat keributan!," bentak Vyone ikutan kesal.
"Mau kalian apa sih?!!," bentak Ria yang kesalnya udah di ubun².
__ADS_1
"Menikmati kalian tentunya hahaha," balas si D lalu tertawa jahat.
"Oh ya? coba saja kalau kalian bisa," tantang Nesya dengan senyum smirk.
"Mari kita mulai kawan," ujar Nesya yang membuat semua orang bingung kecuali Lyra, Vier dan Vyone.
~oOo~
Kelas 8E
Semua murid ketakutan kecuali Arya dan Leon, mereka malah merasa tertantang muehehe...😈, sebelumnya mereka berdua memang sudah menduga hal ini mengingat ramalan Feter yang hampir tak pernah meleset.
Leon dan Arya memasang senyum smirk mendengar kata² Nesya yang saat ini sedang berkomunikasi dengan mereka menggunakan mini handsfree, mini handsfree yang terlihat sangat kecil dan sulit di sadari orang lain jika tak melihat dari dekat, tak hanya Leon dan Arya.
Nesya juga berkomunikasi dengan ketiga sahabatnya dan Dika juga Feter, mereka semua sudah menyiapkan pertunjukkan untuk menyambut mereka.
Plok plok plok
"Mari kita bermain," ujar Leon setelah bertepuk tangan sebanyak 3 kali dengan tempo pelan.
Setelah tepukan itu gorden kelas 8E tertutup dengan sendirinya dan cepat, ini karna alat yang Leon dan Arya tanamkan dan jangan lupa peredam suara yang sudah di pasang juga, para penyerang merasa bingung tapi kemudian mereka menodongkan senjata ke arah Leon dan Arya karna mereka saat ini sedang berdiri.
"Bye bye," ucap Arya dengan suara anak kecil.
Wushh..
Berkat kecepatan Arya dan Leon membuat mereka berdua bisa berada di belakang para penyerang yang berjumlah 8 orang di kelas 8E, tentu saja hal itu membuat para penyerang makin waspada karna sudah kehilangan 3 rekan mereka.
"Hello victim (nada anak kecil)," sapa Arya dari langit² ruangan, dia menempel pada langit² seperti spiderman.
Dor
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan yang di tembakan secara asal membuat damage ke benda yang terkena timah panas itu, AK47 memang ngeri tapi menurut 2 orang 'gila' yang sedang berlompatan kesana kemari itu masih biasa saja.
"Ck, damagenya kecil man," ejek Leon lalu..
Srak!!
Lengan kanan si F terputus karna serangan Leon yang menggunakan belati, si F berteriak dan mengerang kesakitan hal itu malah membuat Arya dan Leon makin senang sampai tertawa menyeramkan.
Gleg
Murid lain hanya bisa menelan ludah paksa sambil tiarap di bawah guna melindungi diri dari timah panas yang mengamuk, Leon sendiri sudah membunuh 5 orang dan sisanya dibunuh Arya, Arya kesal pada Leon karna tak memberinya banyak waktu dan orang buat dibunuh.
"Kau!!! benar² deh, gue kan pengen bunuh banyak malah lo yang MVP," kesal Arya.
"Halah bacot lu, dah buruan. Mau main ga? bukanya masih ada 5000 orang lagi diluar sana," balas Leon.
"Oh iya ya hehehe😈. Mari kita bantai mereka," ujar Arya.
"Hahaha...😈," balas Leon
"Kita butuh info akurat kawan," balas Arya menyadarkan Leon.
"Hm... akan kucari," balas Leon menyanggupi.
"Secepatnya lho bro, btw gue bawa barang bagus," ujar Arya membuat Leon yang sebelumnya acuh sambil menatap luar kelas menoleh padanya.
"What is it?," tanya Leon.
Arya mengambil suatu barang dan membukanya, Leon tersenyum smirk sedangkan teman²nya syok, kaget dan spechless.
"Woah... mantap bro! gue pikir lu kaga bawa," puji Leon senang.
"Hehe.. gue kaga mungkin lewatin momen seru kaya gini dong," balas Arya cengengesan.
Arya mengambil pistol yang paling kecil dan melemparkannya pada Leon lalu....
Hap!
Pistol tadi di tangkap dengan mudahnya oleh Leon, Leon langsung memainkan pistol di tangannya seolah pistol adalah mainannya sejak lama, lagi² hal itu membuat teman² sekelasnya terkejut.
"And then? sekarang kita mau apa?," tanya Arya membuat Leon berpikir juga.
"Bermain dengan hati senang," sahut Dika lewat mini handsfree.
"Nyaut aja lo ka, kaya tiang listrik," balas Arya membuat kawan²nya kecuali Leon bingung.
Siswa 1 : Mereka kenapa si?
Siswa 4 : Mereka ga gila kan?
Siswa 1 : Mana gue tau bege
Siswa 4 : Kaga usah ngegas anjeng
~oOo~
Kelas 8C
Kelas dimana Dika belajar, saat Nesya berkata 'Mari kita mulai' Dika langsung merilekskan tubuhnya dan menaikkan kedua kakinya ke atas meja, hal itu membuat para penyerang naik pitam.
"Turunkan kakimu bocah!!," bentak si J.
"Bacoott," balas Dika santai membuat para penyerang geram sedangkan teman²nya langsung bersembunyi di bawah meja.
"Ck, woi F lo bunuh dia!," perintah J yang terlihat seperti pemimpin di sana.
"Iye²," jawab F, dia mengambil AK47 nya dan mengarahkannya pada Dika, Dika hanya memasang smirk lalu menepuk tangannya sebanyak 3 kali dengan tempo pelan.
Bertepatan dengan nyalanya peredam suara dan tertutupnya seluruh gorden di kelas, timah panas di lontarkan dari AK47, sebenarnya senjata sejenis AK47 termasuk senjata ber-damage cuman karna mereka orang ga waras + abnormal pake banget, jadinya senjata gitu ga terlalu memberi damage besar bagi mereka, yah... seenggaknya.
Dika melesat dengan cepatnya lalu menghajar mereka dengan tangan kosong, jujur aja kemampuan tempur jarak dekat Dika berada di peringkat 2, berarti dia masih dibawah Leon, cukup kuat sih lumayan lah.
Krak
Bugh
Arrghh
Dor
Plak
Krak
Krak
Dor
Dor
Plak
__ADS_1
Bugh
Bugh
Dor
Arghhh
Suara² itu sukses membuat Dika tertawa senang dan teman² sekelasnya bergidik ngeri, saat ada seseorang yang melepaskan tembakan Dika akan menamparnya sekeras mungkin sampai tersungkur lalu melemparnya ke dindin hingga menimbulkan suara tulang yang patah.
Dika memukul bagian vital yang membuat mereka ambruk seketika karna apa? pukulan yang dikeluarkan Dika ber-damage sangat besar bagi mereka apalagi Dika belum serius.
"Hahahaha😈," tawa Dika terdengar sangat mengerikan.
Setelah beberapa menit semua orang di kelas 8C (penyerang maksudnya), sudah dikalahkan dengan mudah oleh Dika apalagi dengan tangan kosong, sedikit orang yang masih sadar dengan keadaan babak belur dan langsung dibunuh oleh Dika.
"Haih? Udah nih? yaelah baru aja mau seneng² malah udah pada rusak mainannya," keluh Dika mendapat pandangan aneh dari teman²nya yang berada di bawah meja.
Dika mendengarkan percakapan antara Leon dan Arya lalu menimbrung dengan mengatakan....
"Bermain dengan hati senang."
"Nyaut aja lo ka, kaya tiang listrik," balas Arya membuat Dika cengengesan sendiri tapi ga bisa dilihat Arya.
"Ga usah cengengesan, kaya orgil aja lu," celetuk Feter membuat Dika terkejut.
"Yee.... tau aja lo, dasar peramal ulung. Btw, lo kok tau gue lagi cengengesan?," ejek Dika diakhiri pertanyaan.
"Kebiasaan," jawab Nesya dkk + Leon, Arya dan Feter bersamaan.
"Anjay...," balas Dika.
~oOo~
Kelas 8H
Kelasnya Feter, saat ini dia sedang diam sambil memperhatikan para penyerang, jaga² kalo mereka mati/tertangkap jadi Feter tau mereka dari mana, bisa bantai malem² deh😈.
Plok plok plok
Setelah Nesya memberi instruksi lanjutan Feter bertepuk tangan sebanyak 3 kali dengan tempo pelan membuat para penyerang bingung, langsung saja gorden tertutup, peredam suara dinyalakan dan pintu terkunci dari dalam, hal itu mungkin ga disadari orang di luar karna kalo rekan mungkin berpikir mereka lagi ena² makanya gorden sama pintu ditutup.
Feter memasang smirk dan memainkan kartu² di tangannya, kok kartu? asal kalian tau aja dengan kecepatan, ketepatan dan ketajaman refleks Feter membuat benda apapun bisa menjadi senjata tak terkecuali kartu tarot yang sering ia gunakan.
Wush..
Wushh..
Wush..
Seperti shuriken, kartu² tarot yang melayang begitu cepat membuat para penyerang kaget apalagi mata Feter yang tiba² berkilau walau hanya sebentar lalu kembali seperti semula, 3 kartu tadi mengenai leher tepat bagian pembuluh darah arteri yang artinya mereka langsung matek.
Seringaian muncul di wajah tampan nan menenangkan milik Feter, seringaian yang begitu menakutkan hingga membuat orang di sekitarnya merinding, penyerang yang tersisa segera mengambil AK47 lalu menembakkannya pada Feter, siswa yang lain bersembunyi di bawah meja, berharap masih bisa selamat.
Dor
Dor
Dor
Dor
Feter tiba² menghilang dan menjadi 3, itu jurus seperti ninjutsu dalam dunia ninja atau apalah itu, intinya sebelum para penyerang menembak Feter, dia merapalkan sebuah kata, 'Clone', itu katanya.
Hal itu mengejutkan semua orang langsung saja para penyerang menembaki Feter dan klonnya, mereka bertiga (Feter 1-3) berpencar guna menghabisi para nyamuk ini.
Krak
Bugh
Dor
Arrghh
Krak
Krak
Akh!
Bugh
Dor
Dor
Dor
Lagi² suara pertarungan terdengar nyaring, tapi ga sampe keluar ruangan, peredam suaranya ingat! jadi suaranya ga sampe kedengeran keluar, beda sama yang dibawah, merasa ada kegaduhan di lantai atas membuat sebagian dari mereka pergi mengeceknya.
Feter mendengarkan percakapan Dika dan Arya yang baru berlangsung di ikut nimbrung dengan berkata.
"Ga usah cengengesan, kaya orgil aja lu."
"Yee... tau aja lo, dasar peramal ulung. Btw, lo kok tau gue lagi cengengesan?," tanya Dika.
"Kebiasaan," jawab Feter, Arya, Leon, Nesya, Lyra, Vier, Vyone bersamaan.
"Anjay...," balas Dika.
~oOo~
Di kelas 7A
Setelah Nesya berkata seperti itu, peredam suara dinyalakan dan gorden tertutup otomatis, mereka ber-empat (Nesya, Vier, Vyone dan Lyra) menyeringai kejam, mereka berdiri dan melompat tinggi sampai di bagian belakang kelas.
"GoD squad, saatnya kalian unjuk kemampuan," ujar Nesya membuat ketiga sahabatnya kecewa.
"Kita ga ikut nih?," tanya Lyra cemberut.
"Nanti malem," jawab Nesya membuat ketiga sahabatnya ceria kembali.
"YEAY!!," seru mereka bertiga gembira.
"Tunggu! kami yang melawan mereka?," tanya Anjani bingung.
"Ho'oh," jawab Nesya membuat suasana hening beberapa detik.
"APAAA???!!!."
"Buahahaha....."
Yang berteriak kaget adalah GoD squad sedangkan yang sedang tertawa adalah para penyerang, mereka meremehkan GoD squad rupanya.
"Seriusan nih?," tanya Satya dengan mata berbinar.
"Iya, tangan kosong," jawab Nesya lagi.
"Oo... Apa?!!," pekik Satya kaget lalu menghela napas kasar, dia pun menyeringai yang membuat teman²nya kecuali Dean dan Nesya terkejut.
Bersambung...
__ADS_1
~oOo~
Next! next! next! jan lupa vote, like dan comment, ngasih saran juga boleh kok, soalnya Author udah mikirin endingnya gimana trus tinggal jalannya yang berkelok kelok hehe😁, lanjut lah