
Banyak sekali kolega bisnis keluarga Nero yang datang ke pemakaman, mereka turut berduka cita atas meninggalnya kolega bisnis juga teman yang baik.
~oOo~
3 hari setelah kematian dan pemakaman Tasha dan Alfra
Di ruang makan mansion keluarga Nero di Jepang, mereka sedang makan malam bersama, paman Daryn sudah kembali ke Inggris, suasana makan malam itu menjadi dingin dan hening, hanya ada suara alat makan yang saling bersentuhan.
"Anak²," kata kakek Rescha memecah keheningan.
"Ya kakek?," jawab kak Ari datar dengan tatapan kosong, semua yang sedang makan memberhentikan kegiatan makannya.
"Ada satu hal yang harus kalian ketahui," lanjut Rescha, semua orang menatap Rescha dengan tatapan kosong dan tak berminat.
"Ini tentang hak waris kalian," sambungnya.
"Kenapa kakek membicarakan hak waris sekarang?," tanya kak Wira, dia menjadi lebih pendiam setelah kematian Tasha dan Alfra, begitu pula kak Gusion dan kak Ari dan Nala jangan di tanya, dia udah kaya es batu dinginnn bangettt.
"Ini hal yang sangat penting dan kalian harus tau," balas Rescha.
.
.
Setelah situasi kondusif dan setelah menghabiskan makanan, Rescha kembali menjelaskan di ruang tengah,
"Yang pertama, untuk Wira, karna kamu anak pertama, kamu akan mewarisi kekayaan kakek dari bunda kalian."
"Kenapa?," tanya Wira datar tapi heran.
"Karna bunda kalian dan Daryn serta kakek kalian memiliki kesepakatan, siapa di antara mereka berdua yang memiliki anak terlebih dahulu maka anak itulah yang akan mendapatkan hak waris," jelas Rescha.
"Baiklah, kakek," ucap Wira pasrah.
"Yang kedua untuk Gusion, kau akan mewarisi perusahaan oma mu," Gusion hanya mengangguk setuju.
"Yang ketiga untuk Ari, kau akan mewarisi butik milik oma mu."
"Kenapa aku mewarisi butik oma?," tanya Ari.
"Karna kau menyukai fashion dan boutique Zelfatie akan lebih maju jika di tanganmu," jelas oma Zelfa, Ari mengerti maksud oma.
"Kalau Nala?," tanya WiGuRi bersamaan.
"Nala..... tugasmu yang paling berat," jawab Rescha lesu.
"Katakan saja, kek," balas Nala dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
"Nala.... kau akan menjadi pewaris dari kekayaan dan usaha kakek, ayahmu dan bundamu," jelas Rescha.
"APA?!!!," tanya WiGuRi bersamaan.
"Bukankah itu terlalu berat?," protes Ari.
"Ari benar, kek. Nala masih belum cukup umur," balas Wira.
"Tugas seberat itu, akan sulit Nala lakukan," sahut Gusion datar.
"Sebenarnya kenapa hanya Nala yang diberi tugas sebanyak itu?," tanya Gusion.
"Kalian mau tau marga kalian?," tanya Rescha mengalihkan pembicaraan.
"Nero Revano Wira Pratama, Nero Fanguri Gusion Sanjaya, Nero Arirang Yeku Sanjaya dan Natalia Lavender Yuena Nero," jelas Rescha.
"Hah?!!," tanya mereka semua tak percaya kecuali oma Zelfa.
"Kenapa marga Nala di belakang sedangkan kami di depan?," protes Ari.
"Karna apa? karna marga kalian sudah di tentukan sejak awal," jelas Rescha tenang.
"Why?!," protes Ari lebih keras.
"Karna bunda kalian sepakat kalau anak terakhir yang akan mewarisi usaha dan kekayaan kakek, Alfra dan Tasha," jelas Rescha penuh penekanan.
Ari menghela napas kasar, bukan karna Ari cemburu melainkan khawatir pada sang adik yang masih sangat muda, begitu pula Wira dan Gusion.
"Kakek, aku akan pergi untuk menjadi pendekar," mendengar kata² Gusion sukses membuat semua orang membulatkan mata mereka.
"Kemana, kak?," tanya Nala datar.
"Entahlah, kakak akan mencari guru untuk itu tapi tenang saja, aku akan kembali pada usia ku yang ke 17," jelas Gusion dengan wajah datarnya.
"Baiklah, terserah dirimu saja, kau juga butuh waktu untuk merelakan kedua orang tuamu," jelas Rescha mengijinkan.
"Apa?! bagaimana jika nanti kau kenapa²?! kalau kami tak ada di sisi kalian, bagaimana bisa saling berhubungan?? Bagaimana jika terjadi hal yang tak di inginkan??!," protes oma Zelfa.
"Oma tenang saja, kami sudah bisa menjaga diri kami sendiri," jelas Gusion datar guna menenangkan oma Zelfa.
"Aku juga akan pergi, kakek," kata Nala benar² mengejutkan orang² walaupun masih tetap dalam intonasi yang dingin.
"Kemana?," mereka kompak bertanya.
"Kalian tau tentang negara terbesar selain China? Indonesia! negara kepulauan itu! aku akan tinggal di salah satu kota terpencil di sana, kota C, di kabupaten C dan provinsi Jawa tengah," jelas Nala yakin.
"Kau yakin? tapi di sana termasuk negara paling rawan, Nala. Kenapa tidak di Singapura saja? atau Dubai mungkin," usul oma Zelfa.
__ADS_1
"Tidak oma, aku akan tetap tinggal di Indonesia," balas Nala sengit dan keras kepala, kakek Rescha hanya menghela napas pasrah.
"Aku juga ingin tinggal di Australia, untuk mengurus perusahaan kakek di sana," sahut kak Wira.
"Aku juga tinggal di London saja, kek. Di sana juga banyak butik oma dan sekolah yang lebih bagus," ujar kak Ari mulai bersemangat kembali.
"Jadi kalian akan meninggalkan kakek dan oma di Jepang?," tanya kakek Rescha sedikit menggoda juga berakting lesu.
"Ya ampun, kakek... Kakek dan oma kan bisa datang langsung atau memanggil kami," jelas Ari menanggapi sikap kakek, sambil memelas tentunya.
Tawa terdengar dari ruang tengah, walaupun masih dalam keadaan berduka tapi perlahan mereka kembali seperti semula.
Malam itu sudah diputuskan jika mereka akan pergi dari Jepang untuk mandiri, dan lusa mereka sudah pergi ke negara tujuan mereka.
~oOo~
Setelah menempuh perjalanan dari Jepang ke Indonesia, saat ini Nala sudah berada di bandara Soekarno-Hatta di ibu kota Indonesia, Jakarta.
Tentu saja kedatangan Nala dkk menggunakan jet pribadi itu menarik perhatian banyak orang, mereka bertanya² tentang kedatangan orang² kaya itu (Nala dkk maksudnya), sebelum ke kota tujuan awal, Nala dkk beristirahat beberapa hari di salah satu hotel bintang 5 terbaik di Jakarta.
Tok tok tok
Pintu kamar Nala di ketuk oleh seseorang, Nala memesan 8 kamar khusus untuknya dan para bawahannya, tentu saja jet pribadi Nala di titipkan di bandara karna Nala tak membawa pilot juga ko pilot, melainkan menggunakan kemampuan pak Dicky dan Kakashi.
"Excuse me, young lady. Lunch has been prepared, you can immediately go down to eat or do you want your food delivered?, (Maaf, nona muda. Makan siang sudah disiapkan, Anda bisa langsung turun makan atau ingin makanan Anda diantarkan?) ," tanya pelayan laki² ber jas dan menggunakan bahasa inggris formal.
"I will come down soon. Prepare a dining table for 8 people, thank you. You may leave. (Saya akan segera turun. Siapkan meja makan untuk 8 orang, terima kasih. Anda bisa pergi.)," jawab Nala lalu menutup pintu setelah pelayan membungkuk memberi hormat.
Nala segera bersiap untuk makan siang, dia hanya menggunakan pakaian casual yang tetap cantik jika Nala yang menggunakan nya, Nala mengikat seluruh rambutnya di bagian kiri sehingga membuatnya manis ditambah lagi gigi taring Nala yang imut.
Nala segera turun ke tempat makan siang, di sana ke 7 bawahannya telah datang, mereka tetap hormat dan sopan walaupun hanya menggunakan pakaian casual (di suruh Nala, kalo ga di suruh palingan pakai pakaian formal), oh iya sebenarnya Nala dkk sudah membeli kamus lengkap bahasa Indonesia jadi dia bisa sedikit berbahasa indonesia, apalagi pak Dicky, Wendy dan Lina pernah tinggal di Indonesia, eh blasteran deng.
"Good afternoon, young lady," sapa mereka sambil membungkuk hormat.
"Afternoon, sit down, " balas Nala, mereka pun duduk bagaikan keluarga padahal mereka adalah atasan dan bawahan.
Mereka sangat akrab, Nala memang sedang membutuhkan teman untuk merelakan kepergian kedua orang tua nya, dan menyembuhkan mentalnya yang kembali terluka.
"Kak, kita akan tinggal di mana nantinya? { bahasa Prancis }," tanya Mei sambil menikmati makanannya.
"Aku akan membeli mansion, jadi kalian tenang saja { bahasa Prancis }," jawab Nala yang pasti langsung di pahami ke 7 anak buahnya.
~oOo~
Wuih.... Nala bakal beli mansion tuh, kira² harganya berapa ya?
__ADS_1
Seberapa besar mansion itu?
Tungguin next eps ya! bye....😘