
Wajah Lyra yang begitu cerah membuat Satya senang dan ga tega buat ngerusak wajah itu, Satya rasa dia udah tau apa perasaannya pada Lyra, mari kita doakan semoga dia berhasil.
~oOo~
Mau shoot Dean, Vyone, Lyra sama Satya dulu boleh?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Oklah....
Rooftop
Beberapa menit setelah kepergian Dean Vyone masih menangis, dia bingung dan sedih disaat bersamaan, aneh batinnya sambil menangis.
"Haish... itu salah lo yang ga bisa merhatiin jalan beg*!."
"Ko gue yang salah sih?! jelas² lo duluan yang marah² sambil jalan trus nabrak gue jadilah kaya tadi!."
"Ha? emang gue tadi ngelakuin kaya gitu hah?! kaga ye!."
"Yah.. situ aja yang pikun, huu.. tua."
"Jan mentang² lu lebih muda 8 bulan ama gue, lu bisa sombong kaya tadi."
"Ya biarlah, tua. Seenggaknya gue masih muda ga kaya elo dah tua, pikun pulak."
Terdengar kegaduhan 2 orang yang sedang dalam perjalanan ke rooftop, mereka sedang bertengkar kalo di dengarkan lagi, suara mereka adalah perempuan.
Brak!
Pintu rooftop terbuka menampilkan 2 gadis muda berparas cantik seperti dewi, mereka sedang adu bacot mempeributkan hal yang ga penting-_. Vyone tak memperhatikan mereka sama sekali, dia hanya menangis, disisi lain 2 gadis itu baru menyadari keberadaan Vyone.
"VYONE?!!," seru mereka bersamaan.
2 gadis itu setengah berlari menghampiri Vyone yang masih berjongkok sambil menangis, mereka bingung dengan apa yang terjadi, Vyone mengangkat wajahnya dan melihat 2 gadis itu. Sontak 2 gadis yang mengenal Vyone terkejut melihat wajah Vyone yang berlinang air mata.
"L lo kenapa?," tanya yang satu khawatir, dialah Nesya dan yang satu lagi Vier yang ga lagi dalam mode datar.
"Nesya...!," panggil Vyone lirih.
Grep
Vyone memeluk Nesya yang berada di depannya, Vier dan Nesya makin merasa bingung dengan situasi yang dihadapi Vyone.
"Ada apa sih?," tanya Vier berbisik.
Nesya mengangkat kedua bahunya tanda ga tau, mereka menuntun Vyone duduk di sofa, setelah duduk tangis Vyone perlahan mereda karna dia memang udah capek nangis mulu dari tadi.
"Dean... hiks Dean mutusin guee....😭," Vyone kembali menangis.
"Lah terus? itu kan cuma status lo masih bisa deket sama dia trus apa masalahnya?," tanya Vier yang emang masih volos.
Nesya tampak ga ngerti juga tapi satu yang terlintas di pikirannya.
'Apa jangan² mereka saling jatuh cinta? ya kali, baru pacaran berapa bulan dah jatuh cinta aja, mungkin karna pesona mereka yang kuat kali ya' batin Nesya berpikir.
"Nah itu masalahnya hik.. gue ga ngerti, gue bingung kenapa gue nangisin sebuah status."
Gubrak!
Jawaban Vyone membuat Nesya dan Vier terjungkal dari duduknya, pemikiran yang jenius Vyon, jenius yang terlampau bgst.
"Gue kira apaan anjeng, kaga taunya cuma gituan. Gobl0k kali lah."
Nesya dan Vier mengatakan kalimat itu secara bersamaan tanpa kontak apapun apalagi posisi mereka saat ini sedang terjungkal dari sofa.
"Gaes... gue laper."
Perkataan Vyone membuat Nesya dan Vier menepuk dahinya pelan, apalagi raut wajah Vyone seperti seekor kucing yang sedang memelas pada tuannya.
"Yodah ayo," ajak Vier sambil berdiri.
Nesya dan Vyone ikut berdiri tapi...
Srak!
Akhh!
Tangan Vyone tersayat besi yang mencuat dari sofa, ga dalem sih cuman ngeluarin darah cukup banyak juga.
~oOo~
__ADS_1
Disisi lain
Saat ini Dean lagi di UKS, lagi merban tangannya yang berdarah karna mengamuk di toilet, dia jelas ga nemuin Lyra yang jadi PMR (Palang merah remaja) karna Lyra sama Satya lagi nge-date.
"He? lo ngapain disini?," tanya Anjani yang juga ikut PMR.
"Luka," jawab Dean datar.
Dia ga niat ngomong panjang lebar ke Anjani kaya dia ngomong ke Vyone, Anjani yang paham kelakuan Dean selama di sekolah hanya bisa menghela napas pendek.
Hening
Dalam beberapa menit keheningan menyergap UKS, Dean melamun memikirkan kejadian di rooftop tak lama pintu UKS terbuka dengan kencang oleh Vier.
"Santuy mamank, lu kaga bisa santuy ya," celetuk Anjani memarahi Vier.
"Eh bocah! lo kaga usah banyak bacot dulu lah. Bantuin Vyone dulu nih!," potong Vier sebelum Anjani melanjutkan perkataannya.
Dean yang berada di ranjang UKS menengang saat mendengar nama Vyone, entah kenapa dia panik, takut terjadi sesuatu pada Vyone.
Dia ingin bertanya namun dia urungkan saja, Vyone pun masuk ke UKS lalu tangannya di perban, saat itu Nesya yang selalu bawa handsfree mendapat telepon.
"Vy, lo disuruh ke mansion keluarga Lynn di Belgia," ujar Nesya setelah menerima panggilan telepon tadi.
Vyone menegang di tempat lalu membantah keras.
"Gak!."
"Eh? kenapa?," tanya Vier melihat Vyone yang menatap depannya kosong tapi terlihat jelas ada kebencian ditatapan matanya.
"Gue ga mau pulang."
Perkataannya membuat semua orang di UKS terkejut dan bingung.
"Eh eh.. What happend?," tanya Nesya yang tau tubuh Vyone bergetar.
"G gue g ga mau pulang... gue mau disini... please, jauhin gue dari mereka. Gue ga mau pulang hiks.."
Vyone mulai menangis kembali, terlihat sekali bahwa dia takut pada sesuatu maksudnya benci.
"Loh kenapa sih Vyone sayang, jangan kaya gini dong. Kita bingung," ujar Vier sambil memeluk Vyone.
"Utututu... cup cup ya sayang, gapapa kok ada kita disini," kini Nesya juga ikutan memeluk.
Vier + Vyone + Nesya : *group hug
"Ouhh.. persahabatan yang menakjubkan, perlu di unggah ke you tube nih," celetuk Anjani hingga dia mendapat jitakan dari Nesya.
"Lo kalo mau ngerekam cari objek lain aja deh, jauh² shoo shoo," usir Nesya membuat Anjani cemberut lalu pergi.
"Buat masalah Vyone kan gue ga tau apa² jadi gue ga bakal ikut campur, tapi... ngurusin masalahnya nanti aja. Vyone masih butuh istirahat apalagi dia kehilangan banyak darah kalo aja kalian ga cepet mungkin Vyone bakal anemia. Makanya sekarang kalian juga tinggalin dia buat istirahat, kasian di ganggu 2 curut ga ada akhlak kaya kalian," saran Anjani di sertai ledekan.
"WO–."
Saat Vier mau teriak sambil protes, Anjani memotong ucapannya.
"Jan brisik, di UKS ini bukan cuma kalian bertiga. Ada siswa lain yang habis ngamuk di toilet, dia juga lagi istirahat jadi jan brisik."
"Noh, dah kalian pergi sana! shoo shoo."
Sebelum Anjani pergi dia sempet²nya ngusir Nesya dan Vier, setelah itu dia kabur, hadeh.. dasar.
"Yee... yang kaga ada akhlak tuh dia," gumam Nesya membuat Vyone terkekeh pelan karna pertunjukkan komedi di depannya.
"Yok, yer," ajak Nesya.
"Yok lah, eh bentar gue liat ada saudara lo deh."
"Mana?."
"Bentar²."
Vier pun pergi menghampiri dan membawa siapa yang dia maksud.
"Nah ini dia," ujarnya.
Vyone menahan tawanya, sedangkan Nesya yang tadi menghadap arah sebaliknya langsung berbalik.
"Aaaa!!," seru Nesya kaget.
"Eh kutu ayam loncat ke piring!," seru seorang wanita yang juga ada di UKS.
Orang yang ga lain Salsa langsung menjitak Nesya dan Vier, dia lagi tidur kok diganggu, menyebalkan tapi lucu😂.
"Sorry Sal, sorry². Ok," rengek Vier.
"Dahlah gue minggat," balas Nesya.
"Ngikut..," sahut Salsa.
"Ye.. gue ditinggalin nih?," tanya Vier.
"Bomat.."
Nesya dan Salsa keluar dari UKS, Vier mengembalikan replika tulang manusia ke tempatnya semula, dia melihat Dean sedang melamun tapi dia ga nyapa Dean sama sekali, dan Vier juga ga ngasih tau Vyone.
Brak
Pintu UKS tertutup oleh Vier.
Hening
"Hei, kau.. Dean bukan?," tanya Vyone membuat Dean terkejut.
"...."
"Hei!."
Vyone turun dari ranjangnya dan menghampiri ranjang tempat Dean duduk, Dean diam, menatap sayu depannya, Vyone yang melihat Dean seperti itu hanya bisa diam.
"Kau ini kenapa?," gumam Vyone yang dapat didengar Dean.
Dean merasa bersalah mendengarnya, dia ga tahan lagi sampai...
Grep
Dean menarik dan memeluk Vyone ke dekapannya, dia benar² merasa bersalah.
"Maaf... maafkan aku," gumam Dean jujur membuat hati Vyone luluh.
"Kenapa?," lirih Vyone dengan suara serak.
Dean melepaskan dekapannya dan menatap Vyone serius.
"Pergilah ke Belgia, aku akan berada di sana untuk melindungimu. Disana kau mungkin akan mendapatkan alasan dan kebenarannya," ujar Dean dengan suara serak yang malah terdengar seksi, anjritt!.
"Ekhem! suaramu itu..."
Vyone memerah mendengarnya, Dean memasang smirk lalu...
Cup
Mereka memulai kegiatan panas yang ga sampe ngerebut keperawanan Vyone dan itu cuma bagian atas doang gaes, jadi ga masalah:D. Dan berhubung UKS sepi + jarang ada yang lewat depan UKS jadi ga ada yang tau kegiatan panas mereka, haha wanjir ngakak! au ah gelap, gue merem jadi gelap.
Author : kata² gue ga nyambung ye? ya sorry, kan masih pemula:D☺.
~oOo~
Beralih ke Satya dan Lyra
Mereka baru selesai main rumah hantu gaes, hiii... author ga mau masuk sana ah~ (bukan nge-desah anying), setelah itu mereka pergi ke resto buat makan karna udah capek + haus sama laper.
"Aa.. tadi itu menyenangkan, makasih ya udah bawa gue kesini," ujar Lyra sambil menunggu makanan datang.
Mereka lagi ada di lantai 2 resto, ruang VIP no 4 di resto itu, ruangan dengan kaca buram dan kedap suara itu juga disertai sofa empuk yang begitu nyaman (ga senyaman ranjang sih).
"Iya sama²," jawab Satya sambil tersenyum.
"Lo kok tumben ngajak bolos kesini? biasanya ke lab atau ke markas, kadang juga bolos ke rooftop cuma buat nemenin lo ngerokok," balas Lyra asal.
"😊."
"Lo tau ga hubungan kita udah melenceng dari yang seharusnya?," tanya Satya membuat Lyra bingung.
"Maksudnya apa?."
"Hubungan kita udah kaya orang pacaran," jawab Satya membuat Lyra menunduk malu, Satya yang melihat itu tiba² saja membuat rona tipis di wajahnya.
Hening
Hening terjadi diantara mereka berdua, tak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang, setelah semua dihidangkan pelayan pergi dan mereka masih belum beranjak menyentuh makanan dan minuman di depan mereka.
__ADS_1
"Em... Lyra," panggil Satya perlahan.
"E eh y ya?," jawab Lyra agak gugup, dia mengutuk diri sendiri karna bersikap gugup.
Satya menggenggam kedua tangan Lyra yang saat ini duduk di sofa sampingnya, Lyra sedikit terkejut dan bingung, dia mendongak dan menatap Satya. Satya kembali tersenyum.
"Ra, lo tau? selama beberapa bulan ini, hubungan kita makin deket, sekarang aku sadar. Aku punya perasaan lebih ke kamu, Kimberlly Chamara," ujar Satya membuat jantung Lyra marathon.
"😳. K k kamu... s serius?," tanya Lyra gugup, Satya mengeratkan genggaman tangannya.
"Kamu tau kan kalo aku ngomong pake aku-kamu kaya gini artinya aku serius (?)," jawab Satya dengan senyuman yang masih setia terparkir disana.
Author : Itu pertanyaan sekaligus pernyataan, ga mudeng yodah:v.
"...."
Lyra menunduk malu, wajahnya memerah.
"Lyra..."
Satya memanggil Lyra sambil mengangkat dagu Lyra membuat Lyra menatap netra Satya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Lyra berdetak begitu cepat serasa mau berhenti kerja, Satya menatap Lyra serius.
"Kimberlly Chamara, kamu mau ga jadi pacar Yohannes Fasatya?," tanya Satya serius membuat Lyra gugup dan malu setengah mati.
.
.
.
.
.
.
.
"Em... aku laper, boleh ga jawabnya nanti aja," lirih Lyra membuat Satya sedikit kecewa tapi dia masih ada harapan bukan?.
"Baiklah, ayo makan," balas Satya.
"Tapi..."
Ucapan Satya terhenti membuat Lyra memandangnya serius.
"Kalo lo jawab ya berarti lo ngebiarin gue pergi dengan perasaan seneng."
Perkataan Satya membuat Lyra terkejut dan bingung, 'pergi? apa maksudnya?' pikir Lyra.
"Gue... harus ngelanjutin sekolah di Prancis, jadi... setelah UAS dan perpisahan nanti gue bakal pergi dan sekolah di Prancis. Makanya gue ngomong in ini ke elo," ujar Satya.
Lyra menengang di tempat karna ucapan Satya, ga tau kenapa ada rasa ga rela di hati Lyra, dia cemberut dan Satya yang melihatnya merasa gumush..
"Em..😣 sakit," rengek Lyra karna pipinya di cubit.
"Eh.. maap², abisnya lo imut banget," balas Satya lalu tertawa.
"😣, Lyra lapelll...," rengek Lyra seperti anak kecil.
"Baiklah², tapi jangan lupa jawab pertanyaan tadi ya," balas Satya membuat Lyra terdiam.
Mereka pun makan dengan suasana yang berubah ubah, kadang canggung, hangat... aneh intinya.
~oOo~
Di UKS
Vyone dan Dean bermesraan lagi, padahal katanya udah putus heh... taunya masih aja mesra²an, gue sebagai Author ini iri lhoo punya gebetan aja engga apalagi pacar😔😖😥, bgst😵.
"Dean... kamu beneran mau ikut ke Belgia?," tanya Vyone yang saat ini dalam belaian dan dekapan hangat Dean.
"Iya, tenang aja. Ada aku disana, temen² juga bakal ikut kan?," tanya Dean memastikan.
"He'em sih..." Vyone mengangguk menanggapi.
"Tenang saja," bisik Dean di ceruk leher Vyone.
"Hem..."
Beberapa menit kemudian
Brak!
"HOLAAA!! VY SAYANG!! DIMANA LO HAH?! LO TAU GA SIH APA YANG YER LAKUIN?!!."
Pintu UKS di buka paksa lalu suara teriakan Nesya terdengar dan langkah kaki yang memasuki UKS terdengar jelas, Vyone dan Dean terlonjak.
"Heh! suara lu di kondisikan beg*! Vy masih sakit," tegur Vier kesal.
"Ya bodo😝," balas Nesya ga mau kalah.
Tap
Langkah mereka terhenti saat melihat Dean dan Vyone lagi mesra²an.
"Oohh... lagi mesra²an nih pantes ga keluar² dari UKS, gue pikir dia istirahat malah... ah bomat," Nesya nge-dumel ga jelas.
"Yer, yok pergi jadi obat nyamuk doang kita," ajak Nesya sambil berbalik dan melangkah ke arah pintu.
"Cus lah," balas Vier.
Brak!
"WE ANYING! KAGA USAH DIBANTING JUGA, GBLK!," seru Vyone kesal.
"BUKAN GUEE!! IER YANG BANTING! KABUR," seru Nesya dari luar UKS.
"IERRRRR!!!."
"BUKAN GUE VY! SYA YANG BANTING PINTU, EH BUSET DIA KABUR ANYING!," balas Vier saat mendengar teriakkan Vyone.
"Hahaha.... kalian ini sahabat yang lucu ya," komen Dean.
"Yah... begitulah, kadang mereka tuh laknat, ga ada akhlak tapi perhatian," jawab Vyone.
"Oh iya, nama panggilan kalian tuh siapa aja sih? tadi kok aku denger Vy, Yer sama Sya?," tanya Dean.
"Jadi gini namaku kan Vyone dipanggil Vy, trus Vier dipanggil Yer/Ier trus Lyra dipanggil Ly/lily karna dia juga suka bunga lily, trus Nesya dipanggil Sya," jawab Vyone.
"Oo..."
~oOo~
Beberapa jam setelah p****ulang sekolah
Mereka semua ada di jet pribadi, perjalanan ke Belgia, mansion keluarga Lynn. Sebagian dari mereka beristirahat, sebagian lagi bekerja seperti Nesya dan Leon yang sedang mengobrol serius.
"Jadi maksudmu mereka kakak beradik?," tanya Nesya serius.
"Iya, dia sendiri yang bilang padaku," jawab Leon tak kalah serius.
"Hah... sudahlah, kupikir pesona mereka saja yang sama ternyata mereka adalah kakak beradik kandung, jadi ini membuat dia depresi," celetuk Nesya.
Tok tok tok
Pintu kamar khusus milik Nesya di jet pribadi di ketuk perlahan, Nesya membiarkan yang mengetuk pintu masuk.
"Oh kau, ada masalah apa?," tanya Nesya pada pria yang tak lain adalah Dean.
"Bisa nyalakan peredam suara dan matikan perekam suara?," tanya Dean sebelum memulai pembicaraan.
"Baiklah," jawab Nesya menyanggupi lalu melakukan sesuai yang Dean minta.
Dean terlihat membawa berkas di tangannya dan dia hanya memakai pakaian casual, sepertinya ini pembicaraan serius yang ga ada kaitannya sama bisnis.
Dean pun duduk di sofa lain dan meletakkan berkas itu di meja.
"Bacalah."
Leon dan Nesya bertatapan sejenak lalu Nesya mengambil berkas itu.
Bersambung....
~oOo~
__ADS_1
Next! mau nanya nih, ceritanya bagus ga sih? kok yang like dikit?