My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 4 : Kejadian naas


__ADS_3

"Mei?," tanya Nala heran setelah membalikkan badan, Mei membalas dengan senyum.


 ~oOo~


Dini hari itu, Nala dan Mei berjalan jalan di mansion keluarga Nero yang luas dan mewah itu, sebenarnya sangat melelahkan tapi tetap berakhir suara tawa yang tertahan dari mereka berdua, mereka mendengar dan melihat banyak hal.


"Ya ampun... tak kusangka ada ruangan seperti itu di mansion ini," gumam Nala saat sudah berada di taman, mereka menyaksikan matahari terbit di taman depan mansion.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Nala sudah menganggap Mei sebagai adik sendiri, karna Nala anak terakhir jadi terkadang Nala pengen punya adek lagi.


"Nona...," panggil Mei.


"Tak usah memanggilku 'nona' saat kita sedang berdua, panggil saja 'kakak', Ok," jelas Nala.


"Em... baiklah, kakak," ralat Mei.


"Bagus! ada apa?," puji lalu tanya Nala.


"Aku dengar nona eh! koreksi! kakak mendapat tawaran menjadi seorang tentara?," tanya Mei dengan suara imutnya.


"Iya... kenapa?," tanya Nala.


"Kenapa kakak tak menerimanya? kan lumayan jadi tentara?," tanya Mei balik. 


"Gak! kakak bukannya ga mau tapi...," jawab Nala menggantung lalu memberi kode supaya Mei mendekat, dan Mei menurut saja disuruh begitu.


"Kakak ingin meneruskan profesi ayah kakak menjadi seorang mafia," jelas Nala dengan suara berbisik.


"Ha? yakin, kak?," tanya Mei tak percaya dengan jawaban dari bos kesayangan nya yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu, sedangkan Nala langsung mengangguk mantap.


"Aku boleh ikut?," tanya Mei semangat.


"Yakin nih? Ok, boleh kok," jawab Nala dengan senyum.


Mei cukup senang pagi itu, dia juga entah kenapa tak merasa ngantuk sama sekali, begitu pula Nala, mereka cukup puas karna mendapat waktu bersama beberapa jam (dari sekitar jam 1 sampe matahari terbit).


 ~oOo~


Disisi lain


"Hoammm....," suara serak khas bangun tidur milik Yi Fan telah terdengar, biasanya emang Yi Fan yang bangun lebih pagi dari temen²nya.


Dan... betapa terkejutnya dia saat tau adik kecil kesayangan nya tak ada di ranjang dan kamarnya, Yi Fan mulai panik sehingga dia membangunkan yang lainnya.


"Wang sik! Wang sik! bangun!, Kakashi! woi bangun! Wendy! Wendy ayo bangun!! Lina....!!!! bangunnn, semuanya ayo bangun!!," pekik Yi Fan di pagi hari begini dengan panik membangunkan teman²nya.


"Ada apa sihh? menggangu waktu tidurku saja," protes Wendy menggunakan bahasa Inggris supaya komunikasinya lebih lancar.


"Mei hilang!," lanjut Yi Fan masih dengan nadanya yang tadi.


"Ha?," tanya mereka ber-empat tak mengerti dan terkejut.


"MEI HILANG!!!!," pekik Yi Fan lagi.


"Kok bisa?!!," tanya mereka masih dengan wajah terkejut mereka mendengar maknae mereka hilang begitu saja.


Mereka langsung mencari Mei tanpa membangunkan penghuni lain, lalu saat mereka sampai di taman, mereka akhirnya bisa bernapas lega melihat Mei sedang mengobrol dengan bos mereka, mereka menghampiri 2 orang yang asyik melihat sunrise itu.


"Dicari cari malah disini," kata Yi Fan, Nala dan Mei hanya nyengir lebar melihat teman² nya masih memakai piyama mencari mereka berdua.


Sejak saat itu semakin terlihatlah hubungan kekeluargaan mereka, bahkan Lina yang sebelumnya ingin berkhianat tak bisa melanjutkan nya saat melihat Nala yang begitu baik.


Hari sudah memasuki bulan Mei, pada minggu pertama terdengar desas desus yang membuat Nala pusing, dan minggu kedua terjadi kejadian naas yang membuat Nala sangat sangat shock!.


B**rrummm brrrummm


Dor


Dor


Dor


Sebuah mobil melaju dengan kencang sambil ditembaki oleh seseorang, mobil yang ditumpangi Alfra dan Tasha sedang dalam bahaya, Alfra sudah menghubungi markasnya dan mereka tertahan di jalan sedangkan Nala sudah mengikuti koordinat mobil Alfra dengan para bawahannya.


"Sial! bisa²nya kita kehilangan mereka!! pak Dicky lebih cepat lagi!!!," perintah Nala, pak Dicky langsung menginjak pedal gas lebih kencang tapi tetap bisa dikendalikan.


"Ini sudah maximum, nona!," seru pak Dicky di sela² deru mobil.


 ~oOo~


Di dalam mobil yang dikendarai Alfra


"Sayang, kamu bisa bidik mereka?," tanya Alfra masih sibuk dengan kendaraannya, mencoba menghindari peluru² yang mengarah ke ban mobilnya.


"Akan kuusahakan, kau harus hati²," kata Tasha lalu mengambil riffle dari jok belakang mobil dan menurunkan kaca mobil.


Tasha membidik orang tersebut.


Dor


Dor


Dor


3 orang tertembak tepat di kepala dan orang sial*n itu tetap menembaki ban mobil Alfra, Tasha meringis melihat jalur sebelah kanannya yang berupa jurang.


"Aku tak bisa menembak dengan baik karna posisiku kurang menguntungkan," kata Tasha sambil masuk ke dalam mobil kembali.


"Baiklah, tak ada cara lain," kata Alfra lalu terus²an membanting stir menghindari tembakan.

__ADS_1


"Ah! sial! yang benar saja!," umpat Alfra.


"Sebelah mobil kita jurang! kau harus hati²," tegur Tasha masih memegangi senapannya.


"Iya.. aku tau! kau juga hati² jangan sampai tertembak!," jawab Alfra pada Tasha yang sering kali melongok keluar untuk menembaki orang² itu.


Tasha terus menembaki orang² itu, Tasha termasuk sniper handal karna itu Nala bisa dengan mudah menggunakan pistol dan lainnya.


 ~oOo~


Anak buah Alfra yang dipimpin Ketiga kakak Nala sedang bertempur di markas, ada yang menuju tempat Alfra diserang dan ada yang mempertahankan beberapa tempat di bawah kekuasaan mafia milik Alfra, ini perang besar antar mafia.


Srak


Dor


Plak


Dor


Dor


Bugh


Suara gaduh pertarungan benar² sengit, entah dari mana pasukan yang menahan anak buah Alfra semakin bertambah, akhirnya kak Gusion, kak Ari dan kak Wira yang maju ke garis depan sedangkan beberapa orang yang lain meng-cover mereka.


Bahkan Nala juga dicegat oleh 200 orang! mobil yang dikendarai pak Dicky langsung berhenti mendadak, tapi orang di dalam mobil tetap tak takut.


"Kita harus turun buat ngadepin mereka, tapi sebelum itu," kata Nala menggantung lalu mengambil koper di belakang dan membukanya.


"Ini buat Mei, kamu terus mantau dan cari mobil ayahku trus kasih tau koordinat nya ke pak Dicky, yang ini buat Wendy, kalo Wendy ambil riffle dan bidik mereka dari celah di atap mobil, ini buat Lina, trus ini dan ini buat Wang sik dan Kakashi, kalian bertiga maju ke garis depan bersamaku, yang ini buat Yi Fan, kamu cover Wendy dan kami dari atas atap mobil, pak Dicky pakai ini," jelas Nala panjang kali lebar kali tinggi, lalu memberikan topeng pada mereka.


"Kita pakai ini?," tanya Wendy agak ragu.


"Ya, nona pasti ingin identitas kita tak ketauan," balas Yi Fan sambil memakai topeng nya lalu naik ke atap mobil sedangkan Wendy sudah memakai topeng nya dan melongokkan kepalanya lewat celah di atap mobil.


Nala, Wang sik, Kakashi, dan Lina maju ke garis depan tapi sebelum itu Nala berpesan pada pak Dicky.


"Tetap nyalakan mesin, saat kubilang maju maka segera tancap gas." Pak Dicky mengangguk lalu perhatian Nala beralih pada mereka semua.


"Saat aku teriak maju pada pak Dicky, maka kalian harus segera ke mobil, mengerti?," kata Nala yang langsung di setujui mereka, mereka ber empat keluar dari mobil untuk 'membasmi' orang² yang menghalangi jalan.


Banyak suara erangan kesakitan, umpatan yang mengabsen nama binatang dan banyak lagi.



Topeng Mei



Yi Fan




Wang sik



Kakashi



Lina



Nala



Pak Dicky


Nala sengaja memberikan topeng yang ada kupu²nya karna itu rencana Nala yang akan membuat geng mafia bernama The Death Butterfly (TDB) artinya kupu kupu kematian, secara... Nala suka kupu-kupu.


 ~oOo~


Alfra lagi² banting stir karna hampir saja mobilnya jatuh ke jurang.


Dor


Dor


2 tembakan itu mengenai ban depan mobil Alfra sehingga membuat mobilnya oleng lalu terguling dan jatuh ke jurang, Alfra dan Tasha meringis merasakan luka yang lumayan dalam, ralat sudah sangat parah.


Alfra mendapat luka patah tulang di beberapa bagian, belum lagi luka tusuk yang belum sepenuhnya sembuh, kepala yang bocor terkena benturan dan beberapa bagian tubuh yang terbakar.


Tasha mendapat luka bakar parah di kaki bagian kiri, beberapa rusuknya patah hampir mengenai jantung, lambungnya serasa perih dan darah bercucuran dari mulutnya.


"Kau tak apa, sayang?," tanya Alfra khawatir pada istri kesayangannya.


"Au... aku tak apa, kita harus keluar dari sini," jawab Tasha agak lemah dan menahan rasa sakit di tubuhnya.


Alfra dan Tasha bersusah payah keluar dari mobil itu, mereka tepat waktu karna setelah mereka berdua menjauh dari mobil, mobil itu meledak.


Boom!


Duarrrr!

__ADS_1


Suaranya keras sekali sampai bisa didengar ke atas, dan api membumbung tinggi.


Sayangnya orang² itu masih belum puas, mereka bahkan turun ke jurang untuk menangkap Alfra, sepertinya mereka akan menyiksa Alfra sedangkan Tasha di biarkan begitu saja.


 ~oOo~


Nala dkk masih terkepung, mereka semakin terpojok dengan jumlah musuh yang semakin banyak, akhirnya Nala harus nekat.


"MAJUUUUUU!!!!!!!!," teriak Nala lantang, musuh kebingungan dengan teriakkan Nala.


Mereka semua (di pihak Nala) langsung masuk ke mobil, semua kaca mobil di buka kecuali bagian sopir dan sebelahnya, Wendy tetap dalam posisinya, Mei mengambil beberapa senjata api dan banyak magasin dan banyak peluru tunggal, lalu Wang sik dan Kakashi berada di samping Wendy untuk melindunginya dan bersiap untuk menembaki orang² si*lan itu, Yi Fan dan Lina berada di atap mobil, sepatu mereka sudah di modifikasi jadi bisa menempel erat di atap mobil.


Sedangkan pak Dicky setelah mereka siap langsung tancap gas melindas orang² itu, Nala berlari menerobos sampai ke ujung formasi lawan, semua bawahannya menyerang musuh dengan brutal bahkan pak Dicky juga ikut menyerang dengan pistol, Nala cukup puas dengan performa mereka, tak sia sia dia mengajarkan mereka dengan begitu keras.


Nala terus berlari dan membersihkan sebagian jalan, lalu dia naik ke kap mobil yang melaju kencang itu, pak Dicky masih bisa melihat dengan jelas, segera pak Dicky melajukan mobilnya ke koordinat mobil tuannya.


"Nona!," pekik Mei dari belakang, Nala yang sebelumnya di atas kap mobil memasukkan kepalanya lewat kaca bagian kanan yang terbuka ke dalam mobil untuk bertanya.


Btw mobil mereka tuh setirnya bagian kiri, karna mobil mereka keluaran Jepang yang setirnya di sebelah kiri.


"Mobil tuan Alfra masuk ke jurang!!," pekik Mei lebih keras.


"APA?!!!!," mereka sangat kaget, pak Dicky langsung mempercepat laju mobilnya dan Nala shock di atas kap mobil, tapi Nala cepat mengendalikan diri dari rasa shocknya.


Mobil mereka telah sampai di koordinat yang di tujukan Mei, Nala langsung turun ke jurang yang ga terlalu terjal itu, ke arah mobil yang terbakar maka terlihatlah seorang wanita paruh baya yang masih cantik terkulai lemas di tanah tak jauh dari mobil yang terbakar.


"BUNDAAAAA....!!!!," teriak Nala, Nala langsung menghampiri wanita yang dia kenal sebagai bundanya itu.


"Nala..," panggil Tasha lirih, pak Dicky yang baru datang langsung membawa bunda Nala ke mobil, Nala melihat sebuah topeng.



Ini foto topengnya.


Setelah itu Lina, Yi Fan dan Nala tak mengubah posisinya dan Wendy, Mei, Kakashi dan Wang sik memberikan pertolongan pertama, lalu pak Dicky melajukan mobil ke rumah sakit terdekat.


"SUSTER!!! DOKTER!!! MANA BRANKARNYA!!! CEPAT TOLONG BUNDA SAYA!!!!," teriakan Nala menggelegar di rumah sakit itu, Nala sangat khawatir dan tak lupa dia melepas topengnya begitu pula teman²nya.


Para suster segera membawa brankar dengan tergopoh-gopoh, Tasha, bundanya Nala segera masuk ke ruang IGD lalu masuk ke ruang operasi, beberapa jam kemudian semua orang sedang menunggu di luar ruang operasi dengan khawatir bahkan semua anggota keluarga Nala sudah datang termasuk paman Daryn.


Sudah 4 jam Tasha di dalam ruang operasi, luka di tubuh Tasha perlu di jahit katanya, ketiga kakak Nala bahkan sampai mengamuk di arena pertarungan dan sekarang keadaan mereka sangat kacau.


Kakek Rescha duduk dengan begitu khawatir, oma Zelfa dan kak Ari terus²an nangis di sebelah kanan kakek, kak Wira dan paman Daryn terduduk frustasi dan bersandar di dinding dengan keadaan begitu kacau, kak Gusion berdiri di sebelah Nala dengan keadaan yang sama kacaunya dengan kak Wira, dan Nala duduk dengan lemas di sebelah kiri kakek Rescha, matanya menatap nanar keadaan di depannya dan pandangan PSYCOPATH itu kembali lagi.


Akhirnya dokter keluar dari dalam ruang operasi dan langsung di hujani berbagai pertanyaan.


"Bagaimana keadaan menantu saya, dok?," tanya oma Zelfa.


"Bagaimana keadaan bunda saya, dok??," tanya kak Wira, kak Gusion dan kak Ari bersamaan.


"Apa adik saya bisa sadar, dok?," tanya paman Daryn.


Mendengar begitu banyak pertanyaan yang ditujukan, dokter tersebut malah bingung, Nala yang di sebelah dokter memahami keadaan dokter tersebut, Nala memukul keras dinding di sebelah ruang operasi sampai hancur, membuat semua orang menatap ngeri ke arahnya kecuali keluarganya.


"Bisa pada diam? dokter nya ingin bicara tapi kalian terlalu berisik!!," tegas Nala datar lalu menatap anggota keluarga nya satu per satu, intonasi dan tatapan yang amat di takuti pun kembali keluar, kak Ari langsung merinding mendengar kata² adik ke empatnya yang dingin dan datar.


"Nyonya Nero kehilangan cukup banyak darah sehingga keadaannya menjadi koma, kami sudah melakukan yang terbaik, sekarang hanya bisa mengandalkan nyonya Nero saja, saya permisi," jelas sang dokter saat melihat adanya kesempatan berbicara.


"Terima kasih, dokter," kata kakek Rescha.


"Dokter! dokter Franky King Y!!," panggil Nala lantang yang membuat dokter yang dipanggil langsung membalikkan badan dan menatap tak percaya pada Nala saat mendengar namanya disebut.


"Ya nona? bagaimana anda tau nama saya?," tanya dokter yang sering dipanggil dokter King itu.


"Pindahkan bunda saya ke ruang perawatan VVIP, cepatlah pergi keluar, 2 menit lagi akan ada seseorang yang dibawa dengan sebuah ambulans dan luka di perut bagian lambung, lambungnya bocor karna sebuah peluru, dia tak punya banyak waktu untuk bertahan, selamatkan dia!," perintah Nala panjang kali lebar kali tinggi yang membuat semua orang ternganga.


Orang yang dimaksud Nala adalah sekretaris pribadi ayahnya yang ikut bertempur.


Bundanya Nala sudah di pindahkan ke ruang VVIP, seluruh anggota keluarga Nero menatap khawatir tubuh Tasha yang masih tak sadarkan diri.


"Kakek..," panggil Nala saat sudah berada di depan kakeknya itu dengan datar dan dingin.


"Ya, sayang?," tanya Rescha lembut.


"Ayah tak ditemukan di TKP, itu berarti ayah dibawa oleh orang² itu," jelas Nala yang membuat kakeknya tambah sedih.


"Kakek tau ini dari mana?," tanya Nala sambil memberikan topeng yang dia temukan tadi.


"Ini.. darimana kau mendapat kannya, sayang?," tanya Rescha balik tapi tak di respon Nala.


"Ini... adalah topeng dari salah satu geng mafia, WHITE FHEATER namanya," jelas Rescha.


"Kakek..., Nala ada urusan jadi harus pergi, tolong jagain bunda, ya?," tanya Nala masih dengan nada datarnya yang mulai melembut, Rescha hanya bisa mengangguk.


Lalu Nala pergi ke mobil yang tadi ia gunakan, Nala minta Mei buat cari tau dimana letak markas White Fheater, lalu menyuruh mereka semua bersiap, setelah mendapatkan informasi tentang White Fheater, Nala langsung memakai kembali topengnya dan para anak buahnya mengikuti Nala.


"Pergi ke markas White Fheater, kita cari ayah dan kalo bener mereka yang ngelakuin itu, maka...," kata² Nala yang dingin dan datar menggantung membuat anak buahnya penasaran.


"Maka kita BANTAI MEREKA!!," lanjut Nala yang langsung membuat yang lain terkejut tapi setuju dengan Nala.


Bersambung....


 ~oOo~


Benarkah White Fheater (WF) yang melakukannya?


Mari kita lihat eps selanjutnya, bye...


 

__ADS_1


__ADS_2