My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Membuat TBB dan TAC


__ADS_3

Setelah makan malam, Nala memanggil mereka bertujuh ke ruang kerjanya, saat ini mereka sudah berkumpul di ruang kerja Nala.


"Ada apa?," tanya Arya membuka pembicaraan.


~oOo~


"Gue mau ngajak kalian berbisnis dan bermain," jawab Nala.


"Maksudnya?," tanya mereka serentak.


"Kalian semua tau kan kalo gue, Leon sama Arya punya mafia?," tanya Nala.


"Tau," jawab mereka bersamaan.


"Dan kalian tertarik dengan dunia gelap bahkan mengerti," lanjut Nala, yang lain mengangguk setuju.


"Gimana kalo mafia gue, Leon sama Arya di gabungin?," tawar Nala.


"Hah?!," seru mereka bersamaan kecuali Leon, dia merenung, memikirkan sesuatu.


"Jadi gini, kalo... apa nama mafia kalian?," tanya Nala.


"Knights Lion, KL," jawab Leon tenang.


"King of Dragon, KD," jawab Arya.


"Ok, TDB kan nguasain sebagian Asia, KL nguasain benua Australia dan KD terkenal akan perdagangan gelapnya dan nguasain sebagian Eropa, kalo kita gabungin jadinya mafia gabungan itu bakal punya daerah kekuasaan TDB, KL dan KD," jelas Nala, Arya dan Leon mengernyitkan kening mereka.


"TDB ga bisa berkembang dengan baik di Eropa dan Australia begitupula KL dan KD mereka ga bisa berkembang di Asia," lanjut Nala, mereka mulai mengerti.


"Jadi, kalo ketiga mafia itu digabungin maka otomatis mafia gabungan itu udah mencangkup sebagian Asia dan Eropa dan juga benua Australia, begitu?," tebak Leon.


"Ya, bahkan kita bisa menguasai dunia, bagaimana?" kata Nala.


"Seluruh dunia gelap?," tanya Arya.


"Bukan cuma dunia gelap, kita kuasain roda bisnis dunia dan kendalikan kemiliteran," jawab Nala mantap.


"Caranya?," tanya mereka serentak.


"Gue bakal masukin Guardian ke militer, kita pake campur tangan Jendral," jawab Nala santai.


"Ya deh gue percaya, secara kan elo itu murid kesayangan Jendral," balas Lyra sinis.


"Iri dia tuh," sahut Vier.


"Memang dia iri sama gue, jadi gimana? setuju?," tanya Nala.


"Gue setuju karna mafia gabungan itu bisa benar² menguntungkan," jawab Arya.


"Cuma kalian bertiga yang diuntungkan, trus buat apa kita juga dikumpulin?," tanya Dika.


"Siapa bilang cuma kita bertiga?," tanya Nala balik.


"Trus?," tanya Dika lagi.


"Gimana, Leon? setuju ga?," tanya Nala mengacuhkan pertanyaan Dika.


"Setuju, karna kita bisa nguasain dunia," jawab Leon.


"Ok, nama mafianya adalah The Big Bos atau TBB," sahut Nala.


"Nice name," puji Arya.


"Trus kita ngapain di kumpulin juga sih?," tanya Dika ga sabaran.


"Lo yang punya DA kan, Dika?," tebak Nala, Arya dan Leon tersentak.


"Kok lo bisa tau?," tanya Dika dengan mata berbinar.


"Lo ga perlu tau, dengan keuntungan yang di peroleh DA dan pengaruh juga koneksi DA membuat DA cukup terkenal di dunia gelap, kalo DA gabung sama TBB dan nguasain tempat yang belum ada cabang DA, bukankah itu menguntungkan? kau mungkin bisa mendapatkan nya jika menjadi pendiri TBB," tawar Nala.


"Bener juga, selama ini gue susah masuk ke Australia," gumam Dika.


"Gue setuju, TBB bakal menguntungkan buat DA," jawab Dika.


"Ok, untuk Feter, lo punya bisnis kapal pesiar dengan pelelangan ilegal di dalemnya, dan lo juga nguasain sebagian perusahaan di Inggris walaupun belum sampai London karna Emperor yang gue pimpin?," tebak Nala lagi.


"Ya, perusahaan gue ga bisa masuk London karna Emperor," jawab Feter.


"Lo mau buka cabang di tempat lain dan bisnis kapal pesiar lo makin berkembang? dengan menjadi salah satu pendiri TBB?," tawar Nala.


"Ok, itu menguntungkan," jawab Feter dengan senyum simriknya.


"Sekarang TBB punya 5 pendiri, sekarang gue tawarin Vier dan Lyra buat gabung juga, walaupun bukan jadi pendiri tapi kalian bakal jadi orang yang berpengaruh di TBB, gimana?," tawar Nala.


"Kenapa mereka juga ikut?," tanya Dika.


"Gue punya rencana, Dika. Lo ga usah bacot deh!," jawab Nala ketus, Dika cemberut.


"Gimana?," tawar Nala lagi.


"Gue... setuju aja, lagian gue juga pengen main di mafia kalian itu," jawab Lyra.


"Dasar Lyra," gerutu Arya.


"Biarin lah, gue kan pengen main juga! emang cuma kalian yang boleh main?!," balas Lyra ngegaz.


"Sudahlah, bagaimana Vier? setuju ikut dengan kami?," tawar Nala.


"Ok, kayanya bisnis ini menguntungkan dan menyenangkan," kata Vier sambil tersenyum licik.


"Bagus! sekarang pendiri TBB sudah terbentuk, pembagian tugas, kalian tentukan kalo ga bisa maka gue yang nentuin," balas Nala sambil meminum minuman di gelasnya.


"Gue bakal ngurus perdagangan gelap dan ekonomi, ya... bendahara lah," sahut Arya.


"Gue ngurus perdagangan terbuka dan transportasi, sejenis sekretaris," sahut Feter.


"Gue.... gue ngapain ya?," gumam Dika.


"Gue bakal ngurus perebutan kekuasaan dan perekrutan anak buah," jawab Leon.


"Vier, Lyra, lo berdua ga nentuin kalian ngapain?," tanya Nala, Vier dan Lyra menggelengkan kepala.


"Ya udah, Vier karna lo punya koneksi di Jerman sekitarnya jadi lo ngurus cabang Jerman, Polandia dan Italia," ucap Nala pada Vier.


"Ok, no problem, gue jadi bisa nengokin abang gue," balas Vier.


"TBB masuk 3 negara itu juga?," tanya Arya tak percaya dengan rencana temannya itu.

__ADS_1


"Kan gue udah bilang kalo TBB bisa nguasain dunia! kuping dipake, gobl*k," jawab Nala ngegaz, Leon tersenyum puas mendengar detail keuntungan dan rencana cerdik Nala.


"Lyra, lo urus Filiphina karna gue denger di sana banyak mafia juga," sahut Nala.


"Okyu!," respon Lyra.


"Okyu? itu bisa jadi ciri khas TBB," balas Nala.


"Boleh juga tuh, simple, ga ribet kaya mafia lain," jawab Dika.


"Ga ada yang nanya pendapat elo, Dika," ujar Leon sarkatis.


"Ye... kamvret lu," balas Dika yang langsung disambut tawa, hilang sudah atmosfer menegangkan tadi.


"Dika, urus Greenland, kan lumayan pulau segede itu," ucap Nala.


"Wuih... gue ngurus pulau segede itu?, mantab kali lah...," seru Dika senang.


"Sudahlah, di dalam TBB, kita bakal pake julukan bukan nama, sekarang rekomendasi julukan kalian masing²," ujar Nala santai.


"Gue... Devil aja sih julukan nya," jawab Dika.


"Gue Lion aja," jawab Leon.


"Fox," jawab Feter.


"Gue Dragon, why? karna gue suka sama hewan melata," sahut Arya.


"Ihh... hewan melata, aduh... kalian mainannya ekstrem banget ya," respon Lyra sambil bergidik ngeri.


"Ekstrem tapi menyenangkan, yang penting kan kita have fun sama peliharaan kita, ya ga?," tanya Dika, yang lain mengangguk setuju.


"Kaya mainan lo ga ekstrem aja, kan lo punya serigala betina," balas Vier.


"Iya sih tapi... ah pusing gue," Lyra mengacak rambutnya frustasi.


"Pusing? minum baygon," usul Nala.


"Lo niat ngirim gue ke neraka ya?," respon Lyra datar.


"Kalo iya sih ga masalah, nih buat lo," kata Nala sambil memberikan topeng untuk Lyra.


"Wuih... keren coy," puji Lyra senang, kekesalannya sudah hilang secepat kilat.


"Itu buat lo, yang ini buat Vier, trus ini buat Dika, yang buat ini Feter, kalo Arya sama Leon ga usah ganti topeng," jelas Nala sambil memberikan topeng untuk mereka.



Topeng Vier



Lyra



Feter



Leon




Dika


Buat yang penasaran topengnya Nala, liat lagi eps 4.


"Julukan gue Phoenix, Phoenix yang terhormat," kata Nala.


"Kalo gue kan suka Werewolf jadi panggil gue nona Werewolf," sahut Lyra.


"Gue pilih Vampir, mahluk haus darah, karna gue suka terjun langsung buat bantai mafia kurang ajar," sahut Vier.


"Nice, bro," puji Nala.


"TBB juga menaungi organisasi pembunuh bayaran, ntar sekretaris/siapapun dari kita yang urus, orang terpercaya," lanjut Nala.


"Hah? seriously?," seru mereka terkejut.


"Tentu saja, namanya The Assassin Club, TAC," jelas Nala.


"Kayanya elo udah mikirin semua ini matang² ya? Nala?," tanya Vier.


"Iya, gue udah mikirin semua ini tadi pagi," jawab Nala santai.


"Hah??! tadi pagi?!!," seru mereka terkejut kecuali Leon.


"Iya, dia juga udah ngasih tau gue kok," sahut Leon yang membuat yang lain makin tercengang.


"Dan elo ga ngasih tau kita?!," tanya Dika kezel.


"Buat apa? toh detailnya gue baru tau tadi," jawab Leon santai.


✌Flashback on✌


Pagi itu jam 1 pagi, seperti biasa Nala pergi ke ruang latihan khususnya untuk berlatih, saat latihan entah kenapa Nala memikirkan Tasha (bundanya), Alfra (ayahnya), dan Angga (kakak laki²nya), tiba² Nala menangis sambil menggenggam katana karna gerakan yang Nala lakukan adalah gerakan andalan Alfra.


"Hiks... ayah... bunda... kenapa pergi begitu cepat?! hiks... kak Angga juga.. hiks... aku benci teroris² itu! hiks...," Nala jatuh terduduk sambil menangis dan menggenggam katana.


Pagi itu Leon juga terbangun tak lama setelah Nala bangun, Leon turun ke ruang latihan khusus milik Nala menggunakan tangga sedangkan Nala turun menggunakan lift, setelah pemeriksaan yang ketat, Leon sampai di depan pintu penghubung ruang latihan, dia mendengar suara isak tangis dan umpatan yang tertuju pada kata *******.


'Nala nangis?,' tanya batin Leon.


Saat Leon masuk ke dalam, dia melihat Nala nangis terisak di lantai, Leon merasa iba dan juga sedih, iba karna melihat Nala menangis dan sedih mengingat adik perempuan nya yang juga hilang di culik ketua *******.


"Nala..," panggil Leon lembut.


"Sedang apa kau di sini?," tanya Nala sambil menghapus air matanya kasar.


"Jangan sedih terus, bukan cuma kamu yang kehilangan, aku juga kehilangan adik perempuan ku, dia dibawa sama ketua ******* itu bareng yang lain, mungkin udah di jual karna itu aku buat mafia," jelas Leon lembut, dia berjongkok di sebelah Nala dan menatap Nala lembut.


"Benarkah?," tanya Nala agak tak percaya.


"Iya, jangan jadi anak cengeng, Nala yang kukenal adalah orang yang kuat dan baik," jawab Leon membuat Nala tertegun, kata² Leon mirip dengan kata² ayahnya Nala.


Nala mendongak menatap mata abu Leon, melepaskan genggamannya pada katananya dan berhambur memeluk Leon dengan tangis yang kembali pecah.

__ADS_1


"Ayah...," panggil Nala di sela tangisnya, Leon ikutan duduk di lantai.


"Ayah?," tanya Leon, dia sedang mengusap lembut rambut hitam Nala.


"Kata² mu tadi sangat... hiks... mirip dengan kata² ayah dulu... hiks...," jawab Nala sambil terisak.


"Hem... begitu, tapi aku bukan ayahmu, lihat aku sebagai Leon karna aku tak ingin di bayang bayangi ayahmu itu," jelas Leon sambil mengusap lembut pipi Nala dan tersenyum.


"Aku ga nganggep kamu sebagai ayahku kok, kamu itu Leonardo bukan Alfranando," balas Nala sambil tersenyum pada Leon, dan makin mengeratkan pelukannya.


'*Hangat... hangat sekali...,' puji batin Nala.


'Dia bener² ngegemesin, so cute. I like,' batin Leon senang*.


"Tadi kamu bilang kalo kamu bikin mafia buat nyari adik perempuan kamu ya?," tanya Nala, saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi di tempat latihan Nala.


"Iya tapi belum ketemu sampe sekarang," jawab Leon lesu.


"Maaf.... namanya siapa?," tanya Nala.


"Entahlah, tapi marganya ikut marga kakek, Wolffy," jawab Leon.


"Wolffy? itu kan keluarga yang....," gumam Nala, dia tak melanjutkan lagi ucapannya karna tak ingin membuat Leon sedih lagi.


"Iya, mereka di bantai, rumah mereka juga udah di bakar, teroris² itu yang ngelakuin," kata Leon melanjutkan ucapan Nala.


"Hm...? maaf udah bikin kamu sedih lagi," ucap Nala merasa bersalah.


"Ga masalah kok, lagian kejadian nya udah lama," balas Leon.


"Eh gimana kalo kita satuin mafia kita?," tawar Nala.


"Maksudnya?," tanya Leon.


"Maksudnya itu, kamu sama aku gabungin mafia kita trus kita kembangin mafia itu sampai bisa nguasain dunia, kan kamu jadi bisa nyari adik kamu," jawab Nala mengutarakan ide yang terlintas di kepalanya.


"Kalo menguntungkan, aku setuju aja," balas Leon.


"Aku bakal kasih tau detail keuntungan nya nanti, ok. Kamu pasti setuju," ujar Nala terlihat polos dan imut di mata Leon.


"Ok ok, mau duel?," tawar Leon sambil mengacak rambut Nala.


"Yok," jawab Nala


✌Flashback off✌


"Kalian punya hubungan selain best friend ya?," tanya Dika spontan.


"Em... ya... may be," jawab Nala.


"Anjayy...," gumam Dika.


"Udahlah, Feter ayo liat ramalan," ajak Nala.


Feter mengeluarkan 78 kartu tarot (minor arcana dan major arcana), setelah di kocok, Feter meletakkan nya di meja dengan posisi terbalik.


"Satu orang ambil satu kartu," jelas Feter, mereka menurut.


Nala mendapat kartu The Magician, Leon dapat kartu Knight of Wands, Arya dapat kartu Ace of Pentacels, Dika dapat kartu Page of Pentacels, Lyra dapat kartu Eight of Swords, Vier dapat kartu Ace of Swords dan Feter lagi² dapat kartu Two of Cups.


"The Magician, kau sudah tau jawabannya bukan?," tanya Feter.


"Ya, dan kuharap ini positif bukan kebalikannya," jawab Nala.


"Leon, Knight of Wands, fokuslah dengan tujuanmu, jangan suka berbohong dan membuat kekacauan, kau akan baik² saja," jelas Feter, Leon mengangguk mengerti.


"Arya, Ace of Pentacels, latihlah kemampuan penganggaranmu dan perhatikan anak buahmu," sambung Feter, Arya bingung.


"Maksudnya?," tanya Arya bingung.


"Perhatikan setiap anak buahmu dengan baik, hati² jika ada yang mencurigakan dan seperti akan korup, jangan beri mereka tatapan intimidasi atau sejenisnya, itu akan buruk, bersikap seperti biasa maka semua dalam kendali," jelas Nala.


"Itu yang kumaksud," sahut Feter.


"Oh..," respon Arya.


"Dika, Page of Pentacels, jangan takut untuk berkembang, manfaatkan potensimu dengan baik, dermawanlah tapi jangan berlebihan, jangan boros," jelas Feter pada Dika.


"Ok," respon Dika.


"Lyra, Eight of Swords, kau cemas TBB tak berhasil bukan? jujurlah!," ujar Feter.


"Ya, aku cemas jika ini semua tak berhasil," jawab Lyra.


"Jangan takut membuat kemajuan, jangan menyalahkan diri sendiri," balas Feter, Lyra terdiam.


"Vier, Ace of Swords, keberanian baru dan sesuatu yang baru, kau akan mendapat kejelasan, jangan egois," jelas Feter.


"Hm... akan kurubah," jawab Vier.


"Ya itu sekian ramalan hari ini, jangan terlalu bergantung pada ramalan, kalian harus berusaha," ujar Feter bijak.


"Tunggu! Two of Cups yang kau dapatkan, kau tak ingin berdiskusi?," tanya Nala.


"Bukankah itu sudah terjadi?," tanya Feter balik.


"Apa?," tanya Nala lagi.


"Bahagia berhubungan dengan rekan². Membuat rencana untuk masa depan," jawab Feter.


"Kalau memang itu jawabannya maka harus nya kau mendapat kartu lainnya," bantah Nala, Feter terdiam.


"Nala bener, lagian bukannya tadi siang waktu di kelas lo juga dapet kartu itu," sahut Dika.


"Mungkin saja maksudnya cinta," balas Leon setelah membaca arti kartu itu di buku ramalan Feter.


"Bisa jadi," sahut Lyra.


"Sudahlah, kita lanjut besok. Aku akan istirahat, selamat malam," balas Vier.


Mereka kembali ke kamar masing² termasuk Feter yang masih berperang dengan batinnya.


Bersambung....


~oOo~


Buat ramalan di atas, si Feter cuma ngasih nasehat bijak buat mereka, ga ada maksud apa²


So.. happy reading

__ADS_1


Next eps! bye..


__ADS_2