My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 86 : Eksperimen terhadap Lyra


__ADS_3

Pada malam harinya Satya dan Dean telah sampai di Indonesia, tadinya mereka mau langsung melihat keadaan Lyra, ralat Satya maksudnya. Tapi Lyra sedang istirahat dan jangan sampai ada yang mengganggunya jadilah Satya dan Dean menunggu fajar datang di kamar masing-masing.


Tok tok tok


"Masuk!."


Malam ini entah kenapa Nesya berkunjung ke kamar Satya, tak lama Vier datang dengan wajah datar lalu Vyone pun datang, hal ini membuat Satya cukup kebingungan.


"Apa yang kau ributkan dengan Lyra?," tanya Nesya, Vyone dan Vier bersamaan tanpa kontak apapun.


"Heee....?."


Vyone, Vier dan Nesya saling bertatapan. Satya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Kalian kesini buat nanyain itu?," tanya Satya yang sudah sadar kembali.


"Iya," sekali lagi Nesya, Vier dan Vyone berkata bersamaan.


"😑."


Ekspresi Satya menjadi datar. Dia pun menjelaskan apa terjadi diantara dia dan Lyra hanyalah kesalahpahaman, haruskah Author terangkan? ga usah lah ya tapi kalo mau sih tinggal comment aja:V.


"Jadi begitu..."


Lagi-lagi Nesya, Vier dan Vyone berbicara bersamaan. Mereka saling menatap lalu tertawa renyah setelah itu mereka terdiam cukup lama, lalu pamit pergi, sadarkah ada yang aneh?.


Besoknya


Mereka berdua bersama yang lainnya telah sampai di ruang rawat Lyra, saat mereka masuk. Tampak Lyra sedang duduk di atas ranjangnya dengan pandangan sayu, sebuah petir baru saja menyambar hati kecil Satya.


Rasanya begitu sakit, sakit sekali... sakit saat melihat wanita yang dia sayangi menatap sayu depannya dengan tatapan kosong. Ralat, wanita yang dia cintai.


Satya perlahan mendekat ke ranjang Lyra, sahabat-sahabatnya hanya diam, menyimak mode on.


Di genggamnya tangan Lyra membuat Lyra terkejut dan tampak bingung.


"Siapa?," tanyanya.


"Gue Dean," jawab Dean.


"Gak, tangan lo beda. Dan lo sekarang pasti ada di deket adek lo kan, Vyone. Ini siapa?," tanya Lyra membuat Dean terbungkam.


"Yohan..," bisik Satya dengan suara berbeda.


"Satya, lo pasti Satya," balas Lyra.


Semua sudah tak terkejut lagi, bagaimana pun juga Satya adalah kekasih Lyra. Masa sih dia ga tau?.


"Nama lo bukan Yohan lagi, tapi Satya," ujar Lyra membuat Satya tertunduk.


Satya menahan tangisnya, dia menggenggam erat kedua tangan Lyra.


"Ra, kita keluar dulu ya," ujar Vyone yang peka terhadap lingkungan.


"...."


Lyra tak menjawab, sahabat-sahabatnya pun keluar dari ruang rawatnya. Hening terjadi selama beberapa menit.


"Satya, mending kita udahan aja ya," ujar Lyra membuat Satya terkejut.


"Tapi kenapa?," tanya Satya.


"Aku udah ga pantes buat kamu."


"Ha? hahahaha.. kamu pikir selama ini aku cuma mandang fisik? kamu pikir setelah apa yang terjadi aku bakal ninggalin kamu?."


Lyra terdiam, hatinya menghangat.


"Ra dengerin ya, kamu udah terlanjur masuk ke kehidupan aku. Aku ga bakal lepasin kamu kecuali salah satu dari kita mati. Kalau pun kamu selingkuhin aku, cowo itu bakal berakhir tragis dan aku buat kamu ga bisa jalan seminggu. Paham?...! jadi ga usah ngomong yang aneh-aneh."


Perkataan Satya membuat Lyra merasa senang dan merinding, apalagi saat mengatakan 'aku buat kamu ga bisa jalan seminggu'. Menurut Lyra, itu ancaman paling dihindarinya. Gawat kalo sampe kejadian. Air mata Lyra lolos begitu saja membuat Satya terkejut.


"Hiks... tapi, kamu pantes dapetin yang lebih baik dari aku hiks... aku ga mau ngerepotin kamu terus, hiks.. aku.. hik..."


Sesak, itu yang dirasakan Satya. Gadis yang dia cintai menangis di depannya.


"Ngerepotin apa, hum?."


Cup


Satya menaikkan dagu Lyra lalu mengecup bibir Lyra sekilas, memeluk tubuhnya. Memberikan kehangatan fisik dan batin, menguatkan sang kekasih untuk tetap bertahan bukanlah hal yang mudah apalagi saat dia sedang sakit begini.


"Aku sudah mencintaimu ra, kita beruntung karena ga dipisahkan seperti Dean dan Vyone. Ini ujian buat aku dan kamu. Tuhan sedang menguji kita, dengan kamu yang jadi buta, akankah aku terus bertahan? itu juga yang dipikirkan sahabat-sahabat kita. Mereka ingin kita bisa melalui semua ini, aku ga pandai merangkai kata-kata. Semua ini dari lubuk hati terdalamku," jelas Satya membuat Lyra memeluk Satya balik.


Setelah puas berpelukan, Satya duduk di kursi dengan kepala di pangkuan Lyra. Lyra mengelus rambut Satya perlahan, air mata Satya diam-diam lolos, Satya menangis dalam diam tanpa diketahui Lyra. Dia tentu sedih saat tau sang kekasih mengalami kebutaan.


Disisi lain ayahnya Lyra sudah menyaksikan semua itu, dimulai dari perkataan Lyra yang meminta putus dan pengakuan Satya hingga mereka berpelukan. Tanpa sadar senyuman muncul di wajah tegas Thavant Ramosie.


Thavant pun keluar ruangan, dimana istri muda dan sahabat anaknya menunggu.


"Sayang, bagaimana?," tanya istri muda nya, Fina.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, pacarnya Lyra akan menjaganya," jawab Thavant membuat Fina merasa agak lega.


"Saya mau tanya, siapa pacarnya Lyra?," tanya Thavant.


"Satya," jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


"Nama panjang nya?," tanya Fina ikut penasaran.


"Yohannes Fasatya Georgan," jawab Dean.


"Ohh.. apa!!?."


Thavant terkejut mendengarnya. Apalagi Vyone yang sampe melompat kaget.


"Tunggu tunggu, itu berarti dia anaknya Connor Georgan dan Rossie Georgan?," tanya Thavant memastikan sedangkan Fina kebingungan, Nesya dkk hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Astaga.. lain kali aku akan bicara dengannya," gumam Thavant.


"Hari ini saja kan bisa," balas Fina.


"Ga bisa, hari ini aku ada meeting di kota Y. Kalau kau mau tinggal ya tidak apa-apa," ujar Thavant.


"Baiklah, hati-hati," balas Fina sambil mencium pipi Thavant.


"Dahh..."


Thavant pun pergi, disisi lain Fina mengajak Nesya dan yang lainnya masuk ke dalam. Jujur saja, meskipun Nesya dkk tau Fina hanyalah ibu tiri Lyra namun dimata Fina terdapat jejak ketulusan seorang ibu yang entah kenapa Lyra tidak dapat melihatnya. Bahkan Fina tidak marah Lyra memperlakukannya dengan kasar, karena pada dasarnya Fina memanglah seorang gadis polos nan lugu yang memiliki IQ tinggi, ga setinggi Nesya juga sih.


Nesya dan yang lain saling tatap sejenak lalu mengikuti Fina yang berjalan masuk ke ruang rawat Lyra. Alasan kenapa kedatangan Thavant tidak ketahui Lyra dan Satya adalah adanya sebuah tirai yang menutupi bagian ranjang Lyra dengan sofa untuk menunggu pasien, meskipun ada sofa lagi di dekat ranjang Lyra.


Saat mereka sampai, mereka dapat melihat Satya sedang meletakkan kepalanya di paha Lyra, yah.. posisi iyu dapat membuat leher dan anggota tubuh lainnya kram sih tapi tetep aja Satya tertidur disana.


"Hai ra... bagaimana? apa kau sudah beradaptasi? kuharap iya, aku berasa ingin menangis dan pingsan lagi begitu melihat mu seperti ini," ujar Vyone lesu.


"Hm? pasti Vyone ya...? dasar, sejak dulu tidak pernah berubah," balas Lyra dengan senyum kecil.


Jauh di lubuk hati Lyra, dia merasa sedih dan sakit juga rasa sesak yang luar biasa. Meskipun mata Lyra buta, dia masih bisa mendengar suara disekitarnya dengan sangat jelas.


"Lyra... kamu.. gapapa kan?," tanya Fina perlahan, Fina tau Lyra tidak menyukainya karena takut membawa pengaruh buruk bagi ayahnya –Thavant– dan keluarganya –keluarga Ramosie.


".... kenapa kau ada disini?," tanya Lyra dingin membuat Satya terusik hingga bangun dan duduk di kursi sebelah ranjang Lyra.


"Kamu kenapa yank?," tanya Satya masih setengah sadar.


"Ada ibu tirinya Lyra, Fina. Lyra ga suka sama tante Fina makanya dia berubah gitu," bisik Vier yang berada di dekat Satya.


Satya langsung terjaga sepenuhnya, dia mengedarkan pandangan dan menemukan seorang wanita yang masih tampak muda kaya ibunya. Satya menebak itu adalah Fina, dia juga bisa melihat jejak ketulusan seorang ibu.


Satya pun berdiri, dia membungkuk hormat pada Fina. Fina pun tersenyum lembut lalu menyuruh Satya bersikap biasa.


"Yank.. kenapa sih? dia ibu kamu loh," ujar Satya menenangkan Lyra kembali.


"Ibu tiri.... ku," ralat Lyra penuh penekanan membuat Fina murung.


Satya merasa ga enak sama Fina apalagi yang lain, mereka pun mencoba mengalihkan pembicaraan.


~oOo~


"Yo ra, kau sedang belajar ya? aku senang kau beradaptasi dengan cepat dan lagi kau tidak terlalu kesulitan dengan keadaan mu yang sekarang," ujar Vier merasa senang namun juga sedih.


"Iya, aku tau. Cepat atau lambat aku akan terbiasa dan sepertinya aku mulai terbiasa," balas Lyra dengan senyuman.


Sebuah fakta yang mungkin tak diketahui Lyra, selama ini Satya dan Fina tidak kembali lagi ke Filiphina ataupun Prancis, mereka tetap bersama Lyra bahkan Satya bekerja dari mansion. Hari ini Satya diharuskan mengikuti meeting penting jadi karena itu dia tidak bersama Lyra, sedangkan Fina dia pergi ke butiknya karena ada pesanan gaun pernikahan.


Fina bekerja di butik milik neneknya Nala, Zelfatie boutique. Bahkan Fina diberikan kepercayaan untuk mengelola beberapa anak cabang butik.


Tap tap tap


Saat Vier dan Lyra berbincang mereka terhenti karena Mita –Wendy– berkata jika Lyra di panggil Nesya ke ruang kerjanya di basement.


"Baiklah," ujar Lyra dia mengambil tongkatnya dan mulai berjalan perlahan.


"Akan saya bantu nona," balas Mita sopan, mode sopan dan formal on.


Lyra dibantu Mita pergi ke ruang kerja Nesya, Lyra pun duduk di sofa yang memang disediakan.


"Ada apa kau memanggil ku?," tanya Lyra bingung.


Nesya mengibaskan tangannya di depan wajah Lyra, seketika wajahnya menjadi berbinar lalu datar sedatar datarnya. Nesya bersedekap sambil menunjukkan wajah datar.


"Kau tidak bilang jika kebutaan mu itu bersifat sementara," kesal Nesya datar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Hening terjadi membuat Lyra makin mengeluarkan banyak keringat dingin di punggungnya.


"K kau.. sudah tau...?," tanya Lyra terbata.


"Jika sudah kenapa? lagipula cepat atau lambat kau akan sembuh karena saraf matamu hanya 'terganggu', dan jika kebutaanmu bersifat permanen aku akan menggunakan mu sebagai tikus percobaan temuan baruku, mau!?."


Kekesalan Nesya sudah sampai ke tingkat sulit ditahan rupanya, dia sangat kesal dan senang. Kesal karena Lyra menyembunyikan fakta ini, senang karena kebutaan Lyra hanya bersifat sementara. Seketika Lyra merinding hebat dia menunduk sedalam dalamnya, menunjukkan penyesalan dalam.


"Sebenarnya sejak seminggu aku kecelakaan dan beristirahat total, aku sudah merasakan bahwa mata kiriku perlahan kembali seperti semula, dokter King pun berkata kebutaan di mata kiri ku ini bersifat sementara namun tak memberitahu yang lain. Sebulan kemudian mata kiriku sembuh total tinggal mata kananku yang masih gelap, sepertinya benturan di kepala bagian kanan lebih parah hingga aku benar-benar mengalami kebutaan, kebutaan parsial," jelas Lyra.


Dia menggerakan mata kirinya hingga tampak sekali mata kanannya yang masih terpaku pada bagian depannya, tatapan mata kanan Lyra pun kosong. Membuat Nesya menghela napas pendek.


"Kau tau? aku meminta Lav membuat ramuan yang bisa mempercepat pemulihanmu, jadi selama ini setiap makanan, minuman kucampurkan ramuan itu. Lalu untuk obat kuselipkan ramuan itu juga, seharusnya kau berterima kasih pada Lav," ujar Nesya.


"Hah??? itu benar? ya ampun...," balasan yang didapat Nesya adalah Lyra yang menepuk pelan dahinya sendiri.


"Yah.. terserah, btw tau ga sih ada cara buat nyembuhin mata kananmu yang buta parsial itu," celetuk Nesya membuat Lyra terkejut bercampur senang.


"Benarkah!!?."


Nesya yang melihat keantusiasan dan semangat Lyra untuk sembuh merasa bersalah, dia tau kemungkinan besar alat yang dia buat akan menimbulkan kecacatan mental setidaknya 3%. Memang tidak banyak tapi itu tetaplah kecacatan mental yang mungkin bersifat permanen.


"Tapi... kemungkinan kau akan tetap mengalami kecacatan, mungkin mental tapi juga bisa fisik. Apa kau setuju?," tanya Nesya.


"Hem... apa maksudmu aku akan tetap cacat?," tanya Lyra agak murung.


"Entahlah, tapi kemungkinan kau mengalami kecacatan jika berhasil maka alatku memang berhasil, resikonya memang tinggi tapi hasilnya tidak mengecewakan," jawab Nesya.


Lyra mengernyit bingung, mata kirinya tampak sekali kebingungan. Nesya pun berdiri, mengambil kandang yang didalamnya terdapat beberapa ekor tikus hasil percobaannya.


Kali ini Lyra benar-benar terkejut, di dalamnya dia bisa melihat kecacatan dari tikus-tikus itu sendiri namun yang membuat dia sangat terkejut adalah.....


"TELEKINESIS!!!?."


Salah satu tikus itu –anggap saja tikus 1– bisa melakukan telekinesis padahal kakinya cacat. Tikus kedua bisa menghilang dari tempatnya, padahal mulutnya tampak bermasalah. Tikus ketiga tampak gila, seperti cacat mental tapi tikus 3 dapat memukul setidaknya 1 balok kayu kecil sampai hampir hancur.


"Alat apa yang kau kembangkan!?," tanya Lyra terkejut.


Tangan Lyra gemetar, bahkan tubuhnya gemetar.


"Alat itu kunamakan Wonder Stan, alat yang benar-benar imba, aku pun terkejut saat mengetahui hasilnya," jawab Nesya.


Gleg


Semakin dijelaskan semakin tubuh Lyra gemetar dan merinding, potensi yang mengerikan, pikirnya.


"Cukup cukup, aku tak kuat lagi. Kau mengerikan," ujar Lyra memotong ucapan Nesya, membuat Nesya tersenyum kecut.


Mereka pun akhirnya melakukan eksperimen itu, Lyra tau resikonya. Dia tidak ingin teman-temannya makin bersedih apalagi Satya yang makin merasa bersalah.


"Lyra, aku tidak menjamin keberhasilan 100% dan aku juga tidak menjamin adanya kecacatan," ujar Nesya memperingati.


"Aku sudah resikonya," balas Lyra.


"Baiklah, bersiaplah," peringat Nesya.


'Aku punya firasat, entah baik atau buruk tapi kurasa akan ada kekuatan besar menantimu,' batin Nesya khawatir dan dilema.


'Master, aku akan menggunakan barier khusus untuk nona Lyra, semoga ini bisa mencegah adanya kecacatan,' ujar Lav dengan telepati.


'Terima kasih Lav, sangat membantu,' balas Nesya sedikit tenang.


"Hitungan mundur, 10.... 9.... 8.... 7.... 6.... 5.... 4.... 3.... 2.... 1.... mulai!."


Mesin-mesin mulai bekerja. Entah eksperimen berhasil atau tidak.


~oOo~


Disisi lain


Vyone baru saja masuk ke bar nya, hari sudah memasuki malam hari. Mereka juga sudah makan malam, saatnya Vyone bekerja sebagai bartender di bar miliknya sendiri.


Waktu terus berjalan, semakin malam semakin ramai pula barnya. Pukul 4 pagi sudah waktunya bar ini tutup. Memang banyak orang yang sengaja datang tengah malam karena saat tengah malam Vyone dan para pegawai beraksi.


Sebagian dari mereka mempertontonkan pertunjukkan yang menarik, walaupun begitu mereka tidak menampakkan adegan vulgar ataupun yang lain, mereka mungkin berpakaian sexy tapi sebagian wanita yang menjadi bartender masih perawan –termasuk Vyone.


Setelah beberapa jam bar semakin sepi seiring waktu semakin pagi, beberapa obrolan ringan terdengar dari pegawai bar. Terdengar suara tepukan dari Vyone.


"Kerja bagus kawan-kawan, jika begini terus bar kita akan semakin terkenal," ujar Vyone dengan senyuman.


"Tentu😊."


Mereka pun bersih bersih tiba-tiba pintu masuk bar di dobrak, mereka terkejut apalagi saat todongan senjata mengarah pada mereka. Vyone mengenali wajah itu, siapa remaja pria yang menodongkan pistol ke arahnya, dia tau!!.


"Kau!."


"Hmph.. kita bertemu lagi ya, nona," ujarnya dengan seringaian.


Bersambung...

__ADS_1


~oOo~


Apa yang terjadi? siapa dia? ikuti saja terus wkwk... LIKE GUYSSS, cuma like doang loh ga pake vote tapi kalo mau vote ya gapapa hehe... ratingnya jan sampe turun dong....😢 share ke temen-temen kalian juga..!! dan ayo sempatkan menulis comment😁.


__ADS_2