My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 11 : Masa lalu mereka


__ADS_3

"Ya, selamat beraktifitas kembali," kata Nala.


"Ya, nona," sahut bi Maya lalu Nala mematikan telpon nya.


 ~oOo~


Setelah mematikan sambungan telpon pihak stasiun mengumumkan kedatangan kereta ke kota C, kota buntu karna itu Nala pilih kota C dari pada Jakarta maupun kota besar lainnya. Mereka memasuki kereta setelah kereta berhenti sempurna di peron, setelah menemukan tempat duduk mereka, Nala dkk mulai menikmati perjalanan mereka yang panjang setelah beberapa menit menunggu penumpang naik.


"Kenapa kalian tak bersama keluarga kalian masing² dan lebih memilih bekerja denganku? padahal kalau di lihat dari marga kalian, kalian golongan menengah { bahasa Jepang }," tanya Nala di dalam gerbong yang sudah berjalan pada semua anak buahnya, menggunakan bahasa asing pastinya karna Nala tak ingin orang lain mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.


.


.


Hening, suara deru mesin kereta dan percakapan penumpang lain yang terdengar.


"Saya sedang bertanya dan tak ada yang mau menjawabnya? baiklah" kata Nala menggunakan bahasa Indonesia.


"Aku... pergi dari rumah, em.. lebih tepatnya di usir { bahasa Jepang }," jelas Wendy mengejutkan semua orang.


"Kenapa? { bahasa Jepang }," tanya Nala penasaran.


"Karna... aku... menentang keras ayahku menikahi perempuan lain lebih tepatnya sih j*lang, karna ibu sudah berpisah dengan ayah dan hak asuhku jatuh ke tangan ayah padahal aku ingin bersama ibu { bahasa Jepang }," kata Wendy agak murung.


"Tak usah sedih, kami akan membantumu { bahasa Prancis }," kata Nala agak lembut untuk menenangkan Wendy, ganti bahasa karna ada orang Tiongkok yang masuk ke gerbong tempat Nala dkk duduk, cuma lewat doang ternyata.


"Lalu?," tanya Mei yang mulai penasaran dengan bahasa Indonesia.


"Ya... aku diusir, itu lebih baik daripada aku harus berada di rumah dan bersama orang laknat itu, aku tak tau apa ibu sudah mendengar kabarku yang kabur tapi... ya sudahlah { bahasa Jepang }," jelas Wendy, keadaannya sudah lebih baik.


"Good👍, lalu bagaimana kalian bertemu?," kata Nala, Wendy tersenyum mendengarnya.


"Aku pergi membawa beberapa uang jadi aku memutuskan untuk pergi keluar negeri, ke Jepang, lalu aku bertemu dengan Kakashi di gang kecil saat di Jepang, dia menolongku saat sedang di kejar anjing, dia juga membantuku belajar bela diri dan bahasa Jepang { bahasa Jepang }," jelas Wendy sambil tersenyum.


"Ooh.... pantas saja kemampuan berbahasa Jepang kak Wendy cukup lancar," gumam Mei menggunakan bahasa Indonesia.


"Wendy sudah terbuka tentang masa lalunya, giliran kalian," kata Nala bijak walaupun masih berumur 5 tahun lebih, hening beberapa saat.


"Aku... pergi bersama Mei karna tempat tinggalku sudah di kuasai berandalan mungkin juga mereka mafia, karna itulah kami kabur hingga ke Jepang dan bertemu kalian, jadi sejak saat itu aku dan Mei ikut pergi ke Prancis dan Inggris bersama mafia² itu { bahasa Prancis }," jelas Yi Fan akhirnya dengan murung, Mei juga tampak sedikit murung.


"Sungguh?," tanya Kakashi tak percaya, bahkan Kakashi saja tak tau tentang hal itu.


"Kau tak tau, Kakashi?," tanya Nala balik dengan penuh selidik.


"Saya tidak tau, nona. Saya hanya tau kisah masa lalu Wendy dan Wang sik," jelas Kakashi sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya berkenalan dengannya saja, aku maupun Mei tak memberitahukan siapa pun saat itu { bahasa Jepang }," jelas Yi Fan menjawab keraguan Nala, Nala mengangguk paham.


"Kau membenci mafia? tapi kenapa kau ikut denganku? { bahasa Jepang }," tanya Nala.


"Aku ingin menjadi kuat untuk bisa menyelamatkan yang lain, ya... salah satunya dengan ikut mafia mungkin { bahasa Jepang }," jawab Yi Fan.


"Yi Fan, Mei dan Wendy. Bagaimana? Kakashi?," tanya Nala, semua mata dan perhatian tertuju pada Kakashi.


"Ayahku seorang ninja terbaik dan terhebat di desaku, ibuku seorang yang pemberani, mereka pasangan serasi lalu menikah, punya 2 anak, aku dan adikku. Aku menjadi seorang ninja terbaik di sekolahku dulu, adikku perempuan dan dia menjadi ahli medis di sana. Aku di tuduh menguasai ninjutsu terlarang sehingga di usir padahal semua itu hanya fitnah, adikku membelaku tapi dia malah di kurung dan di siksa oleh warga, aku tak tau bagaimana kabarnya sekarang { bahasa Jepang }," jelas Kakashi murung, sedih, marah jadi satu.


"Bagaimana kalian semua bisa bertemu? ini hal yang agak rumit untukku," kata Nala kebingungan.


"Setelah aku pergi untuk mengembara dan meningkatkan kemampuanku, aku bertemu Wang sik di pelabuhan, saat itu dia baru datang dari kapal yang berlabuh, kami bertemu tak sengaja, dia bisa berbahasa inggris begitu pun diriku, karna aku murid yang belajar cepat dan bisa menguasai beberapa bahasa (Prancis, Inggris, Jepang, Indonesia). Kami akhirnya tinggal bersama { bahasa Jepang }," lanjut Kakashi panjang x lebar.


"Kalau bertemu Wendy, saat itu aku baru akan pergi melewati gang kecil, aku melihat seorang anak kecil yang sedang di serang anjing, dialah Wendy, dia ketakutan lalu aku tergerak untuk membantunya, dia tak ada tempat tinggal jadi dia tinggal bersamaku dan Wang sik, aku mengajarinya bela diri dan berbahasa Jepang { bahasa Jepang }," sambung Kakashi.


"Oh...., Wang sik?," tanya Nala, deru mesin kereta dan pemberitahuan stasius berikutnya yang terdengar.


"Sebelumnya aku tinggal di salah satu kota di korea selatan, aku anak tunggal, ibuku sudah tiada 2 tahun yang lalu, dan ayahku... sudahlah! aku pergi meninggalkan orang² laknat itu, aku menyusup masuk ke dalam kapal dan tanpa kusadari kapal itu pergi ke Jepang, di pelabuhan aku bertemu Kakashi, kami tinggal bersama lalu suatu malam Kakashi membawa anak kecil, dialah Wendy. Kami hidup bersama sampai kami memutuskan untuk ikut dengan rombongan mafia { bahasa Jepang }," jelas Wang sik panjang kali lebar.


"Ok, Pak Dicky atau Lina?," tanya Nala.


"Saya memang ingin ikut mafia, nona karna tunangan saya memutuskan pertunangan secara sepihak demi pria lain, saya frustasi dan mulai membunuh orang, saya bertemu tuan Alfra, beliau menolong saya dengan memasukkan saya ke kelompok mafia miliknya. Akhirnya saya bisa mengatasi frustasi saya dan saya mengabdi seumur hidup pada keluarga Nero. Sebelumnya saya di kirim ke Prancis untuk mengatasi beberapa masalah, kebetulan nona Nala sudah pulang { bahasa Jepang }," kata pak Dicky.


"Jadi karna itu anda tak ada di Jepang," gumam Nala.


"Di akhir tahun, keluarga tuan Alfra berlibur ke Prancis, Parisiane, di sanalah saya bertemu nona Nala, saya melihat jiwa kepemimpinan nona Nala, saya kagum dan hari itu saya membicarakan rencana saya pada tuan Alfra, beliau mengizinkan saya malah menganjurkan saya untuk mengabdi seumur hidup pada nona Nala, nona menerima saya dengan tangan terbuka. Terima kasih, nona, tanpa nona maupun tuan Alfra, saya mungkin sudah mati { bahasa Jepang }," lanjut pak Dicky, Nala dkk tercengang mendengarnya.

__ADS_1


"Karna itulah pak Dicky ikut dengan nona { bahasa Inggris }," gumam Mei, Nala terdiam sebentar.


"Lina?," tanya Nala.


"A-aku... aku di usir oleh ayahku sendiri, ibuku juga sudah tiada, em... ibuku di bunuh oleh wanita selingkuhan ayah sampai aku di usir dari rumahku sendiri, aku bertemu Yi Fan dan yang lain di bandara saat akan pergi ke Prancis { bahasa Jepang }," jelas Lina perlahan.


Suara deru kereta yang bising memekakkan telinga, mereka baru 50 menit di kereta, Nala dkk mendengarkan dengan baik penjelasan Lina.


"Aku bertemu bi Maya yang membantuku masuk ke kelompok mafia, aku sangat berterima kasih padanya, aku berkenalan dengan Yi Fan dan yang lain, lalu kami semua di beri tugas membawa flashdisk untuk nona, secara tak sengaja nona Nala menemukan flashdisk itu dan kami pikir itu hilang, jadilah kami di hukum lalu kami bertemu nona dan nona menyelamatkan kami semua { bahasa Jepang }," jelas Lina.


"Bi Maya membantumu masuk?," tanya Nala heran, Lina mengangguk.


"Kalian punya masa lalu yang cukup kelam ya," kata Nala.


"Ya itulah kehidupan, kak," kata Mei santai.


"Sudahlah, nikmati perjalanannya," kata Nala.


Mereka kembali duduk dan menikmati perjalanan kecuali Nala yang tidur saja tapi cuma 3 jam pertama selebihnya Nala ke resto di gerbong khusus untuk makan sepanjang perjalanan selanjutnya.


 ~oOo~


Beberapa jam kemudian


Saat malam hari, Nala dkk sampai di stasiun kota C, Malam itu Nala dkk langsung pulang ke mansion naik mobil yang di kendarai pak Dicky, mobil yang sengaja pihak stasiun jaga atas perintah Nala karna Nala membeli stasiun itu juga.


"Nona, anda tidak lelah?," tanya Wendy di dalam mobil.


"Aku sudah istirahat, kalian saja yang istirahat," jelas Nala sambil memainkan ponsel nya.


 Mereka sampai di mansion pukul 8 malam, malam itu anak buah Nala (mafioso dan maid) sedang makan bakso bersama gegara ada tukang bakso lewat sih trus bahan makanan belom beli jadilah makan bakso, udah gitu ga cukup cuma 1 tukang bakso nya, dipanggil dah tu temen²nya buat ngasih makan 50 orang lebih.


Tiin... tiin...


Klakson mobil yang dikendarai pak Dicky berbunyi keras, memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya, orang² yang sedang makan bakso juga kaget, segera mereka menyingkir dari jalanan dan turunlah Nala dkk dari mobil yang berhenti sejenak itu, mereka turun menggunakan topeng TDB, pak Dicky memasukkan mobilnya ke basement.


"Kenapa ramai sekali di sini?," tanya Lina datar dan dingin, jelas sekali mereka tak suka ada orang lain di mansion Night Clair, para mafioso dan maid segera berjejer dan membungkuk hormat, takut bos mereka marah.


"Ka-kami hanya makan saja, nona," jawab salah satu diantara mereka.


"B-bu Maya, se-sedang sakit, nona," jelas perwakilan dari mereka dengan gemetar, yang lain hanya tertunduk takut, tukang² bakso juga tertunduk takut mendengar kata² Nala dkk.


'Pantas saja suara bi Maya kemarin agak serak,' batin Nala.


"Yi Fan, Wendy dan Mei cek keadaan bi Maya dan bawa barang² kita," pinta Nala agak berbisik.


"Lalu?," tanya Kakashi dingin.


"Ba-bahan makanan ju-juga habis, nona," jawab yang lain terbata-bata.


.


.


Suasana mencekam meliputi semua orang di halaman mansion Night Clair kecuali Nala dkk.


"Huh... sudahlah," kata Nala setelah beberapa menit yang mencekam bagi anak buahnya, masih hening.


"Lanjutkan saja tak apa," kata Nala datar, masih hening, mereka masih takut tuk bicara.


"HEI!! SUDAH KUBILANG TAK APA YA TAK APA!! atau kalian mau unjuk kemampuan di sini?! malam ini??!," bentak Nala kesal, Lina, Kakashi dan Wang sik terkekeh kecil.


"Tidak, nona," jawab mereka agak lirih.


"APA??! KURANG TEGAS!! YA ATAU TIDAK?!!," seru Nala, dia benar² kesal.


"Tidak, nona!," jawab mereka agak keras.


"Kurang keras!!," kali ini Wang sik yang membentak, dan Nala mencoba menetralkan amarahnya yang sudah di ubun² dibantu Lina.


"Tidak!," jawab mereka lebih keras.


"KURANG KERAS!!!," bentak Wang sik makin keras.

__ADS_1


"TIDAK!!," teriak mereka semua kecuali tukang bakso.


"Bagus! kalian bisa lanjutkan tapi besok saya mau kalian tunjukkan kemampuan kalian selama saya pergi, paham?!!," kata Nala datar.


"Paham, nona. Terima kasih!," jawab mereka lalu membungkuk lagi, suasana kembali menghangat.


Nala bisa mengatur emosi nya kembali dan segera masuk ke dalam mansion di ikuti yang Lina, Wang sik dan Kakashi.


"Kalau kalian mau makan juga, silahkan," kata Nala datar saat di dalam mansion.


"Benarkah?," tanya Mei yang baru keluar dari lift bersama Wendy, Nala mengangguk.


"Di mana Yi Fan?," tanya Kakashi.


"Merawat bi Maya sebentar sama pak Dicky," jelas Wendy.


"Pak Dicky?," tanya Nala heran.


"Ngapain pak Dicky ngerawat bi Maya?," tanya Wang sik sama herannya.


"Iya tuh, jangan² pak Dicky.....," Lina tak melanjutkan kata²nya karna terpotong oleh perkataan Nala.


"Jangan berpikir yang aneh², pergilah jika kalian ingin makan bakso tapi ingat! tetap pakai topeng kalian," potong Nala, ia berlalu masuk ke dalam lift sendirian, iya... sendirian karna yang lain pergi keluar untuk makan.


Nala geleng² kepala melihat kelakuan anak buah yang sudah dia anggap keluarga sendiri, Nala naik ke lantai 3, dia masuk ke kamarnya yang luas dan bergegas mandi, tak ada kegiatan yang bisa Nala lakukan.


"Bosan," gerutu Nala setelah mandi dan berpakaian, sebagian anak buahnya masih berada di halaman.


Nala mengambil laptop, ponsel dan tabletnya, dia pergi ke ruang santai yang di balkon, di sana Nala melihat anak buahnya bermain, bersenang senang dengan sesama, para tukang bakso itu udah pergi, mereka (yang ada di halaman) hanyut dalam permainan, Nala memutuskan untuk mengawasi pasar saham (lewat tablet) dan e-mail (lewat laptop) yang masuk.


"Oma udah kangen aja nih," gumam Nala, dia tersenyum tipis melihat e-mail yang diketik oma nya.


"Permisi, nona," panggil Yi Fan dari arah pintu kaca yang terbuka.


"Ada apa, Yi Fan?," tanya Nala, Nala mendongak dari laptopnya untuk melihat Yi Fan.


"Pak Edi menelpon, nona," jawab Yi Fan sambil mendekati Nala yang sedang bersantai.


"Kapan?."


"Belum lama."


"Kenapa?."


"Entahlah, nona. Pak Edi tak memberitahukan kenapa dia menelepon."


"Berikan ponselnya," kata Nala sambil menyodorkan tangan nya.


"Ini," Yi Fan memberi ponsel khusus untuk masalah yang berkaitan dengan perusahaan, Nala menelepon pak Edi lagi.


Perlu di ketahui bahwa Yi Fan di beri 5 ponsel untuk hal² yang berkaitan dengan perusahaan, yang lainnya juga diberikan masing² 1 ponsel dan beberapa alat canggih modifikasi dari Nala.


Tuut... tuut... tuut...


"Hallo," tanya suara orang di seberang sana, pak Edi.


"Hallo, pak Edi. Sekretaris saya bilang anda menelepon saya, ada apa?," tanya Nala formal.


"Oh syukurlah nona Nala. Kita punya masalah saat ini, ada hacker yang mencoba menyerang perusahaan Emperor, nona. Kami sudah cukup kewalahan menghadapinya," kata pak Edi.


"Kirimkan alamat e-mail nya, cepat!," perintah Nala tetap datar.


"Baik, nona," jawab pak Edi, Nala mematikan sambungan telpon dan pak Edi segera mengirim alamat e-mail si hacker yang berhasil di lacak, cuma e-mailnya tapi letaknya ga berhasil di lacak.


"Ada apa, nona?," tanya Yi Fan setelah Nala mematikan sambungan telpon.


"Ada mainan baru," jawab Nala datar dengan senyum evilnya.


Bersambung.....


 ~oOo~


Apa yang akan dilakukan Nala?

__ADS_1


Next eps! bye...


 


__ADS_2