
Keesokkan paginya di mansion Night Clair
Seorang anak perempuan berusia 8 tahun sedang berolahraga sekaligus berlatih di halaman pada pukul 2.35 dini hari, dibawah cahaya lampu yang sengaja di sorot hanya untuk mengikuti gerakannya, katanya sengaja sambil menunggu para bawahannya, anak dengan kuncir kuda dan pakaian olahraga itu terlihat cantik dan imut, membuat seorang anak laki² berusia 10 tahun terpana, bagaimana tidak? kecantikannya bahkan melebihi ratu kecantikan dari negara Indonesia dan sekitarnya saat itu, juga hampir melebihi kecantikan bundanya.
"Kau cantik juga seperti itu," ujar si anak laki² tanpa sadar memuji si anak perempuan.
Anak laki² itu yang tak lain adalah Leon dan anak perempuan yang Leon puji juga tak lain adalah Nala, Nala menghentikan latihannya, dia mematikan lampu sorot itu dan menggantinya dengan lampu yang biasa dinyalakan, Leon mendekati Nala yang berdiri di tengah halaman.
"Terima kasih atas pujiannya," balas Nala dengan senyum tipis, lagi² membuat Leon terpana dan speechless.
'Leon melihatku saja sampai terpana tadi, apa aku menutupi wajahku saja ya? hm... kalau begitu aku bisa meminimalkan untuk tak terkena masalah,' batin Nala.
"Apa yang kau pikirkan?," tanya Leon menyadarkan lamunan Nala.
"Aku berpikir jika kau saja terpana, bagaimana orang lain, apa aku menutupi wajahku saja ya?," tanyanya pada dirinya sendiri.
"Kau kan sudah pakai softlens coklat, apa lagi yang mau kau tutupi tanpa menarik perhatian?," tanya Leon bingung.
"Pakai wig?," usul Nala.
"Eh jangan, sebaiknya jangan," jawab Leon.
"Kenapa?," tanya Nala bingung.
"Kalau nanti kamu jambak²an sama cewe lain ntar malah wig nya lepas, mending pakai make up aja, buat bedain warna kulitmu biar lebih gelap," jawab Leon.
"Waterproof?," tebak Nala, Leon mengangguk.
"Ahh.... tidak tidak! aku tak mau menggunakan make up sepanjang hari," jelas Nala membantah, jujur saja Nala memang agak tak suka menggunakan make up apalagi sepanjang hari.
"Lalu?," tanya Leon pasrah dengan pemikiran Nala yang sulit di tebak.
"Pakai kulit imitasi saja deh, aku pesen sekarang aja," jawab Nala pada dirinya sendiri, Nala pergi ke tempat dia meletakkan ponselnya dan Leon mengikuti nya.
Leon menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir jika Nala akan benar² mengubah penampilannya, benar² sama seperti dirinya jika sedang mendalami peran.
"Kau yakin?," tanya Leon.
"Iya, aku yakin," jawab Nala santai, dia menelpon seseorang, Leon menyimak.
Tuut... tuut...
"Hallo, nona muda keempat, ada apa anda menelpon saya pagi² begini?" tanya pria itu menggunakan bahasa Jepang formal.
"Pak, saya ingin kulit imitasi untuk wajah seukuran saya, warna kulit nya beda², dengan mata, hidung dan bibir yang berbeda juga, lalu kirimkan semua warna softlens juga, semuanya dikirim ke mansion Night Clair, jika kakek bertanya katakan saja saya sedang menginginkan mainan baru," jelas Nala menggunakan bahasa Jepang yang sama formal dan intonasi datar juga agak dingin.
"Baik, nona muda keempat { bahasa Jepang formal }," jawabnya sigap, Nala mematikan telpon.
"Sip👍," ujarnya sambil menunjukkan salah satu jempolnya ke arah Leon, Leon tersenyum puas.
Tadi Nala menghubungi orang kepercayaan kakeknya di Jepang, orang yang ahli membuat kulit imitasi bahkan Alfra, selaku ayahnya Nala, sering menggunakan keahlian pria itu untuk menyamar di setiap misi, Nala tau akan hal itu, pria yang dia hubungi bahkan langsung pergi ke tempat kerjanya dan langsung mengerjakan pesanan Nala, cetakan wajah Nala juga sudah ada di sana, kenapa? karna Nala juga pernah pakai kulit imitasi saat di Jepang.
"Lalu kamu mau apa pagi² begini ke halaman? bukankah biasanya kamu latihan di ruang latihan khusus atau di GYM pribadi," tanya Leon.
"Oh... aku mau nunjukkin sesuatu," jawab Nala, dia mengambil sesuatu dari dalam mansion.
"Lihat ini," ujar Nala setelah kembali dan menemui Leon di halaman, dia membawa sekoper berukuran sedang dan berwarna ungu-hitam.
Leon mengikuti Nala ke sebuah pohon besar, pohon yang paling besar di mansion Night Clair, pohon yang indah dan kuat, Nala duduk di bawah pohon itu dan Leon mengikutinya, perlahan Nala membuka koper itu, Leon bingung dengan apa yang di tunjukkan Nala.
"Ini kan.....," Leon bingung sekali melihat sepaket senjata dengan sarung tangan dan kuku imitasi.
__ADS_1
"He'em, ini penemuan baruku," kata Nala, dia mengambil sarung tangan dengan ukuran yang pas dengan tangannya juga tangan Leon.
"Apa fungsinya?," tanya Leon.
Nala memakainya dan menyalakan tombol di sarung tangan, tidak terjadi apa².
"Tidak terjadi apa² kok," ujar Leon sambil menautkan alisnya.
"Tangan kamu, kaya gini," suruh Nala sambil seperti mengajak tos, Leon menuruti apa yang Nala suruh dan...
Ada lampu hijau yang menyala tapi ukurannya sangat kecil, yang jika di lihat dengan mata biasa seperti tidak ada apa², tapi Leon melihatnya dan merasa aneh, Leon memang memiliki kemampuan melihat di atas rata², bahkan benda yang sangat kecil sekali pun masih bisa dia lihat, kecuali bakteri sama virus, ga mungkin Leon bisa liat bakteri+virus tanpa bantuan alat seperti mikroskop (-_-).
Setelah tos dengan Leon, Nala mengambil cetak sidik jari dan klik, sidik jari terkonfirmasi sebagai Leon bukan Nala.
"Loh... kok kaya...," ucapan Leon di potong oleh Nala.
"Kamu tau film boboiboy kan? yang dari Malaysia itu? aku terinspirasi dari alat² yang adu du buat, alat dimana kita bisa mengambil cetak sidik jari orang lain dan membuat nya seakan akan orang itu yang berbuat," jelas Nala.
"Ahh... benar juga, bukankah itu artinya kita menjebak orang itu?," tanya Leon.
"Yups! itu tujuanku, menggunakan sidik jari orang lain saat melakukan sesuatu misalnya membuka brangkas ato ngejebak orang," jawab Nala santai, dia kembali melepas sarung tangan dan meletakkan nya kembali ke dalam koper.
"Cerdas!👍, trus yang lainnya buat apa?," tanya Leon.
"Ini kukunya aku pake aja ya," jawab Nala tak mempedulikan pertanyaan Leon, Nala memakai kuku imitasi yang begitu cantik juga elegan di jari² nya, Nala menggerakkan jari²nya lalu berpikir jika katananya ada di tangannya.
Wushh...
Katana di koper itu seakan terbang dan seketika berada di genggaman Nala, Leon terkejut.
"Wow! bagaimana bisa?," tanya Leon kaget juga kagum.
Di tengah halaman, Nala kembali memikirkan semua senjata yang ada di kopernya dan....
*Wushh... wush... wush*..
Semua senjata itu seakan melayang dan menghampiri Nala dengan kecepatan di atas rata² tapi bisa menghindari halangan di depannya, Nala memprogram alat² itu supaya tak melukai orang lain saat Nala 'memanggil mereka', bahkan pisau² dengan berbagai ukuran itu melayang di sekitar Nala, Leon tercengang, Nala tersenyum dan mulai berlatih dengan semua alat² itu.
Leon benar² takjub dibuatnya, dengan kemampuan dan keahlian yang Nala miliki, belum lagi kekuatan yang jauh melebihi orang normal, dan kegeniusan otaknya yang sangat hebat.
'Sangat hebat, Natalia Lavender benar² unik dan berbeda. Pantas saja Jendral mengangkatnya menjadi murid kesayangan, padahal masih ada kak Alfie, tapi kalo dipikir pikir lagi kemampuan kak Alfie masih beda jauh dibanding Nala,' batin Leon takjub.
Nala semakin lihai memainkan alat² canggih di sekitarnya, Nala juga membuat begitu banyak alat² canggih yang dibantu Leon.
Dalam 2 minggu, TBB dan TAC menjadi sangat disegani dan dihormati, meskipun mereka tak tau seperti apa orang² di dalam 2 organisasi gelap itu, TBB menjadi mafia paling sadis, canggih, kuat dan ditakuti, sedangkan TAC menjadi organisasi pembunuh bayaran yang paling di cari orang yang
membutuhkan assassin juga paling kejam dan sadis.
TBB dan TAC menjadi buron teratas di Indonesia bahkan mereka sudah beraksi hingga seluruh Asia kecuali Jepang, Nala tak bisa berkutik menghadapi kakek kesayangan juga kakek yang paling sadis pada Nala walaupun Nala adalah cucu kesayangan keluarga Nero, kawasan mansion Night Clair juga sudah diperluas lagi.
TBB menguasai berhektar hektar tanah kosong di sekitar mansion Night Clair, Nala dibantu yang lain sudah merancang mansion Night Clair sedemikian rupa hingga memiliki fitur yang sangat³ canggih bahkan Nala memiliki laboratorium yang khusus di buat hanya untuknya, mansion Night Clair yang memang agak jauh dari pemukiman warga memudahkan aksi mereka.
Mansion Night Clair memiliki lebih dari 20 kamar di dalamnya, di sekitar mansion juga berjejer rumah² kecil yang serasi untuk para mafioso dan maid, 2 kolam renang besar terpampang jelas di bagian belakang mansion, berpuluh puluh hektar tanah sengaja di tanami buah²an dan sayuran, mansion yang memiliki fasilitas yang sangat lengkap melebihi tempat² di sekitar kawasan mansion.
Hanya dalam 2 minggu saja, semua anggota TBB sudah begitu berbakat, Nala dengan ahlinya mengasah bakat mereka, bahkan mereka bisa mendirikan usaha sendiri sehingga jika terjadi sesuatu pada TBB atau lainnya, mereka sudah mandiri dan tidak bergantung pada Nala.
"Kau masih di sini rupanya," ujar Leon pada gadis 8 tahun yang sibuk berkutat dengan berkas² di mejanya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Leon sengaja menghampiri nya di ruang kerja pribadi milik itu tentunya.
Gadis muda yang tak lain adalah Nala benar² sibuk sekarang, bulan ini, bulan September, Nala sedang berpikir jika dia harus mengecek keadaan TAC di pusatnya, tepatnya di kota B, Jabar, karna itulah saat ini pukul 11 malam Nala masih berkutat menyelesaikan berkas² di ruang kerjanya, Lina sudah kembali setelah meluaskan cabang TAC tapi Wang sik tetap di sana untuk mengurusi para assassin baru.
Lina, Wendy dan Mei yang mengurusi semua usaha Nala, baik dalam dunia gelap maupun bukan, pak Dicky dan bi Maya mengurusi para anggota TBB, Guardian mulai mengendalikan kemiliteran walaupun belum sepenuhnya, Jendral Kojhiro sudah di pindah tugaskan ke Indonesia untuk membantu Guardian mengendalikan kemiliteran.
__ADS_1
"Sudahlah Leon, jadi kau kesini mau apa? membantuku?," tanya Nala tanpa menoleh ke arah Leon.
"Lihat aku!," ujar Leon agak ketus, Nala menoleh sejenak dan terkejut.
"Kenapa kau membawa itu?," tanya Nala melihat barang yang Leon bawa, sebuah koper sedang yang di bawa Leon.
"Kau bilang mau pergi melihat TAC bukan? aku ingin ikut, lagipula keadaan di sini sudah stabil," jawab Leon santai sambil duduk di sofa abu di ruang kerja Nala.
"Haish... kau tak perlu ikut, aku sendiri saja," bantah Nala kembali fokus pada pekerjaannya.
"Walaupun kau tak mengijinkanku tapi aku akan tetap bersikeras," balas Leon dengan posisi santainya dan bermain ponsel sejenak.
Hening selama beberapa menit, suara ketikan di laptop terdengar jelas di ruangan itu, Nala fokus pada pekerjaannya dan Leon tertidur di sofa dengan posisi telentang, akhirnya pada pukul 00.12 Nala menyelesaikan pekerjaannya, dia merapihkan barang² nya di meja, memasukkan laptop dan tabletnya ke dalam tas, Nala berencana untuk pergi dini hari itu juga, dia menghampiri Leon yang tertidur.
"Leon...," panggil Nala lembut, dia berjongkok di sebelah sofa tempat Leon tertidur.
"Hem," jawab Leon dengan mata masih terpejam.
"Kamu bilang mau ikut aku ke kota B," ujar Nala lembut di telinga kanan Leon.
"Emh... sekarang?," tanya Leon dengan perlahan membuka matanya juga menguceknya perlahan, nyawanya masih belum berkumpul semua, maksudnya masih belum sadar sepenuhnya.
"Iya, jadi ikut ga? kalo kamu ga jadi ikut, aku berangkat sendiri nih," jawab Nala agak menggoda Leon.
"Hei.. tentu saja aku ikut," balas Leon sigap, matanya penuh tekad menjaga Nala, Nala tersenyum mendengarnya.
"Ayo, kita pergi," ajak Nala sambil berdiri.
"Bentar, kamu ga ngantuk?," tanya Leon heran sambil menahan tangan Nala.
"Aku cukup tidur 3 jam aja, habis itu aku ga tidur lagi," jawab Nala, dia menoleh ke arah Leon yang menatap nya lekat.
"Hem? cuma 3 jam?," gumam Leon heran.
"Sudahlah, ayo pergi, bawa barang² mu," ajak Nala, dia mengambil tas yang muat untuk laptop, tablet dan ponselnya.
"Kamu cuma bawa segitu? bajunya?," tanya Leon lagi, cerewet kan dia.
"Kan bisa beli, Leonardo. Lagian aku cuma bawa barang yang aku butuhin aja, ga usah segitunya juga kali," jawab Nala sambil terkekeh pelan.
"Ck, ok ok. Aku tinggalin bajuku di sini aja deh," gumam Leon, dia meletakkan baju²nya di almari kecil di ruang kerja Nala.
Nala hanya membawa tas yang berisi alat² yang dia perlukan, memakai jaket hitam tebal juga celana hitam yang lumayan ketat, sneakres hitam yang tak terlalu hitam, sebuah masker hitam dan topi hitam bertuliskan P berwarna merah cerah yang tak terlalu kontras di topinya, Nala juga membawa dompet kecil yang berisi beberapa kartu kredit dan sedikit uang cash.
Leon juga hanya membawa dompet, memakai pakaian yang tak jauh berbeda dengan yang Nala kenakan, hanya saja topi hitamnya bertuliskan L (latin) dengan warna putih-abu, tak lupa sneakres hitam yang serasi dengan pakaiannya.
Malam itu juga Nala dan Leon pergi ke kota B tanpa sepengetahuan anak buah mereka kecuali bi Maya dan pak Dicky, Lina, Wendy dan Mei hanya tau jika Nala dan Leon pergi mengurusi suatu hal, sebelumnya Nala dan Leon memang sudah ijin ke pihak sekolah.
Bersambung......
~oOo~
MEREKA PERGI BERDUA DOANG NIH!
PENASARAN KELANJUTAN NYA?
EH, BTW MAKASIH BUAT KAKA² YANG UDAH DUKUNG AKOH DARI KOMENTARNYA
THANKS BAT SUMPAH! BIKIN AUTHOR MAKIN SEMANGAT... BYE SEMUA...
NEXT EPS! 😘
__ADS_1