
Balap liar kali ini terlihat begitu sengit, tapi tetap saja Satya yang keluar sebagai pemenang pertama dan Dean kedua, next! perlombaan mereka ga usah di detail kan ya.
~oOo~
Disisi Arya dan Nila
Arya melajukan motor ninjanya ke sebuah tempat yang cukup jauh, ralat sangat jauh dari alun², mereka berdua saja sudah berada di perbatasan kota C, Arya menghentikan motornya di sebuah toko yang masih buka jam segitu.
Toko itu adalah toko alat tulis dan fotocopy yang lumayan bagus tapi jauh dari pusat kota, pemilik toko itu adalah kenalan Nila, dia sengaja tak menutup tokonya karna mendapat pesan dari Nila.
"Assalamualaikum, pakde, bude. Ini Nila," ujar Nila begitu masuk ke dalam toko yang lumayan besar itu.
PS : Nila zan mengikuti agama sang ibu, yaitu islam.
Arya ikut masuk, dia melihat² seisi toko itu dengan seksama, matanya tertuju pada sebuah pulpen yang bentuknya berbeda dari yang lain, pulpen dengan ujung kunci, aneh, itulah yang dipikirkan Arya, saat sedang mengamati pulpen itu terdengar lah sahutan dari dalam toko.
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, Nila toh yang dateng malem² gini. Ada apa Nila? ga biasanya kamu dateng ke toko bude, malem² lagi," sahut suara perempuan yang Arya tebak bude/kakak perempuan atau ipar orang tuanya Nila.
"Haduh bude, Nila kan udah WA bude. Nila mau nyari barang² buat tugas besok, besok harus ada karna bakal praktek langsung di sekolah," balas Nila.
"Haha.. iya², bude tau kok. Ambil aja barang yang kamu butuhin nanti bude hitung total harganya," balas bude-nya Nila.
"Ok bude," jawab Nila menyanggupi.
Sedangkan Arya memutuskan untuk mengambil pulpen tadi, dia akan menyerahkannya pada Nesya supaya bisa di teliti, Arya pun berjalan ke kasir sambil membawa pulpen tadi, wanita di balik kasir agak terkejut melihat Arya, dia pun tau Nila membawa seseorang.
"Nila, ini temen kamu?," tanya wanita itu sambil menunjuk Arya.
"Iya bude, ini Arya. Yang nganter Nila kesini," jawab Nila lalu kembali mencari benda yang ia butuhkan.
"Halo tante," sapa Arya ramah dengan senyum tipis.
"Halo juga ganteng, kamu temen atau pacarnya Nila?," tanya wanita itu menggoda.
"Bude ngomong apasih, jangan sembarangan deh," tegur Nila kesel, dia kembali meletakkan barangnya ke meja kasir lalu pergi lagi.
"Temen kok tante, tadi Arya cuman nganterin Nila doang," jawab Arya sedikit terlambat dan mempertahankan senyum tipisnya.
"Ooo... itu kamu bawa apa?," tanya wanita itu menunjuk tangan Arya.
"Oh ini tadi Arya nemu pulpen ini di rak sebelah sana, Arya mau beli pulpen ini, kira² harganya berapa ya tante?," jawab Arya diakhiri pertanyaan.
"Itu buat kamu aja, gratis kok, oh iya."
"Itu sebenernya pulpen sekaligus kunci diarynya Nila, dulu diary itu ada 2, yang satu sama temennya Nila yang ilang dan satu lagi sama Nila, jaga baik baik² ya," jelas wanita itu berbisik membuat Arya paham.
"Ya tante, makasih infonya," balas Arya berbisik pula membuat perempuan paruh baya itu tersenyum senang.
"Lagi pada ngomong in apa nih?," tanya Nila yang tiba² datang.
"Engga ada, cuma ngobrol² dikit," jawab Arya, dia memasukkan pulpen tadi ke sakunya.
"Ooo... bude, ini yang mau Nila beli. Harganya berapa ya?," ujar Nila diakhiri pertanyaan.
"Oh.. ini bla bla bla."
Terjadi perbincangan singkat diantara mereka, Arya dan Nila pun pergi dari toko itu, Arya berencana mengantarkan Nila ke rumahnya tapi....
Mereka dihadang segerombolan orang dengan motor yang kaya anak geng motor lah intinya hehe😁, Arya berdecak sebal dan Nila merasa sedikit takut.
"Turun lo!," perintah salah satu dari mereka.
Arya dan Nila pun turun dari motor tanpa melepas helm, Arya menatap datar lalat² itu, malas, itulah kata yang ada di benak Arya.
"Serahin semua barang² dan motor lo berdua ke kita, dan cewe itu jadi milik kita. Habis itu lo boleh pergi tanpa luka," ujar salah satu diantara mereka.
"Ogah," balas Arya datar membuat para lalat itu naik pitam.
"Kalian! serang cowo itu!," perintah si pemimpin.
"La, lo menjauh dikit dari sini, nanti lo kena imbasnya," bisik Arya yang langsung diangguki Nila.
Arya maju 3 langkah ke depan lalu para lalat tadi mengelilingi nya berniat membunuh, tapi sayang yang akan dibunuh bukan Arya tapi mereka sendiri😏.
"Hahahaha.... lo ga bakal bisa kabur baj*ngan tengik, dan cewe cantik itu bakal jadi milik gue," seru si pemimpin dengan tatapan penuh nafsu ke Nila.
Langsung saja lalat yang berjumlah 9 lalat (kok lalat? maksudnya human tapi lemah😏) menyerang Arya, Arya memasang senyum smirk dan kuda².
Bugh
Bugh
Duk
Arghh
Plak
Krak
Bugh
__ADS_1
Suara gaduh pertarungan terdengar nyaring di telinga Arya, Arya sendiri masih berdiri tanpa lecet dan Nila mengamati dari samping motor, bukan takut melainkan Nila tau Arya bisa menyelesaikan nya sendiri.
"Sudah? haish... lemah sekali kalian ini," gerutu Arya membuat si pemimpin geng itu gemetar.
"S siapa lo sebenarnya?," tanya si pemimpin gemetar.
"Eum... malaikat pencabut nyawa untuk kalian," jawab Arya lalu melesat dengan memakai 10% kekuatannya ke si pemimpin.
Kecepatan nya memang hanya 10% kecepatan yang dia miliki tapi itu sudah termasuk cepat, sangat cepat.
'Cepat sekali gerakan Arya, hebat. Sangat hebat,' batin Nila kagum.
Brugh
Pria yang seperti pemimpin tadi pingsan karna pukulan di perut dan wajah nya, Arya berdecak malas lalu melihat ke arah motornya, di sana Nila sedang menatap Arya sembari bersender ke motor ninja milik Arya.
"Udah?," tanya Nila.
"Bisa lihat sendiri kan?," tanya Arya balik.
Nila mengangguk, Arya berjongkok pada salah satu 'lalat' yang masih sadar.
"Nama gue Arya Hanson, siswa kelas 8E di B'B internasional junior high school. Kalo mau balas dendam, dateng aja kesana," ujar Arya membuat 'lalat' tadi mengangguk cepat, Arya pun berdiri dan menghampiri Nila.
"Ngapain ngasih tau identitas?," tanya Nila bingung.
"Biar enak kalo balas dendam jadi ga usah uber² bocah ga bersalah," jawab Arya.
"Ooo...," respon Nila.
"Yok pergi, ga guna ngurusin mereka lagi," ajak Arya.
Mereka pun pergi dari tempat itu, salah satu dari lalat yang tersisa menelpon seseorang yang ditaksir sebagai bos mereka.
"📱Bos, kita babak belur," ujarnya.
"📱Apa?!! bagaimana bisa?! siapa yang melakukannya?!," tanya sang bos terkejut.
"📱Seorang siswa bernama Arya Hanson, kelas 8E, siswa dari B'B internasional junior high school," jawab lalat tadi.
"📱Arya Hanson? siswa dari B'B internasional junior high school?," tanya sang bos.
"📱Ya, bos," jawabnya.
"📱Saya akan kirim orang kesana, tunggulah," perintah nya lalu mematikan telpon sepihak.
"Kau mencari lawan yang salah Arya Hanson," gumam sang bos di dalam markas.
~oOo~
Mansion Night Clair
Pukul 01.45 pagi
Arya sudah mengantar Nila ke rumahnya dan kini dia berada di dalam ruang tamu mansion Night Clair, baru saja dia pulang dikejutkan dengan banyaknya human yang tertidur di sofa ruang tengah.
"😑," respon Arya.
"Mereka ini ada² saja," gumam Arya.
"Mereka kecapean abis di uber² polisi pas BaLi," balas Dean yang masih idup, eh salah masih sadar maksudnya😁.
"Ck, untung gue ga ikutan kalo kaga masuk penjara dah gue," balas Arya sambil duduk di sofa yang kosong.
"Trus lo sendiri ga tidur?," tanya Arya.
"Ga, gue dah puas tidur," jawab Dean acuh.
"Oo... kasian loh mereka, ga lo bawa aja ke kamar?," tanya Arya.
"Berat paok," jawab Dean.
"Iye sih masuk akal," balas Arya lalu melepaskan jaketnya.
Dia hampir melupakan benda yang dia ambil tadi, btw waktu dia abis nganter Nila ke rumahnya, Arya nemu sebuah buku diary, tapi sayang diarynya terkunci.
'Ada yang ga beres, seolah olah ini semua sudah di rencanakan,' batin Arya mengamati 2 benda tadi.
"Lo beli gituan?," tanya Dean, dia menatap Arya aneh.
"Bukan beli tapi nemu," jawab Arya.
"Oo.. lu kan holkay, ngapain mungut kaya gituan?," tanya Dean lagi.
"Ada yang aneh dari 2 benda ini," jawab Arya tanpa mengalihkan perhatiannya.
"He'em, Arya. Lu liat bercak darah itu?," tanya Dean yang mengamati diary tadi.
Arya membolak balik diary tadi dan akhirnya dia melihat bercak darah di tulisan 'My Diary', buku yang memiliki warna merah itu, Arya pun baru sadar jika buku diary itu di penuhi darah.
"Kita selidikin dulu ini darah siapa, eh gue baru sadar buku ini di penuhin darah," jawab Arya.
__ADS_1
"Ha? masa sih, coba sini," pinta Dean.
Arya pun memberikan buku itu pada Dean, Dean mengamati diary itu lebih cermat, dia baru sadar jika buku diary itu memang dipenuhi darah.
"Astaga... gue baru nyadar," gumam Dean lalu memberikan buku tadi kepada Arya kembali.
Kenapa mereka berdua baru sadar? buku diary warna merah itu jika dilihat dari jauh seperti buku diary warna merah darah, yah.. karna itu memang darah sih, tapi saat kalian perhatikan lebih dekat, bau amis agak tercium dan tekstur bagian luarnya agak kasar, sama seperti darah apabila terkena benda yang bisa menyerap darah seperti kain.
"Trus gimana?," tanya Dean.
"Gue simpen aja, ntar biar Nesya yang selidikin lagian besok masih sekolah, walaupun jamkos sih," jawab Arya sambil berdiri.
"Yaudah," balas Dean.
"Eh btw, lo mau ikut ga? masih ada 3 kamar lagi sih di lantai 3, atau lo mau kamar di lantai 2? di lantai 1 juga ada kamar kosong, kamar tamu," tawar Arya.
"Gue mending di lantai 2 aja lah yang nyaman ketimbang di lantai 3 tapi brisik," jawab Dean sambil berdiri, juga.
"Hem... paham ko paham, biasanya emang mereka pada lupa nyalain peredam suara jadinya brisik deh, gue minta Ty aja ya buat nunjukin kamar lo," balas Arya maklum.
"Ty?," tanya Dean bingung.
"Oh.. itu kaya sejenis android tapi cuma di computer, Ty yang biasanya ngurus tamu² yang masuk ke mansion Night Clair, Ty juga sering bantuin divisi IT," jawab Arya sambil berjalan beriringan dengan Dean.
"Ooo....," respon Dean.
Mereka pun masuk ke dalam lift, sebelum lift tertutup sempurna, seorang wanita maid tiba² terefleksikan dengan hologram, Arya tak terkejut sedangkan Dean sedikit tersentak, sebelumnya Arya menekan tombol untuk membuat sosok Ty ini muncul, walau berupa hologram saja.
"Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya bantu?," tanya Ty dengan wajah datar tapi suaranya terdengar ramah dan seperti manusia.
"Begini Ty, Dean ingin sebuah kamar di lantai 2 yang nyaman, apakah kau bisa menunjukkan nya?," tanya Arya balik.
"Ya tuan, di lantai 2 ada 79 kamar dengan kamar mandi di masing² kamar, dan 1 kamar ekslusif untuk tuan jendral Kojhiro Hyugai. Tuan Dean ingin kamar seperti apa? kamar minimalis? kamar yang luas? kamar yang glamor? kamar yang menenangkan? kamar seperti alam? kamar yang indah?," tawar Ty, disaat Ty menawarkan lift pun berjalan naik secara perlahan.
"Kamar minimalis yang nyaman," jawab Dean.
"Baiklah, tuan Dean silahkan pilih letak kamar anda," balas Ty.
Di bagian layar muncullah letak kamar dengan nomor masing², Dean memilih kamar yang berada di ujung, Dean berharap kamar itu memiliki kaca yang besar.
Ting
Lift pun sampai di lantai 2 tepat setelah Dean memilih letak kamar, Ty kembali berbicara.
"Kamar no 56 menjadi milik tuan Dean, catat. Selamat menikmati tuan Dean," ujar Ty lalu refleksinya menghilang.
"Gue pergi dulu ya bro, bye," ujar Dean lalu melangkah keluar lift sambil melambaikan tangannya tanpa berbalik.
Lift pun kembali bergerak naik membawa Arya ke kamarnya, beberapa saat kemudian lift sampai di lantai 3, Arya melangkah ke kamarnya dan menyimpan buku diary beserta pulpen sekaligus kunci di tempat aman.
Setelah itu Arya tertidur, kalian nanya Wira dimana? pulang ke mansion sebentar trus dia langsung pergi lagi ke Australia, biasalah kerjaan.
~oOo~
Keesokkan paginya
Pukul 06.00 pagi
Semua sudah berkumpul di meja makan, btw Nesya dkk dah bangun dan badan mereka pada pegel².
SKIP selesai makan, ke sekolah
Berhubung mereka jamkos dan ekskul seni lagi ada pertemuan jadi kelas lumayan ribut, ok ralat mereka ribut kaya pasar.
Yang cowo² karna jumlahnya cuma ada 10 pada kumpul diluar kelas sambil genjringan (gitaran tapi gitarnya yg kecil, pahamlah), kecuali Dean yang tidur di kelas, ciwi² pada asyik gibah tapi ada juga yang tidur, ada yang baca buku, novel tapi.
Trus Nesya dkk pada canda²an, mereka jadi bosen karna ga ada topik lagi buat ngobrol, jadilah mereka keluar itung² cari angin.
"Satya...," panggil Lyra manja.
"Paan?," tanya Satya sambil memberikan gitar kecilnya pada Arkan.
"Bosen," jawab Lyra cemberut sambil memeluk Satya.
"Acieee.... pacaran ni ye, PJ nya mana nih," goda Fendi.
"Siapa yang pacaran?," tanya Satya dan Lyra bersamaan.
"Lah terus? hubungan kalian?," tanya Bagas bingung.
"TTM," jawab Nesya, Vier dan Vyone bersamaan.
"Oo... eh salah dong harusnya STM, Sahabat Tapi Mesra," balas Rayen menggoda.
Bla bla bla, mereka pun ngobrol sebentar lalu kembali masuk ke kelas karna ada guru yang dateng, tak lama setelah guru datang Nesya merasa firasat buruk, beberapa menit kemudian firasat Nesya benar.
Bersambung....
~oOo~
Hayooo... firasat apa ya?? Author sedih deh banyak yang baca tapi likenya dikit apalagi votenya hiks... sebenarnya cerita ini bagus ga sih?😢 kalo bisa sih likenya ampe 100 lah, nanti Author crazy up again☺, bye~
__ADS_1
Ini permintaan Author, kalo ga mau sih gapapa, Author ga maksa☺.