My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Ngadu dan hukuman


__ADS_3

Tiba² Leon menghentikan langkahnya dan memojokkan Nala ke dinding belakang nya, Nala kaget tapi kakinya di kunci.


~oOo~


"Kamu kenapa sih? kata Lyra kamu cemburu tapi masa iya cemburu sama Doni," ujar Nala setelah terpojok.


"Iya, aku cemburu. Puas?," balas Leon kesal.


Nala menatap Leon bingung, dia ingin bertanya lagi tapi sebelum Nala bertanya dia sudah dibungkam dengan ciuman Leon, Nala kaget dan memberontak tapi malah membuat ciuman Leon makin menjadi jadi.


Akhirnya Nala hanya bisa pasrah dan membalas ciuman Leon dengan perlahan, tanpa mereka sadari seseorang mengamati mereka sejak awal, ya! orang itu adalah Cleo, kakak dari Leon.


'Astaga... aku harus memberitahu ayah tentang ini,' batin Cleo saat melihat apa yang Nala dan Leon lakukan.


Cleo merekam kejadian itu dengan ponselnya lalu segera pergi dari sana meninggalkan Leon dan Nala, Cleo menemui ayahnya yang berada di ruang baca kakek Nala, dia berpapasan dengan kedua kakak Nala, eh ralat ketiga kakak Nala, Gusion juga datang walau mengendap endap.


"Cleo?," tanya Wira saat berpapasan dengan Cleo di depan pintu.


"Kak Cleo ngapain disini?," tanya Ari yang baru sadar.


"Mau nemuin ayah, tadi maid bilang ayah di ruang baca kakek Rescha," jawab Cleo.


"Kalian?," tanya Cleo.


"Kita mau ketemu kakek," jawab Wira santai.


Mereka pun masuk ke dalam ruang baca dan terlihat jika Rescha dan Arga sedang bicara serius.


"Ayah.."


"Kakek.."


Panggil mereka bersamaan.


"Ada apa?," tanya Arga tanpa menoleh.


"Ayah, ini tentang Leon," jawab Cleo.


"Lalu kalian?," tanya Rescha pada Wira dan Ari.


"Ini tentang Nala, kek," jawab Wira, Rescha dan Arga menoleh lalu mempersilahkan mereka duduk.


"Kenapa dengan mereka berdua?," tanya Rescha setelah mereka duduk.


"Mereka punya hubungan spesial." jawab Wira, Ari dan Cleo bersamaan.


"Ha??? kalian juga mau lapor ini?," tanya Cleo bingung.


"Iya, kok kakak juga mau lapor ini?," tanya Ari balik.


"Cukup! Gusion, kau mau lapor tentang Nala dan Leon juga?," tebak Rescha tanpa menoleh.


Ari dan Wira mengedarkan pandangan ke sekeliling, Cleo memasang wajah bingung, lalu Gusion muncul di sisi lain ruangan, mengagetkan Cleo, Wira dan Ari.


"Kalian punya bukti?," tanya Arga sambil memijit pelan pelipisnya.


"Tentu ada," jawab mereka ber-empat bersamaan.


Ari dan Wira mengeluarkan foto Nala dan Leon yang diambil Dika dkk, Cleo mengeluarkan video yang tadi dia rekam, Gusion ternyata diam² mengambil foto Nala dan Leon saat membantu pemulihan Nala, mereka ber-empat mengeluarkan semua bukti yang mereka dapatkan.


Arga dan Rescha mengamati satu per satu bukti lalu memijit pelipis masing², pusing, bingung, kesel.


"Astaga... jadi mereka benar² berc1uman?," tanya Arga.


"Iya," jawab mereka ber-empat kompak.


"Lalu kami harus bagaimana lagi, kek?," tanya Gusion.


"Kalian ber-empat kembali ke kamar masing² termasuk Gusion, jangan ada yang berani menguping, paham?," ujar Rescha dengan sedikit aura menekan.


Mereka pun pergi meninggalkan Rescha dan Arga di ruang baca, Arga merilekskan tubuhnya dan melihat Rescha.


"Bagaimana?," tanya Arga.


~oOo~


Back to Nala and Leon


Mereka berc1uman sampai kehabisan napas, Leon melepas ciuman mereka dan membiarkan Nala yang terengah-engah karna ciuman itu, Nala menatap Leon kesal, dan Leon hanya menatap Nala tanpa rasa bersalah.


"Apa sih yang sebenarnya kamu mau?,' tanya Nala ketus.


"Hanya memperingatimu saja, jangan diulangi lagi," jawab Leon lalu pergi ke kamarnya begitu saja.


Nala merasa sangat kesal dan langsung masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk.


SKIP pagi, makan dan mandi


Saat ini semua sedang berkumpul di ruang tengah yang begitu luas, semuanya termasuk ke3 kakak Nala, kakek dan oma Nala juga ada.


"Ekhem.. Nala dan Leon ikut kami ke ruang baca," perintah Arga.


Mereka mematuhi perintah Arga dan segera pergi ke ruang baca, mereka di suruh duduk dan di tunjukkan bukti yang semalam Cleo, Ari, Wira dan Gusion serahkan, Nala dan Leon kaget bukan main ngeliat bukti² itu.


'Sial*n! kakak² kesayangan ku, liat aja nanti😡😈,' batin Nala kesal.


'Kak CLEOOOOO.....!!!!!! awas kau kak, kalo bukan kakakku sudah kubunuh kau, liat aja nanti😈,' kesal batin Leon.


"Jadi?," tanya Nala pura² tenang.


"Lupa dengan perjanjian kita?," tanya Rescha balik.


'Oh shit! hampir aja gue lupa! sial*n bat, hari yang buruk!,' batin Nala.

__ADS_1


"Saya tidak lupa," jawab Nala formal, kalo dia kesal sama kakeknya kadang pake bahasa formal atau kadang pake bahasa kasar.


"Leon juga ga lupa 'kan, sama perjanjian kita?," tanya Arga.


'Sial! ngapain di ungkit lagi sih, perjanjian sial*n itu!,' batin Leon makin kesal.


"Tentu saja saya tidak lupa," bicara sambil nahan amarah tapi nada bicaranya tenang.


Nala melirik Leon dan melihat tangan Leon terkepal keras, Nala menggenggam dan mengelus tangan Leon yang terkepal dengan ibu jarinya guna menenangkan nya, Arga dan Rescha jelas melihat itu tapi mereka tetap bersikap tegas.


"Leon, apa maksud kamu nyium Nala tadi malem?," tanya Arga dengan suara berat menusuk.


"Cuma peringatin Nala doang kok," jawab Leon jujur, Nala meremas tangan Leon kesal dan tak di hiraukan oleh Leon.


'Si Leon kenapa malah jujur sih?! dasar Leonardo susah di ajak kompromi,' batin Nala kesal.


"Memangnya kesalahan apa yang dibuat Nala?," tanya Rescha, Leon terdiam sejenak.


"Masalah sepele," jawab Nala.


"Sepele?," tanya Arga meremehkan.


"Mau sampai kapan kalian menguping?," tanya Rescha ke arah orang² di depan pintu.


Orang² di depan pintu ya jelas orang² kepo yang tadi ada di ruang tengah, mereka masuk ke dalam ruang baca dan memenuhi sofa, membuat Nala terdesak sampai ke arah Leon, Nala berdiri dan membiarkan orang² itu duduk.


"Nala duduk," perintah Rescha.


"Di..."


"Kakek ga mau tau," potong Rescha.


Nala mendengus kesal, Leon menarik Nala hingga duduk di pangkuannya, Nala masih saja kesal pada Rescha, Leon menyandarkan punggung nya di sofa.


"Cie ileee... udah pangku²an aja nih, ntar nyosor loh," sindir Dika yang langsung dibuahi aura membunuh milik Nala.


Gleg


Dika hanya bisa menelan salivanya begitu merasakan aura membunuh Nala.


"Hentikan! Leon, kau sudah melanggar perjanjian kita, maka kau harus di hukum," ujar Arga final.


"Saya tidak melanggar perjanjian itu, ingat! perjanjian itu hanya berisi jika saya tidak boleh berpacaran dan berhubungan badan, saya dan Nala tidak melakukan hal yang melanggar perjanjian itu," balas Leon tanpa rasa bersalah, Nala dan yang lain menatap Leon lekat.


Leon menatap tajam mata ayahnya sendiri, membuktikan jika dia benar dan tidak bersalah, Rescha hanya menyimak pertempuran antara ayah dan anak itu.


"Anda ingin buktinya? silahkan tanyakan Nala," ujar Leon tanpa rasa takut.


"Nala, dia tidak melakukan hal buruk padamu bukan?," tanya Arga melembut pada Nala tapi masih ada jejak ketegasan dalam suaranya, Nala menoleh ke arah Arga dan menjawab.


"Saya tidak diperlakukan buruk oleh putra anda, tuan Adijaya. Justru dia beberapa kali membantu saya dan menyelamatkan nyawa saya, jika tak ada dia yang membantu saya saat saya jatuh ke sungai maka saya tidak akan berada disini," jawab Nala dengan kesungguhan di suaranya, Leon menatap Nala dengan senang karna sudah membelanya.


"Jadi kau membelanya, heh?," tanya Rescha sinis.


"Ya, saya membelanya karna memang Leon tidak melakukan apa pun pada saya," jawab Nala tanpa rasa takut, teman²nya sudah berada dalam mode menyimak sejak awal mereka masuk.


'Aduh, mamp*s gue. Gak gue itungin sih, gobl*k lu eon!,' batin Leon mengutuk diri sendiri.


Nala terlihat berpikir keras.


'Di sungai waktu itu, di kamar waktu pemulihan 4 kali, semalem...,' batin Nala berpikir cepat.


"Seharusnya anda sudah tau jika Leon tidak sengaja mengambil first kiss saya karna CPR, anda sudah tau bukan," ujar Nala santai.


"Dan untuk berapa kali... sekitar 6 kali kalo ga salah," ceplos Nala mengagetkan orang².


"6 kali, itu sudah termasuk banyak loh," ejek Rescha dengan senyum kemenangan.


"Oh, belum karna harusnya lebih dari 10 kali atau melakukan hubungan badan, benar?," balas Nala licik, Leon tersenyum licik mendengarnya.


"Kalau begitu coba kau cium Leon sekali lagi," tantang Rescha, Arga dan yang lain menatap Rescha tak mengerti.


"Maksudnya?," kini Ari yang buka suara.


"Kalau kalian berani berciuman di depan kami, maka hukuman kalian akan Di ringankan," jelas Rescha.


"WHAT?!! hukuman?!!," seru Nala dan Leon bersamaan.


"Tentu saja kalian akan dapat hukuman karna sudah.... hah, turuti saja kata² kami," jawab Arga pasrah disertai senyum liciknya.


"Tapi ingat! Nala yang mencium Leon bukan Leon yang mencium Nala," tegur Rescha, Nala dan Leon saling tatap.


"Masa? kali ini anda tidak bercanda bukan, rubah licik?," tanya Nala dengan bahasa kasar.


"Huh... iya," jawab Rescha seperti sudah biasa dengan panggilan itu.


Cup


Tanpa basa basi lagi, Nala mencium bibir Leon dan mel*matnya, semua orang kaget dan menganga kecuali Arga dan Rescha, Leon membalas ciuman Nala dan dalam sekejap ciuman itu menjadi lebih panas, mereka hanyut dalam ciuman mereka tanpa mempedulikan belasan pasang mata yang menatap mereka seperti hanya mereka berdua saja di dalam ruangan besar itu.


Sampai beberapa menit, mereka mulai kehabisan napas dan melepaskan ciuman mereka, setelah saling tatap dan mengatur napas selama beberapa detik, mereka memfokuskan perhatian kembali pada Arga dan Rescha.


"Bagaimana?," tanya Nala dengan senyuman.


"Bagus, justru kalian membuktikan bahwa kalian memang melakukan itu," jawab Rescha dengan senyum licik.


"Yup, sekarang bagaimana kalian akan melawan?," tanya Arga disertai senyum licik juga.


"Hei, Rubah tua. Kau sudah memikirkan hal ini bukan?," tanya Nala dengan nada datar dan dingin.


"Ayah juga mendukung supaya kami dapat hukuman bukan?," tanya Leon dengan nada yang lebih datar dan dingin dari biasanya.


Seketika semua orang merasa hawa dingin yang begitu menusuk mengundang mereka untuk segera pergi dari ruangan itu atau pergi ke alam baka dalam usia muda, tinggallah Nala, Leon, Arga dan Rescha di ruangan itu.

__ADS_1


"....."


Hening menyelimuti tempat itu, tatapan dingin yang begitu menusuk mampu membuat beberapa bagian ruangan membeku.


"Kau mau membekukan ruangan ini?," tanya Arga tenang.


"Kalau perlu saya akan membekukan anda juga," jawab Leon datar.


"Silahkan jika kau bisa melakukan nya," tantang Arga.


Leon benar² membuat ruangan itu membeku, untung saja pintu keluar dibuka jadi mereka tak benar² terjebak di ruangan itu, Nala tak menghentikan Leon membekukan ruangan itu dia malah menatap dingin + datar kakeknya sendiri.


"Apa yang sebenarnya anda inginkan, rubah tua licik?," tanya Nala datar dan dingin sambil menatap datar kakeknya.


"Tidak ada, nak," jawab Rescha tenang.


Nala berdiri dari duduknya, Leon menatap Nala bingung, Nala malah pergi ke sisi lain ruangan, ke arah jendela besar, dengan sekali lambaian tangan, Nala membuka pintu menuju dimensi lain, seketika wajah Rescha berubah masam.


"Anda ingin saya pergi lagi sebagai hukuman? maka saya akan menuruti kemauan anda," ujar Nala tanpa ekspresi.


"Nala. Duduk.," balas Rescha penuh penekanan sambil mengeluarkan aura membunuh yang kuat dan pekat.


"....." tak ada yang merespon termasuk Nala.


Nala tak bergeming, Leon dan ayahnya hanya menyimak, karena kesal akhirnya Rescha mengangkat tangan kanannya lalu...


Boom!


Pintu dimensi itu tertutup secara paksa membuat Nala terpental hingga membentur bagian atas pintu keluar, Nala jatuh tersungkur, Leon kaget dan entah kenapa malah menatap tajam ayahnya, Arga menatap Leon datar seolah olah ini bukan bagian dari rencana mereka, memang bukan bagian rencana sih.


"Uhuk....," Nala memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.


"Apa yang sebenarnya anda inginkan, rubah tua?," tanya Nala kesal sambil berdiri tegak.


"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?," tanya Leon.


"Jika kalian ingin kami mendapat hukuman, saya bisa melakukan hukuman yang kalian berikan, tapi saya memang tidak bersalah dalam hal ini," sambung Leon.


"Hei, rubah tua licik. Jika anda ingin saya melakukan hukuman di ruang siksaan, saya akan melakukannya," balas Nala tanpa ekspresi tapi terdengar jelas jika dia mengolok kakeknya, Rescha dan Arga hanya diam.


"Dan apa yang ingin anda lakukan? tuan Adijaya," tanya Leon menahan rasa kesalnya.


"Anda ingin saya melakukan hukuman atau.. ingin saya mengaku jika saya salah karna sudah melanggar perjanjian itu?," sambungnya.


"Saya bisa, sangat bisa melakukan hukuman yang anda berikan tapi jika anda ingin saya mengakui kesalahan saya, saya tidak akan mengaku karna saya memang tidak bersalah," lanjut Leon.


Plak


Entah apa yang membuat Arga marah hingga dia menampar keras pipi Leon, Leon hanya menatap datar, darah segar mengalir dari bibir Leon yang pecah.


"Jaga etikamu," tegur Arga.


Leon tetap dalam posisinya saat di tampar, dia malah menatap Nala yang berdiri tegak dengan tatapan kosong.


"Saya tidak merasa melanggar etika, tuan Adijaya," balas Leon datar sambil menatap kosong ke arah depan.


'Leonardo, kau baik² saja bukan?,' tanya Nala menggunakan telepati yang hanya dapat di dengar Leon.


'Ya.. begitulah, hati² jangan terlalu lama melamun nanti kesambet setan,' balas Leon bercanda menggunakan telepati juga tapi mimik wajahnya tidak berubah sama seperti Nala.


'Leonardo, setelah pertemuan ini, kau ke kamarku, biar aku obatin dulu lukamu itu,' balas Nala tetap menggunakan telepati.


'Hm... terserah,' balas Leon, pakai telepati juga oi.


"Oh ya? kau mau kutampar lagi sampai mengaku salah?," tanya Arga mengejek.


"Silahkan," jawab Leon dingin dan datar.


Plak


Plak


Plak


3 tamparan dari Arga dan Rescha berhasil membuat wajah Leon memar dan mengeluarkan darah cukup banyak.


"Hei rubah tua licik, kenapa ikut menampar juga? kau tidak punya hak untuk menampar Leon," tegur Nala dengan nada ejekan.


Rescha mengangkat tangannya dan melakukan gerakan mencekik sampai membawanya terbang ke atas, Nala merasa lehernya tercekik dan terasa sakit, dia juga merasa kesulitan bernapas.


"Kau yang tak punya hak ikut campur," balas Rescha dingin.


Nala memberontak dan mencoba bernapas, napasnya terengah-engah, dia benar² kesulitan bernapas, darah segar kembali mengalir dari leher Nala, Nala merasakan tekanan dari kakeknya.


'Serigala, spirit kakek yang bisa membuatku seperti ini,' batin Nala begitu melihat spirit serigala milik Rescha.


Nala tau jika Rescha pernah masuk ke dalam dunia persilatan dan menjadi expert di sana, dengan spirit serigala legendaris milik Rescha membuatnya cukup ditakuti di dimensi itu.


Brugh..


Nala di jatuhkan begitu saja oleh Rescha, Nala mengatur napasnya kembali, setelah itu dia kembali berdiri, darah masih mengalir dari leher putihnya.


Bersambung....


~oOo~


Hai readers sekalian, ayo comment biar Author tau kalian maunya crazy up or up kaya biasa.


Sorry kalo jelek


Em... author mau nanya juga nih, biasanya yang baca² novel/komik/anime di noveltoon/mangatoon itu rata² umurnya berapa taun? trus kalo yang buat novel kok bisa bagus banget gitu sih caranya gimana?


Itu novel²nya emang asli dari kisah hidup seseorang ya?

__ADS_1


Sorry kalo banyak nanya


Next eps guys!


__ADS_2