My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 88 : Misteri diary merah (sebenernya biru)


__ADS_3

Mansion Night Clair


Pukul 08.30 pagi


Seorang pria di temukan babak belur di lantai ruang tengah mansion Night Clair, namanya Devano Samuel, dikabarkan dia dipukuli seorang pria bernama Deandra Juna Fav karena telah menculik adik dari tuan Dean yang tak lain adalah Vyone Lynn Fav. Ets! napa jadi horor gini? seketika ni novel berubah genre jadi horor-misteri gitu? yang ada detektifnya sekalian😒.


Okh, sekarang Dean sedang di tenangkan Vyone. Setelah tenang Vyone dan Dev menceritakan apa yang terjadi tentu saja Dev mendapatkan pukulan dari Dean lagi.


"Kalo lo ngelakuin itu lagi, lo bakal masuk ke UGD, mau!?," ancam Dean dengan mata berapi api.


"M maaff...."


Lalu Dev dan Vyone juga menceritakan tentang Vanila, Vanila Zhan, kenapa Zhan? entah juga, mungkin karena dulu orang tuanya pedagang sukses dari China, cuman namanya kek diganti gitu.


Saat itu pula Arya dan Dean teringat tentang buku diary berdarah beberapa tahun lalu, mereka dengan kompak menepuk dahi mereka.


"G0blok banget yah gue," gumam Arya.


"Lah tu tau kalo lu g0blok," balas Dika santai.


"Sialan lu ka," kesal Arya.


Arya pun pergi ke kamarnya, hening. Mereka sibuk main ponsel masing-masing.


"ONEE-CHAN!!!."


Mereka dikejutkan sebuah teriakan memanggil kakak perempuan dalam bahasa Jepang. Ternyata Haris, bocah 9 tahun itu masih tampak menggemaskan. Haris langsung memeluk Nesya dengan gembiranya.


"Wah wah ini dia commander kecil kita," ujar Vyone dengan wajah gembiranya.


"Hah? commander? bercanda ya!?," Dev terkejut bukan main.


"Oh hallo kak, aku denger semuanya lho. Mau tanding?," ujar Haris dengan wajah ramah namun mengerikan.


Seketika Dev terbungkam, dia berpikir. Apa dia salah masuk kandang? Dev merasa di sekelilingnya banyak sekali expert hebat diluar nalar, dia sudah merasakannya bahkan dari orang terlemah sekalipun.


Walaupun jumlah orang di TBB saat ini berkurang drastis karena pada cari perkerjaan lain tapi mereka tetep jadi informan TBB dan secara gak langsung mereka juga membantu mempromosikan barang-barang yang dibuat TBB.


Beberapa hari lagi barulah mereka mencari anggota baru, Nesya ingin mereka masih segar baik mental dan fisik. Ini bertujuan agar memudahkan mereka tapi ada juga orang-orang yang memiliki kecacatan fisik, mereka berbakat karena itulah Nesya merekrutnya.


Oh iya, Lyra saat ini sedang istirahat total di kamarnya. Dia menguji peralatan VR milik Vlyraft coorporation, dia menyesuaikan diri dengan tubuh barunya bahkan matanya yang sebelumnya berbeda bisa kembali berwarna coklat dengan normal.


Back to story


Arya pun menghampiri teman-temannya. Dia tampak membawa sebuah buku diary berwarna merah darah. Arya memberikan buku itu pada Nesya lalu menjelaskan.


Nesya pun penasaran, dia langsung membawanya ke lab untuk di teliti. Setelah berselang beberapa menit Dev ijin pulang ke markas mafianya untuk istirahat. Sisanya karena merasa boring mereka pergi cari angin kecuali Satya yang mengkhawatirkan Lyra.


Kini mereka berada di alun-alun kota, menghabiskan waktu. Mereka berpencar ke tempat-tempat tertentu lalu sepakat kembali ke alun-alun kota setelah makan malam.


"Huaaa.... ini darah milik Fitras, pria seumuran Nila. Katanya sih ini sahabat kecil nya Nila tapi.... datanya tiba-tiba hilang? cuma ditemuin di Dark web? siapa nih yang ngunci identitasnya?," gumam Nesya ga jelas di depan komputer.


Dia mengambil pulpen yang juga dibawa Arya, mengamatinya dengan seksama. Nesya langsung terpikir sebuah ide, bagaimana jika ada sesuatu di pulpen ini, dia membongkar pulpen itu dan... menemukan sebuah kunci buku diary yang di tempelkan ke sela-sela, entah kenapa bisa masuk kesana. Bingung.


Nesya membuka diary itu dengan hati-hati, pake sarung tangan juga. Di dalamnya ada tulisan tangan seseorang.


~Fitras Yunanda~


Jelas sekali jika laki-laki bernama Fitras ini gemar menulis, tulisannya bisa dikatakan cukup bagus. Nesya pun tercengang saat membacanya 1 demi 1, ini diary sejak Fitras berusia 11 tahun.


'Dear diary


Namaku Fitras Yunanda, seorang laki-laki yang gemar menulis. Buku diary warna biru muda ini kudapatkan dari teman ku, dia gadis cantik yang memikat siapapun, aku tau aku menyukainya tapi apa aku bisa? semoga iya. Hei kau tau? buku ini pemberian nya, Vanila Zhan itulah namanya tapi dia mengganti sedikit namanya menjadi Nila zan... bla bla bla.'


Fitras menulis hal-hal kurang penting bagi Nesya, dia membolak balik buku itu.


'3 Juni 20XX


Hari ini aku dan Nila pergi berjalan jalan bersama, namun aku dan dia hampir mati karena sekelompok orang tak dikenal mengejar ngejar Nila. Kami berlari dan berhasil lolos, huh.. syukurlah tapi Nila tampak trauma dengan kejadian itu..... bla bla bla.... wah udah larut, dah diaryku. Good night'


"Hah?."


Nesya terkejut membacanya, dia kembali membalik buku itu. 5 Juni, 10 Juni, 14 Juni, 20 Juni.


'20 Juni 20XX


Diary, hari ini aku senang sekali. Besok adalah ultahku, aku dan Nila sepakat akan pergi bersama untuk ke sekian kalinya. Huaaa doakan aku ya semoga lancar hehe.... bla bla bla...'


Nesya kembali membuka halaman berikutnya, dia dikejutkan dengan halaman buku penuh darah dan tulisan amburadul. Bahkan halaman selanjutnya kosong.

__ADS_1


'21 Juni 20XX


Diary, hari ini sama sekali ga asyik, orang-orang asing itu mengejar ngejar kami. Ini mungkin terakhir kalinya aku


M


E


N


U


L


I


S'


Tulisan 'MENULIS' di tulis dengan darah, Nesya mencoba mencari lainnya tapi ga berhasil. Hanya ada sebuah kata-kata di halaman paling belakang.


'Fitras Yunanda dan Vanila Zhan


Sahabat selamanya'


Nesya langsung beranggapan bahwa Fitras sudah dibunuh. Besok dia akan ke pemakaman saja untuk mencari tau.


Oh waktu sudah menunjukkan makan malam, saatnya makan. Nesya meminta robotnya untuk menyimpan buku diary itu dengan baik.


Setelah makan malam


Mereka berkumpul di alun-alun kota C, saat asyik berbincang mereka melihat sekelompok penyanyi jalanan, ikut tertarik akhirnya mereka ikut bernyanyi.


Sudah bernyanyi beberapa lagu, kini Vier ambil giliran, dia mengambil gitar juga.


Jrengg


Permainan gitar Vier dimulai, dia bernyanyi juga.


"I, I know where to lay


I know want to say


It's all the same


I know this game


It's all the same


Now if I keep my eyes closed he looks just like you


But he'll never stay, they never do


Now if I keep my eyes closed he feels just like you


But you've been replaced


I'm face to face, with someone new~


Would've gave it all for you, cared for you


So tell me where I went wrong


Would've gave it all for you, cared for you


(My lover, my liar)


Would've trade it all for you, there for you


So tell me how to move on


Would've trade it all for you, there for you


(My lover....)


Now if I keep my eyes closed he looks just like you


But he'll never stay, they never do


Now if I keep my eyes closed he feels just like you

__ADS_1


But you've been replaced


I'm face to face, with someone new~


(Chorus)


They don't realize I'm thinking about you


It's nothing new, it's nothing new


Now if I keep my eyes closed he looks just like you


But he'll never stay, they never do


Now if I keep my eyes closed he feels just like you


But you've been replaced


I am face to face, with someone new....."


Suara tepukan tangan terdengar jelas, Vier begitu menghayati sampai hampir nangis, uwohhh suaranya bagus... Author iri😍.


Vier pun kembali ke teman-temannya, dia memeluk Vyone lalu menangis. Hal ini membuat teman-temannya yang lain terkejut.


"Lo pasti keinget Lyra kan? tenang aja dia, udah baikkan kok," bisik Vyone lembut.


"Tapi.. hiks.. gue.. gue tetep ngerasa bersalah Vy.. hik..."


Kali ini Vier yang menangis di pelukan Vyone, dia merasa bersalah atas kecelakaan Lyra.


Drrt... drrt


"📱Ya, hallo..?."


"📱Pulang sekarang, ada yang harus gue omongin."


"📱E eh ta–."


"📱Gue ga peduli, buruan pulang. Se-ka-rang!."


"📱Iya iya, kita pulang."


"📱Hm bye!."


"📱Bye...."


Entah apa yang terjadi, Vyone mendapat telepon dari Nesya. Pasti penting, mereka langsung bergegas kembali ke mansion Night Clair. Tanpa ada yang sadar, Dev ga keliatan lagi.


Besoknya Nala pergi ke kuburan/makam, sama aja sih. Dia mencari di seluruh makam, atas nama Fitras Yunanda. Dapat memang tapi....


"😑."


"Yang bener aja sih..."


"Neng, ini makam yang namanya Fitras."


Petugas makam itu menunjukkan sebuah makam dengan nama Fitras saja dan mateknya pun tahun 19XX. Bang kalo kaga salah itu lagi perang dunia 2 ga sih? beda se-abad bang hadeh...


"Pak, saya mencari makam atau seseorang yang bernama Fitras Yunanda, kalo ga salah sih beliau meninggal tanggal 21 Juni."


"Maaf neng, abang kaga tau lagi dah."


"Ya udah deh bang, makasih ya. Maaf ngerepotin."


Nesya langsung pergi dari tempat makam, dia kini memiliki kesimpulan lain. Dugaan bahwa Fitras masih hidup dan bersembunyi semakin kuat saat White menghubunginya.


"📱Aku tau kenapa seseorang yang bernama Fitras Yunanda itu menghilang dan datanya berada di Darkweb."


"📱Kenapa?."


"📱Gue dan Lisa baru saja menemukan fakta bahwa si Fitras Fitras itu dulunya diangkat menjadi anak bos mafia Thunder, dari yang gue dapet sih. Trus dia di kirim sama elu sama Leon juga ke Prancis jadilah dia diangkat sama sebuah keluarga kecil. Trus gue nemuin fakta juga kalo dia jadi bos mafia."


"📱What!? seriously!?."


"📱Kaga usah gitu jugak mujaedah. Woy White, ambil alih!. Yo nes, gue baru aja dapet namanya. Kalo ga salah namanya ~~ ~~."


Perkataan Lisa membuat Nesya membeku, jika bukan karena klakson dari pak Dicky, dia bakal ngelamun di deket kuburan sampe kesambet kalo perlu. Nesya yang sudah tersadar segera masuk ke dalam mobil, menyuruh pak Dicky ke hotel xx.


Bersambung....

__ADS_1


~oOo~


Maap.... buat kali ini eps nya pendek, lagi buntu huhu😥. Happy 101 day before up, bener kagak? hehe...


__ADS_2