My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 10 : Mulai menggantikan ayah dan bunda


__ADS_3

"Kenapa kakek memanggilku kemari?," tanya Nala setelah melepas pelukannya.


~oOo~


"Kakek ingin menunjukkan sesuatu padamu, Nala," jawab Rescha.


"Apa itu kakek?," tanya Nala penasaran.


"Kau ikut dengan kakek ya," jawab Rescha, dia menggandeng Nala keluar mansion.


Rescha dan Nala pergi menggunakan mobil ke hutan, hutan milik keluarga Nero, hanya Nala dan Rescha yang masuk ke hutan lebat itu, setelah beberapa lama, mereka sampai di sebuah gua yang sebelahnya di aliri sungai yang indah.


"Kenapa kita kesini, kek?," tanya Nala heran.


"Dengarkan baik²," jelas Rescha.


Mereka menajamkan indra pendengaran masing² sampai mereka mendengar suara auman singa dan kicauan burung.


"Singa? dan burung?," gumam Nala, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling nya.


Tak lama ada beberapa ekor singa dan burung yang mendekati Nala dan Rescha, singa dewasa yang besar, burung Phoenix merah dewasa juga burung biru muda dewasa.


"Nala, ini adalah peliharaan kakek juga sahabat kakek," jelas Rescha, Nala memandang takjub ke hewan² itu.


"Hai, Nala," sapa sebuah suara, Nala menoleh dan mendapati kakak keduanya memanggilnya, di belakangnya ada kakak pertama juga ketiganya.


"Kak Gu? dan... seekor merpati juga gagak?," kata Nala heran.


"Mulai sekarang, kedua hewan ini adalah peliharaan juga sahabat kakak, merpati ini namanya Marie, betina dan gagak ini namanya Gerie, jantan," jelas Gusion tentang 2 ekor burung di pundaknya.


"Kak Ari? dan kak Wira?," tanya Nala.


"Ini Afa, kelinci kesayangan kakak, betina kok," jelas Ari sambil mengelus kelinci kesayangannya.


"Dan ini Wels, jantan," jelas Wira tentang serigala kecil yang dia gendong.


"Wah....," gumam Nala makin takjub.


"Sekarang, giliranmu yang memilih, Nala," sahut Rescha, tangan kanannya menunjuk ke arah 3 hewan di depannya.


3 anak hewan itu mendekati Nala, anak singa yang imut dan baru beberapa hari, dan 2 anak burung yang baru bisa terbang, 3 hewan itu bermain dengan Nala.


"Imutnya...," puji Nala, Rescha duduk di dekat ibu singa dan mengelusnya, di dekatnya juga ada ibu kedua burung itu.


"Sepertinya mereka bertiga menyukaimu, Yue," kata Gusion, yang sudah duduk di salah satu dahan pohon.


"Berikan mereka nama, Nala," sahut Ari sambil bermain dengan Afa.


"Hm...," pikir Nala, anak singa itu bisa berlari dengan cepat bagaikan seekor cheetah, anak burung phoenix bisa berkicau dan kicauannya merdu, sedangkan burung biru muda bisa terbang cukup jauh dan baik.


"Bagaimana?," tanya Wira penasaran.


"Karna anak singa ini cepat maka ku namai Blazt, dan phoenix ini, Bell, kalo si biru... Bing dari kata Bingo, panggilan untuk mereka bertiga, three B," kata Nala.


"Nama yang bagus👍," puji mereka berempat kecuali Nala dengan mengacungkan jempol mereka.


"Ok, jadi... sekarang mereka milikku?," tanya Nala.


"Tentu, induk mereka juga setuju," jawab Rescha.


"Jadi sekarang aku punya teman lagi, senangnya," kata Nala senang.


"Hm... ayo kita kembali, kalian pasti lelah," ajak Rescha.


"AYO!," jawab Ari bersemangat.


Mereka kembali ke mansion, induk hewan² itu tetap di dalam hutan, dan anak² nya ikut di bawa ke mansion, mulai hari itu Nala sangat menyayangi three B.


"Kakek, aku harus kembali ke Indonesia dan mungkin aku akan lost contact untuk sementara waktu dengan kakek maupun yang lain," kata Nala saat makan malam, 2 hari setelah Nala memiliki three B.


"Kenapa harus lost contact?," protes oma Zelfa.


"Supaya Nala bisa lebih fokus, oma," jelas Nala.


"Nala benar, aku juga akan lost contact untuk beberapa tahun ke depan," sahut Gusion.


"Jadi kakak juga akan lost contact dengan kami?," tanya Ari.


"Iya," jawab Gusion mantap.


"Terserah kalian, tapi kalian harus mematuhi kakek saat suatu hari nanti kakek memanggil kalian," jelas kakek Rescha.


"Tapi....."


"Biarkan saja, biarkan mereka belajar mandiri," potong Rescha cepat, oma memasang muka cemberut tanda tak setuju.


"Kapan kalian akan pergi?," tanya Rescha memecah keheningan.


"Besok pagi? akan ku usahakan besok pagi," jawab Nala.


"Secepat itu?," protes oma Zelfa.


"Lebih cepat lebih baik, oma. Lagi pula Nala ingin mengecek perusahaan ayah dan bunda di Indonesia," jelas Nala santai.

__ADS_1


"Ok, dan kalian juga akan bersekolah di sana kan? kalau begitu bawalah surat² yang kalian perlukan," kata kakek Rescha.


"Baik, kek," jawab mereka serentak lalu melanjutkan makan makanan yang di hidangkan.


 ~oOo~


Esok paginya, pukul 9 pagi seusai latihan.


Nala dkk sudah bersiap untuk pergi.


"Jam berapa pesawat kita berangkat?," tanya Nala pada Wendy.


"Pukul 10 pagi ini, nona," jawab Wendy formal.


"Ok, persiapkan diri kalian untuk pergi," pinta Nala.


"Baik, nona," jawab anak buah Nala serentak.


Pukul 10 pagi jet pribadi Nala telah take off dari salah satu bandara terbesar di Tokyo, jet pribadi itu membawa rombongan Nala juga mobil² sport milik Nala, beberapa jam kemudian Nala dkk sampai di Indonesia, mereka langsung pergi ke hotel berbintang yang Nala beli, mereka tinggal di lantai khusus milik Nala sendiri, setelah beristirahat, Nala, Lina dan Wang sik ikut dengan Nala untuk mengecek keadaan perusahaan Emperor group (punya Alfra) dan LV company (punya Tasha) yang bercabang di Indonesia.


Nala, Wang sik dan Lina di antar menggunakan mobil khusus hotel, Nala segera memasuki perusahaan milik ayahnya dengan pakai topeng pastinya (topeng yang lain, bukan topeng leader TDB), Nala dkk tak di sambut hangat bahkan di tahan oleh security di lobi sampai membuat Nala harus menghubungi sekretaris penanggung jawab di perusahaan ayah nya.


"Lina, panggil sekretaris penanggung jawab cabang Indonesia, katakan padanya jika putri presdir menunggu di lobi," perintah Nala sambil meminum teh hijaunya di sofa lobi, Lina dan Wang sik juga di paksa duduk.


"Baik, nona," jawab Lina lalu menghubungi sekretaris penanggung jawab.


Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dengan pakaian formal keluar dari lift dan segera mendekati Nala dkk.


"Good morning, young lady," sapa pria itu sambil membungkuk sopan, terlihat dari wajahnya, dia agak tegang saat bertemu dengan Nala.


"Morning, apa anda sekretaris penanggung jawab di perusahaan ini?," tanya Lina menggunakan bahasa Indonesia lancar.


"Benar, anda bisa memanggil saya Edi," jawabnya dengan sopan sambil tetap berdiri.


"Nona saya ingin mengetahui secara langsung perkembangan perusahaan ini juga laporan 5 tahun terakhir," pinta Lina formal dan tenang.


"Baik, mari ikuti saya ke ruangan presdir," kata pak Edi lalu berbalik ke arah lift.


Nala dkk mengikutinya ke ruangan presdir, di lantai 20, Nala dkk memasuki ruangan bertuliskan PRESDIR ROOM, di sana cukup nyaman dan luas dengan sebuah kaca besar yang menghadap langsung ke luar.


"Silahkan menunggu di sini, nona muda. Saya akan mengambil catatannya," kata pak Edi lalu segera pergi meninggalkan Nala dkk di ruangan itu.


Nala diam dalam beberapa saat sambil memandangi pemandangan kota Jakarta dari lantai 50, langit kota yang penuh dengan polusi.


"Parahnya polusi di kota ini," keluh Nala.


"Jakarta memang kota sibuk, nona," jawab Wang sik.


"Saya akan buatkan teh, nona," kata Wang sik.


"Thank's," jawab Nala, pandangan matanya tetap fokus ke luar jendela.


Wang sik pergi keluar ruangan untuk membuat teh, Lina duduk di sofa panjang dan Nala beranjak duduk di kursi kebesaran ayahnya, tak terasa sudah 3 bulan ayah dan bundanya tiada, Nala memperhatikan sekelilingnya dan mendapati sebuah bingkai foto kecil di laci paling atas, foto yang terdapat seluruh keluarganya bahkan masih ada kak Angga di sana, diam² Nala tersenyum dan Lina melihatnya ikutan tersenyum walau tipis.


Tok tok tok


Pintu di ketuk perlahan.


"Masuk," kata Lina.


Pak Edi masuk dengan beberapa berkas di tangannya, di belakang nya ada Wang sik yang membawa minuman.


"Ini berkas yang anda minta, nona," kata pak Edi.


"Thank's, pak Edi, anda bisa pergi dan katakan pada seluruh karyawan bahwa saya, Natalia Lavender, putri presdir Alfra akan mengambil alih perusahaan ini, mulai hari ini," jelas Nala.


"Baik, nona. Akan saya sampaikan," kata pak Edi, membungkuk lalu pergi keluar.


"Nona akan mengambil alih perusahaan ini?," tanya Wang sik sambil memberikan secangkir teh pada Nala.


"Ya, tak ada ayah maka aku harus mulai mengurus perusahaan ini," jawab Nala serius, Wang sik mengangguk maklum.


"Kau ikuti dia, kirimkan sebuah video saat dia memberitahukan tentang diriku pada karyawan yang lain," perintah Nala.


"Baik, nona," jawab Wang sik setelah meletakan teko dan 3 cangkir yang dia bawa.


Wang sik berlalu pergi keluar ruangan sambil membawa baki, dia mengikuti pak Edi ke aula, pak Edi sedang mengumpulkan seluruh karyawan di perusahaan ini, Wang sik mem-video pak Edi yang sedang mengumumkan hal itu ke karyawan nya, ada beberapa karyawan tak percaya jika Nala bisa memimpin perusahaan.


Setelah selesai Wang sik ikut bubar saat para karyawan bubar, dia segera pergi ke ruang presdir, di ruang presdir, Nala dan Lina sedang melihat perkembangan perusahaan ini selama 5 tahun terakhir. Mereka agak kaget mendengar pintu di buka dan Wang sik masuk ke ruangan.


"Bagaimana?," tanya Nala sambil meminum kembali teh nya.


"Anda bisa melihat sendiri," jawab Wang sik lalu memberikan ponselnya pada Nala.


Wang sik kembali duduk di sofa panjang tempat Lina duduk, Wang sik meminum teh dan mengamati raut wajah Lina dan Nala yang berubah serius, sangat serius. Nala paham kenapa sebagian besar karyawan di perusahaan itu tak percaya dengan kemampuan Nala.


"Nona, sepertinya kita harus membuat kesepakatan dengan presdir perusahaan lain, untuk membuat perusahaan ini semakin maju," usul Lina.


"Hmm.... kau benar, Lina. Sebaiknya kau mengatur jadwal meeting kali ini," kata Nala.


"Baik, nona. Tapi meetingnya dilakukan besok saja karna nona juga masih harus mengecek LV company group," ujar Lina.


"Ya sudah, katakan pada Yi Fan untuk menghubungi perusahaan² yang akan kita ajak kerja sama, dan Wendy atau Mei sepertinya bisa membuat berkas yang kita butuhkan untuk kerja sama. Setelah berkas itu selesai di buat maka segera kirimkan padaku," perintah Nala panjang kali lebar.

__ADS_1


"Aku akan menghubungi mereka, bagaimana dengan video itu, nona?," kata Wang sik.


"Dari pada kau tidak ada pekerjaan, bagaimana kalau kau mencari berkas tentang semua karyawan kantor ini," usul Nala.


"Em... ide yang bagus juga, dari pada aku menjamur di sini," gumam Wang sik.


"Ya sudah sana, shoo shoo. Pergi dan patuhi perintah nona," kata Lina mengusir.


"Lah, kok ngusir? Eta saha?," protes Wang sik.


"Eta saha eta saha, baru blajar bahasa Sunda aja dah Bac*d kao! ," seru Lina tak mau kalah.


"Sudahlah! kenapa kalian harus cek cok di sini! sudah sudah!," seru Nala menengahi.


"Maaf, nona," kata Lina dan Wang sik bersamaan sambil membungkuk.


"Sudahlah, kembali bekerja. Usahakan hari ini kita bisa mengunjungi LV company group," kata Nala.


"Baiklah," jawab Lina dan Wang sik serentak.


Mereka bertiga kembali bekerja, Wang sik sibuk mencari info sedetail detailnya tentang semua karyawan, dari segi penelusurannya dan segi perusahaan, Lina dan Nala sibuk mengamati perkembangan dan laporan 5 tahun terakhir.


"Lina, kita pergi ke LV company group setelah makan siang," kata Nala.


"Kita tidak makan siang dulu? setidaknya nona makan dulu," sahut Wang sik dari pintu.


"Kalian saja yang makan, aku masih belum lapar," jawab Nala.


Lina dan Wang sik tau betapa kompetennya Nala, mereka menyerah memaksa Nala, seperti perintah Nala, saat jam makan siang mereka bergegas pergi. Di sepanjang jalan menuju lobi mereka di tatap dengan tatapan aneh dan segan, ya sudahlah namanya juga human.


Mereka kembali ke hotel untuk sekedar makan siang kecuali Nala karna dia lebih memilih mengawasi pasar saham daripada makan siang, setelah makan siang, Nala, Lina dan Wang sik kembali pergi ke LV company group, sedangkan yang lain, mematuhi perintah Nala. Di LV company group, Nala dkk langsung di antar ke PRESDIR ROOM, mengingat pak Edi yang sudah memberitahu kedatangan Nala dkk ke sekretaris di perusahaan itu.


"Ini semua berkas yang di inginkan nona, juga berkas seluruh karyawan di perusahaan ini," kata bu Mira, sekretaris di cabang Indonesia, ia memberikan cukup banyak berkas pada Nala.


"Terima kasih, bu. Anda bisa pergi," kata Lina sopan mewakili Nala.


 ~oOo~


(Author : Etdah pake kata mewakili segala, Nala punya mulut kan? kenapa ga ngomong sendiri, coba?


Nala dengan nada datar : Malezz ngomong, emang gitu ga boleh?


Author : Yee... ngajak ribut nih! majo ayo! -nantang-


Nala : Sampah -lalu pergi, tak menghiraukan tantangan Author-


Author : B*ngsad kao! sombong amat! -ngegaz ****-


Wang sik : Jangan ganggu, nonaku. Walaupun kau yang buat ini novel -Wang sik ngalangin Author-


Author : Awas kao! liat aja nanti -senyum simrik- .Back to story)


 ~~~


Sudah beberapa hari, Nala dkk tinggal di hotel XXx, Nala bahkan membeli beberapa hotel berbintang lainnya untuk tempatnya singgah dan mendapatkan uang lebih, kini para karyawan nya sangat segan dan menghormati Nala, mengingat kemampuan Nala yang sangat sangat bagus bahkan lebih bagus dari ayahnya sendiri.


Hari ini rombongan Nala akan kembali ke kota C, lagi pula Nala harus melanjutkan kembali study nya di kota C walaupun masih TK, Nala cuma beberapa bulan doang di TK karna Nala banyak urusan jadi kadang² doang dateng ke TK nya, lagian otaknya Nala kan udah bisa di bilang very very very genius dan guru²nya di TK ga permasalahin hal itu (selama ada fulus).


Tanya kabar mafioso sama maid di kota C? mereka makmur! sejahtera! kenapa? karna Nala ngasih mereka jam tangan super canggih, anti air, anti pecah, anti gores dan.... baguslah pokoknya, kalo di jual mungkin harganya bisa sampe ratusan juta. Belum lagi alat² canggih lainnya yang di kasih Nala, ga usah di sebutin lah ya, Author ga dapet soalnya😥😭 Jiwa kemisquenan Author meronta ronta!! -_- .


Tuut... tuut...


Sambungan telepon berdering, Nala menelepon lewat telepon rumah mansion nya.


"Hallo? dengan siapa ini?," tanya sebuah suara perempuan di sambungan telepon.


"Kakak maid....? saya mau bicara dengan bi Maya bisa beritahu hal ini padanya?," tanya Nala datar di stasiun saat menunggu kereta, Maya Tianarie, kepala para maid di mansion Nala yang diberi nama mansion Night Clair.


"Oh! nona muda! Baik saya akan beritahu ibu Maya," jawab kakak maid singkat, tak ada percakapan telepon dalam sementara waktu sampai.....


"Hallo, nona muda? Ada yang ingin anda katakan?," tanya sebuah suara, suara bi Maya.


"Ya, segera siapkan kamar kami semua, urusan di sini telah selesai, kami akan pulang besok malam," perintah Nala datar, mengingat Nala dkk memesan kereta pagi.


"Baik, nona muda. Selamat menikmati perjalanannya," kata bi Maya.


"Ya, selamat beraktifitas kembali," kata Nala.


"Ya, nona," sahut bi Maya lalu Nala mematikan telpon nya.


Bersambung.....


 ~oOo~


Apa yang bakal Nala lakuin?


Kehidupan nya beralih membosankan?


Entahlah!


Next eps!


 

__ADS_1


__ADS_2