My ID Is Leader Mafia In The World

My ID Is Leader Mafia In The World
Eps 69 : Aksi perdana GoD squad


__ADS_3

Sedangkan Vier langsung pergi tanpa menghiraukan kicauan Lyra dan Vyone, Nesya pun sudah menghubungi Arya, Feter, Leon dan Dika untuk berkumpul di kelas 8E.


~oOo~


Kelas 8E


Mereka semua sudah berkumpul disana, suasana cukup tegang mengingat Nesya sendiri yang mengatakan pertemuan itu 'penting'.


"Jadi... pertemuan kali ini ada sesuatu yang sangat penting untuk kuberitahu pada kalian," ujar Nesya memulai pembicaraan.


Suasana makin tegang, para murid yang tak tau permasalahan pun ikutan tegang, mereka melakukan rapat dadakan di kelas 8E, mereka mengganti bahasa menjadi bahasa Jepang yang juga menjadi bahasa wajib di TBB.


"Ada Andy disini," 3 kata itu membuat mereka semua menegang di tempat.


Tentu mereka bertujuh tau tentang Andy, beberapa tahun yang lalu Nesya sempat bertarung dengan Andy, duel yang mencengangkan karna saat itu keadaan Nesya sedang sakit dan itu membuat Andy seimbang dengannya bahkan sedikit unggul.


"NANI?!! (APA?!!)," Dika terlalu terkejut sampai berteriak tapi untunglah tempat ini dilapisi peredam suara.


"Santuy woy!," tegur Feter datar.


"Seharusnya dia mati bukan? bagaimana bisa dia hidup kembali? apalagi saat itu keadaan nya sangat parah," balas Arya yang dalam mode berpikir.


"Eum... bukankah tempat bertarung dulu hanya berkisar 50 meter dengan markas RedPearl?," tanya Vyone yang memang melihat pertarungan Nesya dengan Andy.


"RedPearl ya? itu mafia di bawah kepemimpinan Black bear," celetuk Leon membuat semua ini terang.


"Ck, sial*n," gerutu Nesya.


Nesya mendekati Leon dan mencoba berbisik, Leon pun menunduk karna memang tingginya melebihi tinggi tubuh Nesya, sekali lagi Leon menegang di tempat, kata² yang di sampaikan Nesya membuat dia marah besar sekaligus khawatir.


'Andy adalah orang yang sama dengan pemimpin yang waktu itu, orang yang membawa adikmu. Aku juga baru tau dari Arsene, semua ini berhubungan dengan 10 keluarga terkaya di dunia dan kematian kedua orang tuaku,'


Kata² Nesya teriang di kepala Leon, Leon menatap Nesya, meminta penjelasan lebih lanjut dari tatapannya.


"Kalian lanjutkan saja rembukannya, gue sama Leon mau ngomong bentar, penting dan kalian pikirkan aja rencana lanjutannya," ujar Nesya lalu menarik tangan Leon guna menyingkir dari teman²nya yang mulai berdebat dengan bahasa yang berbeda beda.


"Aku tau kau sulit mempercayainya," ujar Nesya mulai khawatir.


"Tapi ini kenyataan yang saling terhubung satu sama lain," lanjut Nesya dengan kekhawatiran dan kemarahan yang membuncah.


Nafas Nesya memburu menahan marah, Leon terdiam, pikirannya mencerna apa yang Nesya katakan, Leon merengkuh Nesya dalam dekapannya, hangat. Itulah yang dirasakan Nesya, entah kenapa air mata Leon lolos begitu saja membuat Nesya terkejut.


"Ada apa hum?," tanya Nesya pelan.


"Apa dia akan baik² saja? aku sangat khawatir," jawab Leon lirih.


"Yah, sama sepertiku dong," balas Nesya sambil memeluk Leon yang kepalanya turun ke dada Nesya.


"Aku akan jelaskan lebih rinci setelah ini," ujar Nesya membuat Leon mengangkat kepalanya.


"Baiklah, ayo kita kembali," ajak Leon sambil berlalu pergi dan menarik tangan Nesya.


Mereka pun kembali bergabung dengan teman² mereka yang asyik debat sambil teriak² dan menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia.


"Heh! udah! kalian udah bikin rencana?," tanya Nesya sambil menatap teman²nya 1 per 1.


"Belom sih, abisnya mereka nih ribut mulu," jawab Feter dengan nada tak bersahabat.


"Aih.."


Nesya mengeluh lalu dari alat komunikasi khususnya dia mendapat berita, jika mereka sudah mendapatkan denah markas Black bear, mereka berencana untuk menyerang mafia WhiteHorb, mafia yang di kuasai TBB dan mafia yang dipenuhi orang kaya.


Nesya tau darimana? karna dia menempatkan seorang mata² disana, siapa sangka rencananya berjalan mulus.


"Gue dapet denah markas Black bear guys," ujar Nesya membuat teman²nya antusias.


Mereka pun duduk di lantai, berhubung semua meja udah penuh dan mereka males kalo harus ambil mejanya Leon dan Arya jadilah mereka duduk di lantai dengan posisi bersila seperti akan berkultivasi.


"Jadi?," tanya Dika setelah mengambil napas panjang.


Nesya mengeluarkan sebuah alat.



Alat itu bisa menampilkan hologram yang merupakan denah markas Black bear, Nesya dan yang lain mulai memperhatikan setiap ruangan dan fungsinya tentu mereka menggunakan bahasa lain yang tidak dapat dimengerti murid lain.


"Jadi kita cuman harus ngecoh nih?," tanya Dika kecewa.


"Ga," bantah Nesya.


"Kita kumpulin mereka jadi satu di ruangan tanding yang luas, habis itu gue pasang light protector nah kita masuk ke dalam lingkup light protector habis itu kita bantai mereka semua," lanjut Nesya.


"Mantap lah," balas Arya yang terlihat begitu bersemangat.


"Makanya kalian simpen dulu senjata kalian, pistol kita pake waktu genting apalagi senjatanya Arya udah kaya bom nuklir versi mini," celetuk Nesya datar.


"😁," respon Arya.


"😶," respon lainnya.


"Seriusan? bom nuklir versi mini? dalem peluru?! gilaa!!!," Dika terkejut sambil bertepuk tangan.


"Hehe.. gue baru aja mau manggang mereka tapi lo malah ga ngebolehin," balas Arya sedikit cemberut.


Mereka malah bahas yang unfaedah dong kaya ntar malem yang masak siapa karna bi Maya pulang kampung, yang belanja siapa, yang bersih² siapa, yang nyuci mobil sama motor siapa, hadehh... ini mau perang geblek bukan mau ngurus rumah, ya kali😒:).


~oOo~


Diluar kelas


Tepatnya setelah Nesya dkk pergi, GoD squad udah siap buat perang dan Nila juga udah balik karna aula yang di belakang kelas 7A memudahkannya pergi, Nila pun membuka akses masuk ke aula untuk anggota GoD squad, semua terkejut tapi kemudian terjadi baku hantam + aksi tembak menembak di aula.


"ANJAY... KITA LUPA PASANG PEREDAM SUARA DONG!!!," seru Anjani di sela suara tembakan.


"WOI! BEG0!! AULA EMANG UDAH DIPASANG PEREDAM GBLK!!," kesal Bagas sambil menembaki orang² itu.


"EH IYA ANJENG, GUE LUPA!!," balas Anjani keras.


"GBLK!! JAN BANYAK BAC0**!!," seru Dean sambil menusukkan belati ke para penyerang.


Mereka pun kembali terdiam, selang beberapa menit baku tembak selesai begitu pula baku hantam, orang di aula pun cukup banyak, sekitar 45 orang penyerang di aula yang menahan guru serta murid seni.


"Weh... gila seru banget ternyata," ujar Ria antusias.


"Kalo lo kena peluru juga sakitnya ga maen² beg0! kapan lo pinter sih?," balas Satya sambil mengisi pistolnya kembali.


"Aelah lu mah ga santuy," balas Ria cemberut tapi tangannya ikutan ngisi peluru.

__ADS_1


"Bacottt," balas Satya acuh.


"Btw Nesya ama yang laen kemana?," tanya Nila yang bingung.


"Oo... tadi mereka katanya mau rapat dadakan atau apalah itu," jawab Satya acuh, Nila hanya menganggukkan kepalanya paham.


Selang beberapa menit mereka kembali fit, mulailah operasi senyap, beberapa orang menyelinap keluar dan melumpuhkan orang, mereka tau CCTV dan itu lagi di retas si Dean.


Satya memimpin, mereka menggunakan peredam suara yang dipasangkan di pistol maupun AK47 dari para penyerang, dengan cepat anggota GoD squad menyebar, menembak, memukul dan menebas setiap orang yang dianggap musuh.


Mereka masuk ke dalam setiap kelas dan menembak orang tepat di kepalanya, setelah itu mereka meminta para korban (murid lain sama guru yang kebetulan mengajar) untuk bersiap pergi dari tempat ini.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Baku tembak kembali terjadi kini Satya yang terkena tembakan di lengan, baginya itu bukan masalah besar mengingat dia sudah sering terkena timah panas.


"Ukh..," erang Satya saat bersembunyi di balik kelas.


"Sial*n! Hoi Bagas! lo ambil bagian! gue harus keluarin peluru dulu," perintah Satya yang dengan cepat diangguki Bagas.


"Damagenya besar juga rupanya," gumam Satya dengan senyum kecut.


Dia saat ini berada di kelas 7G, kelas yang berada lumayan jauh dari kelasnya dan dekat dengan tangga, beruntung Satya melihat kotak P3K walau ga lengkap tapi ada betadine dan perban, cukup untuk dirinya yang terluka.


Srak


Satya merobek lengan bajunya sendiri yang sudah basah akan darah, para murid kelas 7G yang melihat itu bergidik ngeri, tapi ada seorang gadis yang merupakan anggota ekskul PMR/Palang Merah Remaja yang membantu Satya.


"Aku tak pernah mengurus hal seperti ini tapi akan kucoba untuk membantumu," ujarnya.


Satya pun mengangguk setuju, jujur saja jika peluru itu terlalu lama bersarang di lengannya bisa² dia kehilangan banyak darah, perempuan di depannya tak tau bagaimana cara mengeluarkan peluru.


"Ambilkan pinset, tolong," pinta Satya.


Satya dengan cepat mengambil peluru dengan pinset yang ternyata dibawa salah seorang murid, setelah itu dia dibantu membersihkan luka dan memakai perban karna akan sulit baginya jika memakai perban sendirian.


"Hallo! hoi! cepatlah sedikit!," perintah Satya membuat perempuan di depannya sadar dan memerah.


Kenapa? karna lengannya yang berotot membuat para wanita tergiur bahkan perempuan di depannya sempat melamun, Satya kembali mengambil senjatanya yang sempat terlempar, dia mengecek jumlah peluru di senjatanya itu.


"Ck tinggal 8 peluru dan mereka masih banyak," gumam Satya.


Dia mengedarkan pandangannya dan segera menemukan AK47 yang tergeletak di samping tubuh penyerang, dia berinisiatif mengambilnya itung² senjata makan tuan.


Brak!


Tiba² saja pintu kelas di dobrak membuat Satya terlonjak dan langsung memasang kewaspadaan tinggi.


"Weh! tenang bro! ini gue!," seru Dean saat melihat Satya menodongkan AK47 padanya.


"Oh elu, bilang makanya untung gue belum bunuh elo," ujar Satya sambil meletakkan kembali AK47 nya, btw Satya lagi duduk sambil di obatinnya.


"Kena peluru bro?," tanya Dean dengan senyum mengejek sambil menunjuk tangan Satya yang di perban dengan dagu.


"Sensi amat si lu," keluh Dean.


Dia mengeluarkan rokok yang dia dapatkan entah dari mana, Dean pun membakar 2 puntung rokok, 1 puntung yang sudah dibakar dia berikan pada Satya sedangkan 1 lagi dia pakai.


"Dapet darimana lu?," tanya Satya sambil menerima puntung rokok dari Dean.


"Ada yang bawa, gue pake aja," jawab Dean santai.


"Jadi?," tanya Satya sambil melirik Dean yang bersandar pada meja guru.


"😏," respon Dean.


"Lu... mau kerja sama ama gue buat nyelesaiin ini?," tawar Dean membuat Satya menoleh lalu memasang smirk.


"Gue yang mau MVP, lu... cover aja," jawab Satya sambil berdiri karna lukanya sudah di perban.


"Ck, dasar. Lo kaga pernah berubah," balas Dean.


"Sejak kapan gue berubah?," tanya Satya meremehkan.


"Sejak... 4 tahun yang lalu?," tanya Dean balik.


"Itu pengecualian," jawab Satya sukses membuat Dean tertawa.


"Satya², lo itu ya bener² bocah ga ada akhlak," ujar Dean di sela tawa.


"Kaya lo engga," balas Satya sengit.


"Ok, cukup bermainnya!. Mari tuan muda Yohanes Fasatya Georgan," ajak Dean menyebut nama panjang Satya.


"Ha... baiklah tuan muda Deandra Juna Fav," balas Satya, Dean pun melemparkan magasin dan jangan lupa belati yang sebelumnya terjatuh.


"Lawan kita Black bear, jangan sampe mati," ujar Dean serius.


"Tentu," balas Satya.


Mereka kembali keluar dari kelas meninggalkan para korban di kelas 7G.


Psiu..


1 tembakan hampir saja mengenai Satya beruntung dia sedang menoleh, Dean yang menyadari itu segera melepas tembakan ke seorang sniper di rooftop.


"Lo pergi ke rooftop, cover kita. Gue yang urus sisanya," perintah Satya.


Dean segera pergi ke rooftop, sedangkan Satya membantu rekannya yang masih terlibat baku hantam.


Keributan di lantai atas membuat banyak penyerang lainnya yang datang ke atas guna membantu, sayangnya itu sia² saja, mereka mati saat sudah sampai di lantai atas karna ada beberapa anggota GoD squad yang berjaga.


Baku tembak dan baku hantam terdengar dimana mana, saat memasuki kelas 8E mereka terkejut melihat Nesya yang berbincang dengan teman² yang lain.


"WOI!! kita perang diluar lo pada malah asik disini! BANTUIN KEK!!," kesal Fendi tak terima.


"Kaga usah treak juga kali, lagian gue kan dah bilang ini perdana bagi GoD squad, gue sama mereka cuma bantuin di saat mendesak, kaya ngelawan jendralnya atau pemimpin, ngomong² soal pemimpin kalian mau tau siapa pemimpin kali ini?," tanya Nesya pada teman²nya.


"😑," respon Fendi.

__ADS_1


Brak!


Dia pun membanting pintu dengan keras hingga mengejutkan yang lain tapi obrolan mereka tetap berlanjut, ga ada akhlak memang.


"Siapa?," tanya Dika penasaran.


"Vure ramon," jawab Nesya, Lyra, Vier dan Vyone bersamaan membuat Dika tertawa.


"Vure ramon? bocah tengik itu? yang hampir ga bisa bela diri apalagi megang senjatanya masih ga bener?," tanya Dika di sela tawa.


"Ho'oh, si payah itu di kawal Indrafen," jawab Nesya membuat tawa Dika berhenti seketika.


"Indrafen? Indrafen mantan bos Eagleman?! Eagleman yang... beberapa tahun lalu??," seru Dika terkejut.


"Entah, yang gue tahu cuma nama Indrafen, kalau mantan bos Eagleman itu sih gue ga tau," balas Nesya membuat Dika menghela napas kecewa.


"Lah? elu malah kecewa si?," tanya Vyone bingung.


"Indrafen itu....... musuh bebuyutan gue, siapa tau dia masih idup makanya gue pengen unjuk kekuatan ama dia," jawab Dika.


"Dasar otak otot," balas teman²nya serentak sedangkan orang disebut otak otot hanya cengengesan.


~oOo~


Disisi lain


Fendi yang mendengar perbincangan antar sahabat itu berlanjut langsung membanting pintu kesal, Fendi pun kembali fokus pada pertarungan di depannya, Rayen mengernyit melihat Fendi yang kesal.


"Kenapa bro?," tanya Rayen.


"Kita lagi perang mereka malah ngobrolin ga jelas, dah gitu acuh aja lagi," jawab Fendi kesal.


"Yaelah.. biarin aja, nanti kalo ada yang lebih kuat dari kita juga bakal turun tangan," balas Rayen yang langsung diangguki Fendi.


Sementara itu pertarungan sengit terjadi di dekat kelas 8C, kelas paling pojok, deket rooftop, Dean mencoba masuk ke rooftop dengan bantuan beberapa anggota GoD squad disana tapi ternyata pertarungan malah menjadi sengit.


Dean dan beberapa anggota GoD squad sedang berlindung di balik tembok yang ada di koridor kosong, koridor itu mengarah ke gudang tua yang sudah lama tak terpakai dan ruang musik lama.


Dean membawa AK47 yang bisa menimbulkan damage besar walau damagenya ga sebesar senapan milik Arya, Dean kini memberikan AK47 nya pada Raihan dan mengambil belati salah satu penyerang, kini dia akan berusaha membuat mereka kewalahan.


Dean, Anjani yang kebetulan ikut, Raihan seksi keindahan dan Salsa seksi kebersihan, mereka ber-empat menyetujui rencana Dean walaupun sedikit ragu dan khawatir.


Dean menggenggam belati di tangannya dan berlari ke para penyerang dengan kecepatan tinggi, Dean menebas kaki salah seorang penyerang yang berada cukup dekat dengannya lalu menusuk jantungnya dengan belati, sontak saja para penyerang mengetahui akan hal itu dan peluru² mulai mengarah padanya, Dean berhitung dalan hati.


'3... 2.... 1....,' batin Dean menghitung lalu....


Cklek ck ck


Peluru mereka habis tepat saat Dean berhasil menghindari semua peluru yang mengarah padanya, tepat saat itu pula dia merunduk dan tiarap lalu Anjani, Raihan dan Salsa menembaki orang yang tersisa dengan tembakan yang hampir ga meleset, 1 banding 3 dari jumlah yang meleset, ⅓ untuk meleset dan ⅔ untuk tembakan berhasil.


Dean berdiri dan menoleh ke belakang, ketiga temannya itu segera menghampiri Dean dan HIGH FIVE!! mereka berhasil dalam penampilan perdana haha... pencapaian yang bagus.


"Ayo kita lanjutkan, salah satu dari kalian jaga gue. Sisanya bisa jaga² di koridor itu, lumayan buat persembunyian sementara," ujar Dean.


Dean dan Raihan pergi ke rooftop, Anjani dan Salsa mengawasi dari koridor kosong yang juga memiliki jendela yang langsung mengarah ke lantai bawah, mereka menjadi tim sniper dadakan muehew.


Sedangkan Satya menggiring anggota GoD squad lainnya untuk turun ke lantai bawah, mereka memulai dengan kelas terdekat tentunya dengan kewaspadaan tinggi mengingat keributan di lantai atas menghabisi hampir setengah jumlah para penyerang.


Tepat seperti perkiraan Satya, penyerang di kelas terdekatnya sudah bersiaga dan untungnya baku tembak hanya terjadi beberapa detik mengingat banyak spot yang dapat digunakan untuk menghabisi para penyerang itu.


Mereka pun masuk ke dalam kelas, mengambil peluru dan senjata, memastikan orang² itu mati atau terluka parah dan mengikat/mengumpulkan mereka di dekat meja guru.


"Hei! cepatlah sedikit! waktu kita tak banyak. Disini nyawa yang di pertaruhkan, Nesya dan yang lain hanya akan turun tangan saat keadaan mendesak," tegur Satya dengan kewaspadaan yang makin meninggi dan hampir mencapai batas.


"Sabar bro," balas Bagas yang sama waspadanya.


"Udah gaes!," ujar Puspa yang sudah mengikat orang² itu.


"Nice! kita ke kelas berikutnya, Puspa! lo tetep disini, jaga²!," perintah Satya.


"Ok! jendral!," balas Puspa.


"Jendral?," gumam Bagas.


"Julukan sementara, jendral kita Satya! buruan woy!!," tegur Puspa.


Satya dan anggota GoD squad lainnya segera pergi ke kelas sebelah, ruangan dekat tangga adalah ruang seni yang lagi di renov, pasti berguna saat seperti ini, Satya menyuruh mereka berlindung sejenak di ruang seni, mereka menemukan laptop dari seorang guru wanita yang di tahan 3 orang penyerang.


Dor


Dor


Dor


3 tembakan dilepaskan tepat di perut penyerang membuat mereka jatuh tersungkur di lantai, yah.. setelah ini mereka pasti dibawa ke markas TBB guna di interograsi, guru wanita itu gemetar menyaksikan bar² nya Satya dalam menembak orang² itu tanpa ampun.


Satya langsung menutup pintu setelah semua anggota GoD squad masuk dan ngiprit membuka laptop di atas meja, dia mencoba berkomunikasi dengan orang di lantai atas, tentu itu mendapat respon baik dari anggota GoD squad yang memang terhubung.


Anggota GoD squad di lantai atas segera menjalankan perintah Satya, termasuk Anjani dan Salsa.


Sebagian dari mereka berjaga di tangga, setiap tangga yang menuju ke atas, perlahan mereka turun dan membabat habis orang yang berjaga, dilanjutkan dengan Satya yang menyuruh anggota GoD squad lainnya menyebar, Bagas tak memprotes karna memang benar dia tak terlalu paham hal seperti ini, lebih baik dia mendengarkan daripada mati konyol.


Satya mengendap ke dalam mushola yang kebetulan kosong dan hanya beberapa orang saja yang bersantai di balai², Satya menyeret 2 orang itu ke bagian belakang mushola dan...


Zrat!


Zrat!


Satya menebas tepat di dada, itu ga bikin mereka mati sih cuman itu bisa membuat mereka kesakitan, Satya bertanya beberapa hal dan...


Buk!


Buk!


Satya malah membuat mereka pingsan lalu menyeret ke tempat Puspa, dia membaringkan 2 orang itu disana dan disambut tatapan aneh dari Puspa.


"Jendral? are you okay?," tanya Puspa.


"Yeah.. i'm ok, eum... Puspa. Kau ikat mereka karna mereka masih berguna dalam interograsi," jawab Satya.


"Oh, ok," balas Puspa lalu Satya kembali pergi.


Strategi demi strategi, teknik demi teknik, peluru demi peluru, serangan demi serangan terus diluncurkan.


Saat ini Satya kelelahan dan sedang bersandar di tembok dengan Bagas di sebelahnya, keadaan Bagas ga beda jauh dari Satya, kelelahan, itulah yang dialami anggota GoD squad.


Bersambung...

__ADS_1


~oOo~


Next!!!


__ADS_2