
Nara sedang menonton tv bersama keluarganya saat ini. Ini moment yang jarang terjadi,karena kesibukan papa nya yang membuat dirinya jarang dirumah.
Tok tok tok
"Biar papa aja yang bukain pintunya"
"Yaudah"
Tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya membuat papa Nara terkejut.
"Ngapain kamu kesini? Bagaimana keadaan ibumu?"
"Papa masih nanya soal ibu? Kemana aja papa selama ini?"
"Maafin papa,tapi papa janji akan selalu mentransfer uang buat kalian"
"Fira sama ibu gak butuh uang papa"
Karena perbicangan yang terjadi cukup lama membuat Nara penasaran,apa yang sedang mereka bicarakan.
"Ayo Fir masuk"
"Eh iya papa sampe lupa nyuruh temen kamu masuk"
"Iya gpp om" jawab Fira dengan tatapan sinisnya,jelas sekali rasa emosi tengah menjiwainya.
Nara langsung mengajak Fira kekamar nya untuk menyelesaikan tugas bersama.
"Lu masuk dluan aja gw mau ambil susu sama cemilan dibawah" ucap Nara saat mereka berada didepan pintu kamar.
__ADS_1
"Oh oke"
Mata Fira langsung tertuju pada sebuah foto yang berada dikamar Nara. Foto yang jelas sekali melambangkan bahagia nya sebuah keluarga. Kenapa itu tidak terjadi juga pada dirinya?
"Kebahagiaan lo akan hilang satu persatu" ucapnya sambil menaruh kembali foto yg ditangan nya.
Tangan Nara membuka pintu kamarnya. Tepat sekali Nara tau apa yang Fira lakukan barusan.
"Ada apa Fir,kenapa liat foto itu,gak biasanya lo" Ucap Fira sambil meletakkan susu dan cemilan diatas meja belajar nya.
"Ehhh--- gak,gapapa" jelas sekali Fira menjawab dengan ragu.
"Kirain ada apa"
"Jadi belajar gak lu?"
"Oh ya lupa,ayo ayo"
"Balik ya gw, takut kemaleman"
"Hm"
"Makasih ya Ra, sering-sering deh gw ke rumah lu buat minta ajarin, hehehe" ucapnya sambil membuka pintu.
"Iyeh"
"Tapi lu ikhlas kan?"
"Kalo gak,gak mungkin gw bolehin lu dteng sekarang"
"Yaudah iyaa,kan gw cuma bercanda"
__ADS_1
"Om,tante Fira balik dulu ya" ucap Fira seraya mencium tangan kedua orang tua Nara.
"Eh iya nak Fira, hati-hati dijalan"
"Biar papa aja yang anterin sampe depan gerbang" sahut papa Nara.
"Hati-hati ya nak,titip salam sama ibu mu"
"Ibu nahan sakit dan papa gak pernah peduliin kita?"
"Maafin papa,untuk saat ini papa belom bisa bahagiain kalian"
"Fira pamit dulu pah"
Papa Nara menatap Fira dengan tatapan yang sendu, seolah ia mengerti yang dikatakan Fira tadi. Ia merasa bersalah karena telah menelantarkan mereka.
Saat diperjalanan Fira kembali mengingat kejadian yang tak pernah ia lupakan selama hidupnya. Ibu nya yang sedang kritis di rumah sakit,dan pada detik-detik terakhir,papa nya tak kunjung datang juga.
Ia benci saat otaknya mulai memutar kejadian itu. Seolah-olah membuat nya tak berguna hidup saat ini. Ibu nya yang tak bisa terselamatkan,dan papa nya yang tidak mengetahui bahwa istri nya telah meninggal dunia.
"Gw gak bakal biarin lo bahagia Ra,apapun itu caranya" batinnya yang seolah-olah mengucapkan kalimat sumpah.
Malam ini bulan terlihat sempurna. Kumpulan bintang disekelilingnya membuat siapa saja yang melihat merasa kagum.
Angin malam yang seolah membelai tubuh Nara membuat dirinya mau berlama-lama di jendela kamarnya.
"Aneh,kenapa Fira tiba-tiba megang foto keluarga gw. Selama ini dia gak pernah kaya gitu" fikir Nara.
"Mungkin hanya kebetulan,buat apa mikirin dia,mending gw main game"
Karena jam belajar nya yang lebih cepat dari biasanya membuat Nara punya banyak waktu untuk bermain game malam ini. Ia tidak mau melewatkan kesempatan itu.
__ADS_1