Nara

Nara
Membebaskan


__ADS_3

Setah pulang dari rumah Nara, Melani mencari penginapan yang tidak juah dari Desa, tempat tinggal Nara.


Sebenarnya Nara menawarkan kepada Melani untuk menginap di rumah nya saja, namun Melani menolaknya karena tidak ingin merepotkan keluarga Nara.


Melani yang ingin mencari kamar yang berbeda dengan Danu, terpaksa karena penginpan tersebut sudah penuh dan hanya ada sisa 1 kamar.


Karena malam semakin larut, terpaksa Danu dan Melani menyetujui satu kamar.


"Terus kita tidurnya dimana?" ucap Melani.


"Dimana saja! yang penting bisa tidur." jawab Danu.


"Ih ditanya benar-benar jawab nya seperti itu." gerutu Melani yang terus melangkahkan kaki nya menuju kamar mandi.


Sedangkan Danu yang masih berbaring di atas kasur, merebahkan tubuhnya karena lelah seharian tidak beristirahat, apalagi Danu dan Melani juga tidak menggunakan supir peribadi.


Tiba-tiba Melani keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi antara dada dan paha nya saja.


"Aaaaaaaaaaaaa tutup mata mu! tutup!"


Glekkkkkkk


Danu yang melihat penampakan indah dari tubuh Melani, menelan saliva nya dalam-dalam.


"Apa kau mau menggoda ku?"


"Hahhhh mana ada? aku lupa jika sekarang di dalam kamar berdua dengan laki-laki.!"


"Bohong mana ada?"


"Lihatlah! kau bilang aku menggoda mu, tapi nyata nya kamu yang dari tadi melototkan mata mu!" ucap Melani tersenyum mengejek ke arah Danu.


"Huhhhhhh membosankan, minggir! aku mau ke kamar mandi."

__ADS_1


Setelah Danu masuk ke dalam kamar mandi.


Dengan santainya Melinda mencari pakaiannya dan memasang dengan santai.


Setelah selesai membersihkan tubuh nya, Danu kembali bersantai dan duduk di tepi ranjang.


Melani yang melihat itu memutarkan bola mata nya, males untuk meladeni sikap Danu malam ini.


Dengan santainya Melani merebahkan tubuh nya yang lumayan lelah di atas kasur yang lumayan empuk.


Melani tidak perduli jika sekarang ini dia sedang satu ranjang dengan laki-laki yang bukan muhrimnya dan lebih parah nya lagi laki-laki tersebut adalah seorang Duda yang sudah lama berpuasa.


***


Setelah menempuh perjalanan cukup lama.


Riko dan Andre sampai di Tanah Air.


Kini rencana mereka adalah, untuk menyelamatkan Andi dan Laila, terlebih dahulu.


Kini Riko dan Andre sampai di tempat sebuah hutan yang sedang mengurung Andi dan Laila.


Desita mengancam semua anak buah Arga, untuk menuruti semua perintah nya, sehingga anak buah Arga, tidak ada yang berani membuka mulut tersebut.


Namun Desita melupakan seseorang yang dengan mudah nya akan menemukan Andi dan Arga.


Siapa lagi kalo bukan Riko.


Desita hanya mengingat Andi orang kepercayaan Arga dan melupakan Riko yang juga sama seperti Andi, seorang kepercayaan dan selalu membantu Arga dalam keadaan susah.


Anak buah Arga bersekongkol dengan Riko, sehingga Riko dengan cepat menemukan Andi.


"Bagaimana? apakah semua nya sudah aman?"

__ADS_1


"Sudah bos, nyonya Desita sekarang sudah lengah sehingga bos bisa dengan mudahnya membwa pak Andi." ucap salah satu anak buah Arga, yang juga berarti anak buah Riko.


"Baiklah, mana kunci nya?" ucap Riko.


"Ini bos."


Setelah itu Riko berjalan dan di iringi Andre dari belakang, untuk menuju tempat penyekapan dimana Andi dan Laila berada.


Saat Riko membuka pintu kamar tersebut, ternyata ada sebuah pemandangan yang membuat jiwa jomblo Riko meronta-ronta.


Laila yang telah berbaring di atas paha Andi, karena di tempat itu tidak ada kasur dan bantal sedikit pun.


"Ya Tuhan????? apa dosa ku? di sungguhkan dengan pemandangan seperti ini."


Sedangkan Andre hanya tersenyum-senyum saja, saat melihat tingkah Riko dengan pemandangan Andi dan Laila.


"Hei!!!! cukup sudah drama mu ini!" ucap Riko kepada Andi.


Andi yang mendengar suara Riko teramat keras, sehingga membuat dia menjadi terkejut.


"Kenapa lo lama sekali sih?" ucap Andi yang juga ikut marah kepada Riko.


"Jika tau begini, mana gue mau jemput lu!" ucap Riko yang juga tidak ingin mau kalah dengan Andi.


Emmmmmmmmh, Laila menggeliat kan tubuh nya, sehingga membuat Andi dan Riko terpana melihat kecantikan Laila, saat sedang bangun tidur.


"Ma-maap," satu kata yang lolos dari mulut manis Laila.


"Tidak apa-apa! ayo kita siap-siap untuk pergi dari sini!" ucap Andi kepada Laila.


"Apakah tidak apa-apa?" jawab Laila kepada Andi.


"Tenang saja! semua nya sudah aman!"

__ADS_1


Saat mereka semua pada keluar, Laila kembali terkejut saat semua anak buah Desita, tidak ada satu pun yang menampakan batang hidung nya.


__ADS_2